
"Abe, bisa tidak kau diam dulu," ucap ayah pelan.
"Ayah, coba. Hentikan pertikaian. Kalau masalah berhak, aku lebih tidak berhak lagi ada di sini. Sudah, lakukan saja tanpaku." Iwabe segera berdiri. Ia melangkah ke arah pintu, ketika ayahnya kembali memanggilnya.
"Abe, tunggu. Justru kamulah yang berhak memutuskan ini, karena itu kamu diminta untuk datang ke sini."
Iwabe mengerut kening mendengar penuturan ayahnya. "Ayah, sudahlah. Jangan mempersulit mereka! Berikan saja apa yang mereka inginkan," ujarnya di pintu.
Ayah mengusap wajahnya pelan dan menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Abe, kau tidak mengerti juga ya? Kalau kamu tidak ada, tidak ada satu sen pun uang yang akan keluar dari perusahaan ini."
"Ayah!" protes pria Jepang itu.
Sastra Dirga mengangkat tangannya. "Sepertinya kamu belum mengerti. Makanya, dengarkan dulu Ayah bicara baru kemudian kau putuskan apa yang kamu ingin kerjakan setelah itu."
Walau ingin protes, Iwabe kembali duduk di kursinya. Ia padahal sempat berpikir, ayahnya sengaja menahan uang itu untuk membujuknya agar segera pulang, tapi sepertinya tidak. Ada cerita lain yang belum ia ketahui.
Ayah beralih kembali pada wanita yang duduk di samping Refan. "Viona, aku tanya sekali lagi. Apa kamu mau menjelaskan semua ini atau aku yang bicara? Sebab bila aku yang bicara, aku akan mengatakan semuanya."
Refan menoleh pada ibunya yang hanya diam membisu. Kemudian ia memberi keputusan. "Bukankah lebih baik begitu? Ayah, katakan saja."
Ayah menarik tangannya yang berada di atas meja dengan meluruskan punggung. "Baiklah. Daripada kalian salah sangka dengan ibu kalian, sebaiknya kalian tahu cerita yang sebenarnya.
Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan dengan anakmu Viona, tapi yang pasti kau salah menilaiku.
Dulu kita menikah karena cinta, punya anak Refan, dan hidup bahagia hingga suatu hari perusahaanku mulai bangkrut. Kau meninggalkanku. Kau bawa Refan bersamamu dan kau katakan, kau dan anak kita tidak ingin hidup susah. Kau minta aku menceraikanmu.
Ternyata di belakangku selama itu kau main api. Kau ternyata masih berhubungan dengan mantan pacarmu dan ketika aku menceraikanmu, kau menikahinya, iya 'kan? Bahkan kala itu aku meragukan apa Refan itu anakku. Apa aku salah?"
Refan, Iwabe dan Maiko menoleh pada Viona. Wanita itu masih tertunduk.
"Jadi sekarang kalau kau bilang, Refan itu anakku aku ingin tes DNA." Wajah ayah mulai memerah dengan mata berkaca-kaca.
"Sedang Maiko, istriku yang sekarang, ia datang kemudian. Ia mengetahui perusahaanku mau bangkrut dan ia membeli perusahaan ini.
Itu ada surat-suratnya jadi aku tidak asal bicara. Aku hanya pekerjaan di perusahaan ini sekarang, dan menjalankan perusahaan ini untuknya, tapi saat kami mulai dekat, kami memutuskan untuk menikah.
Saat Maiko datang, ia memang sudah membawa Iwabe, dan perusahaan ini dibeli atas nama Iwabe juga. Hak kepemilikan penuh akan Iwabe dapatkan saat usianya mencapai 30 tahun.
Jadi kalau kau, Viona, menuntutku untuk membantu usaha anakmu yang bangkrut itu, aku tidak punya harta. Aku bisa saja membantumu, tapi dengan keuangan terbatas milikku sedang perusahaan ini adalah milik anak dan istriku. Bukan milikku lagi.
Kau tahu 'kan, Iwabe bukan anakku, dan kau memberitahunya, tapi itu malah jadi bumerang untukmu, sekarang." Sastra Dirga tersenyum getir karena ulah mantan istrinya itu. "Jadi kalau kau ingin bantuan dariku, percuma. Kecuali, kau mengemis pada anak dan istriku dan itu pun kalau mereka berbaik hati meminjamkan."
Viona yang menunduk, ternyata sedang menangis. "Tapi Refan memang benar anakmu, Mas. Dia anakmu."
Iwabe menoleh sekilas pada ibu dan kembali melihat pada Refan yang terlihat bingung dengan situasi yang ada. Kini nasib anak dan ibu itu berada di tangannya. Ia kembali menoleh pada ibu. "Ibu, apa kita bantu saja mereka?"
