
"Baiklah Din Aku kesana ya…" pamitnya pada Andini.
"Ok,, siiip..." ucap Andini sembil memberi dua like jelpolnya.
"lngat caranya seperti yang aku ajarkan selamam ya… jangan lupa untuk tersenyum yang angggun, aku yakin kau bisa melakukannya." ucap Andini mengingatkan sambil memberi dukungan dan semangat untuk Yumna.
Yumna pun menggangguk lalu meninggalkan Andini yang menatapnya dengan tatapan khawatir, kalau gadis itu jadi bulan-bulanan Pak Bos nya, itu karena la sangat hafal dengan sikap dan sifat Bosnya tersebut, jika ia ingin menjatuhkan seseorang ia akan membuat pesta dan membuatnya malu.
Kisah yang sama dengan beberapa wanita yang akan di jodohkan dengannya, beberapa waktu belakangan ini, mereka berakhir dengan drama air mata.
"Assalamualaikum semua...maaf perkenalkan saya Yumna yang akan memberikan jamuan untuk kalian, dan Anda-Anda semua, jika kalian semua ingin sesuatu silahkan katakan padaku, Aku pasti akan membawakannya untuk kalian." Ucap Yumna sambil tersenyum manis, dan sontak semua mata menatap ke arahnya tak terkecuali, seseorang yang sejak tadi memperhatikannya dengan seksama.
"Bro...dia ini pembantumu yang keberapa?" tanya Dion pada Elvano, saat berpapasan dengan Vano yang tengah ikut menatap penampilan Yumna yang tak di sukanya itu.
"Hai...Bro aku bertanya padamu…?" Ucap Dion kembali menepuk pundak sahabatnya yang masih saja tak menjawab pertanyaan nya itu.
"Ah...ya...kau..kenapa, maksudku kau ada apa?"
"Ck, Jangan bilang kau naksir sama pembantumu itu, seperti aku yang jatuh cinta padanya saat ini, jatuh cinta saat pandangan pertama, aku juga heran ada apa dengan ku,? gadis ini sepertinya punya daya tariknya tersendiri."
"Apa kau menyukainya,?" ucap Vano terkejut dan tanpa sadar ia meninggikan suaranya, membuat beberapa tamu menatap aneh keduanya.
"Kau boleh tidak mengecilkan suaramu itu…? kau bisa membuat orang menuduhku menyukaimu brengsek...!" kesal Dion yang jengah dengan kelakuan sahabat masa kecilnya itu.
"Sebaiknya aku akan berkenalan langsung pada gadis itu, dan kau jangan melarangku untuk dekat dengannya,!" Dion memilih pergi meninggalkan Vano yang masih menatap kesal pada Yumna yang terlihat begitu cekatan melayani para tamu yang hadir, bahkan gadis itu nampak tak terlihat letih sama sekali.
"Cih...dasar Play Boy Cap Kelinci, biar pembantu kau mau embat juga….!" teriak Vano.
"Yang penting dia wanita dan bagiku itu tak masalah." Timpal Dion sambil terus berlalu, tanpa menoleh sahabatnya itu.
"Aku ingin lihat apa gadis itu juga suka padamu, karena dengan begitu aku akan terbebas darinya." Ucap Vano dengan sedikit bergumam.
__ADS_1
Sementara itu Dion kini, benar-benar mendekati Yumna, yang sedang membawa baki yang berisi cemilan dan beberapa minumat segar.
"Hai...perkenalkan Aku Dion Mahendra,
panggil Aku Dion saja, boleh aku tau Nama mu siapa,? dan please, jadilah istriku."
"Apa…?" Yumna sangat terkejut dengan Ucapan salah pria asing yang nampak begitu sangat tampan yang kini tengah mendekatinya, dan hampir saja makanan dan minuman yang dibawanya itu tumpah ke lantai kalau tidak di tahan oleh tangan Dion.
"Maafkan aku mungkin kau fikir aku main-main dan bercanda dengan ucapan ku ini, tapi percaya padaku aku serius ingin menikah denganmu."
"Assalamualaikum, sebaiknya Anda memberi salam jika sedang bertemu seseorang," ucap Yumna lantas memilih pergi tari tempat tersebut.
