Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Dekat


__ADS_3

Iwabe menempati kamar tamu yang memang ada di rumah itu. Bian yang senang pria itu ada di sana berulang kali berlarian memeriksa pria itu di kamar tamu dengan riang. Iwabe hanya tersenyum melihat tingkah bocah bule itu, sambil merapikan tumpukan pakaiannya di lemari.


Setelah selesai, pria itu kembali ke ruang tamu.


"Ayo, kita pergi," ajak Nasti.


"Ke mana?" tanya Iwabe heran. Rasanya tadi, tidak ada pembicaraan untuk pergi lagi.


"Ke tukang cukur. Rambutmu perlu dicukur, Iwabe. Kau tidak bisa mencari pekerjaan dengan rambut seperti itu."


Pria itu menyentuh rambutnya. "Ck!" Ia merasa sayang.


----------+++----------


Wanita itu sesekali mencuri pandang pada pria di sampingnya.


"Wah, cepat juga jadinya." Iwabe memeriksa pasphoto yang sudah jadi di tangannya. "Makasih ya, Mas."


"Iya, Pak," ucap penjual di depannya.


Tak sengaja Iwabe menoleh ke samping, dan menangkap basah Nasti yang tengah memperhatikannya. Wanita itu dengan cepat mengalihkan pandangan ke tempat lain.


"Eh."


Wanita itu bergegas meninggalkan Iwabe. "Sudah 'kan?"


"Eh, tunggu!" Pria itu menangkap tangan wanita itu dan menariknya ke sebuah dinding. Ia mengurung Nasti dengan kedua tangannya di samping wajah wanita itu. Pria itu tersenyum.


"Iwabe, ka-kamu mau apa?" tapi tak ayal pipinya memerah karena ia tahu ini pasti perpanjangan dari dirinya yang ketahuan sembunyi-sembunyi memperhatikan wajah pria itu tadi.


"Menurutmu?"


"Jangan aneh-aneh ya?" Nasti merapatkan punggungnya ke dinding yang memang sudah menempel.


"Aneh-aneh apa? Kamu sendiri sedang apa tadi?" Kini Iwabe menginterogasinya.


"Apa?" ucap wanita itu dengan suara kecil dan salah tingkah.


Iwabe tertawa senang, tapi kemudian ia tak bicara. Ia seperti menunggu sambil menatap wajah ayu wanita di depannya.


"Apa sih?" tanya Nasti bingung.


"Lho, kamu 'kan tadi sedang mengagumi wajahku. Ini aku beri kesempatan untuk melihat dengan benar, jadi gak perlu curi-curi pandang lagi seperti tadi," ujar pria itu dengan penuh percaya diri.


"Ih, narsis!"


Pria itu kembali tersenyum. "Tapi benar 'kan?"


Wajah wanita itu memerah.


"Jadi, apakah ini wajah yang menarik bagimu? Aku terlihat tampan dengan rambut seperti ini?" Iwabe menyentuh rambutnya yang telah pendek. "Apakah aku sudah masuk standarmu untuk bisa melamarmu?"

__ADS_1


"Kamu itu ...." Wajah wanita itu makin memerah. Ia kemudian mencubit pinggang pria itu hingga bisa keluar dari situ.


"Aduhh ... Nasti. Kamu sadis!" Iwabe mengejar wanita itu sambil mengusap-usap pinggangnya. "Apa penampilan seperti ini yang kau suka? Terlihat dewasa dan berwibawa? Kalau iya, aku akan seperti ini sampai kau menikah denganku."


Langkah wanita itu terhenti dan menghadap pria itu. "Iwabe, kamu ngomong apa sih? Katanya mau melamar kerja?"


"Dan juga melamarmu."


Pipi Nasti memerah dengan mulut mengerucut.


"Kenapa? Tidak boleh?"


"Fokus kerja, Iwabe!"


"Baiklah tuan putri." Pria itu membersamai langkah Nasti dan tersenyum menatapnya. Kau tidak bilang tidak, tadi 'kan? Berarti kamu mengizinkanku mengejarmu.


-------------+++-----------


Iwabe merapikan tas punggung yang dipakai Bian. "Sudah, pergi sana!"


"Sama Om." Wajah si kecil itu merajuk.


"Eh, Om 'kan gak ke mana-mana. Sudah, sebentar lagi busnya datang. Nanti kamu ditinggal lho!"


Bian masih menatap pria itu.


"Besok 'kan bisa main lagi." Pria itu mengantarkan Bian pada Ibu Nasti dan melambaikan tangan. Bocah itu membalasnya.


Ibu kemudian membawa Bian ke halaman. Belum lama menunggu, bus itu datang. Nasti menjemput bocah itu turun dari bus.


