KEKASIH

KEKASIH
Tiba di Makassar.


__ADS_3

Setelah memakan waktu kurang lebih 24 menit, penerbangan dari Bandara Tampa Padang. Mamuju Sulawesi barat, akhirnya pesawat komersil yang di tumpangi Yumna dan juga Vano, mendarat dengan sempurna di Bandara lnternasional Sultan Hasanuddin. Makassar, provinsi Sulawesi Selatan.


Vano, dan Yumna pun melanjutkan perjalanannya menuju Citraland City Losari, dimana Vano akan tinggal bersama Yumna, ya bukan tanpa alasan Vano membawanya tinggal di sana karena ia memutuskan memilih tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya karena ia ingin membuat Yumna tidak betah bersamanya agar Yumna segera meminta berpisah darinya.


"Masuklah, aku akan menunjukkan di mana kamarmu, kau boleh tidur di sini ini bekas kamar ART, dan ingat batasanmu kau hanya boleh datang jika aku panggil, Kau juga harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, karena ART Sudah tidak bekerja lagi di sini. Dan ya, kau harus menanda tangani surat yang akan di bawa oleh seorang pengacaraku sebentar lagi." Ucap Vano masih dengan wajah datarnya, Yumna tak menjawab sepatah kata pun yang keluar dari mulut suaminya itu, karena ia Sedangkan asyik dengan pemandangan yang begitu mewah di dalam rumah itu. Yumna masih terus di buat melongo dengan rumah mewah dengan segala perabotan nya yang tentu saja dengan harga yang sangat fantastis.


"Apa kau mendengar ku?" tegur Vano saat melihat Yumna hanya diam pada tempatnya, tidak kah ia tahu kalau Yumna sebenarnya sedang tertegun melihat kemewahan yang berada di dalam rumah itu.


Yumna yang di tanya pun reflek mengangguk cepat.


"Memang kau tahu apa yang aku ucapkan tadi."


"Ya,, tentu saja Mas, Aku akan tidur disini dan akan mengerjakan semua pekerjaan rumah karena itu adalah tugasku sebagai seorang, istri, dan aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa Mas," Ucap Yumna kembali.


"Baguslah kalau kau faham," Vano pun akhirnya memilih hendak pergi.


"Mas, tunggu dulu aku belum selesai,!" seru Yumna membuat Vano menghentikan putaran kursi rodanya.


"Ada apa lagi?" tanya Vano dengan Datar. "Kiblat di sini menghadap Kemana Mas soalnya aku belum Sholat,"


Vano pun mengeluarkan gawainya dan dan membuka aplikasi arah kiblat.


"Ini lihatlah, Kau bisa menghadap sebelah kananmu,"


"Baiklah Mas, Terima kasih, Bagaimana kalau kita salat bareng Mas, kau kan bisa menjadi Imamku," ucap Yumna Pada Vano yang membuatnya tertegun, saat mendengar ajakan dari Yumna.

__ADS_1


"Apa kau katakan tadi? kau mengajakku Sholat dan menjadi Imam Heh...?" Vano menyeringai tipis menarik sudut bibirnya apa hakmu memerintahkan sholat padaku? sedangkan orang tuaku sendiri tidak pernah memaksakan hal itu padaku, kau yang hanya orang kampung beraninya sekali kau berkata seperti itu padaku urus urusanmu, dan jangan pernah kau mengurus urusanku aku shalat atau tidak Apa untungnya denganmu? Oh aku tahu kau mengajak aku salat agar aku jatuh cinta padamu kan setelah aku jatuh cinta kau akan dengan bangga menguras harta kedua orang tuaku, dengarkan aku, gadis kampung aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu, walau sampai kau mati pun Aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu Bahkan aku sangat-sangat membencimu Apa kau paham,!"


sentak Vano berapi-api, dengan wajah datarnya. Yumna pun hanya menunduk mendengar kata-kata kasar suaminya itu namun ia nampak begitu Tegar karena Ia tak mengeluarkan air mata kesedihan sama sekali sedangkan yang terucap di hati dan lisannya hanya istighfar tasbih dan Tahmid.


