
Mendengar ucapan Dion yang baru saja membuat Yumna terkejut dan refleks menatap jari manisnya.
"Ke mana cincin pernikahanku semalam kan ada di sini.?" Gumamnya dalam hati.
"Baiklah kalau kamu belum siap bertemu dengan kedua orang tuaku aku akan membatalkan pertemuan kita, tapi kau harus menebusnya dengan satu syarat," tawar Dion."Apa itu?" tanya Yumna bingung.
"Temani aku keluar makan Sebentar,"
"Tapi__"
"Hanya sebentar saja my Princess, tidak lama kok, lagi pula bosmu itu juga ikut"
"Bosku? maksudnya,?" Dion kembali tersenyum.
"Apa kau lupa setelah bertemu denganku Kau melupakan Vano,?" seloroh Dion berusaha menggoda nya.
"Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu hanya saja aku__"
"Sudahlah Ayo kita berangkat Ajak Dion lagi menjeda kalimat Yumna, dengan langkah beratnya Yumna pun terpaksa mengikuti Dion dari belakang.
"Kenapa kalian lama sekali, Apa kalian akan membuat menjadi seperti patung manekin yang duduk diam saja menunggu kalian," kesal Vano dengan suara datarnya.
"Maafkan kami Mas Bro sudah membuatmu menunggu lama," kekeh Dion begitu melihat kekesalan di wajah Vano.
"Kau tahu sendiri kan my princess ku tidak mudah untuk diajak sebelum aku menyebut namamu terlebih dahulu, aku begitu heran kenapa dia begitu takut sekali padamu?"
"Aku tidak takut padanya, aku hanya ingin menghargai dan menghormatinya itu sudah layak menjadi tugas dan kewajibanku sebagai seorang is__"
__ADS_1
"Ayo cepat,! kita berangkat Aku lapar," potong Vano menjeda kalimat Yumna yang terlihat ingin berkata jujur tentang statusnya sebagai istri Vano.
"Baiklah ayo kita sekarang bisa berangkat ujar Dion.
"Sebaiknya kau ambil mobil dulu lalu bawa kemari!" seru Vano pada Dion.
"Oke kalian Tunggu aku di sini aku akan membawa mobilnya ke mari!" setelah Dion pergi Yumna menatap Vano dengan tatapan penuh tanya.
"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang, Kau pasti sedang ingin bertanya di mana cincinmu itu kan,? kau jangan khawatir cincin itu ada di sini, aku yang mengambilnya semalam karena aku rasa itu akan jauh lebih baik dengan begitu kau akan mudah mendekati Dion. Dan jangan sekali-kali pernah kau mengatakan statusmu di depan Dion! ingat pernikahan kita itu hanya sementara setidaknya setelah kita berpisah aku tetap bisa membuatmu hidup bersama orang kaya agar kau tak lagi merasakan kemiskinan," Ucap Vano lagi yang membuat Yumna kembali meradang.
"Cukup Mas cukup…! apa kau kira aku akan bahagia kau perlakukan seperti ini? kalian pikir karena aku miskin aku bisa dihina Seenaknya saja, Aku seorang istri yang kau nikahi dengan Ijab Kabul serta sumpah janji suci yang telah kau ucapkan, aku tahu aku bukanlah seorang wanita seperti yang kau kehendaki, tapi setidaknya kau menghargai pernikahan ini jika kau tidak menginginkannya juga lebih baik sekarang kita berpisah, walaupun aku tahu sebuah perceraian itu bukanlah jalan keluar yang terbaik, tapi ketika seorang suami sudah mulai memperkenalkan istrinya pada lelaki lain, apalagi tidak mengakui pernikahannya maka Jalan terbaiknya aku pergi dirimu Mas, selamat tinggal," Yumna meninggalkan Vano sendiri dengan rasa sesak yang sudah menumpuk di dadanya. Bagaimana bisa suaminya dengan seenaknya begitu saja menyuruhnya menjalin hubungan dengan pria lain, sedangkan Vano hanya bisa melihat kepergian Yumna tanpa bisa berbuat apa-apa karena dia tahu dialah yang bersalah.
