Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Tarik Menarik


__ADS_3

Mobil mewah Gerald sampai di kantor Nasti dan jadi perhatian orang sekitar. Apalagi yang turun Nasti, bersama seorang pria bule.


Saat itu ada Sarah yang juga baru datang dan memarkirkan mobilnya. Ia sangat tahu siapa pria bule itu. Ia keluar dari mobil dan bertemu CEO Nathan.


"Nasti dengan siapa itu?" tanya Nathan.


"Oh, pria itu. Dia pengusaha kaya raya pemilik jaringan hotel di Jakarta dan Bali. Dia sangat kaya bahkan lebih kaya dari pemilik perusahaan kita, Pak Sastra Dirga."


"Oh, ya? Bagaimana Nasti mengenalnya?"


"Entahlah, aku tak tahu."


Bus yang disupiri Iwabe kemudian masuk ke dalam perparkiran dan berpapasan dengan mobil mewah Gerald yang berusaha keluar. Pria bule itu tampak tak peduli pada pandangan orang-orang di dalam bus yang menatap heran sekaligus kagum padanya.


Nasti menunggu Lia karena ia malas melewati Sarah yang berdiri tak jauh dari pintu masuk dan menatapnya. Ia malas menjawab pertanyaan yang tidak penting.


"Mbak," ucap Lia yang turun dari bus.


"Yuk masuk!"


Benar saja. Mereka tidak bisa melewati Sarah begitu saja. Wanita itu bertanya pada Nasti, bagaimana ia bisa berkenalan dengan orang terkaya se-Bali itu.


"Itu mantan suaminya, bukan klien," sahut Lia mewakili.


Sarah terkejut. "Mantan suaminya?"


Begitu pun Nathan. Ia melongo.


"Yuk, Mbak kita masuk." Lia menarik tangan Nasti masuk ke dalam gedung.


Sementara di luar gedung, terlihat sebuah taksi yang terparkir tak jauh dari pintu masuk. Seorang wanita yang tengah mengawasi apa yang terjadi, terlihat bingung.


Wanita cantik yang rambutnya panjang terurai itu menyatukan tangannya dengan cemas. Kenapa Gerald kembali pada mantan istrinya? Ah! Apa yang dipikirkannya? Apa wanita itu menggoda suamiku? Berengsek! Ini pasti balas dendam. Biar aku permalukan dia nanti, lihat saja! Wanita itu mengeratkan kepalan tangannya.


-------------+++-----------


Nasti gerah ditanya berbagai hal tentang mantan suaminya yang kaya raya itu oleh teman sejawatnya, hingga ia pergi makan siang lebih dulu dan sendirian keluar gedung. Baru saja beberapa langkah ia di luar, seorang wanita menghampirinya. Nasti terkejut karena ia mengenal wanita itu.


"Heh, perebut suami orang! Enak saja kamu berpergian dengan suamiku di belakangku ya? Gak tahu diri banget kamu itu!" Wanita itu menarik jilbab Nasti membuat Nasti dengan sigap menangkap tangan wanita itu.


"Ah! Jangan mengada-ada kamu, rubah! Jangan sembarangan bicara!" Nasti tak kalah galaknya.


Namun wanita itu tak berhenti sampai di situ saja. Tangannya yang lain menarik kerah baju Nasti dengan kasar.

__ADS_1


Dengan cerdik Nasti menendang kaki wanita itu hingga jatuh terjerembab hingga melepaskan pegangannya pada Nasti. "Ahh!"


Membuat jatuh Miranda, malah makin membakar api amarah wanita itu. Ia makin menggila dengan serangannya pada Nasti.


Kembali ia berdiri dan menarik kasar jilbab Nasti.


Orang-orang yang baru turun dan berada di parkiran terkejut dengan pertengkaran kedua wanita ini dan menjadi tontonan gratis. Nasti bertahan dan Miranda menyerang.


"Mbak Nas!" Lia yang baru turun terkejut.


Sarah yang kebetulan ada di tempat itu hanya tersenyum melihatnya. Ia bahkan sampai melipat tangan di dada.


Tiba-tiba seseorang mendorong Miranda dengan kasar hingga jatuh terjerembab ke atas konblok. Keduanya menoleh.


"Gerald?" ucap Miranda kaget.


"Untuk apa kamu ke sini, hah? Mempermalukanku?"


"Gerald, sebaiknya kau bawa saja istrimu itu," nasehat Nasti. Ia merapikan jilbabnya yang berantakan.


Pria itu menoleh. "Istri? Siapa? Dia? Aku sudah menceraikannya."


Nasti terkejut. "Tapi setidaknya bawa dia pergi dan selesaikan masalahmu baik-baik dengannya."


"Gerald."


