Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Kendali


__ADS_3

Mobil akhirnya sampai ke sebuah tempat penjualan mirip pasar yang terbuka tapi terlihat bersih dan modern. Ada meja-meja yang diletakkan beberapa buah wadah berisi ikan atau binatang laut lain dan ada pula wadah berupa ember yang berisi ikan hidup. Juga akuarium yang bisa melihat berbagai jenis ikan langka yang diperjualbelikan.


"Ini mirip pasar yang ada di Eropa ya? Bersih." sahut Faza senang.


"Iya, ini konsepnya memang meniru pasar luar negeri agar pembeli nyaman membeli tanpa harus berkubang dengan lumpur dan becek. Jauh dari kesan pasar bau dan kotor versi lokal."


"Mmh, mengingatkan aku saat sekolah di luar negeri."


"Iya. Ini untuk semua kalangan. Bahkan beberapa restoran pun mengambil hasil laut dari sini karena terjamin kesegaran dan kebersihannya. Yang belanja pun juga banyak dari kalangan penjabat karena banyak juga ikan laut langka yang dijual di sini, juga ikan-ikan mahal untuk koleksi." Iwabe keluar dari mobil bersama Faza.


"Padahal aku cuma ingin pergi ke pasar ikan biasa agar bisa membeli nantinya dengan harga murah untuk dimasukkan ke dalam harga penjualan produk."


"Oh, itu kamu tidak usah pikirkan. Itu adalah pekerjaan marketing untuk mengecek harga jual. Tugasmu hanya membuat produk baru saja, titik."


"Mmh, begitu ya?"


Iwabe menemani Faza melihat-lihat ikan dan binatang laut yang dijual di sana.


"Kamu suka sushi?" tanya Faza sambil lalu.


"Sushi? Tidak."


"Kok aneh? Biasanya orang Jepang suka sushi."


"Untung kau bertanya aku tidak suka."


"Kenapa?"


"Karena aku hidup di sini. Di Indonesia."


"Ibumu memang tidak pernah masak sushi?"


"Pernah, tapi makanku tidak banyak. Aku, lidahku lebih suka makanan Eropa atau Indonesia."


"Oh ...." Faza melirik Iwabe. "Bisa bahasa Jepang ya?"


"Tidak."


"Ini benar-benar aneh! Bukankah ibumu orang Jepang asli? Bagaimana caranya kamu berkomunikasi dengan keluarga ibumu?" Faza berhenti melangkah.


"Susah, tapi mau bagaimana? Ibu memang tidak mengizinkanku belajar bahasa Jepang."


Faza mengerut kening.


"Terus, kamu mau beli apa?"


Faza membalikkan tubuhnya ke belakang. Tepat di belakangnya ada penjual bermacam-macam hasil laut. Ia kemudian mulai memeriksa.


Beberapa ikan, cumi, gurita dan bumbu dapur telah dibeli. Mereka kemudian harus kembali ke kantor.

__ADS_1


"Aku ke toilet dulu ya?"


"Iya," jawab Iwabe yang sedang menyusun belanjaan Faza di bagasi belakang. Ia kemudian menunggu di dalam mobil.


Lima belas menit kemudian Faza kembali dengan membawa minuman yang dikemas dan memberikan satu untuk Iwabe. "Aku tadi lihat ada yang jual jus jadi aku beli. Aku beli juga untukmu, jus mangga."


"Oh, makasih." Iwabe memasukkan sedotan pada tempat yang tersedia dan mulai menyedotnya.


Saat itu Faza juga minum dan harus menyibak cadar untuk bisa memasukkan sedotan ke dalam mulutnya.


Detik itulah, Iwabe bisa melihat wajah wanita itu walau hanya dalam waktu beberapa detik saja tapi ia bisa melihat wanita itu cukup cantik untuk orang seusianya. Ia terperangah. "Kau cantik juga ternyata ...."


Keterusterangan Iwabe, membuat hati Faza berbunga-bunga.


"Eh, maaf. Apa tidak seharusnya aku melihatnya ya?" Iwabe yang tidak mengerti, merasa bersalah.


"Oh, tidak apa-apa, 'kan tidak sengaja." Faza menundukkan pandangan, malu diperhatikan Iwabe.


"Ya, sudah. Kita langsung kembali ke kantor saja." Iwabe sepertinya tidak peduli dan meletakkan minuman itu di tempat wadah minum depan dasbor. Ia kemudian memasang seatbelt dan menyalakan mesin mobil.


Faza mengerut dahi. Hanya segitu saja? Tidak ada komentar lain?


Mobil kemudian dijalankan dan Faza merasa sebal.


Sesampainya di kantor, Iwabe membantu Faza kembali, membawakan barang belanja ke kantornya di pabrik. Di sana mereka malah bertemu Refan, Lia dan Nasti. Lia dan Nasti bersiap-siap akan pergi.


