Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Mal


__ADS_3

Mereka berjalan-jalan di Mal yang masih sepi. Tentu saja karena mereka masih terlalu pagi datang ke sana.


Bian hanya ingin bergandengan tangan dengan Nasti tapi tidak dengan Gerald. walaupun begitu, ia terus memandangi pria itu dengan wajah heran.


Mereka kemudian mendatangi tempat arena bermain anak. Bian terheran-heran melihat tempat itu begitu meriah dan berwarna-warni. Tempat yang baru pertama kali ia datangi. Ada sudut di mana tersimpan aneka mainan dan mereka berhenti di tempat itu.


"Bian mau main apa? Ayo, pilih saja tinggal ambil mainannya."


Bian menatap pria itu yang berbicara ramah padanya.


Nasti membawanya mendekati mainan-mainan itu. "Ini, Nak. Mau yang mana?" Wanita itu berjongkok di depan sebuah rak panjang berisi berbagai macam mainan dan mengeluarkan mainan laki-laki yang mungkin bocah itu sukai.


Bocah itu memilih mengambil sebuah truk dari kayu yang agak besar.


"Kamu mau yang itu?" tanya wanita itu.


Namun mata bocah itu melihat mainan lain.


"Mau yang mana, Nak?"


Sementara Nasti membantu anaknya menemukan mainan yang disuka, Gerald pergi entah ke mana dan kembali dengan membawa 2 gelas plastik minuman di tangan. "Nasti. Ini."


"Oh, terima kasih."


Kemudian mereka menepi di pinggir area bermain di sebuah kursi panjang kayu tanpa sandaran. Mereka memperhatikan Bian bermain sendirian.


Nasti berusaha menjaga jarak duduknya dengan mantan suaminya itu dan pria itu maklum.


"Sekarang kau bekerja jadi apa?" tanya Gerald membuka percakapan.


"Di bagian marketing."


Gerald tahu, posisinya pasti tidaklah tinggi dan di umurnya sekarang ini, dia pasti staf paling senior di posisinya. "Apa kau mau pindah ke perusahaanku? Aku bisa menaikkan jabatanmu ke yang lebih cocok untukmu."


"Ah, tidak usah. Aku baru masuk perusahaan ini kok. Masih ingin berjuang di sana." Nasti menyeruput dari sedotan, es jeruknya.


"Tapi marketing itu melelahkan, Nasti. Aku takut, saat kau pulang, kau tidak sanggup mengurus Bian. Kalau di perusahaanku mungkin agak ringan. Kau bisa pulang tepat waktu dan libur sesukamu."


"Tidak bisa begitu." Wanita itu menoleh. "Aku ingin bekerja secara profesional juga ibu bagi Bian."


Pria itu tersenyum tipis. "Kalau begitu, berikan nomor teleponmu. Kau bisa berbagi denganku kalau kerepotan mengurus Bian."


"I ... ya." Terasa berat melakukannya di mana hati tak ingin lagi berhubungan dengan pria itu tapi apa daya, ada Bian di antara mereka. Nasti memberikan nomor teleponnya.


Bian mulai bosan. Ia melihat area bermain lainnya ketika ada anak-anak lain berkunjung ke sana. Ia melihat prosotan yang diantri beberapa anak kecil membuat bocah itu berpindah ke sana. Ia memperhatikan bagaimana cara bermainnya dan kemudian ikut mengantri di tangga prosotan.


Nasti dan Gerald melihatnya dari kejauhan.

__ADS_1


Bian berhasil melakukan luncuran yang pertama dan ia menyukainya. Ia kemudian mengantri lagi, tapi pada kesempatan kedua jumlah anak kecilnya kian banyak dan ada anak kecil yang ukuran tubuhnya lebih besar dari Bian tak sengaja menyenggolnya hingga terjatuh dan menangis.


"Huaaahhhh."


Gerald tak terima dan langsung berdiri dan mengejar Bian. Ia mendorong anak kecil yang menyenggol Bian itu dengan kasar. "Heh, kalau jalan LIHAT-LIHAT DONG, main dorong anak orang sembarangan saja!" hardik pria itu kesal.


Anak kecil itu wajahnya memerah. Nasti segera mengejarnya. Ia menggendong Bian dan menarik Gerald. Pada saat bersamaan ibu anak itu datang ingin membela anaknya.


"Maaf, Bu. Maaf," Nasti meminta maaf.


"Suami dibilangin dong, jangan suka emosi! Namanya juga anak-anak."


"Eh, enak saja kamu bicara ya ...." Nada suara Gerald naik satu oktaf mendengar ucapan wanita itu.


"Sudah, sudah," ucap Nasti pada pria itu. Ia menoleh pada ibu anak itu. "Maaf ya, Bu


Maaf." Ia menarik Gerald menjauh.


