
"Siapa dia?" tanya Kobayashi pada Iwabe.
"Oh, itu saudara tiriku."
"Kau sepertinya tidak kenal."
"Iya. Dia baru-baru ini muncul."
"Baru-baru ini? Jadi selama ini kamu tidak tahu?"
"Tidak."
"Dan untuk orang yang tidak kamu kenal, kamu bisa memberikan seluruh uangmu padanya?"
"Dia 'kan saudara tiriku," ucap pria itu pelan dan meraba-raba. Mencari tahu apa pria paruh baya itu akan mengamuk karena kebiasaannya yang sering bergerak karena hati.
"Apa, bila ada orang yang sedang kesusahan kau juga membantunya?"
"Ah, itu aku lihat dulu orangnya."
"Lihat orangnya ya, mmh." Kobayashi mengetuk meja dengan pena mahalnya. "Kriterianya apa?" Interogasinya berlanjut.
"Kriteria?" Iwabe kebingungan. Ia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Ia hanya mengukur dengan perasaannya saja. "Kalau hati berkata 'ya' ...."
"KALAU HATI BERKATA 'YA'?" Suara bariton pria itu mendadak meninggi tapi kemudian ia berusaha untuk menekan nada suaranya dan menata hati. "Kamu itu memang orang yang bisa dengan mudahnya kena tipu orang lain sepertinya, Mmh? Bagaimana kalau ia berbohong? Kau baru kenal saudara tirimu 'kan? Ayahmu saja tidak mau membantunya."
"InshaAllah, tidak. Kalau pun itu benar, berarti aku sedang sial."
Apa? Dengan entengnya ia bicara seperti itu? "Hei, mencari uang itu susah! Bagaimana kalau uangmu habis gara-gara membantu orang lain, heh? Kau tidak memikirkan itu, sepertinya."
"Lho, kata Bapak, kalau uang operasional habis tinggal minta."
"Kau ...!" Kobayashi menahan kesal. "Tidak bisakah kau sedikit bertanggung jawab dengan uang yang kuberi?"
Pria itu terdiam. "Ya sudah, kalau tidak diberi tidak apa-apa, tapi saya cuti ya besok." Iwabe dengan santainya berdiri.
"Apa?" Kobayashi melirik pria itu yang telah berdiri. "Aku tidak memberimu izin Iwabe!"
Iwabe terkejut dan segera duduk. "Tapi aku sudah janji padanya, Bapak lihat sendiri 'kan tadi?"
Kobayashi tersenyum. "Salahmu, kenapa tidak tanya padaku? Memangnya ini perusahaan milikmu hingga membuat janji tanpa bertanya lebih dulu padaku."
__ADS_1
"Pak, tolonglah. Aku sudah membuat janji padanya." Iwabe memohon.
"Memang aku peduli? Kau bekerja padaku jadi aku yang tentukan apa yang boleh dan tidak boleh kamu kerjakan."
"Ck!" Iwabe menyandarkan tubuhnya dengan kasar. "Pak!"
Merajuk seperti anak kecil. Huh!
"Pak, lusa aku lembur deh!" bujuk pria itu lagi.
"Tidak. Untuk apa lembur kalau tidak ada yang di kerjakan."
Iwabe merengut.
Mmh, kau merajuk persis ibumu.
"Pak, tolong dong Pak. Lelaki yang dipegang adalah janjinya." Rupanya Iwabe teringat akan ucapan Nasti padanya.
Pria paruh baya itu terdiam sejenak. "Oke, lusa itu adalah hari Sabtu, jadi yang biasanya kamu pulang cepat diganti dengan menginap di sini semalam menemaniku. Bagaimana?"
"Ya sudah, tidak apa-apa, aku bisa. Cuma semalam saja 'kan?"
"Baiklah."
Iwabe kembali berdiri, tapi sebelum ia bebalik, Kobayashi mengeluarkan setumpuk uang dari balik jasnya dan meletakkannya di atas meja di depan Iwabe, membuat pria itu terkejut. "Ini ...."
"Uang operasional. Aku tidak mau kamu punya banyak alasan terlambat datang ke tempat kerja."
"Oh, terima kasih, Pak." Iwabe mengambil uang itu.
Aneh! Orang lain tidak punya uang, mereka cemas. Ia tidak.
-------------+++------------
Pagi itu, agak siang ia berangkat ke perusahaan milik orang tuanya setelah mendiamkan Bian yang kembali menangis karena ia tinggal pergi. Ia memarkir mobilnya di perparkiran luar dan masuk ke dalam kantor itu.
