Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Iwabe Sakit?


__ADS_3

Iwabe membuka matanya. Ruangan yang terang membuat matanya terkejut dan kembali terpejam. Perlahan ia kembali membuka mata pelan dan melihat Kobayashi sedang mondar-mandir di kamar.


Ia terkejut hingga mengangkat kepalanya. "Ah!" Pria itu merasakan kepala yang pening.


"Iwabe! Kau sudah bangun rupanya. Kau tidak apa-apa?" tanya Kobayashi memastikan. Ia mendapat obat bius itu dari kenalannya entah dari bahan apa karena menyebabkan anaknya pingsan bukan karena mengantuk tapi karena sakit kepala.


"Mmh, entahlah. Kepalaku pusing." Iwabe melihat Kobayashi dengan mata sebelah karena matanya belum terbiasa dengan sinar lampu yang begitu terang. "Bisa tolong matikan satu lampunya karena silau dan bikin aku pusing kepala," ucap Iwabe dengan suara sedikit serak.


Kobayashi mematikan lampu yang berada di atas tempat tidur.


"Terima kasih."


"Apa kau ingin sesuatu? Minum? Makan?" tanya Kobayashi lagi karena ia sedikit merasa bersalah.


"Mmh?" Iwabe masih mengumpulkan kesadaran dan berusaha fokus. "Aku ingin pulang. Jam berapa sekarang?"


"Jam 8 pagi."


"Apa?" Iwabe terkejut. Karena gorden tertutup, ia tidak tahu kalau saat itu telah mulai siang. 1 hari telah berlalu. "A-aku menginap di sini?" Ia segera mencari ponselnya tapi tak menemukan di kantong celananya. "HP-ku?"


"Oh, itu di atas meja, Iwabe." Kobayashi menunjuk meja di samping tempat tidur.


Iwabe berusaha menggapai ponsel dengan jemarinya dengan kepala yang masih pusing hingga Kobayashi membantunya. "Terima kasih." Ia memeriksa HP-nya. "Kenapa mati?"


"Oh, aku sengaja mematikannya karena aku lihat kau semalam tiba-tiba pingsan. Aku tak ingin mengganggumu tidur. Kelihatannya kau kelelahan," kilah pria paruh baya itu.


"Oh, ibu meneleponku sampai 50 kali? Nasti juga?" Iwabe membelalakkan mata saat menyalakan HP-nya. "Aduhh, mati aku ...." Pria itu menjatuhkan tubuhnya ke samping.


"Kau 'kan tinggal menelepon mereka, apa susahnya?" sahut Kobayashi kesal. Kenapa Iwabe yang diberi kesempatan untuk bisa beristirahat, malah kelihatannya tidak senang.


"Aku harus pulang!" Iwabe menyibak selimutnya dan mencoba turun dari tempat tidur tapi apa yang terjadi? Ia malah jatuh ke lantai. "Aduh!"


"Iwabe." Kobayashi menghela napas. Ia membantu Iwabe kembali ke tempat tidur. "Sepertinya kau belum bisa pulang."


"Aku mau pulang, Pak," rengek Iwabe. "Ibu pasti mencariku," ucapnya gundah.


"Begini saja. Aku akan panggil dokter untuk memeriksamu. Sementara itu kau sarapan dulu. Mungkin setelah sarapan, kau punya kekuatan untuk pulang."


Iwabe melirik pria paruh baya itu dengan mengerut kening. "Kalau begitu, aku tak perlu dokter dong, Pak?"


Kobayashi tertawa. "Mungkin. Jadi kau mau sarapan apa?"


"Aku ingin makan roti bakar saja."


"Roti lagi? Kau sangat suka roti ya?"

__ADS_1


"Aku biasa sarapan roti, Pak. Lagipula ini kepalaku masih pening. Aku tak yakin ingin sarapan karena lebih nyaman tidur."


"Kalau begitu kau tidur saja lagi. Nanti menjelang sore, kalau kau belum sembuh benar, aku akan panggilkan dokter." Kobayashi merapikan selimut pria muda itu.


"Tapi bagaimana dengan ibuku?" Iwabe menatap Kobayashi.


"Astaga, Iwabe. 'Kan sudah aku bilang, telepon saja."


"Tapi aku harus bilang apa kalau aku masih di sini?" Iwabe masih terlihat bingung.


"Terserah kau saja." Pria paruh baya itu kembali merapikan selimut Iwabe. "Nanti kalau sarapannya datang, akan aku bangunkan."


"Eh, aku tidak tidur sebab aku juga mau sholat Shubuh, walaupun telat." Iwabe mengecek HP-nya.


"Kau 'kan tidak bisa berdiri?"


"Bisa sholat sambil tiduran."


"Oh." Memusingkan sekali sholatmu ini.


Iwabe menelepon ibunya. "Halo ibu. Maaf semalam lembur sampai ketiduran ... iya ...."


-----------+++----------


Iwabe akhirnya pulang menjelang sore diantar bodyguard Kobayashi dengan mobil hingga depan rumahnya. Wajahnya terlihat lebih cerah dan bisa berjalan pulang dengan sendirinya.


