Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Diculik


__ADS_3

Iwabe masuk ke dalam kamar dan berjongkok di samping Bian. "Mau Om bantu?"


"Bisa Om," ujar bocah itu berkeras. Ia mengulang lagi memakai kaus kaki. Kembali ia memasukkan jemari kakinya dan kemudian ditarik. Kali ini ia berhasil walaupun masuknya tidak tepat.


Pria itu membantu meletakkan bagian telapak kaki dengan benar lalu memasangkan sepatu. Ia lalu berdiri dan menarik bocah itu untuk ikut berdiri bersamanya. Nasti pun telah selesai dan memakai sepatu.


"Ayo!" sahut Iwabe. Keduanya mengikuti pria itu sampai ke dalam mobil.


-----------+++------------


Sehabis makan siang, Iwabe mengajak keduanya ke mall. Bian bukan main senangnya. Ia senang bermain prosotan bersama anak-anak lain.


"Mungkin Bian sudah bisa sekolah ya?" ujar Iwabe di sela-sela mengobrol dengan Nasti. Ia memperhatikan Bian yang ternyata suka berteman dengan anak-anak lainnya.


"Bian? Baru juga dua setengah tahun. Bicara belum lancar dan belum bisa masuk TK. Hanya menghabis-habiskan uang saja bila masuk playgroup."


"Tapi dia tidak bermain ke luar rumah."


"Lingkungannya jarang ada anak kecil. Susah bermain dengan tetangga karena jauh."


"Padahal dia lagi butuh-butuhnya teman bermain. Apa kita cepat-cepat menikah saja, biar bisa kasih dia adik?" Pria itu melirik Nasti yang duduk di sebelahnya dengan senyum lebar.


Nasti hanya melirik balik dengan gemas. "Itu prosesnya panjang, Iwabe. Gak bisa sehari bikin langsung besok jadi."


Pria itu tertawa lepas. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu sambil berbisik. "Padahal aku sudah tidak sabar lho, ingin tidur denganmu. Ingin tahu panasnya ranjang bersamamu."


Nasti langsung mencubit pinggang pria itu keras-keras.


"Aduh!"


Orang-orang di sekitar, menoleh ke arah mereka termasuk anak-anak, tapi hanya sebentar. Tak lama mereka kembali ke kegiatan mereka masing-masing. Namun masih saja ada yang memperhatikan mereka. Bahkan ada seorang pria yang telah membuntuti mereka, dari sejak mess tempat Nasti tinggal hingga mal itu.


"Rasain," rutuk wanita itu gemas.


"Nasti, aku 'kan pria normal," gerutu Iwabe sambil mengusap pinggangnya yang telah dicubit tadi.


"Iya, tapi ini tempat ramai, Iwabe."


"Oh, jadi harus bicara di tempat sepi ya?"


Nasti mulai ingin mencubit lagi tapi pria itu dengan tangkas menghindar.

__ADS_1


"Jangan galak-galak dong ah, dengan calon suami," pinta pria Jepang itu. "Aku 'kan cuma menceritakan tentang khayalanku. Masa tidak boleh?"


"Boleh, tapi pada saat yang tepat. Ngerti? Kalau tidak mengerti, tanganku jalan lagi nih?" Wanita itu memperlihatkan jari jemarinya yang siap mencubit.


"Eh, iya, iya, enggak. Kita bicara yang lain saja."


Pria yang mengintip mereka sedari tadi di kejauhan, mendapat panggilan telepon. "Halo? ... Iya, masih di sini ... iya, Pak, ok." Ia menutup telepon dan kembali memantau.


Setelah membiarkan Bian bermain dengan anak-anak lainnya, Iwabe membawanya ke toko buku. Di sana, bocah itu diperkenalkan dengan buku cerita anak-anak. Iwabe mencoba mendongeng dan Bian mendengarkan dengan seksama. Bocah itu terlihat antusias.


Nasti tentu saja senang karena semakin hari Bian semakin dekat dengan pria Jepang itu, tapi sekaligus khawatir, apa mereka punya masa depan?


Setelah puas menemani Bian bermain, mereka pun pulang. Sebelum ke rumah Nasti, Iwabe mampir di sebuah pom bensin. "Sebentar, aku isi bensin dulu ya?"


"Mmh."


Mereka berada di antrian terakhir dari beberapa mobil. Saat giliran mobil Iwabe tiba, pria itu keluar. Tiba-tiba seorang pria datang dan menarik Iwabe dengan kasar, menjauhi dari mobilnya.


Dua orang pria lain mendatangi tempat Nasti berada dan membuka pintu. Ia menarik wanita itu keluar bersama Bian. Mereka mengambil bocah itu terlebih dahulu.


"Hei, anakku! Bian!" teriak Nasti.


