Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Aturan Main


__ADS_3

Mereka mendatangi toko khusus pakaian pria. Di sana Iwabe diukur, ukuran tubuhnya dan dicarikan pakaian yang sesuai. Pria itu hanya bisa berdiri sementara Kobayashi mencarikan pakaian yang harus dikenakan.


Iwabe mencoba beberapa baju yang dipilihkan dan Kobayashi, pria paruh baya itu sangat detail dalam memilih bahan dan corak yang ia mau. Bahkan, Iwabe juga harus mencoba jas yang sudah pria itu pilihkan.


"Pak, ini sudah hampir satu jam. Apa tidak ada satu pun pakaian yang dipilih?"


Pria itu meliriknya dengan wajah kesal hingga ia menarik dasi kupu-kupu yang tengah ia pasang di leher Iwabe.


"Aaahh!" Iwabe memegangi tali dasi itu yang hampir menjerat lehernya.


"Kamu benar-benar tidak sopan ya, bicara seperti itu pada orang yang lebih tua!"


"I-iya maaf. Eh, tapi daripada berjam-jam berada di sini, lebih baik kita bekerja saja, Pak, jadi hal seperti ini dilakukan situasional saja. Rumit. Beli saja pakaian ketika lagi butuh." Iwabe masih memegangi kerah baju yang masih terjerat dasi yang di pegang pria itu.


"Kita memang beli karena butuh!" teriak Kobayashi dongkol sambil melepas pegangannya pada dasi kupu-kupu itu. "Kau akan lembur bekerja mulai hari ini karena ada undangan pertemuan bisnis tiap malam dan pastinya kau tidak punya pakaian yang sesuai untuk pergi denganku 'kan?"


Iwabe menunduk. "Eh, iya, maaf, Pak aku tidak tahu." Ia mengurut-urut lehernya.


"Makanya 'kan sudah aku peringatkan sejak tadi agar kau tak cerewet saat aku mengurusimu!"


Siapa yang cerewet? Bukankah dia dari tadi yang cerewet mengurusiku? Namun Iwabe tak berani bicara, karena pria itu lebih tua darinya dan juga atasannya.


Setengah jam kemudian, akhirnya selesai sudah. Banyak pakaian yang dipilih yang dibelikan untuk Iwabe membuat ia bingung bagaimana membawa pulang tas belanja sebanyak itu sedang ia tadi berangkat diantar ayah Nasti.


Kobayashi mengeluarkan beberapa pakaian yang sudah dibayarnya. "Pakai baju ini sekarang. Aku tak suka pakaian yang kau kenakan itu."


Iwabe terpaksa menggantinya di ruang ganti toko itu. "Begini?" Iwabe keluar sambil membawa pakaiannya di tangan.


Kobayashi memberi kode ke salah satu anak buahnya agar mengambil pakaian dari tangan Iwabe dan membawanya pergi.


"Eh, mau dibawa ke mana pakaianku?"


"Buang," sahut Kobayashi.


"Di buang?"


"Sudah. Ayo, kita ke tempat lain." Kobayashi berjalan mendahului.


Iwabe benar-benar geram, pasalnya pakaian itu adalah pemberian Nasti saat mereka mencari katering untuk buruh waktu itu. Pakaian itu sering dipakainya bekerja sejak itu, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ada mimpi yang lebih besar yang tengah di kejarnya hingga ia berusaha untuk bersabar.


Kemudian mereka mendatangi toko barang elektronik. Pria itu menbelikan Iwabe laptop baru yang paling mahal. "Kau bisa menggunakannya 'kan?"


"Iya."


"Ok."


Kemudian ia memilih restoran tempat mereka makan siang. Dengan bantuan Iwabe yang tahu tentang mal itu dan restoran yang ada, mereka memasuki sebuah restoran Jepang yang cukup mewah. Mereka makan siang di sana.

__ADS_1


Iwabe terpaksa duduk di samping pria itu karena memintanya membuka laptop. Ternyata walaupun ia pemilik perusahaan yang sudah tidak muda lagi, ia mengerti tekhnologi. Ia membukakan website perusahaannya dan memberi tahu tentang perusahaan-perusahaan yang dimilikinya. Iwabe mendengarkan dengan teliti.


Sambil makan siang, ia bekerja. Iwabe diminta untuk memeriksa saham-saham yang dimilikinya di pasar saham, ruang kerja pegawainya yang berada di berbagai belahan dunia, juga memeriksa ruang kerjanya di banyak kantor yang bisa dipantau lewat CCTV. Ia bisa mengendalikan kantornya dari jarak jauh!


Iwabe cukup terkagum-kagum dengan pria ini. "Bapak punya kantor sebanyak ini di berbagai negara, tapi kenapa tidak bisa berbahasa Inggris?"


"Itu sama saja dengan, bila aku bertanya padamu. Kenapa kau orang Jepang tapi tidak bisa berbahasa Jepang?"


