
Iwabe mengerucutkan mulutnya karena masih kesal keinginannya tidak terpenuhi.
"Iwabe."
"Mmh."
"Iwabe."
Pria itu menoleh.
Nasti melayangkan kecupan di bibir pria itu, membuat pria itu terkejut sekaligus senang.
"Lagi ...."
"Ngak ah! Nanti kamu ketagihan."
"Ngak papa, halal." Senyum pria itu makin mengembang. Ia memiringkan kepalanya dan mencium istrinya, lama. Sentuhan di bibir merekah itu memang membuatnya ketagihan hingga tangannya mulai berani meraih tubuh istrinya mendekat dan membuat hangat tubuhnya.
Keinginan lain lagi muncul ketika dekapan itu membuat tubuh bagian bawahnya mulai menegang. Pria itu melepas pelukan dan ciumannya. "Hah!" Ia menggaruk-garuk kepalanya. "Kenapa pesawat ke Jepang lama sekali sampainya sih? Sial!"
Nasti tertawa sambil membersihkan bekas lipstiknya yang menempel pada mulut Iwabe. Pria itu meraih tangan lembut itu dan menciumnya. "Lama sekali, Sayang."
"Sabar ya? Orang sabar di sayang Tuhan."
"Sama di sayang kamu juga, Sayang."
Nasti tak dapat menahan senyum. "Iya," ucapnya lembut.
Kobayashi yang duduk agak ke belakang, memang sengaja agak tidak perlu harus melihat apa yang dilakukan pengantin baru itu. Namun tetap saja, ia melihatnya dari belakang dan tersenyum. Ia senang anaknya bahagia dan yang terpenting bisa bersama dengannya kini.
-------------+++-----------
Setelah mendengar telepon itu, Sastra Dirga bersandar ke belakang. Ia tak tahu bagaimana mengatakan ini pada istrinya, ia hanya menoleh pada wanita itu.
"Apa? Apa katanya?"
"Itu, tadi ...." Pria itu menghela napas. "Pengurus mess."
"Iya ...."
Namun pria itu tak kunjung melanjutkan kata-katanya.
"Apa, katakan!" teriak wanita itu gemas.
"Nasti resign."
"Lalu?" ucap Maiko setengah acuh.
"Karena sudah menikah."
Maiko menatap cemas pada suaminya. "Dengan mantan suaminya, 'kan? Bukan dengan Iwabe 'kan?"
__ADS_1
Satra Dirga kesulitan menelan salivanya. "Pria 'kan bisa menikah dengan hanya punya saksi."
Teriakkan melengking dari Maiko memekakkan telinga. Pria itu harus tahan walaupun gendang telinganya terasa sakit.
"Jangan bilang kalau Iwabe menikah dengannya!" teriak wanita itu lagi.
"Aku ... belum bilang."
Kembali Maiko berteriak memekakkan telinga. Kali ini Sastra Dirga harus menutup telinganya karena sudah tak tahan. Kemudian teriakkan itu akhirnya reda disertai tangis dengan banjir air mata.
Pria itu bersiap dengan memeluk dan menenangkannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Cukup lama ia harus menenangkan Maiko hingga akhirnya tangis wanita itu reda.
Maiko mulai bicara. "Aku harus bicara dengan orang tua Nasti. Bagaimana bisa mereka membohongi kita!" ucapnya sewot dengan menyingsingkan lengan baju.
"Tunggu dulu, Bu. Kita tidak boleh menuduh orang. Kita harus tanyakan dulu kebenarannya."
"Sudah pasti mereka berbohong! Apalagi? Mereka menyembunyikan pernikahan anak kita 'kan? Siapa yang akan menikahkan anaknya kalau bukan orang tuanya!"
"Tetap saja tidak adil kalau kita tidak bertanya lebih dulu."
Maiko menghela napas kasar. "Baiklah, aku akan membiarkanmu bicara dengannya karena aku takkan sanggup selain memarahi kedua orang itu!" ucapnya dengan wajah masam.
---------+++----------
Ayah Nasti mempersilahkan keduanya masuk dan duduk di ruang tamu. Ibu ke dapur membuatkan minum. Maiko terlihat masih mengerucutkan mulutnya saat melirik ayah Nasti.
Ayah Nasti akhirnya menceritakan semua sesuai saran Iwabe dan yang terjadi, Maiko malah tertunduk diam.
Iwahara ... kau benar-benar licik, kau benar-benar licik! Kau dekati Abe-ku dan berusaha mengambil hatinya dengan menikahkannya sesuai dengan keinginan anak itu. Kau sudah menyalahi janjimu. Pria laknat! Wanita itu mengeratkan kepalan tangannya dengan wajah geram.
