Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Bertemu


__ADS_3

"Kenapa dia bisa tinggal di sini?"


"Oh, tidak tahu. Nasti yang menitipkannya di sini." Ibu tidak ingin ikut campur.


Dengan mata nanar Gerald terus berpikir. Apa mungkin hubungan mereka tak direstui? Bibirnya tersenyum lebar. "Oh, jadi dia pengangguran?"


"Dia sudah dapat pekerjaan baru."


Sial! Berarti benar, semalam dia punya bodyguard. Posisinya pasti tidak remeh, tapi kenapa dia malah tinggal di rumah Nasti, seakan dia tidak mampu menyewa tempat tinggal? Pasti mereka sudah sangat dekat. Sial, benar-benar sial!


"Kenapa kalau punya pekerjaan masih menumpang di sini? Kan bukan mahram-nya tinggal di rumah wanita kalau belum menikah."


"Nasti 'kan tinggal di mess."


Mmh, benar juga sih. Ah, pintar sekali Jepang sialan itu! "Oh, Bian. Ayo, lihat sini! Mainannya bagus, Papa belikan yang paling mahal." Ia memperlihatkan bungkusan besar yang dibawanya.


Mereka kemudian duduk. Sejam kemudian, Iwabe keluar dengan pakaian kerjanya, terlihat berkelas membuat Gerald melongo. Seperti waktu itu di pesta nikahan di mana ia melihat Iwabe berpakaian jas mahal.


"Aku pergi dulu, Bu." Ia mencium punggung tangan ibu Nasti, dan mengusap pucuk kepala Bian. "Jangan nakal ya?" Ia menoleh pada Gerald. "Kau bisa menggeser mobilmu sedikit? Mobilku ingin keluar."


"Mmh." Pria bule yang tengah memegang remote control mobil mainan itu, terpaksa meletakkannya di atas meja dan berjalan keluar. Ia terpaksa memundurkan mobilnya sesuai permintaan Iwabe.


Dengan cepat Iwabe membawa mobil sewaan yang walau tidak mewah tetapi masih terlihat baru, ke jalan. Setengah jam kemudian, ia sampai di hotel tempat Kobayashi tinggal.


Belum lama ia masuk ke dalam hotel, seseorang memanggilnya hingga ia mencari arah suara. Iwabe terkejut melihat seorang pria mendatanginya. Tentu saja ia tahu siapa pria itu.


"Iwabe, kau tinggal di sini? Di hotel ini?" Wajahnya yang tiba-tiba ramah membuat Iwabe mengerut dahi.


Pria Jepang itu memalingkan wajahnya hendak meninggalkan pria itu tapi dengan cepat pria itu meraih lengannya.


"Iwabe."


Pria Jepang itu menoleh dan melihat ke arah tangannya yang ditahan pria itu. "Maaf, aku tidak ingin mencari masalah."


"Iwabe, tolong. Aku ingin bicara sebentar."


"Maaf, aku sedang kerja."


"Mmh, boleh aku menunggumu?"


"Maaf tapi kerjaku lama. Sekarang saja aku baru mau masuk kerja."

__ADS_1


"Kalau begitu beri aku sedikit waktu untuk bicara."


Iwabe mengangkat tangan yang sedang dipegangi pria itu dan menunjuk ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku takut telat ini, lihat ini jam berapa?" Ia menarik lengan tangannya dengan kasar dan melangkah ke arah lift.


Pria itu tak menyerah begitu saja dan terus mengikutinya. Ia bahkan berdiri di belakang Iwabe yang menunggu di lift.


Iwabe sebenar merasa tak nyaman tapi ia tak ingin datang telat ke tempat kerja karena itu ia ingin segera absen terlebih dahulu sebelum melakukan hal lainnya dan pria itu masih terus saja membuntuti Iwabe dari lift hingga ke depan pintu tempat tinggal Kobayashi. Ia menekan bel.


Tak lama pintu terbuka dan ia masuk. Ketika pria itu ikut masuk, Iwabe hanya meliriknya sekilas. Ia segera mendatanginya Kobayashi yang sedang membuka laptop di sebuah meja dekat jendela.


Kobayashi terkejut melihat Iwabe datang dengan seorang pria. Ia segera memperhatikan pria itu. "Siapa dia, Iwabe?"


"Oh, aku ingin bicara sebentar dengannya boleh? Aku ingin pinjam ruang tamu."


"Mmh? Lakukan saja sesukamu."


Iwabe kemudian membawa pria itu untuk duduk di sofa. Pria itu terlihat lega walau tidak sepenuhnya.


"Kamu mau bicara apa?"


Mereka duduk berhadapan hingga bisa saling melihat wajah. Sebenarnya Iwabe malas bertemu lagi dengan pria itu, tapi melihat wajah pria itu yang berubah ramah, ia mengalah. Mungkin, untuk terakhir kalinya.