"Oh, Nasti. Kau mau ke mana?" Pria itu berhenti sebentar sambil masih memegangi plastik belanja.


"Nanti lama gak? Makan siang kamu ada di kantor?"


"Gak tau, Iwabe. Nanti aku telepon ya?" janji Nasti.


"Aku tunggu lho!" Iwabe dengan penuh penekanan.


Nasti kembali meliriknya. "Iya." Wanita itu kemudian pergi bersama Lia. Faza bisa melihat, perhatian pria itu belumlah berubah pada Nasti. Sia-sia saja ia memperlihatkan wajahnya pada pria itu.


"Faza, ini mau ditaruh di mana?" tanya Iwabe pada wanita itu.


"Oh, ayo ikut aku!"


"Eh, Iwabe," panggil Refan.


"Iya, Kak." Pria Jepang itu menoleh.


"Kamu tadi dicari ibu di kantor," terang Refan. Ia berbohong. Refan tahu Iwabe tak pernah lepas dari pengawasan ibunya. Karena itu, bila Iwabe kembali, ibu pasti mencarinya.


"Oh, gitu. Eh ...."


"Biar sini, barangnya aku yang bantu bawa." Refan mengambil alih barang bawaan Iwabe.

__ADS_1


"Maaf ya, Kak."


"Gak papa."


Iwabe pun pergi.


"Nah, ini mau dibawa ke mana?"


Faza cemberut. "Ruanganku."


Dan tentu saja, Refan tak melihat wajah cemberut wanita itu.


-------------+++-----------


Iwabe segera mendatangi ruang direksi, tapi sekretaris direksi menahannya. "Pak, ada tamu."


"Eh, begitu, tapi Bu Maiko tadi katanya cari Saya?"


"Sebentar, Pak. Saya tanyakan dulu."


Sekretaris itu masuk ke dalam ruang direksi. Tak lama ia keluar. "Di suruh masuk sama Ibu, Pak."


Iwabe kemudian masuk. Ada seorang tamu pria yang duduk di kursi sofa bersama ayah dan ibu. Di atas meja ada selembar kertas besar yang sedang diteliti mereka bertiga.


"Oh, kau sudah datang. Ayo sini," ajak ibu.


"Ada apa, Bu?" Iwabe ikut duduk bersama mereka.


"Ini peta pabrik dan kantor baru kita. Kamu mau dibuat seperti apa, kamu bisa menentukannya."


Iwabe hanya melihat saja. "Mmh, rasanya kantor belum perlu, Bu, tapi pabrik harus, karena sejak ada mesin pengemas makanan kaleng, pabrik jadi terasa sempit. Harus ada perluasan mengingat kita akan membuat produk baru lagi."


"Tapi kita 'kan akan menambah karyawan lagi?" tanya ibu.


"Kita maksimalkan yang ada. Aku ingin lihat penjualannya dulu. Kalau meningkat secara signifikan, baru aku buat kantor lagi, tapi kantornya bukan kantor cabang, tapi kantor pusat yang letaknya di tengah kota. Itu pun aku ingin sewa gedung perkantoran saja karena tanah di pusat kota cukup mahal."


"Ibu punya cukup uang untuk itu, Iwabe," sahut ibu.


Pria itu melirik ibunya. "Kalau pendapatku di terima ya? Itu keinginanku." Ia tahu kebebasan macam apa yang ditawarkan ibunya, karena itu ia tak memaksa.


Maiko terdiam. "Baiklah, tapi kantor pusat, ibu akan beli tanah di tempat strategis dan akan kita bangun. Itu bahkan lebih murah biayanya."


Iwabe mulai sebal. "Eh, kalau begitu aku mau keluar dulu. Aku tadi lagi ngobrol dengan Faza."


"Oh, ya? Kalau begitu kau bisa pergi dan lanjutkan bicaramu dengan Faza." Ibu terlihat senang.


Iwabe kemudian keluar dari gedung kantor tapi bukan ke pabrik. Ia menaiki mobilnya dan pergi keluar dari area kantor itu.


Suntuk rasanya bekerja dengan ibu sebagai bosnya. Rasanya ia takkan tahan bekerja bersamanya. Ia ingin ibu balik lagi ke masa dahulu dengan ibu yang berada di rumah saja. Ia pasti bisa menjalankan perusahaan itu dengan baik tanpa bantuan ibu. Keberadaan ibu di kantor telah merusak segalanya.

__ADS_1


Iwabe tak sengaja melihat sebuah mobil yang dikenalinya di jalan. Dua orang wanita tengah memperhatikan ban mobil di depannya yang telah kempes.


Iwabe menghentikan mobil di samping mereka dan keluar dari mobil. "Nasti?"


__ADS_2