__ADS_1
Ibu merengut mendengar permintaan Iwabe.
"Ibu, tolong."
"Kalau saja mereka tak ikut bicara, kau seharusnya ada di rumah 'kan?" rajuk ibu. "Apa kau akan kembali ke rumah?"
"Nanti kita bicarakan lagi."
"Ibu ingin kau pulang."
Iwabe menelan ludah dengan susah payah. Pasalnya orang tuanya belum merestui hubungannya dengan Nasti dan ia sekarang tengah bekerja pada orang lain. Lalu ia harus bagaimana? "Bu, bantu mereka, Bu. Kasihan. Anggap saja, mereka kerabat jauh ayah."
"Tapi ibu minta kau pulang, karena mereka minta bantuan uang yang tidak sedikit," pinta ibu yang masih merengut.
"Ya sudah, iya." Iwabe terpaksa mengalah. Padahal masih ada hal lain tentang dirinya yang ia ingin tahu dan ia berharap Ibu mengatakannya. Ia ingin tahu siapa ayahnya.
Iwabe memutar otak karena Refan meminjam uang untuk perusahaannya yang bangkrut yang pastinya tidak sedikit jumlahnya. Daripada meminjamkan mereka uang untuk usaha mereka yang bangkrut itu, lebih baik .... "Eh, bagaimana kalau begini saja." Ia mulai bicara pada Refan dan ibunya.
"Dana yang dibutuhkan untuk membangun kembali sebuah usaha yang sudah bangkrut itu pasti besar dan aku rasa belum tentu juga mendanai perusahaan itu, bisa memperbaiki perusahaan. Aku sarankan, kau jual saja usaha itu pada orang lain."
"Apa? Lalu kami akan makan dari mana kalau aku menjual perusahaan itu?" protes Refan.
"Kau bekerja saja di perusahaan ini."
"Apa?" Refan terkejut. Ia melirik sekilas pada Sastra Dirga. "Tapi ...."
Refan menunduk. Ia tidak menyangka Iwabe mau membantunya.
"Kau sebenarnya bisa membayar hutang-hutangmu bila bisa menjual perusahaan itu dan bekerjalah di sini. Pintu terbuka lebar untukmu."
Refan melirik Sastra Dirga yang hanya diam tak merespon apa-apa.
"Ayah juga bantu Kak Refan, Yah. Biar dia bisa mengerti akan tugas-tugasnya," ujar Iwabe pada Ayah. Ia sangat yakin Refan adalah anak Sastra Dirga, ayah angkatnya dan ia ingin mendekatkan keduanya.
"Mmh."
Tak lama Refan dan ibunya pamit. Tinggallah mereka bertiga di ruangan itu.
"Ibu, apa ibu bisa cerita soal ayah kandungku?" Kini Iwabe bertanya pada ibunya.
Maiko melirik Sastra Dirga. "Ibu tidak mau membicarakannya."
"Ibu ...."
"Iwabe, kita hidup baik-baik saja tanpanya dan akan seterusnya begitu."
__ADS_1
"Ibu ...."
"Tidak. Ibu bilang tidak, tidak." Wanita itu berkeras dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ibu. Kenapa Ibu keras kepala sekali sih, Bu? Aku 'kan berhak tahu siapa ayahku, Bu."
"Ayahmu tidak peduli tentang dirimu jadi percuma saja kau mencarinya."
"Tapi setidaknya aku tahu siapa dia."
"Itu tidak penting, Abe. Sudah, jangan mencarinya."
"Ibu ...."
Ibu tak menjawab.
"Ayah, ayah pasti tahu 'kan siapa ayahku?"
Ayah menghindari pandangan Iwabe sambil mengusap kepalanya.
"Ayah ...."
"Lakukan saja apa yang ada di depan mata Iwabe. Jangan membuat ibumu marah," ucap pria itu tanpa memandang wajah Iwabe.
"Ayah ...." Iwabe kembali merengek.
"Kita sebaiknya kerja saja. Sudah waktunya kerja."
"Ayah, aku sudah kerja di tempat lain."
Kini ayah dan ibu menoleh pada Iwabe.
"Kenapa kamu kerja di luar? Ini perusahaanmu. Kamu sudah harus mengurusnya," titah ayah.
"Tidak. 'Kan ada Kak Refan."
"Abe ... ini perusahaan ibumu. Mana mungkin kita meminta Refan mengurusnya. Perusahaan ini akan diberikan padamu."
"Ya tapi 'kan bisa saja kalau Kak Refan yang mengurusnya."
"Tapi tetap kamu harus ada. Kau harus berhenti dari pekerjaan itu sekarang."
"Ayah, biarkan aku bekerja di tempat lain, Yah. Aku ingin mencobanya."
"Iwabe."
__ADS_1
"Ayah, tolong. Ibu ...."