"Assalamualaikum Yumna...!" Yumna yang mendengar uluk salam dari seseorang kini berbalik, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati siapa orang yang menyapanya tersebut.
"Waalikum salam..Kak, Abi,? Kak Abi kok bisa ada di sini?"
"lya aku kemari karena ingin bertemu dengan su__"
"Baiklah, Yumna aku permisi dulu, Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..." balas Yumna.
"Yumna kau mau kemana,?" cicit Dion yang dari tadi diam saat kedatangan Abizar.
Namun Yumna yang di panggil berlalu pergi begitu saja, dari hadapannya.
'Gadis yang unik, cantik dan sederhana, aku melihatmu seperti mutiara yang terpendam, mungkin dengan sedikit polesan akan membuatmu nampak mempesona, dan bersinar, mari kita buktikan,' Gumamnya lalu mencari dimana Yumna berada, karena Yumna kini sudah menghilang dari pandangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau memanggil ku hanya untuk menceritakan semua ini,?" ucap Abizar saat mendengar cerita Vano yang sempat mencium Yumna saat ia terjatuh, dan itu mampu membuat dada Abizar terasa sedikit sesak.
__ADS_1
"Bukan itu sih intinya, yang ingi aku pertanyakan kenapa kakiku bisa bergerak dengan Cepat sedangkan kakiku masih lumpuh,? dan setelah Aku menolong Yumna kakiku kembali tak bisa gerakkan lagi." Vano pun mengakhiri ceritanya.
"Mungkin saja, itu adalah dorongan dari dalam dirimu yang spontanitas ingin menolong Yumna,"
"Jadi bagaimana,? apakah aku bisa berjalan kembali?"
"Aku akan memeriksanya kembali, karena berkas yang aku terima dari dokter Hendra mengatakan kecil kemungkinan kau akan bisa berjalan itu artinya kau harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi." Abizar terus saja memberikan penjelasannya.
"Jadi kau akan menjalani pemeriksaan ulang, dan biarkan Yumna melakukan terapi pada kakimu, saat bangun tidur, dan saat sebelum tidur, baiklah kalau begitu aku akan pergi dulu, Selamat Ulang Tahun untukmu, semoga keberkahan selalu menyertaimu, Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam, apa kau tidak ingin gabung sejenak saja,?"
"Tidak…! terima kasih, Aku sedang sibuk," tolaknya, karena bukan tanpa alasan, ia hanya tidak ingin selalu bertemu Yumna wanita yang di cintainya dalam diam, namun ternyata telah menikah dengan sahabat sekaligus pasiennya itu.
"lngat satu hal jangan sia-sia kan Yumna dia gadis yang baik, aku tau kau tidak mencintai nya, tapi dia tidak bersalah atas semua yang terjadi," ingatkan nya pada Vano karena ia yakin Vano sedang membuat istrinya itu malu dengan menyuruhnya memakai baju pelayan, dan Yumna melayani seluruh tamu yang hadir tanpa hentinya.
Abizar segera melangkah pergi meninggalkan rumah mewah itu, ia kini menuju komplek perumahan miliknya yang berada tak jauh dari tempat Vano mungkin akan memakan kurang lebih 15 menit untuk sampai dirumahnya tersebut.
Sementara itu Yumna yang sejak tadi di ikuti Dion jadi gerah dan kesal sendiri, bagaimana tidak dia sudah mengatakan pada Dion kalau dia sudah menikah dan telah mempunya suami, namun Dion tidak mempercayai nya.
Prok...Prok...Prok...
Suara riuh tepuk tangan mengalihkan perhatian Yumna, dan juga Dion, la pun melihat Vano yang di dorong oleh pengawal khususnya, kini berjalan kearahnya.
"Bagaimana apa dia sudah menyetujui kalau dia ingin menjadi kekasihmu,?"
"Kau jangan mengejekku, sebentar lagi aku akan membuatnya luluh," ujar Dion penuh percaya diri.
"Kua mau kemana?!" Seru Vano saat melihat Yumna hendak pergi meninggalkan tempatNya.
__ADS_1