"Maafkan aku jika aku melakukan ini padamu Yumna" Ingin rasanya ia berdiri Untuk menghentikan langkah Yumna namun yang bisa dapat lakukan saat ini hanya menatap kepergian wanita itu dengan tatapan yang tak terbaca.
"Ayo kita berangkat," ajak Dion begitu tiba di depan Vano.
"Kenapa kau diam saja kemana perginya my Princess ku,?" tanya Dion kembali.
Bukannya menjawab pertanyaan Dion, tapi Vano memilih pergi.
"Hei…kau mau kemana,? apa kau tidak jadi pergi, dan kemana my Princess ku,?" teriaknya saat melihat Vano berbalik pergi.
"Kau kan bisa menghubungi Nomor nya?" ujar Vano sedikit mengencangkan suaranya tanpa berbalik.
"Sungguh aku tak punya nomor nya, apakah kau mau berbagi denganku yang malang ini?"
Vano pun menyebutkan nomor telepon Yumna satu persatu yang langsung di catat oleh Dion di dalam kontak teleponya, dan menyimpannya dengan sebuah nama my Princess ku.
__ADS_1
Setelah itu la pun meninggalkan Dion yang masih sibuk dengan menghubungi nomor Yumna, namun sayang nomor itu selalu menjawab, Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Hingga membuat Dion semakin geram, karena wanita yang ia cintai ternyata sangat susah untuk di dekati, ataupun di taklukkan. la pun berinisiatif untuk segera mencari Yumna.
Sementara itu Yumna yang langsung pergi meninggalkan Kota Lombok kini telah tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.
Beruntung dia masih punya tabungan dan juga dia punya keberanian untuk pulang sendiri padahal selama ini Yumna tidak pernah keluar, bahkan pergi jauh tanpa orang yang halal baginya.
Namun entah mungkin karena kesal la pun langsung memilih untuk segera menuju airport untuk memesan tiket penerbangan menuju Makassar.
Meski di dalam pesawat ia terus menangis terisak mengenangkan apa yang di lakukan Vano terhadap nya. Setelah pulang ia ingin berkata jujur kepada kedua orang tuanya tentang keinginannya berpisah dari Vano.
Sementara itu malam kian larut namun Vano belum bisa terlelap memikirkan wanita yang selama beberapa minggu ini menemani tidur nya meski tidak ada kontak fisik diantara mereka, Namun Yumna sudah membuktikan pada dirinya jika wanita itu begitu tulus dan sabar mengurus nya, padahal sudah beberapa kali ini la berusaha melemahkan semangat nya dengan berbagai macam cara untuk menghinanya. Bahkan ia pun beberapa kali menawarkan Yumna sejumlah uang untuk merendahkan nya. Namun wanita itu tetap bersabar dan tegar.
Saat sedang asyik memikirkan Yumna, tiba-tiba gawainya pun berdering. la pun segera mengangkat panggilan yang masuk.
"Bagaimana apa kau sudah menemukan nya,?" tanyanya pada orang yang di seberang telpon.
"Apa,? apa kau yakin? baiklah segera urus penerbangan ku malam ini juga aku Akan menyusul ke makassar." Ujarnya segera lalu memutuskan sambungan telpon di saat orang itu menyiakan perintah nya.
"Dimana Yumna?" tanyanya pada seorang petugas di bandara internasional Sultan Hasanuddin, yang ia tugaskan untuk menampung Yumna sementara ia tiba di makassar. Karena ia tidak akan membiarkan Yumna pulang sendiri tanpa dirinya, bagaimana nanti jika kedua orang tuanya bertanya. Oh tidak mungkin kan dia akan menjawab kalau ia menjodohkan istrinya dengan Pria lain.
"Siap kan pesawat khusus untuk kami karena aku akan ke Mamuju, Sulawesi barat untuk mengantar nya" Ucap Vano memberikan perintah pada orang kepercayaan nya.
"Baik Bos segera dilaksanakan"
"Dan ingat jangan sampai membuat istriku terbangun! dia sedang lelah lakukan sesuatu untuk membawanya ke atas pesawat tanpa harus membuatnya terbangun," ucap Vano lagi memberikan perintah, yang di angguki kembali oleh orang kepercayaan nya itu.
__ADS_1