Namun kemudian wajahnya berubah sedih. Tapi kalau Abe sudah berada di tangannya, dia pasti akan melakukan segala cara agar anak itu takkan pernah kembali padaku. Sialan! Berengsek! Pria berengsek!
"Maiko," panggil Sastra Dirga lembut.
"Hah?" Maiko baru tersadar.
"Bagaimana?"
Maiko menatap suaminya dan ayah Nasti. Memang ayah Nasti tidak salah, karena Iwabe di setujui ayahnya menikah dengan Nasti. Yang pasti kini mereka sudah berbesan karena anak mereka sudah sah menikah menurut hukum dan peraturan yang berlaku. "Iwahara ... Iwahara berengsek itu ...." Ia mulai menangis.
Sastra memeluknya. "Maiko."
"Bagaimana aku bisa mendapatkan Abe kembali ...." tangisnya.
Sastra mengusap punggung istrinya. "Kita pikirkan pelan-pelan ya?"
"Aku ingin pulang." Maiko masih menangis.
Sastra Dirga akhirnya pamit dan keduanya pulang.
Di rumah, Maiko hanya berbaring dan berpikir. Ia tak banyak bicara. Sastra membiarkan saja istrinya itu berdiam diri di kamar.
__ADS_1
Saat makan malam, ia baru akan mengajak istrinya itu makan ketika melihat Maiko keluar dengan sudah berganti pakaian. "Lho, mau ke mana?" tanyanya melihat pakaian Maiko yang santai walau tetap terlihat mahal.
"Temani aku ya, Yah," ucap wanita itu dengan wajah serius.
"Ke mana?"
"Mal, sekarang."
--------------+++-----------
"Bian!"
Bocah itu tetap berlari ke arah sebuah kamar. Ia berjinjit dan membuka pintunya. Pintu itu terbuka dan ia berlari ke dalam.
"Bian!" Iwahara mengejarnya. "Astaga anak itu. Orang tuanya 'kan sedang berduaan di kamar," gumam pria itu. Sesampainya di depan pintu ia mengintip ke dalam. Ternyata Iwabe dan istrinya hanya beristirahat tidur setelah lama dalam perjalanan naik pesawat tadi.
Syukurlah, mereka belum melakukan apa-apa, soalnya pintunya tidak terkunci.
Bian memanjat naik ke atas ranjang karena dilihatnya Iwabe tidur dengan ibunya. Bocah itu mendatangi Iwabe membuat pria itu terbangun.
"Mmh, Bian." Iwabe membuka matanya, terkejut. "Ada apa?"
Nasti yang berada dalam dekapan suaminya terbangun. "Bian ...."
Iwahara mendekati ranjang. "Mungkin karena merasa asing dan tidak ada seorangpun yang dikenal, ia mencari kalian."
"Mmh," sahut Nasti pelan, tapi kemudian ia panik. Iwahara tengah menatapnya. "Ah, aku belum pakai jilbab!" teriaknya sambil menarik selimut hingga ke atas menutupi kepalanya.
"Ck, Otousan. Kenapa masuk tidak ketuk pintu sih? Nasti belum pakai jilbabnya," keluh Iwabe.
"Lho, apa masalahnya? Aku hanya melihat dia tanpa jilbab. Apa itu salah? Melihatnya tanpa pakaian baru itu salah," jawab Iwahara sengit, tak mau disalahkan.
Iwabe bingung sendiri. Ia mencoba duduk dengan mata masih menyipit. "Ya ... ya sudah. Iya. Kami salah tidak mengunci pintu, tapi itu karena takut Bian mencari ibunya. Sekarang Bian sudah di sini, jadi otousan bisa istirahat. Terima kasih sudah menjaga Bian untukku."
"Mmh." Iwahara melirik Nasti yang mengintip dari bawah selimut. Ia kembali keluar dan menutup pintu.
"Nasti, kalau ayahku jadi keluargamu, apa dia tidak boleh melihatmu tanpa jilbab?"
"Mungkin boleh, tapi aku belum terbiasa dengannya."
Iwabe mengusap wajahnya pelan. "Mmh, ya sudah. Aku mau tidur lagi apa kau mau menemaniku?"
Bian dengan lancang duduk di pangkuan pria itu.
"Ya sudah." Nasti tak mengenal rumah besar itu. Ia lebih baik tidur lagi menemani suaminya dan akan keluar bersama suaminya, karena itu terasa hal yang paling nyaman yang bisa ia lakukan saat ini. Ia kembali muncul dari balik selimutnya.
"Ya udah, tidur lagi yuk!" Pria itu memasukkan bocah itu ke dalam selimut.
"Iya," jawab bocah itu bersemangat.
Iwabe tidur dengan memeluk keduanya. Nasti dan Bian.
__ADS_1