"Maafkan saya Mas kalau saya salah bicara, dan lain kali saya tidak akan mengatakan kata-kata itu lagi, tapi asal Mas tahu bagi Yumna harta dunia tidaklah penting meski Yumna akui Yumna sangat membutuhkan nya, Yumna permisi sholat Mas.


Kini Yumna masuk kekamar meninggalkan Vano yang masih terdiam membeku pada tempatnya karena masih berfikir kenapa Yumna tak membalasya dengan balik berkata kasar, bahkan tak ada air mata kesedihan di wajahnya itu, sejenak ia berfikir lagi bagaimana caranya ia akan membuat Yumna benar-benar menjauh dari hidupnya untuk selama-lamanya.


Sebenarnya ia merasa sangat tertampar saat Yumna menawarkannya menjadi Imam sholat bukan tanpa Alasan bacaan Alquran nya saja masih amburadul bahkan sholatnya saja hanya seminggu sekali yaitu pada hari jumat saja.


Tok tok tok.


"Siapa? masuk!" ucapnya saat di kejutkan dengan suara ketukan pintu yang terdengar dari luar.


"Maaf Pak Bos, ada orang yang cariki," Ucap seorang security yang bertugas di pos jaga depan rumahnya dengan memakai logat Makassar nya.


"Namanya Pak Beny Pak Bos,"


"Ya,, sudah, suruh dia masuk kekamarku!" ujarnya kembali. Sang security pun menggangguk lalu melangkah pergi. Begitu pun dengan Vano yang menuju lantai dua dengan menaiki tangga lift.


Sementara itu Yumna masih khusyuk dalam doa yang di panjatkan nya.


'Ya Allah Hamba yakin jika ini semua sudah akan menjadi takdir perjalanan hidupku sebelum aku kembali padamu, berikan Hambamu ini kekuatan untuk menjalaninya, tetapkan kesabaranku dalam setiap ujianmu, hadirkan ke ikhlasanku dalam menjalaninya, karena tak ada Dzhat yang paling sempurna kecuali engkau ya Rab...Ya mukallibal qulub, Engkau yang Maha membolak balikkan hati maka sentuh lah hati suami Hamba dengan Cahaya Iman yang tak mudah goyah, beri petunjuk Rahmat dan hidayahmu padanya.


Allahumma musshorrifal quluub, shorriif qubaanaa 'alaa thoo'atik.

__ADS_1


{Wahai Dzat yang Maha Membolak balikkan hati teguh kan lah hatiku di atas Agama-Mu.}


Rabbana atina fiddun ya hasanah wafil akhirati hasanah wakina Adzabannar.


{Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan di akhirat.}


setelah menutup doa nya dengan doa sapu jagat Yumna pun melipat sajadah dan mukenah yang di pakainya untuk sholat itu.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu begitu kencang dari luar, membuatnya segera membuka pintu.


Ceklek.


"Kenapa kau lama sekali apa kau sengaja melakukannya!"


"Maaf Mas, Yumna baru saja selesai sholat," terang nya menjelaskan.


"Alasan saja. Cepat tanda tangani ini, dan baca dengan benar,!" Yumna pun meraih kertas yang di sodorkan oleh suaminya itu.


Lalu la pun mulai membacanya satu-per satu poin-poin yang tertulis di dalamnya.


Dan dadanya begitu sesak di saat membaca poin yang terakhir.


"Mas, kenapa kita harus bercerai?"

__ADS_1


"Kenapa kau bilang? bukan kah sudah jelas aku tidak mencintaimu. Dan Aku tidak bisa hidup lama dengan orang yang tidak aku cintai, Andai orang yang aku cintai itu masih hidup tentu saja aku sekarang sedang berbahagia dengannya, bahkan aku merasa bersalah hingga saat ini karena aku yang menyebabkan ia pergi untuk selama-lamanya, tidak bukan aku, ini semua karena wanita kampung itu, jika aku menemukannya maka aku akan memberikan balasan yang sama padanya agar ia merasakan sakitnya ke hilangan dan cacat selamanya, Graaaaaaahk.."


__ADS_2