
Iwabe menatap pria yang menolongnya itu dengan terperangah. Juga Gerald. Tak satu pun dari keduanya yang mengenal pria ini.
Pria itu terlihat masih muda sebaya Iwabe. Ia berpakaian layaknya pegawai kantoran, bercelana panjang bahan dan berkemeja tangan panjang yang digulung hingga siku.
Tongkat yang dipegangnya itu hampir setinggi dirinya yang terlihat cukup tinggi. Tongkat besi itu berbentuk langsing berwarna hitam yang berputar-putar ditangannya seperti menempel pada jarinya. Begitu ringan, mudah, tapi sekali pukul, cukup untuk membuat tanda merah di kulit yang sepertinya menyakitkan.
"Hei, siapa kamu, seenaknya saja ikut campur urusanku!" teriak Gerald geram.
Pria itu tersenyum dengan tenang. Ia kembali memainkan tongkat itu di tangan, tak peduli.
"Heh, kamu tuli ya?" Gerald memberi tanda bodyguard-nya untuk menangkap pria itu.
Pria itu langsung memasang kuda-kuda. Ia dengan mudahnya memberi pukulan ringan dengan tongkat itu pada tubuh kedua bodyguard itu tanpa mereka bisa hindari. Bahkan mereka tidak bisa menangkap tongkat itu yang bergerak ringan dan cepat.
Dengan beberapa kali pukulan, kedua pria itu kembali roboh. Mereka kesakitan di bagian dada, pinggang dan betis.
Iwabe terheran-heran. Siapa pria ini dan kenapa membelanya? Apakah ia hanya seorang pahlawan yang kebetulan lewat di tempat yang sepi itu? Iwabe mencoba memperhatikan wajah pria itu tetapi tetap saja ia tak mengenalnya. Hanya saja, sepertinya pria itu adalah orang Jepang. Terlihat dari raut wajah dan jurus memukulnya.
Gerald pun meringis memegangi pergelangan tangannya yang terkena pukulan tongkat itu, tadi. "Hei, jangan bodoh! Serang dia dari 2 sisi!" teriaknya pada kedua bodyguard itu.
Kedua pria berbadan besar itu kembali berdiri. Mereka berpisah untuk menyerang dari dua arah, tapi pria itu bisa menghindarinya dengan lincah dan kembali mengalahkan mereka hingga jatuh tersungkur ke aspal. Ketika mereka mencoba bangkit kembali, mereka mendapati tubuh mereka dihujani pukulan cepat yang membuat mereka jatuh pingsan.
Melihat keadaan tak mendukungnya, Gerald ketakutan lalu segera kabur dengan menaiki mobil dan meninggalkan tempat itu.Tinggal Iwabe, pria itu dan 2 bodyguard Gerald yang telah pingsan.
Pria itu mendekati Iwabe hingga Iwabe mengulurkan tangan.
"Terima kasih ya?"
Namun pria itu bergeming. Ia ternyata tengah memperhatikan luka di sudut bibir Iwabe.
"Mmh?"
Pria itu membungkukkan tubuhnya dan kemudian pergi.
"Eh, tunggu! Siapa kamu sebenarnya?" Iwabe mengulurkan tangan berusaha memanggil, tapi tetap saja pria itu pergi meninggalkannya. Sebuah mobil datang menjemput dan membawa pria itu pergi.
----------+++------------
Ayah menoleh. Ternyata yang ditunggu datang dengan cepat tanpa diduga. Ibu pun makin penasaran.
"Abe. Tumben, cepat pulang." Namun ayah terkejut melihat sudut bibir pria itu terluka. "Kamu kenapa ini?"
"Aku butuh penjelasanmu, Ayah," ujar Iwabe saat datang. Ia melirik pada ibu. "Atau mungkin ibu."
Ibu terlihat bingung. "Aku hanya bertindak sebagai ibu. Kalau aku tidak setuju pada Nasti, itu hal yang wajar."
"karena itu ibu mengirim seorang preman untuk memata-mataiku?"
"Apa?" Ibu menatap wajah Iwabe. "Tidak."
"Ayah?" tanya Iwabe.
__ADS_1
"Tidak. Preman apa?"
"Eh, jadi, siapa yang membelaku tadi saat berkelahi dengan Gerald ya," gumam Iwabe sambil mencubit bibir bawahnya.
"Gerald siapa?" tanya ayah.
"Gerald mantan suami Nasti."
"Astaga, Abe." Ayah menyentuh kepalanya. "Gerald?" Ia nyentuh dagunya lalu berpikir. "Maksudmu Gerald Liman? Dia 'kan pemilik hotel bintang lima di Jakarta dan Bali. Apa itu benar mantan suami Nasti?"
"Aku tidak tahu Yah, siapa dia tapi terlihat seperti orang kaya."
"Pasti dia, karena wajahnya mirip dengan anak Nasti, tapi kenapa kau bertengkar dengannya?"
"Dia ingin kembali pada Nasti."
"Abe, pria itu bukan orang sembarangan lho!" nasehat ayah.