Banyak orang terkejut melihat penampilan Iwabe yang berambut pendek yang terlihat profesional dan matang walaupun ia hanya memakai baju kemeja biasa. Ia yang sederhana tetapi memancarkan aura kepemimpinan dan ketampanan pada setiap orang yang melihatnya.
Pria itu kemudian naik lift dan menekan tombol lantai 5, lantai paling atas di gedung itu. Setelah melewati beberapa meja pegawai, ia mendatangi meja sekretaris direktur.
Sekretaris itu terkejut melihat penampilan Iwabe yang tampak serius. "pak Iwabe ya? Sudah di tunggu, Pak."
__ADS_1
"Apa?" Kini Iwabe yang terkejut. Apa Ayah dan Refan sudah menungguku dari tadi? Ia mengekor pada sekretaris itu ke depan pintu Presdir.
"Pak, Pak Iwabe sudah datang." Sekretaris itu membuka pintu lebar-lebar dan pria itu masuk ke dalam ruangan itu.
Betapa terkejutnya Iwabe, karena di sana, bukan hanya ayahnya dan Refan tapi Ibunya juga ada beserta seorang wanita paruh baya lain yang terlihat masih cantik. Ada apa ini? Kenapa semua ada di sini dan ... siapa wanita ini? Wajahnya mirip ... Refan. Apa ia ibunya Refan? Wanita yang cukup cantik dibanding Ibu tapi kenapa ayah meninggalkannya demi Ibu?
Ayah dan Ibu terkejut melihat penampilan baru anaknya yang tampak rapi dan terlihat matang.
Ibu menyukainya. Tanpa malu-malu, wanita itu memeluk anak kesayangannya. "Abe, kau makin tampan, Nak."
"Ibu, itu pujian atau ledekan?" Iwabe sedikit bercanda.
Wanita itu tertawa dalam pelukannya yang erat. Sepertinya, ia kesepian. Cukup lama ia memeluk Iwabe hingga saat melepasnya tampak air mata yang sudah meleleh di pipi. Pria Jepang itu merasa bersalah.
Ayah berdehem demi menyelamatkan keadaan karena kalau terus dibiarkan istri akan terus menangis. "Kita mulai saja ya? Coba semua duduk dulu."
Iwabe dan ibunya kemudian duduk di sofa berdampingan.
Ayah duduk di tengah agar bisa bicara pada semua orang. "Sebenarnya tidak ada masalah dalam hidup kami sampai kalian datang." Ayah memulai dengan menatap wanita paruh baya yang duduk bersebelahan dengan Refan dengan tajam.
Wanita itu hanya menunduk dan Refan demi melindungi ibunya, mulai angkat bicara. "Bukankah kami dulu bagian dari keluargamu? Maaf, tapi aku berhak kau bantu karena aku adalah darah dagingmu. Kau meninggalkan kami, tetapi itu tidak masalah asalkan kau ingat tanggung jawabmu karena kau Ayahku."
"Mmh!" Sastra Dirga tersenyum miring.
Baru kali itu Iwabe melihat wajah lain dari ayah angkatnya itu. Pria paruh baya itu tampak marah, padahal seumur hidupnya ia hanya tahu pria itu adalah pria humoris yang ramah. Ia jarang marah bahkan tidak pernah seingatnya memarahinya walaupun ia nakal.
Kenapa pria sesabar ini bisa semarah itu pada kedua orang ini? Apa ibu telah benar-benar memikat ayah sehingga lupa pada anak istri, di sampingnya? "Eh, Ayah ...."
"Kau lihat saja, Abe, dan dengarkan," sahut Ayah pada pria Jepang itu.
Iwabe terpaksa bungkam.
"Viona, apa kau bisa jelaskan padaku, apa yang anakmu barusan katakan? Aku sepertinya salah mendengar, ini," ucapan Sastra Dirga seperti mengejek wanita itu sambil menyentuh telinganya.
Karena tak tahan, Iwabe tiba-tiba ikut bicara. "Ayah, jangan begitu! Dia anakmu juga," tegasnya.
Sastra Dirga tersenyum dan menatap wanita yang bernama Viona dengan masih mengejeknya. "Kau lihat apa yang kau lakukan, 'kan? Kau membuat keluarga kecilku yang aku bangun dari nol mulai hancur berantakan gara-gara ulahmu. Anakku mulai menentangku."
"Ayah, aku bukan anakmu!" Iwabe kembali menegaskan.
Suasana di ruangan terasa sangat tegang sejak kelima pasang manusia itu sedang menunggu sebuah jawaban. Apa yang terjadi sebenarnya di masa lalu?
__ADS_1