"Eh, itu ...."


"Jawabannya adalah, orang tidak perlu tahu kenapa, karena sudah dari sananya begitu!" ucap pria itu setengah menggerutu.


"Eh, iya."


Lama kelamaan Iwabe mulai terbiasa dengan pria itu. Selain detail, pria itu juga ternyata gila kerja.


Di sore hari, mereka kembali ke hotel dan Iwabe mendapat kamar untuk beristirahat. Ia terlelap begitu saja di atas tempat tidur karena kelelahan.


----------+++----------


Pintu diketuk. Setelah menunggu beberapa lama pintu tak juga dibuka, pria paruh baya itu membuka pintu kamar itu. Ternyata Iwabe tengah sholat Ashar di atas karpet.


Hah, beginilah kalau masuk salah satu agama. Merepotkan. Pria itu kembali keluar.


Tak lama Iwabe pun keluar. "Bapak cari saya?" Ia mendatangi Kobayashi.


"Eh, iya, Pak."


"Pakai saja uang yang kuberikan untuk naik taksi tapi jangan datang telat ya? Jangan lupa pakai pakaian yang telah kubeli."


"Eh, iya, Pak." Pria itu pun pamit.


Ketika ia pulang ke rumah dengan taksi, ibu Nasti terkejut dengan bawaan Iwabe yang bertumpuk.


"Apa ini?"


"Pakaian, Bu. Ah, orang itu cerewet sekali sampai penampilan juga ia ributkan," jawab Iwabe setengah menggerutu.


"Siapa? Bosmu? Bagus dong, berarti dia perhatian."


"Tapi seleranya itu lho! Aku tak suka pakaian yang terlalu rumit, seperti harus pakai jas dan dasi karena itu bukan gayaku seperti itu."


Ibu tersenyum. "Biar bagaimanapun, bekerja dengan orang lain, ya harus mengikuti peraturan yang ada."


"Ibu bicaranya persis seperti Nasti," gerutu Iwabe.


Ibu tertawa.

__ADS_1


"Eh, Bian ke mana? Tidak terdengar suaranya?" Iwabe menengok ke kanan dan ke kiri.


"Dia masih tidur. Mungkin sebentar lagi bangun."


"Ah, tiduran sama Bian ah!" Pria itu meninggalkan tumpukan tas belanjanya di atas meja makan dan pergi ke kamar Nasti, tinggal ibu yang hanya geleng-geleng kepala.


Ibu masih bingung pada putrinya, kenapa orang sebaik Iwabe malah dilepas, padahal Iwabe memenuhi syarat untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk Bian. Meskipun begitu, ibu tidak pernah memaksa putrinya untuk memilih jalan hidupnya. Ia tetap memegang prinsip itu hingga kini.


--------------+++------------


Malamnya, Iwabe menemani pria itu bertemu pebisnis yang baru. Ternyata kedatangannya ke Jakarta diincar oleh banyak pebisnis Indonesia yang ingin kerjasama dengan pria itu dan ia meminta Iwabe untuk menyortir perusahaan dan bisnis yang ditawarkan.


Iwabe memeriksa bisnis yang ditawarkan pria itu sehingga ia yang banyak melakukan pembicaraan sedang Kobayashi hanya menikmati makan malamnya sambil mendengarkan keduanya.


Saat pulang, mereka kembali berdiskusi di dalam mobil.


"Aku butuh orang marketing untuk acara besok malam," ujar Kobayashi.


"Ada acara apa, Pak?"


"Pesta pernikahan anak salah satu rekan bisnisku. Di sana pasti kita akan bertemu dengan banyak pebisnis lainnya. Aku rasa kau butuh asisten karena pasti banyak yang akan mencariku."


"Mmh, aku rasa aku punya teman yang bisa membantuku." Iwabe menyentuh dagunya.


---------------+++---------------


"Mmh ...." Kembali ada yang menyentuh pipi pria Jepang itu hingga ia terpaksa membuka mata.


Ada Bian sedang duduk di hadapannya dengan senyum nakal dan Nasti yang tertawa berdiri tak jauh dari tempat tidurnya.


"Nasti ...!" Pria itu terpaksa duduk dari tidurnya.


"Hei, tidak jadi pergi jalan-jalannya? Kami sudah pagi-pagi sekali datang ke sini lho!"


"Jadilah! Tapi masih pagi-pagi, Nasti. Aku masih ingin tidur lagi." Iwabe meraih tubuh Bian dan mendekapnya di atas tempat tidur. "Ayo, Bian. Temani Om tidur."


Bian tertawa.


___________________________________________


Halo reader. Jangan lupa dukung terus novel ini dengan mengirim vote, like, komen dan hadiah. Ini visual Iwabe yang penampilannya diubah Kobayashi hingga terlihat profesional. Salam, ingflora. 💋



Yuk lihat novel keren temen author yang satu ini.


__ADS_1


__ADS_2