Pria itu menatap wanita cantik yang tengah berusaha bangkit dan berdiri. "Sudah, pergi dari sini! Aku tidak ada urusan lagi denganmu!" ucapnya dengan kasar.


Wanita itu menatap nanar pria bule itu. Kenapa kini pria itu berbalik mengacuhkannya?


Nasti berusaha meninggalkan tempat itu karena tidak mau ikut campur tapi Gerald menangkap lengannya.


"Tunggu, Nasti. Bagaimana kalau kita makan siang?"


"Eh, tidak usah." Nasti berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu tapi sulit. "Gerald aku ...."


Tiba-tiba sebuah tangan yang kokoh membantu Nasti melepaskan diri dari genggaman pria itu. "Nasti sudah janjian denganku."


Nasti dan Gerald menoleh. Ada Iwabe yang langsung menggandeng tangan Nasti. Wanita itu diam saja saat pria Jepang itu membawanya ke salah satu mobil kantor.


"Hei! Tunggu!" Namun panggilan pria bule itu tak digubris.


Mobil perlahan keluar dari area perparkiran.

__ADS_1


"Terima kasih ya?" ucap Nasti pada pria Jepang itu.


"Tidak apa-apa. Sekarang kita mau makan di mana?"


------------+++-----------


Gerald tak memperdulikan Miranda yang sedang menatapnya, pun tidak menoleh. Ia malah merapikan jasnya yang kusut dan mendatangi mobilnya.


Pedih. Miranda harus berjalan sendiri ke pintu gerbang gedung itu untuk keluar dari gedung disaksikan orang banyak. Terdengar cibiran yang mengiris hatinya.


Seseorang mendatangi Gerald sebelum ia sempat membuka pintu mobil. Ia melihat bayangan wanita itu pada kaca mobil, tengah berdiri di belakangnya. Ia menoleh.


-------------+++----------


Restoran Padang itu sangat ramai. Beruntung, Nasti dan Iwabe masih mendapat tempat duduk. Mereka makan dengan tangan.


Terlihat sekali, wanita itu makan dengan pelan, membuat Iwabe iba. "Kok makannya sedikit sih? Ngak enak ya?" ujarnya sambil mengunyah.


"Eh, enggak kok! Enak." Nasti berusaha makan lebih banyak lagi tapi hanya sebentar. Ia sepertinya tak berselera makan.


"Jangan memikirkan masalah pribadi kalau makan, jadi susah menelannya." Iwabe mencuci tangannya.


"Eh, enggak, aku gak punya masalah pribadi kok," sangkal wanita itu. "Ini aku makan." Wanita itu mulai mengunyah lagi.


"Aku tunggu ya, sampai habis. Soalnya aku yang traktir."


Nasti merengut membuat pria itu tersenyum nakal.


------------+++-----------


Gerald menulis beberapa angka di sebuah kertas cek dan menyerahkannya pada wanita cantik yang berada di depannya. "Jangan tersinggung. Ini hanya sebuah bentuk apresiasi akan kerja kerasmu membantuku karena aku tak suka hutang budi. Uang itu akan cair setelah aku mendapat kepastian."


"Oh, terima kasih, Pak. Bapak sangat pemurah padahal saya tidak minta," sahut Sarah yang langsung memeriksa angka yang tertera. Ia begitu senang melihat angka itu seperti seorang yang tengah memenangkan undian.


Pria bule itu tersenyum lebar. Kau pikir aku menginginkan tubuhmu? Bodoh! Aku sudah mengambil pelajaran dari wanita-wanita yang menyodorkan dirinya untuk menjadi alat tukar untuk bertransaksi dan seberengsek-berengseknya aku, aku lebih memilih berhubungan dengan wanita yang bisa menjaga dirinya dibanding wanita murahan seperti Miranda. "Aku hanya ingin janjimu."


"Oh, pasti, Pak. Nasti pasti akan dikeluarkan dari perusahaan."


"Bagus." Pria itu segera berdiri dan mengancingi kancing jas atasnya. "Kau makan saja, karena aku ada urusan di tempat lain. Bill-nya(tagihan) akan saya bayar." Gerald mengambil bon yang ada di atas meja lalu pergi.


Sarah melirik kertas cek yang ada di tangan. Ia tersenyum lebar dan berteriak kegirangan sambil menjejakkan kaki berkali-kali di lantai karena gemas. "Aku bisa belanja sepuasnyaaa!!!" ucapnya kegirangan dengan merentangkan tangan hingga ke atas. "Hah ... Nasti, terima kasih banyak. Aku bisa cepat kaya karenamu."


Segera ia mengangkat teleponnya dan menelepon wanita itu.

__ADS_1


"Halo," sahut Nasti ketika mengangkat telepon dari atasannya. "Apa? Rujak?"


__ADS_2