
"Eh, Bian." Iwabe terkejut.
"anak siapa itu? Kau mengenalnya?" Sarah yang tidak tinggal di mess tidak mengenal anak Nasti yang berkulit putih dan berwajah bule, tapi saat ia memperhatikan wajah bocah itu ia terkejut. "Ini anak Pak Gerald ya, dengan Nasti?"
"Oh, iya. Dia tinggal di mess bersama kami." Iwabe mengusap kepala bocah itu.
"Tinggal di mess? Bukannya gak boleh ya, ada anak kecil di sana?"
"Bukan gak boleh. Karena tidak ada yang mengurus anak kecil di jam kerja. Peraturannya sendiri tidak ada."
"Oh." Sarah hanya merasa terganggu dengan kehadiran anak kecil itu karena Iwabe jadi tidak fokus padanya.
"Oh, Bian?" Nasti baru menyadari Bian main hingga ke tempat Iwabe karena dia pikir anak kecil itu sedang berlari berputar-putar di belakangnya. "Sini, Nak. Makan dulu," panggilannya dengan tangan.
Bocah itu berlari-lari ke arah Nasti.
Gerald pun baru menyadari Bian pindah ke tempat pria Jepang itu karena ia sedang fokus membujuk Nasti kembali padanya.
Nasti mengusap kepala bocah itu dan menyuapi.
Bocah itu dengan senang bersandar di pangkuan ibunya.
"Bian, jangan ke sana ya? Omnya sedang ngobrol sama tante itu." Nasti menasehati.
"Tante?" tanya Bian mengulang.
Bagus Nasti. Jangan biarkan Bian merusak rencana yang dibuat Sarah. Wanita itu sangat lamban dalam bertindak. Huh! "Sini, Sayang. Sama Papa." Gerald mengulurkan tangannya tapi bocah itu hanya melirik ke arah tangan pria bule itu, setelah itu ia berlari menjauh. Pria itu menggenggam udara kosong karena Bian hingga saat ini masih belum mau dekat dengannya.
"Eh, tidak apa-apa. Dia memang susah didekati, tapi kalau sudah dekat dia akan senang bermain denganmu." Nasti membesarkan hati mantan suaminya itu.
Gerald tersenyum dalam kecewa. "Tidak, aku tidak marah kok. Bukankah lebih baik begitu? Tidak boleh sembarangan orang mendekati anakku. Hanya orang-orang terpilih saja yang boleh menyentuhnya."
Nasti menepuk-nepuk tangan pria itu yang ia letakkan di atas meja. "Jangan takut. Dia anakmu. Dia pasti akan segera dekat denganmu."
Pria itu menatap mantan istrinya itu dengan lembut. Hanya dia yang bisa menghangatkan hatiku saat bersamanya. Hanya dia yang tahu masalahku dan mengerti tentangku.
Kenapa dulu aku bisa dengan mudahnya melepas yang terbaik guna mencari yang lebih sempurna, bila nyata hanya dia dan tidak ada yang lain yang bisa menyempurnakan hidupku. Kenapa aku bisa khilaf demi hasrat yang bahagianya hanya sekejap? Kenapa ....
Aku yang terlalu bodoh dengan cepatnya dulu memutuskan untuk meninggalkan Nasti di saat kami masih bahagia, karena sekarang aku baru sadar, betapa sulitnya memperbaiki hubungan ini kembali.
Tapi kali ini, aku takkan berhenti sampai di sini saja. Aku harus mendapatkan Nasti kembali, bagaimanapun caranya.
__ADS_1
"Besok kau tak ada acara 'kan? Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan lagi bersama Bian?"
Nasti memberi senyuman canggung. Ia sebenarnya malas pergi dengan Gerald tapi ia kasihan dengan pria itu karena belum juga bisa dekat dengan anaknya sendiri.
"Besok siang kita ke Mall lagi, ok?"
"Bagaimana kalau lusa saja? Aku ingin merapikan kamarku besok."
"Pak, tolong pasangkan cincinnya ya, Pak, di jariku. Ini, cincin yang Bapak beli kemarin," ucap Sarah sedikit keras. Tentu saja Nasti dan Gerald mendengarnya dengan jelas dan menoleh.
Sarah memberikan cincin yang ia keluarkan dari sebuah kotak cincin pada Iwabe.
Maksudnya apa ini? Iwabe terlihat bingung tapi ia tetap mengambil cincin itu.
Sarah menyodorkan jemarinya pada pria itu.
Gerald tersenyum miring. Ia melirik Nasti yang seolah malas melihat adegan ini. "Lihat Nasti, Iwabe sepertinya sudah semakin dekat dengan kekasihnya. Bagaimana dengan kita?"
"Ah, Gerald. Aku tidak ingin membahas itu."
