
Iwabe termangu, antara percaya dan tidak percaya dengan omongan Nasti. Namun apa yang diucapkan wanita itu masuk akal dan menjawab semua pertanyaan yang bertahun-tahun berkutat dikepalanya.
"Om!"
Pria itu menoleh dan melihat tangan Bian yang penuh dengan noda selai stroberi. Juga sampai ke hidung dan mulutnya. Bocah itu terlihat senang dengan pencapaiannya saat itu walaupun makanannya belum lagi habis.
Nasti tertawa melihatnya. "Wajahmu persis seperti waktu mainin tepung Nenek." Wanita itu dengan tawa berderai.
Bian pun tersenyum senang.
Iwabe mengambil beberapa lembar tisu dan membersihkan tangan dan wajah bocah itu. Namun kemudian ia membiarkan bocah itu meneruskan percobaannya. "Habiskan ya, makanannya."
Bian mulai mengambil potongan pisang dengan tangan, tapi pisang itu lengket di piring karena selai. Jadi ia mengambil sendok yang sudah terkena noda selai untuk mengambil pisang itu. Itu pun masih saja sulit hingga dengan dorongan jemari kecilnya itu, ia bisa memasukkan pisang itu ke dalam sendok. Ia akhirnya bisa memasukkan pisang itu ke dalam mulut.
Iwabe dan Nasti tersenyum melihat usaha Bian untuk makan.
"Bajunya juga sudah mulai kotor itu," beri tahu wanita itu.
"Tidak apa-apa. Habis makan 'kan bisa langsung pulang. Aku masih harus menemani Pak Kobayashi."
"Oh, kamu masih kerja? Tumben."
"Oh, gara-gara kemarin. Sepertinya dia tak suka aku cuti sehari, jadi hari ini aku harus menginap di kamar hotelnya."
"Menginap? Padahal kamu jarang kerja Sabtu, tapi sekarang menginap?"
"Hah, sudahlah. Susah menyelami isi hati Bapak tua itu. Banyak maunya. Untung hanya soal pekerjaan. Perfeksionis sekali orang, segala sesuatunya harus sempurna, well prepared(direncanakan dengan baik), dan gigih. Selalu saja ada plan B(rencana B) kalau gak bisa plan A(rencana A)."
Nasti membulatkan matanya dengan cemerlang. "Mmh, berarti pemimpin yang smart(cerdas) dong. Boleh dicontoh, tuh!"
"Iya, tapi melelahkan mengikutinya."
"Tidak aneh kalau dia punya perusahaan yang kuat. Dia memang sudah teruji."
"Mmh." Iwabe terdiam sejenak. "Tapi ibuku ingin aku berhenti bekerja pada orang lain. Ia ingin aku kembali ke perusahaan keluarga. Padahal biar cerewet, pria itu punya banyak ilmu yang tidak bisa ditemukan di bangku kuliah, tentang bagaimana menjadi pengusaha yang tangguh. Di usianya yang tidak muda sekarang ini, ia masih ingin belajar dan 'melek' tehnologi."
"Ya, ia bukan orang sembarangan. Kamu beruntung bisa belajar langsung darinya."
"Aku tidak ingin berhenti, Nasti, tapi bagaimana caranya?" Iwabe merengut dan menghentikan makannya.
__ADS_1
"Apa kau sudah menceritakan perasaanmu pada orang tuamu?"
"Sudah. Mereka malah mengakui, ia orang hebat tapi tetap saja. Mereka ingin aku berhenti dari perusahaan itu. Aku tidak bisa bayangkan, Pak Kobayashi pasti marah besar." Pria itu menghela napas.
"Kamu belum mengatakan padanya?"
"Belum, karena aku menunggu pendapatmu."
"Pendapatku tentang apa?"
"Tentang, apakah aku teruskan saja bekerja padanya dan mengabaikan apa yang diminta orang tuaku, tapi rasanya tidak bisa juga karena nanti mereka tidak mau membantu Kak Refan."
"Lho, memangnya ada perjanjian seperti itu?"
"Tidak sih. Aku menukarkan dengan kembali ke rumah."
Nasti terdiam sejenak. "Tidak baik, Be, melakukan sesuatu tanpa restu orang tua. Tidak akan indah hasilnya. Kau harus dapat restu orang tuamu, kalau tidak kau terpaksa mengalah. Katakan itu pada Pak Kobayashi dengan baik-baik."
"Aku tidak masalah bila Pak Kobayashi marah-marah padaku tapi tidak dengan Ibu. Kemarin saja Ibu menangis setelah bertemu denganku. Aku tak tega kalau harus melihatnya menangis lagi, tapi benar-benar aku tak tahan dengan caranya membatasi hidupku. Aku harus bagaimana, kadang aku bingung. Aku 'kan sudah dewasa dan berhak menentukan jalan hidupku sendiri tapi Ibu ... " Pria itu menunduk dengan perasaan kecewa yang ditahannya.
"Sudahlah. Pasti nanti akan ada jalan. Bagi ibumu, kamu tetap anak kecil kesayangannya dan mungkin butuh waktu bagi ibumu untuk menyadari anak laki-lakinya telah menjadi pria dewasa."
