Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Bujukan


__ADS_3

Saat mobil mewah Iwabe keluar dari halaman gedung, saat itu pula mobil mewah Gerald masuk. Walaupun berpapasan, Iwabe berusaha tidak peduli, tapi Gerald, ia senang. Kini tidak ada yang akan mengganggu hubungannya dengan Nasti lagi.


"Wah, mantanmu yang tampan itu datang, Mbak," celetuk Lia menggoda Nasti.


"Hah ... dia lagi." Nasti melangkah ke gedung kantor tak peduli.


"Nasti! Ayo!" Mobil Gerald berhenti di samping Nasti dan secara otomatis, kaca mobil yang dekat dengan Nasti terbuka pelan-pelan. Pria itu menurunkan kepala agar bisa melihat wajah mantan istrinya itu.


Nasti berhenti dan merengut. "Gerald, aku sudah bilang ...."


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," potong Gerald.


Wanita itu enggan. Sambil menghela napas kasar, ia berpikir.


"Tolong, Nasti berbaik hatilah padaku," pinta Gerald.


Nasti menatap ke arah mobil dan akhirnya ia mengalah. Ia masuk ke dalam mobil mewah milik Gerald.


Pria itu begitu senang. "Mau kubantu pasang seatbelt-nya, Nasti?" Ia sudah mengangkat tangannya hendak bergerak ke depan.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." Wanita itu bergerak cepat dengan memasang seatbelt itu menyilang ke tubuhnya.


"Ok."


Mobil meluncur ke jalan. Pria itu mulai membuka percakapan. "Aku belum memberi apa-apa buat Bian."


"Kau sudah membelikannya waktu itu." Nasti menatap pria itu.


"Tapi dibanding usahamu yang selama ini membesarkannya, aku belum apa-apa, Nasti. Aku malu padamu."


"Bian 'kan masih anak-anak, Gerald. Belum terlambat untuk kamu mengambil peranmu sebagai ayah padanya." Nasti beralih menatap ke depan.


"Bagaimana kalau peranku sebagai suami?"


Nasti melirik pria itu sejenak. "Aku sudah menjelaskannya padamu, Gerald. Aku tidak ingin kembali padamu."


Gerald menghela napas panjang. "Apa kamu tidak kasihan pada Bian yang tidak punya orang tua yang lengkap? Kamu juga sendirian menafkahi Bian. Kalau kita menikah lagi, setidaknya kamu bisa berbagi denganku mengurusi si kecil."


Kata-kata Gerald ada benarnya tapi Nasti sudah terlanjur terluka dengan perlakuan Gerald waktu itu. Sedang yang ada sekarang, ia hanya ingin berdamai dengan masa lalu. Sudah tidak ada cinta untuk Gerald. Apa ia harus mengalah demi Bian?


"Nasti, pikirkan baik-baik kehidupan Bian kelak. Kalau dia hidup dari single parent sepertimu, apa ia bisa menjadi pria dengan pribadi yang kuat? Bian butuh figur ayah, Nasti. Dia butuh aku, dan aku butuh dukunganmu."


Kembali wanita itu melirik Gerald pelan. Ia masih tidak tahu. Ia bimbang.


-------------+++----------

__ADS_1


Sarah punya selera yang tinggi. Hanya ingin makan di restoran bagus atau Mal. Iwabe terpaksa mengikuti kemauannya. Mereka mendatangi sebuah Mal yang sedikit agak jauh agar memenuhi standarnya, tapi di sana Iwabe hanya mau meneraktirnya makan makanan cepat saji. Alasannya, ia ingin makan burger. Sarah sedikit ngambek.


Laki-laki ini pelit sekali sih? Bagaimana mau nikah sama dia kalau belum apa-apa sudah pelit begini? Tidak terbayangkan bila menikah dengan laki-laki ini, hidupku seperti apa. Untuk apapun, dia pasti akan mempertimbangkannya.


"Sarah, kok gak dimakan burger-nya? Mau di bawa pulang?"


Hiih, dibawa pulang? Menyedihkan sekali hidupku? "Iya, Pak."


Pria itu tersenyum nakal.


Seusai makan mereka berjalan-jalan di Mal itu sesuai permintaan Sarah, dan Iwabe menyetujuinya.


Hah ... wanita yang lebih muda itu gampang ngambek dan banyak maunya tidak seperti ... Nasti. Ah, Nasti juga seperti itu, sama. Apa bedanya? Ck, kenapa kini aku memikirkan dirinya? Bukankah kini aku sudah jauh darinya? Ck!