"Tapi Nasti tak ingin kembali padanya, Yah. Kami sedang pacaran, jadi tolong restui saja kami," pinta Iwabe pada kedua orang tuanya.
"Abe." Ayah melirik ibu. "Sebenarnya banyak hal yang menyebabkan kami tidak ingin kau bersama Nasti, apalagi ditambah adanya mantan suaminya yang memperumit keadaan."
"Ayah, ini soal hati. Ibu mengertilah." Iwabe melirik ibunya.
"Bagaimana kalau tiba-tiba Nasti ingin rujuk dengan mantan suaminya? Kan ada anak di antara mereka." Ayah mulai menasehati.
"Tidak mungkin, Yah. Nasti mencintaiku."
Iwabe tertunduk. "Nasti tidak akan berubah. Aku yakin itu." Padahal jauh di dalam lubuk hatinya ia gundah. Hatinya sedikit bergeser mendengar penuturan orang tuanya. Nasti, jangan berubah. Aku Mohon.
"Eh, mengenai preman yang kau katakan tadi ...," tanya Ayah. "Kenapa kau yakin kami yang mengirimnya? Bisa saja 'kan kebetulan ada orang baik lewat di sana, dan membantumu?"
"Tadinya aku berpikir begitu sampai aku memperhatikan wajah dan gerak tubuhnya. Aku yakin dia orang Jepang."
"Orang Jepang?" Kedua orang tua Iwabe berucap bersamaan dan kemudian saling pandang.
"Preman itu?" tanya ayah penasaran.
"Eh, susah juga menceritakannya. Dia berpakaian seperti orang kantoran tapi gayanya itu seperti preman."
"Kau tidak bicara dengannya?"
"Sudah tapi ia tak mau bicara. Ia hanya melihat wajahku lalu pergi dengan memberi hormat. Ia pergi pun dengan mobil yang menjemputnya."
Ayah dan ibu kembali saling berpandangan tapi kini pandangan mata mereka berbeda. Mereka seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Kalian kenal?" tanya Iwabe curiga.
"Eh, tidak kami tidak kenal," ucap ayah pelan.
"Dia punya tongkat, yang ...."
__ADS_1
"Abe, sebaiknya Ibu obati saja bibirmu itu. Nanti kamu susah makan lagi." Ibu bangkit dari duduknya.
"Eh, tidak usah, Bu. Aku bisa obati sendiri." Pria itu kemudian menaiki tangga menuju lantai atas.
Ayah melirik ibu yang terlihat khawatir. "Dia pasti tetap memegang janjinya."
"Benarkah? Tapi kenapa sekarang aku tak yakin." Mata ibu berkaca-kaca.
"Kau 'kan mengenalnya. Menurutmu bagaimana?"
Wanita itu hampir menangis. "Aku hanya takut. Berarti dia sekarang ada di Jakarta. Entah apa yang dicarinya kini ...."
"Mungkin dia hanya berbisnis."
"Sejak kejadian itu dia tak pernah menjejakkan kakinya di Jakarta." Wanita itu menunduk.
"Sudah, jangan berpikiran buruk dulu. Mungkin saja Abe tidak sengaja bertemu dengan orang-orang dia. Atau mungkin, preman itu tidak ada hubungannya dengannya. Mmh?" Ayah membujuk ibu dengan memijit bahu wanita itu dari belakang.
"Entahlah, tapi aku takut, Mas. Aku takut ia tidak menepati janjinya, Mas."
"Sudah, kamu istirahat saja di kamar ya? Jangan berpikir yang tidak-tidak."
Ayah membawa istrinya ke kamar.
----------+++---------
Terdengar bunyi klakson dibunyikan. Bian berlarian ke arah pintu yang sudah dibuka itu. Ia berlari keluar.
"Bian! Hati-hati!" Nasti menyusul di belakang.
Bian sudah tak sabaran berdiri di pintu pagar. "Mama!"
"Iya, sebentar, Nak. Ini Mama datang." Dilihatnya mobil Iwabe terparkir di depan pintu pagar. Pria itu masih di dalam mobil.
"Bu, aku mau ke mess dulu. Assalamu'alaikum." Nasti mencium punggung tangan ibunya yang ikut mengantar sampai depan pagar.
"Waalaikum salam."
"Mama!" Bian yang sudah tidak sabar, menghentak-hentakkan kaki agar ibunya membuka pintu pagar.
"Iya, iya. Sini, gandeng dulu sama Mama." Nasti mengulurkan tangannya. Setelah bergandengan tangan, Nasti membuka pintu pagar. Dengan segera ia membuka pintu mobil Iwabe dan membawa masuk Bian ke dalam mobil.
"Om!"
"Halo."
Bian langsung berdiri dan memeluk leher Iwabe.
"Aduh, kangen ya?" tanya Iwabe sambil tertawa memeluk tubuh bocah itu.
"Om, itu apa?" tanya Bian menunjuk luka di sudut bibir Iwabe ketika ia mengangkat kepalanya.
__ADS_1