"Another days, another time. Mungkin kamu belum berjodoh kerja dengan Pak Kobayashi, jadi ikhlaskan saja. Mungkin juga belum saatnya. Kalau memang kamu berjodoh bekerja dengannya, suatu saat kalian pasti akan bertemu lagi." Nasti menepuk-nepuk tangan pria itu yang berada di atas meja.
Sebelum menarik tangannya, Iwabe malah meraih tangan Nasti, menahannya. "Dan berikutnya kita menikah ya?"
Nasti tersenyum. "Iwabe ...."
"Ya?" Pria itu memohon.
"Sebenarnya, terlalu banyak yang sedang aku pikirkan sekarang jadi aku sulit memikirkan hal lain."
"Kenapa kita tidak menikah saja? Dengan begitu aku mungkin bisa meringankan bebanmu. Dua kepala lebih baik dari pada satu kepala."
Nasti berusaha melepas genggaman tangan pria itu dengan bantuan tangannya yang lain. "Coba kamu selesaikan dulu masalahmu, baru datang padaku," bujuk Nasti.
Iwabe malah bersemangat. "Bener ya? Awas, bohong!" Ia menunjuk Nasti dengan garpu dan mulai menusuk daging steak-nya.
Nasti hanya bisa tersenyum. Apa aku telah memberinya harapan? Padahal ... ah, sudahlah! Lihat nanti saja. Wanita itu meneruskan makannya.
__ADS_1
----------+++-----------
Iwabe tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan tapi ia tidak bisa menemukan Kobayashi di manapun. Ia beralih pada Bodyguard yang membuka pintu. Ia berusaha berbicara bahasa Jepang. "E, Kobayashi san wa, doko e ....(Pak Kobayashi di mana ....)"
"Ah, heya desu.(di kamar)"
"Apa? Ah, heya.(kamar)" Iwabe masih sulit mendengar seseorang berbicara bahasa Jepang hingga ia sulit menangkap kata-katanya. "Ah, eh ...." Ia menyatukan tangannya dan meletakkan di samping pipi.
"Neru?(tidur?)" tebak bodyguard itu.
"Ah, ya. Neru." Iwabe mengangkat jari telunjuknya membenarkan.
"Wakarimasen.(Tidak tahu)" Pria itu menggeleng.
"Wakarimasen ya? Ok!" Iwabe kembali ke kamar. Jadi untuk apa aku di sini? Dia sendiri malah tidur. Kalau aku bekerja sendiri juga susah. Masalahnya, perusahaan dia juga banyak yang libur hari ini. Kalau pun ada yang masuk kerja, aku tak bisa menjawab pertanyaan tanpa kehadirannya.
Sebenarnya, Kobayashi beruntung bekerja bersama Iwabe karena pria ini bisa berbahasa Inggris sedang kandidat yang lainnya hanya bisa berbahasa Jepang dengan bahasa Inggris yang terbatas. Perusahaan Kobayashi, walaupun berbasis di Jepang tapi perusahaannya banyak berada di Eropa sehingga kemampuan bahasa Inggris Iwabe melancarkan komunikasi.
Iwabe membaringkan diri di atas tempat tidur. Sehabis sholat Ashar, Iwabe tidak melihat pergerakan apapun diluar sana. Apa Pak Kobayashi masih tidur?
Ia melangkah keluar. Hanya ada beberapa bodyguard Kobayashi di sofa yang sedang duduk mengobrol dengan suara kecil. Mereka menoleh ke arah Iwabe tapi kemudian kembali mengobrol.
Pak Kobayashi belum keluar juga? Apa aku datangi saja kamarnya?
Iwabe nekat mendatangi kamarnya. Ketika sudah dekat, para bodyguard itu menoleh lagi ke arah Iwabe. "Eh .... I just want to check(aku hanya ingin periksa)."
"Ah, cekku. Ah, haik, dozo.(Oh, cek. Ya, silahkan)" Salah seorang bodyguard mempersilahkan.
Iwabe mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Ia kemudian mencoba membuka pintu. Ternyata pintu tidak dikunci. Ia mencoba memasukkan kepalanya dan ia melihat pria itu tengah tertidur di atas tempat tidur di dalam selimut. "Pak. Pak Kobayashi," panggilnya pelan, tapi pria itu bergeming.
Iwabe langsung masuk dan menutup pintu. Ia mendekati pria itu dipembaringan. "Pak ...."
Kobayashi tak bergerak membuat Iwabe bingung. Di dekatinya wajah pria itu. Terdengar dengkuran halus. Perlahan ia menyentuh kening pria paruh baya itu dengan punggung tangannya. Terasa hangat.
Dia demam?
Tepat saat itu Kobayashi bergerak karena disentuh, dan membuka matanya perlahan. "Kenapa ... kamu ada di kamarku?!" ucap suara bariton itu dengan pandangan penuh curiga.
"A-aku ...." Iwabe bergerak mundur karena terkejut.
__ADS_1