Sarah berdiri di depan sebuah toko perhiasan emas. Ia ingin membuktikan sesuatu. "Pak."


"Ya?"


"Belikan sesuatu dong buat aku."


"'Kan tadi sudah?"


"Bukan itu," keluh wanita itu manja. Ia menunjuk dengan dagunya. "Misalnya perhiasan emas."


Astaga. Baru diajak makan minta yang seperti ini? Memangnya dia seistimewa itu? Kalau pria memberikannya, berarti ia ingin lebih. Semisal ... Iwabe membulatkan matanya. Apa itu niatnya? Ok. Aku ikuti permainanmu.


"Bagaimana dengan ini, Pak?" Sarah menunjuk sebuah cincin emas berbentuk sederhana.


Iwabe mengerut dahi. Cincin?


"Bagus tidak?"


"Kenapa tidak gelang? Bukankah itu cocok untuk pemberian."


"Aku ingin cincin ini, Pak. Ngak mahal kok."


Iwabe melihat harganya. Iya, tidak mahal untuk versi Mal. Namun, Iwabe membelikannya juga setelah dicoba.


"Terima kasih, Pak."


-----------+++-----------


Nasti baru saja hendak keluar lagi dengan Lia dengan mobil ketika mobil Iwabe datang.


"Duile ... yang pacaran sama anak Presdir. Enak banget, masuk kantor suka-suka."

__ADS_1


Nasti menyikut Lia. "Eh, gak boleh gitu. Biarkan saja. Yuk!" Ia mengajak Lia masuk ke mobil.


Setelah Sarah sampai ke ruangan, ia menelepon Gerald seraya mempermainkan kotak perhiasan di tangan di depan matanya. "Pak, bagaimana kalau kita Double Date(kencan bersama) pada hari Sabtu malam?"


"Mmh, Double Date?"


"Iya. Aku meminta Pak Iwabe membelikanku cincin tadi, dan ia membelikannya. Aku ingin pamerkan pada Nasti bahwa Pak Iwabe sudah membelikan aku cincin, jadi jangan berharap lagi padanya."


"Mmh, rencanamu selalu lambat. Bagaimana kalau besok?"


"Mmh, baik. Akan kucoba."


----------+++----------


Iwabe kembali ke mess menjelang Magrib. Ia melangkah menuju kamar. Dilihatnya kamar Nasti masih gelap. Dengan lemas ia mendatangi pintu kamarnya, tapi ia enggan masuk. Kembali ia menoleh pada pintu kamar wanita itu. Kenapa hariku sepi tanpamu? Aku tak pernah memintamu datang dalam hidupku tapi pergimu membuatku rindu. Apa, aku jatuh cinta padamu? Tapi ... kau milik orang lain.


Pria itu buru-buru membuka pintu kamarnya.


-----------+++---------


"Ayo dimakan lagi pizanya," seru Gerald pada Bian.


Bocah itu mengangguk-angguk dan mendekati Nasti. Ia membuka mulutnya saat wanita itu menyodorkan piza.


"Mmh, pintar." Gerald pun juga menggigit pizanya. "Habis ini mau apa? Puding?"


Bian hanya mendekati Nasti dan memegangi lengannya seraya bergantian melihat Nasti dan Gerald.


"Ayo, bilang mau apa?" tanya Nasti lembut pada Bian dengan tersenyum kecil.


Bian tak menjawab karena masih asing dengan Gerald. Ia hanya makin mengeratkan pelukannya pada lengan ibunya.


"Eh, lho kok takut. Itu Papa, Nak."


"Papa," ucap bocah itu mengulang.


Gerald tertawa kecil. Ia sangat menikmati perasaan berada di dalam sebuah keluarga yang diimpikannya bersama Nasti padahal mereka sedang berada di sebuah restoran Itali untuk makan malam.


Ia menyentuh pipi Bian lembut dan mengusap kepalanya. "Anak Papa."


Kembali bocah itu melirik kedua orang tuanya karena bingung.


"Oya, Nasti." Gerald mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, kartu hitam, dan menyodorkan pada wanita itu. "Ini untuk keperluan Bian. Kalau kau butuh kau juga bisa memakainya."


Nasti menerimanya. "Tidak ini untuk Bian saja."

__ADS_1


Gerald hanya tersenyum. Jawaban yang sudah ia perkirakan.


__ADS_2