"Tapi Nasti ...."


"Jangan diladeni, sudah." Nasti terus menarik lengan pria bule itu.


"Dasar bule gila," celetuk ibu muda itu.


"APA KAU BILANG?" Gerald semakin panas.


Nasti mendorong tubuhnya ke arah pria itu. "Sudah ...," bisiknya.


Nasti tersadar dan menjauh. Ia kembali menjaga jarak.


Saat itu pria itu tahu, Nasti melakukan hal tadi tanpa sengaja. Ia kembali menahan perasaannya. "Eh, kita ke tempat lain saja."


Mereka kemudian berjalan di keramaian. Tempat itu sudah mulai ramai oleh pengunjung. Gerald membawa mereka ke sebuah toko pakaian anak-anak. Ia ingin membelikan Bian pakaian sebab pakaian yang dipakainya terlihat sempit dengan celana panjang yang menggantung.


Bian yang telah berhenti menangis diturunkan dan mulai mengepas pakaian.


"Bagaimana dengan yang ini?" Pria itu memilihkan beberapa.


"Itu terlalu mahal, Gerald. Tidak cocok untuknya karena kami tinggal di mess." Nasti langsung mengetahuinya melihat merek dari pakaian itu.


Pria itu tertawa. "'Kan aku ayahnya."


"Tapi tidak bisa begitu." Nasti berkeras.


Gerald menghela napas kasar. "Bagaimana kalau kubelikan kau rumah."


"Gerald!"

__ADS_1


"Aku 'kan ayahnya, aku ingin memanjakannya. Kenapa aku harus tersandung posisimu? Bagaimana kalau kau berhenti bekerja saja. Semua pengeluaranmu aku yang tanggung?"


Nasti merengut dan menggendong Bian. Ia langsung balik badan ingin membawa Bian pergi.


"Eh, iya, iya, iya. Maaf, maaf, maaf. Aku menyerah." Pria itu tahu telah menyinggung ego wanita itu.


Nasti membalik tubuh masih dengan wajah merengutnya. Ia menyoroti wajah pria bule itu dengan tajam.


"Ok, your rules(peraturanmu)." Ia mengangkat kedua tangannya. "Sesuai dengan keinginanmu."


Bian kemudian dibelikan baju dan juga mainan oleh pria itu. Mainan yang dipilih sendiri oleh Bian.


Setelah makan siang di sebuah restoran cepat saji, Nasti meminta pulang. Tak sengaja mereka melewati sebuah toko pakaian wanita. Gerald tertarik dengan pakaian yang tengah dipajang. Sebuah gaun muslim berwarna pink yang sangat indah.


"Nasti, baju ini cocok untukmu," bujuk Gerald.


"Eh, tidak usah. Terlalu glamor."


"Tidak, cobalah!"


"Eh, apa? Tidak."


"Nasti ...." Pria itu menatapnya memohon.


"Untuk apa? Tidak usah."


"Tapi, kalau kau ada acara apa kau punya pakaian untuk pergi?"


"Ada. Pakaian yang dulu kau beli, masih kusimpan."


"Nasti, itu sudah ketinggalan jaman, ayolah!"


"Tidak."


"Nasti ...."


---------+++---------


Bus akhirnya sampai di mess. Para penumpang turun. Mereka memperhatikan pintu kamar Nasti dan bertanya-tanya apakah wanita itu sudah kembali. Begitu juga Iwabe tapi ia tidak ingin terlihat mengkhawatirkan wanita itu sehingga ia segera masuk ke dalam kamarnya.


Namun di dalam kamar ia berusaha menajamkan telinga. Terdengar sayup-sayup suara Nasti berbicara dengan anaknya membuat pria Jepang itu bernapas lega sekaligus penasaran. Apa mereka kembali rujuk? "Ah, apa yang kupikirkan!" Ia mengacak-acak rambutnya. "Kenapa tiba-tiba aku penasaran urusan orang lain."


-------------+++----------


Jam makan malam pun Nasti tak terlihat, seperti telah di telan bumi. Sejumlah orang yang penasaran, menggosipkannya di ruang serba guna tapi yang digosipkan tak kunjung datang. Iwabe pun penasaran. Setelah selesai makan, ia kembali ke kamarnya tapi saat hendak membuka kamarnya ia melirik kamar Nasti.


Ia ingin sekali menyapa wanita itu. Sekedar menyapa, iya 'kan? Masa tidak boleh. Ia melegalkan apa yang dipikirkannya.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu kamar Nasti terbuka membuat pria itu terkejut. Sesosok kepala mungil keluar dan melihat pria itu. "Eh, Om. Sini," panggil bocah itu.


"Aku?" Iwabe menunjuk dirinya.


__ADS_2