
Pria itu kemudian memberi tahu Iwabe tempat pertemuan dan waktunya.
"Hotel?"
"Iya. Dia tinggal di hotel itu kini, karena tidak punya rumah di sini. Ia juga menolak fasilitas rumah yang kami berikan. Katanya, dia tidak mau tinggal lama di Indonesia. Jadi untuk mempermudah, kalian bertemu dengannya di restoran hotel ini.
Oya, saya minta anda datang jangan terlalu cepat atau terlalu lambat datang karena anda kandidat terakhir dan ia tidak ingin kalian sesama kandidat saling bertemu, kecuali ya memang interview-nya lama. Kemungkinan bisa saling bertemu."
"Ok, apa aku harus membawa berkas-berkasku?"
"Data anda sudah kami berikan pada mereka jadi anda tidak perlu membawa apa-apa lagi."
"Ok, terima kasih, Pak." Iwabe kemudian pamit.
Ia kemudian menelepon Nasti. "Nas, tadi aku sudah di-inteview. Do'akan aku lolos ya? Aku sudah masuk 3 besar."
"Iya. Jangan lupa traktirannya, pokoknya."
Pria itu tertawa. "Iya, iya."
--------------+++------------
Iwabe masuk ke restoran itu. Ia tak tahu seperti apa rupa orang itu tapi ia setidaknya bisa menebak dengan melihat wajahnya yang pastinya khas wajah orang Jepang dan ... punya bodyguard.
Namun, ia hanya menemukan seorang pria paruh baya berwajah keturunan Jepang yang terlihat kaya dan duduk sendirian. Ada beberapa orang Jepang yang duduk kursi belakang, kemungkinan bodyguard-nya tapi tubuh mereka tidak besar.
Pria itu menatap Iwabe seperti menunggunya. Iwabe mencoba mencari tahu dengan mendatangi.
"Mister Kobayashi?"
Pria itu menatapnya sambil tersenyum.
Iwabe melihat ke sekeliling. "Is there any translator ....(apa ada yang bisa mengalihbahasakan)"
"Nihongo dekinai no ka?(apa kamu tidak bisa berbahasa Jepang?)" tanya pria itu sedikit kasar dan menggebrak meja.
Iwabe terkejut. "Eh, I'm sorry I can't speak Japanese.(eh, maaf, aku tidak bisa bahasa Jepang)" Aduh, kenapa gak ada translator-nya sih? Apa orang itu lupa memberi tahu kalau aku tidak bisa bahasa Jepang?
Sialan orang itu! "Ya, sudah bahasa Indonesia saja. Aku tak bisa bahasa Inggris," ujar pria itu geram.
Iwabe melongo. "Oh, Bapak bisa bahasa Indonesia? Oh, alhamdulillah." Iwabe mengusap dadanya.
Dia masuk Islam? Astaga!
"Boleh aku duduk di sini?" Iwabe menarik kursi di sampingnya. Ia kini mulai hati-hati bicara dengan pria itu karena pria itu terlihat gampang naik darah.
"Ya, duduklah," ucap pria itu datar.
Kemudian Iwabe ditanya soal pekerjaan sebelumnya dan ia menyebutkan tugas-tugasnya yang sudah pernah ia kerjakan.
__ADS_1
Pria paruh baya itu, masih terlihat tampan di usianya yang sudah tidak muda lagi. Sebagai pemilik perusahaan, pria itu tampak sangat teliti dan sangat cerewet bertanya ini-itu soal pekerjaan Iwabe dan Iwabe berusaha menjawabnya dengan jujur. Di akhir interview, pria itu mengomentari pekerjaan Iwabe.
Ia duduk miring, mengambil serbet lalu membersihkan ujung jarinya yang bersih dan membuangnya ke atas meja karena kesal.
Iwabe tersenyum sambil mengerut dahi. Kenapa pria ini mirip denganku kalau lagi kesal? Ah, tapi beda. Pria ini punya wajah yang galak.
"Kenapa kamu punya pekerjaan yang tidak jelas seperti itu? Pindah sana, pindah sini. Struktur organisasi di perusahaan harus diubah. Jangan karena ingin mengetahui kecurangan pegawai, kamu jadi tumbal dengan mengerjakan pekerjaan yang tidak jelas seperti ini. Bagaimana kamu membangun karirmu?
Kalau struktur perusahaan benar, tidak akan ada kejadian seperti itu. Orang-orang seperti itu akan tersaring dengan sendirinya. Kamu sepertinya harus belajar lagi dari awal," kata pria itu dengan mulut cerewetnya panjang lebar.
"Iya, Pak." Iwabe menunduk. Pupus sudah harapan mendapatkan pekerjaan karena sepertinya pria itu tidak tertarik dengan pengalaman kerja Iwabe yang dulu.
