
Pagi itu Iwabe sedang sarapan. Nasti yang baru selesai masak, keluar dari dapur disambut Bian yang berlari-lari menghampirinya.
"Mama!"
Sempat melirik pria itu, Nasti mendatangi meja tempat ia biasa duduk dan menarik kursinya. Baru saja ia duduk, Iwabe datang lengkap dengan nampan makannya. "Lho, Pak?"
"Aku mau duduk di sini." Pria itu menarik kursi dan mulai duduk.
"Tapi, bukannya tidak boleh pacaran di mess, Pak?"
"Iya, terus kenapa? Kita 'kan cuma makan?"
Beberapa orang di sana mulai memperhatikan mereka.
"Pak, bukannya dulu ...."
"Ya, aku sedang menjilat ludah sendiri," ucap pria itu dengan tenang.
Nasti melongo.
"Lho, katanya ngak boleh pacaran, lalu Bapak sedang apa?" seorang pegawai pria dengan berani menegur Iwabe.
Iwabe merapikan duduknya dan menatap semua orang yang berada di ruangan itu. "Saya mau memberikan pengumuman. Nasti sekarang adalah pacar saya."
Ruangan seketika riuh. Ada beberapa orang yang terkejut, ada pula yang mengomel.
Nasti bingung dengan kenekatan Iwabe mengumumkan tentang hubungan mereka. Apa yang sebenarnya ingin ia lakukan?
"Itu pengumuman pertama. Pengumuman yang kedua, saya akan keluar dari mess ini karena mess ini diperuntukkan untuk karyawan, dan pengumuman yang ketiga, Pak Aziz yang akan menggantikan saya sebagai pengurus mess mulai hari ini. Jadi sudah jelas ya? Ok, sekian pengumuman dari saya, dan terima kasih." Iwabe kemudian kembali merapatkan kursinya ke meja.
Kembali ruangan riuh tapi tidak seberisik tadi. Mereka memperhatikan Iwabe dan Nasti dan menggosipkan perubahan yang akan terjadi setelah ini.
"Pak, Bapak kenapa mengumumkan kita pacaran sih, Pak?" bisik Nasti kesal.
"Dari pada menduga-duga, lebih baik diumumkan agar tidak ada yang salah sangka," ujar pria itu sambil menyendok nasinya.
"Tapi, Bapak jadi pindah dari sini, gara-gara aku." Nasti mulai cemberut.
"Kenapa kamu menyalahkan dirimu sendiri? 'Kan memang aku harus pindah sejak orang-orang tahu aku anak pemilik perusahaan. Lagi pula, tolong jangan panggil aku Bapak di luar jam kantor karena aku pacarmu." Pria itu tersenyum menggodanya.
Nasti masih saja cemberut.
__ADS_1
Seusai makan, mereka kembali ke kamar mereka masing-masing. Nasti merapikan kamarnya dan kemudian mandi. Berdua dengan Bian ia bersiap berangkat ke rumah orang tuanya.
Ketika keluar, mereka bertemu Iwabe yang telah menunggunya.
"Eh ... kamu menunggu aku?" Nasti kesulitan bicara santai dengan Iwabe, membuat pria itu menyungging senyum.
"Kenapa tidak panggil 'sayang' saja sekalian," goda pria itu.
Wanita itu merengut, dengan manja.
"Aku mau pulang tapi sekalian saja mengantarmu. Kamu ke rumah orang tuamu 'kan?"
"Iya."
Tak butuh waktu lama, mereka sampai ke rumah orang tua Nasti. Namun ada seseorang yang menantinya di sana. Gerald.
"Halo, Nasti. Kamu pagi-pagi sudah ke sini? Katanya mau membersihkan kamar?" ledek Gerald yang datang dengan menyeberang jalan saat Nasti turun dari mobil bersama Bian. Rupanya pria itu telah menduga, ucapan Nasti waktu itu hanya caranya agar menghindar darinya.
Tentu saja, wanita itu terkejut. Ia terpaku tak tahu harus bagaimana.
Tiba-tiba saja Iwabe turun dan mendekati wanita itu. "Ayo, Nasti kita ke dalam. Katanya kamu mau mengenalkanku pada orang tuamu."
"Oh, i-i-iya." Nasti bernapas lega, sekali lagi Iwabe telah menolongnya.
Di ruang tamu, Nasti diapit oleh kedua pria itu. Gerald yang duduk sendiri, mencoba bicara pada Bian sedang Nasti yang duduk di kursi panjang berdua Iwabe memperkenalkan pria itu pada kedua orang tuanya.
"Sini, Sayang. Bian. Sini sama Papa." Pria itu mengulurkan tangannya pada bocah itu tapi Bian bergeming dan tetap bersandar di kaki ibunya.
"Ibu, Ayah, ini Iwabe. Dia sedang dekat dengan Nasti sekarang," terang Nasti pada orangtuanya yang duduk berhadapan.