Mendengar pria itu menyebut 'Ayah' pada Ayahnya, terselip rasa cemburu di hati. Haruskah ia menyerahkan keluarganya pada orang lain? Ia merasa terbuang. "Bukankah ini yang kau inginkan?"


Kobayashi mau tak mau mendengarkan karena duduk tak jauh dari sana dan ia terusik ketika pria itu menyebut 'ayah mencarimu'.


Siapa pria ini? Saudara tiri Iwabekah, karena wajahnya Indonesia dan lebih tua dari Iwabe. Mmh.


"Iwabe, pulanglah. Ayah dan ibumu mencarimu," pinta Refan lagi.


Iwabe mengerut kening. "'Kan ini bukan urusanmu jadi sebaiknya kau pulang saja."


Apa Iwabe kabur dari rumah? Pantas saja dia tinggal di rumah Nasti. Oh, kenapa aku bodoh sekali, kenapa aku tidak memikirkan ini?


Kobayashi yang tadinya menatap layar laptop kini tak lagi fokus dan kini melirik Iwabe. Kini ia mengepalkan tangan dengan kencang.


Apa yang terjadi di sana hingga Iwabe tidak betah, hah! Maiko, jangan sampai aku melanggar janjiku karena kau juga telah melanggarnya. Pria itu mengeratkan kepalan tangannya.


"Iwabe, aku mohon. Kau pulanglah. Aku jadi merasa bersalah terhadapmu." Refan menundukkan kepala.


Iwabe mengalihkan wajah, benar-benar tak nyaman dengan permintaan itu. "Waktumu sudah habis, jadi sekarang pulanglah. Aku ingin bekerja karena sudah waktunya," jawabnya datar dan segera berdiri tapi Refan tiba-tiba menjatuhkan lututnya ke lantai hingga Iwabe terkejut.

__ADS_1


Refan menyatukan tangannya. "Aku mohon. Kalau kau tak pulang, ayah tidak akan meminjamkan aku uang. Usaha Papaku bangkrut dan Papa sudah lama meninggal. Aku butuh uang itu Iwabe, kalau tidak rumah kami juga ikut disita. Aku dan ibuku akan tinggal di mana, Iwabe? Aku mohon."


"Dia 'kan ayahmu juga, pasti diberi. Sudah, jangan ganggu aku dengan masalah ini." Iwabe semakin gusar karena merasa pria itu mengada-ada tapi sebagian hatinya telah jatuh iba.


Refan langsung memeluk kaki adik tirinya itu. "Tidak, Iwabe. Ayah tidak akan membantuku kecuali kau pulang," ucapnya dengan suara memelas.


Saat itu bodyguard Kobayashi mendekat karena merasa Iwabe dalam bahaya tapi Iwabe memberi kode bahwa tidak ada masalah hingga bodyguard itu kembali ke tempatnya.


"Ck!" Iwabe menggaruk-garuk kepalanya karena saat ini ia tengah menikmati pekerjaannya dan kalau ia kembali, kemungkinan besar ia harus berhenti dari pekerjaannya yang sekarang dan kembali bekerja di perusahaan orang tuanya. Ia ingin mandiri tapi bisakah?


Sesaat ia terdiam. "Bisakah aku berpikir dulu beberapa hari ini?"


"Tapi waktu rasanya mencekik leher bagi kami." Refan masih tertunduk.


Iwabe menghela napas pelan. Ia membantu pria itu berdiri. "Ya sudah." Ia menatap pria itu. "Kau sudah sarapan?"


"Iya." Refan mengangguk.


"Sebentar lagi makan siang. Oya, bagaimana caranya kau ke sini tadi?"


"Aku janjian dengan teman yang katanya mau datang ke sini tapi ditunggu tidak juga muncul. Padahal aku ingin pinjam uangnya."


Iwabe membuka dompetnya dan mengeluarkan dua ikat uang merah yang masih disegel. "Ini untukmu. Nah, sekarang pulanglah."


Pria itu masih terdiam.


"Apa? Ya sudah, besok aku akan datang ke kantor pagi, dan berbicara pada Ayah. Jangan takut. Aku akan membantumu sampai uang itu keluar."


Begitulah Iwabe. Saat ibanya datang, itu akan mengalahkan semua rasa marahnya pada seseorang.


"Terima kasih." Refan kemudian pamit dan pergi.


Iwabe kemudian mendatangi Kobayashi yang sedang memperhatikannya. Ia duduk di kursi di samping Kobayashi. "Mau laporan. Uang operasional habis tinggal bersisa lima ribu." Ia memperlihatkan isi dompetnya pada pria paruh baya itu. "Dan besok aku ingin cuti sehari."


Kobayashi melipat tangannya di dada dan menatap pria itu lekat.


__________________________________________


Yuk, intip novel temen author yang satu ini.


__ADS_1


__ADS_2