"Nasti."
Saat Iwabe ingin memasangkan cincin itu di jari manis Sarah, Bian datang tiba-tiba dengan berlari dan bersandar di pangkuan pria itu. Sontak, tangan pria itu tersenggol hingga menjatuhkan cincin itu ke lantai.
Cincin itu jatuh menggelinding dan Bian memperhatikannya. Cincin itu menggelinding terus ke arah meja Nasti dan Gerald dan masuk ke bawah meja.
Bocah itu segera berlari hingga ke bawah meja itu dan mendapatkan cincin itu di tangan. Nasti dan Gerald sampai-sampai harus membungkuk ke bawah meja untuk melihat.
"Bian, kamu dapat cincinnya?" tanya Nasti.
Bian memperlihatkan cincin itu. "Cincin."
"Sini, Nak." Nasti mengulurkan kedua tangan dan meraih bocah itu. Ia lalu menggendongnya.
Iwabe kemudian datang menghampiri. Belum lagi ia sempat meminta cincin itu, tiba-tiba dua orang polisi datang ke tempat itu. Mereka mendatangi Sarah.
"Anda kami tangkap karena terbukti dengan sengaja membuat Presiden Direktur Sastra Dirga sakit," kata salah satu polisi yang datang.
"Eh, apa?" tanya Sarah kaget.
Kedua polisi itu langsung membawa Sarah.
__ADS_1
"Eh, tunggu, tunggu. Kalian pasti salah menangkap orang! Bukan aku yang melakukan itu, tapi wanita itu!" tunjuk Sarah pada Nasti dengan mulutnya tapi polisi-polisi itu tidak menggubrisnya.
"Silahkan buktikan itu di kantor polisi."
"Pak, tolong!" Sarah yang sedang diseret polisi menoleh ke arah Gerald.
Iwabe yang masih terkejut mengira Sarah sedang berbicara dengannya. "Oh, nanti biar aku bilang pada ayahku." Ia kemudian kembali menoleh ke arah Nasti. "Mana cincinnya?"
Kemudian Iwabe dan Nasti terkejut ketika diketahui cincin itu telah melingkar di jari manis Nasti. Ternyata ketika mereka tengah sibuk melihat penangkapan Sarah, bocah itu menarik tangan ibunya dan menyematkan cincin itu di salah satu jemari wanita itu.
"Lho, Bian ...," keluh Nasti.
Bocah itu tertawa. Ia melakukannya karena ingin bermain dengan ibunya. Iwabe juga ikut tertawa.
Gerald yang berada di sana terlihat geram. Selain kesal melihat keakraban Nasti dan Iwabe, ia gusar bila Sarah nanti menyebut-nyebut namanya di kantor polisi. Ia jelas tidak mau ikut tersangkut masalah ini dan lagi, yang menyodorkan kecurangan ini dari awal adalah Sarah dan ia hanya menyambutnya.
Iwabe menarik tangan Nasti yang telah tersemat cincin itu dan memperhatikannya. "Kelihatannya cincin ini memang cocok untukmu."
Wajah Nasti merah padam mendengarnya. "Eh, tidak. Lepaskan saja itu," pintanya.
Gerald naik pitam. "Hei, bisa tidak, jangan mengganggu acara orang lain, mmh?" bentaknya pada Iwabe. Ia bertelak pinggang.
Iwabe mulai dongkol. Segala rasa kesal di dalam hatinya kini memuncak. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan orang lain menentukan jalan hidupku ini, batinnya. Ia kemudian menatap Nasti dengan mantap. "Apa kamu mau jadi kekasihku?"
"Apa?" Wajah Nasti kian memerah.
"Hei! Benar-benar tak tau diri ya? Nasti sekarang sedang berkencan denganku!! Benar-benar gila orang ini." Pria bule itu memanas.
Keduanya saling berpandangan. Iwabe tersenyum ke arah Nasti yang terlihat bingung.
"Hei! Kau tak dengar ucapanku? Dasar berengsek!" Gerald masih saja memaki.
Iwabe tak peduli dengan ucapan Gerald yang kasar. Ia masih menggenggam tangan wanita itu yang masih bingung menentukan pilihan, tapi ucapan kasar Gerald malah membuat Nasti akhirnya memutuskan apa yang ingin dipilihnya.
Masih menatap Iwabe, wanita itu mengangguk. Pipinya kini kemerahan karena malu.
Iwabe senang dan tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kita pindah kencan di tempat lain saja?"
____________________________________________
Halo reader, terima kasih karena masih tetap mengikuti novel ini ya? Berikan author ini penyemangat juga berupa like, komen, vote atau hadiah. Ini visual Nasti dengan baju gamis berwarna pink. Salam, ingflora. 💋
__ADS_1