Orang tua Nasti tentu saja bingung. Terlihat sekali bahwa anaknya tengah diperebutkan oleh 2 orang pria. Yang satu adalah mantan suaminya dan yang satu lagi adalah anak pemilik perusahaan tempat Nasti bekerja.
Iwabe yang menganggukkan kepala, dibalas dengan anggukkan kepala juga oleh kedua orang tua Nasti.
Ibu kemudian membuatkan minuman, Ayah mengobrol dengan Iwabe dan Nasti, sedang Gerald masih membujuk Bian untuk bermain.
"Nasti, tolong bujuk Bian agar mau duduk di pangkuanku," pinta pria bule itu.
Tidak saja Nasti yang menoleh, Ayah juga Iwabe jadi ikut menoleh karena terganggu.
"Bian, mau di pangku Papa?" tanya Nasti pada anaknya.
__ADS_1
Bocah itu menggeleng.
Nasti menatap Gerald. "Kalau anak kecil tidak bisa dipaksa, Gerald. Nanti nangis. Pintar-pintar membujuknya sajalah." Ia menasehati.
"Tapi bagaimana caranya, Nasti." Pria itu mulai berulah demi mencari perhatian Nasti.
"Sini, Bian sama Om." Tiba-tiba, Iwabe memanggil bocah itu.
Dan dengan mudahnya, bocah itu mendatangi pria Jepang itu. Iwabe mengangkat dan mendudukkannya di pangkuan.
Gerald tentu saja geram, kini kedua orang kesayangannya itu lebih dekat pada Iwabe daripada dirinya. Ia protes pada wanita itu. "Nasti, aku sedang membujuk Bian, kenapa Iwabe ikut campur?"
"Tolong jangan buat keributan di sini, Gerald," bujuk Nasti. "Apa kamu tidak bisa datang lain waktu?"
Iwade melirik Gerald dengan senyum dinginnya. "Bian," ucapnya pada bocah itu. "Kamu tidak mau dipangku Papa?"
"Ngak mau," sahut bocah itu seraya berdiri di atas pangkuan dan bersandar pada dada bidang pria itu. Ia memeluk leher Iwabe. "Maunya sama Om," ucapnya dengan nada gembira.
"Oh." Iwabe memeluk bocah itu dengan hangat. Ia kemudian tersenyum dan melirik sinis pada Gerald. Tentu saja Gerald semakin naik darah.
"Nasti, bagaimana ini! Bagaimana caranya aku bisa dekat dengan Bian?!!" ujar pria bule itu mulai gemas.
Tentu saja tingkah mengada-ada Gerald yang membuat ia terbakar sendiri, cukup dimengerti Nasti, tapi ia tetap berusaha meredam pria itu yang mulai tersulut emosi. "Gerald ...."
"Sebaiknya di-reschedule(jadwal ulang) saja lagi dengan Nasti, karena sekarang ini sedang ada pertemuan penting di sini. Tentunya kamu mengerti apa maksudku 'kan?" Iwabe memotong ucapan Nasti dengan santainya, dan mengusir pria itu dengan cara halus.
"Tidak enak kan, berada di tempat di mana kamu tidak diundang? Sepertinya tidak ada yang ingin menyapamu. Apa kamu tidak malu?" Iwabe tersenyum dengan wajah dingin.
"Kurang ajar!" Gerald yang sudah mengepalkan tangannya dengan erat, bangkit dengan cepat dan bergerak maju hendak menghajar pria Jepang itu tapi Nasti dan ayahnya segera menahannya.
"Hei, hei, hei, hei! Jangan buat keributan di sini," ucap ayah dengan nada keras. "Tolong kau buat janji dulu Gerald, agar tidak terjadi masalah seperti ini."
Pria bule itu benar-benar merasa terjepit karena ayah Nasti juga membela Iwabe. Ia mengeratkan geraham menahan marah yang tertahan. Tanpa menundanya lagi, ia pergi dari tempat itu dengan perasaan dongkol yang tak berkesudahan. Ia pamit.
Setelahnya, suasana kembali tenang.
"Maaf ya, Pak. Saya jadi bikin suasana tidak nyaman di sini." Iwabe meminta maaf pada ayah Nasti.
"Oh, tidak apa-apa. Saya memaklumi. Gerald memang adatnya sedikit keras. Ia memang berniat kembali pada Nasti, tapi semuanya saya serahkan pada yang menjalani." Ayah melirik Nasti.
Ibu kemudian datang membawa nampan berisi beberapa cangkir teh dan terkejut ketika tidak menemukan Gerald di ruang tamu. "Oh, Gerald ke mana?"
__ADS_1
"Oh, dia ada urusan," jawab ayah dengan tenang sambil membantu ibu menurunkan cangkir tehnya.