Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Klien


__ADS_3

"Lho, bukannya kamu sama Yogi, partner-nya?" tanya Nasti.


"Tuh, lihat aja Yogi, sudah minta ampun sama rewelnya klien ini." Aldi melirik Yogi yang tersenyum miring.


"Kenapa rewel? Emang, udah tua?" tanya Lia.


"Nah, betul itu." Aldi menunjuk Lia. "Kliennya sudah tua."


"Serius?" Nasti menautkan alis.


"Iya."


"Perusahaan apa sih?"


"Minimarket. Tersebar di hampir semua komplek rumah sederhana. Hans minimarket."


"Oh, Hans. Bukannya bagus?"


"Iya, tapi dia ngomel karena merasa dianaktirikan."


"Maksudnya?"


"'Kan aku sudah bilang kalau pabrik lagi bermasalah karena pegawai pabrik keracunan, tapi dia merasa kami berbohong karena pasti masih menyimpan stok. Mana dia minta banyak varian lagi. Kita 'kan cuma jual Nugget ayam, ikan, kentang goreng dan sejenisnya, tapi katanya kurang variatif. Kalau soal variasi kita gak ngurusi begituan karena kita tim marketing yang ngurusi jualan bukan varian."


"Kamu salah, Aldi. Justru masukan dari konsumen harusnya didengar. Dari kritik konsumenlah, perusahaan bisa berkembang. Kalau ada hal-hal seperti itu coba dibicarakan lagi nanti di meeting, mungkin bisa membuat penjualan kita melebarkan sayapnya ke varian baru yang lebih disukai atau bahkan bisa dikirim sampai ke luar negeri."


"Wah, keren!" Lia bertepuk tangan.


"Masa sih?" tanya pria itu tak percaya.


"Mmh, makanya. Saran dari konsumen biar sekecil apapun didengar. Lagipula, kalau mereka protes, itu tandanya sebentuk kecintaan konsumen kita akan produk yang kita punya jadi jangan abaikan itu."


Aldi terdiam.


"Aku juga memikirkan produk baru lainnya seperti makanan kaleng."


"Makanan kaleng?"


"Iya, makanan kaleng. Karena makanan kaleng tidak perlu disimpan di lemari es dan tahan lama, tidak seperti produk kita yang sekarang ini, membutuhkan lemari es untuk tempat penyimpanannya."


"Mmh, bener juga ya?" gumam Aldi seraya menyentuh dagunya.


"Gimana? Kamu bisa ke sana dengan Yogi atau masih butuh Mbak?"


"Sama Mbak Nasti aja deh, Mbak. Biar sekalian belajar. Walaupun sama-sama marketing manager tapi kayaknya Mbak yang lebih senior dan tahu apa yang harus dikerjakan sama konsumen dibanding aku. Aku harus banyak-banyak belajar nih dari Mbak!" Aldi menggaruk-garuk kepalanya.


"Ya, ngak juga sih. Aku sendiri belajar dari konsumen sebenarnya, mengenal produk sendiri karena sebenarnya konsumenlah yang paling tahu produk kita dibanding kita, jadi jangan anti kritik karena dari merekalah produk kita jadi juara."


Lia kembali bertepuk tangan. "Keren, Mbak."

__ADS_1


"Apaan sih?!!" Wajah Nasti memerah gara-gara sahutan Lia.


Akhirnya keduanya turun ke parkiran. Pria itu membalikkan tubuhnya demi berjalan mundur agar bisa berbicara berhadapan dengan Nasti. "Nanti aku kenalkan ke orangnya, tapi nanti yang bicara Mbak Nasti ya? Aku mendengarkan saja."


"Ya sudah." Nasti tersenyum, hampir tertawa.


Bertepatan dengan itu, Iwabe melewati perparkiran. Ia tak sengaja mendengar percakapan mereka.


"Makan siang aku traktir. Di mana aja, ok, tinggal pilih."


"Ngak usah begitu, Di."


Aldi menyentuh tangan Nasti. "Ngak, pokoknya aku maksa."


Nasti tertawa kecil. "Ya, sudah terserah kamu saja."


Aldi membukakan pintu mobil untuk Nasti. Iwabe menyempatkan diri melihat mereka berdua begitu akrab berbicara di dalam mobil sementara Aldi menyetir mobil dan membawa mobilnya hingga keluar area perparkiran.


Ck! Wanita macam apa itu? Aku tolak, dia cari yang baru. Heh! Iwabe bertelak pinggang dengan kesalnya.


----------+++--------


"Maaf, Pak bukan berarti kami mengacuhkan Bapak, tapi memang kita tidak menyetok barang demi kesegaran produk sampai ke tangan pelanggan. Kita juga membuat sesuai dengan pesanan sehingga konsumen merasa spesial karena dibuat sesuai dengan pesanan yang di minta," terang Nasti dengan suara lembut tetapi jelas.