Pria itu tentu saja terkejut, tak mengira ibu menantinya di rumah. "Eh, tidak apa-apa, Bu. Hanya sedikit lelah saja."


"Kau sakit ya di sana sampai tak berani pulang?!!" Ibu terlihat marah. "Makanya, Ibu sudah bilang, jangan percaya pada pria itu! Lihat dia memperbudakmu dengan pekerjaan yang tak ada ujungnya!"


"Tidak, tidak begitu, Bu. Sore aku sudah mau pulang tapi tiba-tiba tidak enak badan jadi aku tiduran di sana tapi malah ketiduran." Iwabe terpaksa berbohong. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia tiba-tiba pingsan.


"Kau tidur di kantor, Abe? Kenapa tidak ada yang memberi tahu kami dan kenapa HP-nya di matikan?"


"Karena aku mau tidur dan tidak enak badan, Bu." Ia malas meneruskan karena tubuhnya masih belum pulih dengan sempurna. Ia meninggalkan Maiko. "Maaf, tapi aku ingin tidur. Maaf, Bu."


Ibu mendahului menaiki tangga. "Biar ibu bereskan kamarmu."


"Ibu, tidak usah."


Namun apa mau dikata, Maiko merapikan tempat tidur Iwabe dengan mengganti seprei dan selimut. Juga menyuruh Iwabe mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Iwabe terpaksa menurut hingga ia bisa tidur di tempat tidurnya sendiri. Ibu menyentuh kening Iwabe. "Kau tidak demam. Apa yang kau rasakan?"


"Hanya pusing, Bu."


"Kamu muntah?"

__ADS_1


"Muntah? Tidak, Bu. Hanya pusing saja. Tidak ada gejala lain." Iwabe memejamkan mata dan menarik selimut.


"Aneh? Tapi katamu tadi kau tidak enak badan, tapi kenapa gejalanya hanya pusing?"


Namun yang ditanya telah tertidur. Ibu menghela napas pelan. Tak lama ia meninggalkan kamar pria itu.


-----------+++-----------


Iwabe terbangun. Seorang pria dengan pakaian dokter tengah memegang nadinya.


"Eh, kau ...."


"Abe, dokter itu mau memeriksamu." Terdengar suara ibu dari samping hingga akhirnya Iwabe membiarkan dokter itu memeriksa dirinya.


"Aku sudah tidak apa-apa, dok. Keadaanku makin membaik kok!" terang Iwabe lagi. Ia duduk di atas tempat tidur hingga membuat dokter itu lebih leluasa memeriksanya.


"Mmh." Dokter pria itu menurunkan stetoskopnya. "Mungkin stres karena beban pekerjaan atau hal lain yang membuat tubuhmu lemah. Tubuhmu tidak kuat menerima stres itu, karena itu Anda sakit.


Aku sarankan Anda untuk banyak beristirahat atau mungkin mengambil cuti dan pergi liburan. Sementara aku buatkan resep vitamin yang harus diminum."


"Rasanya aku tidak sesetres itu," gumam Iwabe.


"Mulut berkata tidak tapi tubuh berkata iya, jadi mulai sekarang coba relaks dan jangan terlalu banyak pikiran." Dokter itu menyarankan.


"Sudah Abe, dengarkan apa yang dikatakan dokter." Ibu memperingatkan.


Iwabe akhirnya diam. Setelah memberi resep obat, dokter itu pun pamit. Ibu mengantarkan dokter itu turun.


Saat ibu kembali, Iwabe tengah ke kamar mandi. Tak lama, pria itu muncul.


"Mulai hari ini, kau tak perlu lagi kerja di tempat lain."


"Ibu ...."


"Kau akan bekerja di perusahaan keluarga setelah kau sehat."


"Ibu, aku sudah bilang pada bosku ...."


"Ibu sudah putuskan, Abe. Sepertinya sejak kau kerja di sana kau mulai setres."


"Justru karena aku harus memikirkan pekerjaan di dua tempat ...."


"Dan ibu membantumu memilih. Kau kerja saja di perusahaan keluarga sehingga kau tak perlu pusing harus pergi ke sana kemari mengerjakan tugas. Lakukan saja yang ibu minta maka kamu tidak akan sesetres ini, Abe."


"Ibu! Aku bekerja untuknya dan aku menghormatinya, Ibu. Walau aku masih belum diangkat karyawan olehnya aku menghargainya. Ibu, aku tidak bisa begitu saja menghilang tanpa kabar, dan meninggalkannya karena aku masih punya tanggung jawab bekerja di sana. Tolong ibu hargai aku!" Iwabe berbicara dengan lantang.

__ADS_1


"Di perusahaan berlaku hukum perusahaan dan itu tidak main perasaan. Kamu mengerti itu, Abe!" ucap Ibu penuh penekanan. "Nah, sekarang lakukan yang ibu minta dan jangan membantah lagi." Wanita paruh baya itu meninggalkan Iwabe, tapi di pintu ia berhenti. "Kalau kau kasihan padanya, tinggal telepon saja. Apa susahnya?"


__ADS_2