-----------+++-----------


Waktu berlalu. Sudah seminggu sejak kepergian Iwabe dari rumah, dan ayahnya, Sastra Dirga belum menemui titik terang di mana anaknya berada.


Sejauh yang ia lihat, Nasti sendiri pun bekerja seperti biasa tanpa pernah didatangi anaknya Iwabe atau bertemu di luaran. Apa dia mematuhi kata-kataku?


Ia kini malah kesulitan karena ia tidak tahu teman dekat anaknya itu selain Nasti dan ia malu bertanya pada wanita itu. Jadi, di mana kau sekarang, Abe?


-----------+++------------


Iwabe sedang menunggui Bian yang tengah asyik bermain sepeda di halaman depan rumah.


"Om!" teriak bocah itu saat memutar sepedanya ke arah Iwabe.


Pria itu menaikkan ibu jarinya memberi semangat. Ibu Nasti datang membawa secangkir teh.


"Aduhh, ibu kenapa repot-repot." Iwabe jadi sungkan.


"Ini cuma tanda terima kasih karena sudah bantu ibu tadi di dapur. Cuma teh kok!"


"Malah saya berhutang banyak sama Ibu, numpang di sini gratis."

__ADS_1


"Kamu 'kan dititipi Nasti di sini, jadi ibu terima."


"Ibu." Iwabe terharu.


"Sudah, istirahat saja di kamar. Biar Bian ibu yang tunggui.


"Terima kasih, Bu." Iwabe membawa cangkir tehnya ke kamar. Ia kembali membuka laptop yang dipinjamnya dari Nasti. Iwabe meneruskan pencarian pekerjaan di dunia maya.


Ia juga sempat bertanya pada teman-temannya tapi pekerjaan yang ditawarkan kebanyakan berkantor di luar negeri karena pria itu sempat mengenyam bangku kuliah di sana, tapi ia lebih memilih tinggal di Indonesia karena ada Nasti di Jakarta.


Tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk di handphone-nya yang berada di atas meja. Ia segera membukanya. Betapa terkejut ia mendapat pesan, panggilan interview di sebuah perusahaan besar. "Yeii!" teriaknya sambil membaca sungguh-sungguh pesan di HP itu. "Mudah-mudahan aku lolos," gumamnya.


Iwabe memang mencoba melamar ke beberapa perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan tapi perusahaan inilah yang memberi respon lebih cepat dari yang lain. Ia kemudian mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan.


-----------+++----------


Iwabe menatap dua pria muda di depannya. Yang satu membisiki pria yang meng-interview Iwabe sambil melirik pada pria Jepang itu. Setelah selesai, ia pun mulai bicara.


"Eh, begini ya, Pak. Sebenarnya perusahaan kami baru berafiliasi dengan sebuah perusahaan besar di Jepang dan kami sedang mencari orang yang cukup representatif bisa menyatukan kebutuhan perusahaan kami dengan pihak perusahaan Jepang itu. Pemilihan kandidatnya pun kebetulan juga ditunjuk langsung oleh pihak perusahaan itu, jadi kami hanya meneruskannya saja."


"Oh, begitu."


"Ada sekitar sepuluh orang kandidat yang kami sodorkan dan sudah tersaring hingga 3 orang termasuk anda."


"Oh, benarkah?" Iwabe terlihat senang walaupun ia belum tentu terpilih. "Ketat juga ya?"


"Interview berikutnya, anda bertemu dengan pemilik perusahaan Jepang itu. Kebetulan dia ada di Jakarta dan jadwalnya besok."


"Oh, ok. Apa yang harus saya siapkan?"


Pria itu menoleh pada teman di sampingnya.


"Kenapa, ada apa?"


"Aku pikir, karena anda adalah orang Jepang, pasti bisa berbahasa Jepang tapi ternyata saya salah, tapi nama anda sudah terlanjur masuk dalam daftar kandidat."


Iwabe tertawa lepas. "Iya. Banyak orang salah sangka. Aku tidak bisa berbahasa Jepang sama sekali padahal ibuku orang Jepang asli."


"Mmh, tapi Bapak jangan kaget kalau nanti tidak terpilih, karena kedua kandidat lainnya soalnya pintar berbahasa Jepang dan biasanya orang Jepang tidak bisa berbahasa asing selain bahasa Jepang."


"Masa sih?"


"Iya. Jadi wajar kalau tidak terpilih."


"Baiklah, tapi sekarang karena sudah terpilih dalam 3 besar, saya akan datang."


____________________________________________


Masih terus membaca 'kan reader? Kasih semangat author juga dong, dengan mengirim like, vote, komen atau hadiah. In visual Iwabe yang telah memotong rambutnya. Salam, ingflora. 💋


__ADS_1


Bagaimana dengan novel teman author yang satu ini?



__ADS_2