Pria itu menatap Iwabe lekat. "Kandidat hari ini ada 3 orang dan kamu yang paling parah. Tidak bisa bahasa Jepang, dan mau saja dibohongi direktur perusahaan dengan menjadi tangan kanannya. Heh! Apa kamu tak merasa jadi kacung, he?"
Iwabe memang tidak menuliskan di resumenya bahwa ia bekerja di perusahaan orang tuanya karena ia ingin terbebas dari nama orang tua dan siap bekerja dari nol lagi.
"Begini saja ...." Pria itu menunduk dan melirik Iwabe. "Bagaimana kalau kau ikut aku ke Jepang?"
Iwabe mengangkat kepalanya. "Oh, maaf, Pak. Terima kasih atas kesempatannya, tapi aku tidak ingin pergi dari Indonesia."
"Kenapa?" Pria itu kembali kesal.
"Oh, tidak saja."
Pria itu memperhatikan Iwabe. "Wanita?"
"Di Jepang banyak wanita. Kalau kau mau, kau bisa mendapatkannya dengan mudah."
Iwabe menggeleng. Karena pembicaraan mulai melenceng, Iwabe pamit. "Eh, terima kasih karena sudah memberiku kesempatan, tapi maaf. Aku tidak tertarik." Ia berdiri dan menganggukkan kepalanya lalu pergi.
Pria itu memberi kode pria di belakangnya untuk menghentikan Iwabe. Dua orang pria menghalangi Iwabe melangkah lebih jauh. Salah seorang memberi kode agar Iwabe kembali.
Iwabe mengerut kening. Ia terpaksa kembali. "Pak, maaf, tapi sepertinya kita tak sepaham. Jadi, biarkan aku pergi," pinta Iwabe.
"Pembicaraan kita belum selesai," sahut pria itu dengan tegas.
Iwabe sebenarnya mulai malas melayani pria itu karena pria itu sepertinya suka menindas orang lain bila keinginannya tak terwujud. Apalagi wajah pria itu terlihat galak. Iwabe sama sekali tidak suka dengan pria yang menunjukkan kekuasaannya dengan kekerasan, tapi karena pria itu bicara baik-baik padanya, akhirnya ia kembali duduk di hadapan orang itu.
"Mmh, karena kau belum mengetahui tugas-tugasmu, untuk sementara aku akan membimbingmu."
Iwabe terkejut. "Bapak memberikan pekerjaan itu untuk saya?" ucapnya dengan mulut terperangah.
"Aku lihat kau pekerja yang jujur dan setia pada atasan. Karena itu aku memilihmu, tapi karena pengalamanmu masih jauh di bawah standarku, aku akan secara langsung membimbingmu. Kau mengerti 'kan maksudku?"
"Oh, iya. Baik, Pak terima kasih." Iwabe menjabat tangan pria itu."
"Iya, iya. Kalau begitu, besok pagi datang ke kamarku jam 8 pagi. Kamar nomor 228."
"Oh, baik, Pak." Iwabe menganggukkan kepala dan kemudian pamit.
__ADS_1
"Yes!" Ia menarik kepalan tangan saat sudah berada di luar restoran.
Pria paruh baya itu melihatnya dari dalam restoran dan tersenyum.
-------------+++-----------
"Aku dapat kerjaan, Nasti!" teriak pria itu di telepon.
Nasti sampai harus menjauhkan telinganya dari HP, karena saking kerasnya pria itu berteriak. " Iya, iya, tau tapi jangan teriak-teriak di kupingku, Be. Pecah gendang telingaku."
Pria di ujung sana tertawa berderai. "Nanti aku traktir ya? Pas gajian."
"Iya, iya. Mmh. Kapan mulai kerjanya?"
"Besok. Aku disuruh datang ke kamar hotelnya."
"Kamar hotel?"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Nasti. Bosku itu pria dan datang dari Jepang jadi ia tidak punya rumah di Jakarta."
Nasti tertawa. "Iya, iya. Aku ngerti."
"Nasti."
"Apa?"
"Aku rindu padamu."
"'Kan setiap hari bertemu."
"Tapi 'kan itu dari jauh. Aku ingin kita pergi jalan-jalan lagi. Sabtu ini kalau kau ke sini, kita keluar ya?"
"Ya udah, sabtu ini."
"Aku rindu."
"Iwabe, kita 'kan gak pacaran?"
"Karena itu, mau ya, aku lamar?"
"Mmh, mulai lagi."
"Nasti."
___________________________________________
Menunggu update novel ini, yuk kita baca novel temen author yang satu ini.
__ADS_1