Bian yang diambil lebih dulu dari pangkuan Nasti, terkejut dan menangis.


"Iwabe!" teriak wanita itu.


Iwabe panik ada yang membawa Nasti dan Bian keluar dari mobil. "Hei, tunggu! Apa yang kau lakukan padanya?!" teriaknya, tapi pria yang bersama Iwabe menahan pria Jepang itu. Iwabe berusaha mendorong pria itu tapi sia-sia karena pria bertubuh kekar itu cengkramannya kuat, ditambah ada pria lain yang datang membantunya. "Hei, lepaskan aku!" Iwabe meronta.


Semua terjadi begitu cepat. Nasti juga meronta berusaha melepaskan diri tapi ia takut sesuatu terjadi pada anaknya. "Tolong, jangan sakiti anakku," pintanya pada kedua orang itu.


"Kalau begitu, ikuti perintahku! Ayo naik ke mobil!" titah pria yang menggendong Bian.


Bocah itu masih menangis. "Mama ...."


Nasti yang ketakutan terpaksa mengikuti perintah pria itu. Kemudian pria itu menyerahkan Bian pada Nasti. Wanita itu mendekap Bian dengan erat.


"Hei, mau kau bawa ke mana mereka!" Iwabe masih meronta berusaha membebaskan diri.


Saat itu hanya ada beberapa orang saja yang berada di tempat pom bensin itu yang pegawainya kebanyakan wanita. Seorang pria tak berani menolong karena mereka semua berwajah sangar.


"Hei, penculik! Hentikan atau kulaporkan polisi!" teriak pria Jepang itu menakut-nakuti tapi itu membuat pria yang memegangi tangan Iwabe dongkol. Pria itu memukul Iwabe dari belakang.

__ADS_1


"Ah!" Iwabe jatuh terduduk di lantai.


"Iwabe!" teriak Nasti yang melihat kejadian itu. Ia begitu khawatir pada keduanya, Iwabe dan anaknya.


Siapa yang telah membuat kekacauan ini dengan menculik diri dan anaknya. Sebuah nama terbersit di kepala tapi ia tak ingin percaya.


Iwabe masih meronta dengan berusaha melepaskan diri sehingga pria yang satu lagi kesal dan ingin menghajar Iwabe tapi kemudian seseorang datang dan menghajar keduanya dengan sebuah tongkat.


Iwabe tersenyum. Pria bertongkat itu menyelesaikan kedua pria itu dengan beberapa kali gerakan. Keduanya roboh. "Ah, kamu datang. Please, helped her!(Aku mohon, tolong dia!)" Iwabe menunjuk ke arah mobil yang kini bergerak menjauh.


"Iwabe!" teriak Nasti dari dalam mobil. Wanita itu dipegangi pria di sampingnya hingga ia tak bisa lari.


Seorang pria lagi mendatangi pria bertongkat. Pria bertongkat itu mengajak Iwabe naik ke dalam mobil. Iwabe menurut.


Di dalam mobil ia diapit oleh keduanya. Ia heran karena masih ada kursi kosong di depan. "Why you all here?(Kenapa kalian di sini semua?)" Ia menatap keduanya. Iwabe berniat pindah ke depan dengan keluar lagi dari mobil. "Ok, I .... (Ok, aku ....)"


Tiba-tiba seseorang memukul tengkuk pria itu hingga pingsan. Rupanya pria bertongkat itu yang memukul tengkuk Iwabe. Keduanya menyandarkan tubuh Iwabe ke belakang.


Pria bertongkat itu kemudian memerintahkan anak buahnya untuk segera menjalankan mobilnya.


Nasti melihat heran pada mobil yang membawa Iwabe. Mobil itu tidak mengikuti mereka tapi malah menjauh. "Iwabe ... kau ke mana?"


------------+++-----------


Nasti akhirnya tahu, siapa yang telah menculiknya saat mobil itu mendatangi sebuah rumah mewah yang sangat dikenalnya karena ia pernah tinggal di rumah itu dulu. Di depan pintu menunggu pria yang mengepalai penculikan ini.


Nasti turun diikuti para pria itu di belakangnya. "Gerald, beraninya kamu menculik aku seperti ini!" Wanita itu mendengus kesal. Ia masih menggendong Bian dalam pelukan.


"Nasti, aku sedang membantumu berpikir jernih. Bukankah kembali padaku itu yang terbaik?"


"Apa maksudmu?"


"Menikahlah kembali denganku."


"Tidak. Aku sudah bilang berkali-kali padamu 'kan?"


"Tapi kali ini kamu harus menikah denganku atau aku akan menahanmu di sini."


"Gerald!"


"Kau tidak punya pilihan lain, Nasti, kecuali menikah denganku. Besok, kita menikah di rumahmu."

__ADS_1


"Gerald ...."


__ADS_2