Pria paruh baya yang bertubuh kurus itu terdiam sejenak. "Mungkin ke depannya Anda harus memikirkan lagi soal penyimpanan karena bisa saja ada pesanan mendadak bila stok kami kosong."


"Melihat minat Bapak, kami juga sedang memikirkannya," ujar wanita itu dengan sopan.


"Oh iya, Pak. Terima kasih." Nasti melanjutkan. "Sebenarnya Saya ada beberapa opsi pengembangan tapi belum sempat diajukan di kantor."


"Seperti apa misalnya?"


"Makanan kaleng."


Pria itu menyesap tehnya. "Mmh, that's good(itu bagus). Aku tahu produk kalian sangat bagus, terutama dalam hal pengolahan dan rasa jadi aku akan daftar pertama untuk membelinya."


Keduanya tertawa.


"Ok, karena sudah kami luruskan kesalahpahaman ini, kami ijin pamit." Nasti menyatukan tangannya di depan wajah.


"Oh, sayang sekali. Padahal Saya ingin ngobrol lebih banyak."


"Lain kali saja, Pak. Karena kami harus ke tempat lain lagi."


Ketiganya berdiri.


"Tapi nanti jangan menolak, bila suatu saat Saya mengundang Anda untuk datang."


"Oh, dengan senang hati." Nasti kembali menyatukan tangannya di depan wajah. Mereka berdua pun pamit.

__ADS_1


"Di, kok kamu gak bicara apa-apa sih sama dia? Aku kan gak enak, itu klien kamu," protes Nasti.


"Ngak papa, Mbak. Aku malah senang, Mbak udah bantu aku bicara sama Bapak tadi. Kalau gak ada Mbak, gak tau deh. Mungkin dia pindah cari produk lain kali."


"Itulah pentingnya berkomunikasi dengan klien, tapi aku gak mau ikut yang berikutnya ya? Biar kalau dapat bonus, bisa buat kamu sama Yogi aja."


"Iya, Mbak, makasih." Keduanya masuk ke dalam mobil.


----------+++--------


Iwabe masih saja terbayang keakraban Nasti dan Aldi tadi siang, melirik wanita itu lewat cermin di depannya membuat ia tidak fokus menyetir bus. Sebuah motor yang terburu-buru dan menyalip jalan busnya membuat pria itu menginjak rem secara mendadak.


Kiiit!


"Ah!"


Banyak yang tidak siap akan kejadian itu membuat banyak di antara penumpang tubuhnya menabrak kursi di depannya. Untung saja mereka masih sedikit jumlahnya karena masih libur untuk karyawan pabrik yang keracunan, tapi tetap saja banyak yang mengeluh. Bahkan Bian jatuh dari kursinya hingga ia menangis.


Iwabe buru-buru menepikan bus dan memeriksa penumpang. "Eh, maaf, maaf. Maaf ya?"


Nasti walaupun kepalanya terbentur belakang kursi pria itu, ia tidak peduli. Ia lebih mementingkan anaknya yang jatuh dan menangis di sampingnya. Segera ia mengendongnya. "Duh, anak Mama. Sakit ya, Nak. Mana yang sakitnya?" tanya wanita itu dengan lembut.


Sebenarnya tidak ada yang sakit di tubuh bocah itu, hanya saja ia terkejut karena tiba-tiba saja terjatuh ke lantai bus. Ia memeluk ibunya karena masih bingung dan menangis.


"Iya, Nak. Ngak ada yang sakit 'kan? Anak Mama pintar ya?" Nasti menepikan poni Bian.


Iwabe merasa bersalah karena tidak fokus. Entah kenapa ia memikirkan hal yang tidak penting itu dan kesal.


"Bian, jangan nangis. Ini ada permen, mau?" Seorang pegawai wanita menyodorkan permen pada bocah itu.


Bian mengambilnya dan seketika terdiam.


"Ini Bian, ada kue mau?" Pegawai wanita lain menyodorinya kue dalam bungkus plastik.


"Makasih ya, Mbak. Makasih." Nasti berterima kasih pada kedua wanita itu karena telah membuat anaknya berhenti menangis karena pemberian mereka.


"Tuh, Bian. Bilang apa? Terima kasih dong!"


Namun bocah itu sibuk melihat pemberian kedua wanita itu di tangan.


Ternyata, Bian mulai dikenal di mess karena satu-satunya anak kecil yang tinggal di sana dan punya wajah tampan lagi ceria. Ia sering menjadi bahan obrolan para pegawai wanita di mess.


"Maaf ya, Nasti. Bian sampai jatuh. Apa tidak ada yang terluka?" tanya Iwabe khawatir.


"Tidak ada."


"Ya sudah, kita langsung pulang saja ya?"


____________________________________________

__ADS_1


Intip novel yang satu ini yuk!



__ADS_2