
"Kau jangan keras kepala! apa yang di katakan kakak ipar ada benarnya kau jangan membuat semua orang khawatir, kenapa kau selalu bertindak sesuka hati pada kakak ipar apa mentang-mentang dia bukan model cantik dan **** seperti mendiang pacar kakak itu." ucap Alyssa panjang lebar, membuat Yumna sekaligus Vano terkejut kerena kedatangan nya yang tiba-tiba, bagaimana tidak Alyssa begitu kesal dengan kakaknya yang semena-mena itu.
"Kau jangan ikut campur urusanku, apalagi ikut campur dengan urusan Rumah tanggaku Aku tidak suka!" tegas Vano melihat adiknya yang tiba-tiba saja membela Yumna.
"Kak aku itu menyayangimu, Aku hanya memberikan peringatan Agar suatu saat kau tidak akan pernah menyesal melakukannya," ucap Alyssa kembali.
"Sudahlah tahu apa kau! kau itu hanya seorang anak kecil,"
"Kakak kau…" Anisa sebaiknya kita pergi meninggal kakakmu dia butuh istirahat apa kau lupa kata dokter tadi.?"
"Kenapa sih Kakak, kakak jangan terlalu lemah jadi perempuan, Kakak itu sudah terlalu banyak mengalah dan seharusnya Kakak itu menuntutnya!" kesal Alyssa lagi.
"Sudahlah dia juga kakak kamu kok, jangan ribut pagi-pagi lagi pula itu tidak baik, kalau kalian ribut pagi-pagi itu akan menjauhkan rezeki" timpal Yumna sambil terus mengusap punggung Alyssa agar dia bisa kembali tenang.
"Kak Vano itu egois kak, Bagaimana kalau suatu saat ketika Alyssa menikah dan suami Alyssa seperti Kak Vano Kak,?"
"Alyssa dengarkan kakak, tidak baik berkata seperti itu, itu sama saja kita mendahului apa yang Allah takdirkan kepada kita,"
"Tapi Kak Vano itu sudah keterlaluan,"
"Sudahlah, biarkan Kak Vano dulu istirahat,.Maafkan aku Mas Ini semua salahku, sekarang lebih baik Mas sarapan dulu aku akan menyiapkan makanan untukmu Mas." Vano hanya diam mendengarkan penawaran istrinya itu tanpa ingin menimpalinya.
Dan ia pun melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya Tak lama kemudian Ia pun tiba dengan makanan yang tersedia di atas nampan.
"Ayolah Mas, kamu makan dulu setelah itu harus minum obatnya," Vano pun Lagi-lagi hanya diam menuruti apa yang dikatakan oleh Yumna tanpa berbicara sedikit pun, setelah selesai makan Yumna pun segera memberikan obat untuk suaminya itu.
"Apa Mas ingin sesuatu lagi? atau kau ingin mandi aku akan membawamu ke kamar mandi?" tawar Yumna kembali.
"Tidak! terima kasih, sebaiknya kau Pergilah tinggalkan aku sendiri," Yumna pun tak bisa membantah ia pun segera meninggalkan Vano, Dia tidak ingin lagi membantah sepatah kata pun lagi.
__ADS_1
"Tunggu Ada yang ingin aku katakan padamu. Yumna yang baru saja ingin meraih handle pintu kini berbalik melangkah menuju di mana Vano masih dengan selang infus di tangannya itu.
"Ada apa Mas, apa Mas Butuh sesuatu?" tanyanya dengan sopan.
"Besok malam adalah acara ulang tahun Dion jadi kau harus datang bersamaku,?"
"Baiklah Mas, apa hanya itu yang ingin Mas Katakan padaku?"
"Ya hanya itu saja sekarang Pergilah." Usir Vano, Yumna pun segera melangkah meninggalkan dari kamar itu.
"Kakak Kemarilah sebentar!" seru Alyssa begitu melihat Yumna keluar dari kamar.
"Ada apa Alyssa sayang?" tanya Yumna.
"Kak boleh aku bertanya sesuatu pada kakak?"
"Tentu saja boleh, Memangnya kau ingin bertanya apa serius Amat?" selidik Yumna.
"Kakak mengenalnya tapi tidak terlalu Sedekat Itu, karena Yang Kakak tahu dokter Abi itu sangat pemalu orangnya dia jarang berbicara meski sebenarnya dia orang nya sangat ramah.
"Emangnya kenapa Kau bertanya tentang dokter Abi?"
"Tidak ada apa-apa Kak hanya ingin sedikit mengenalnya saja siapa tahu dia bisa menjadi teman yang baik," ucapnya malu-malu.
"Boleh selama bisa saling menjaga pandangan dan karena tidak baik berteman dengan seorang lelaki jika untuk berdekatan,"
"Iya kak,'' ucap Alyssa Salah Tingkah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh…Iya kak Alyssa ingin bertanya apa kakak mencintai Kak Vano?"
__ADS_1
"Kau itu bicara apa sih?" Yumna nampak tersipu malu dengan pertanyaan adik iparnya itu.
"Kakak hanya harus menjawab iya atau tidak Kak!"
"Maybe Yes Maybe no!" Yumna pun segera meninggalkan Alyssa karena menurut nya masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan nya.
"Kakak aku belum selesai bicara kenapa kakak pergi dan jawaban seperti apa itu?" teriak Alyssa mengikuti kemana pun Yumna pergi.
"Sebaiknya kau temani Mas El, aku takut siapa tau dia butuh sesuatu, karena aku akan memasak untuk makan siang, sedang suster Andini sudah tidak di sini lagi," ucap Yumna pada sang adik iparnya.
"Tapi kak alangkah baiknya jika Kakak mengajar kan aku cara memasak siapa tau nanti Alyssa menikah dengan dokter Abizar, kan bisa tau tuh makanan khas masakan Kakak akan aku bikin buat dokter Abi kak,"
"Sebaiknya kau itu masuk ke kamar Mas El, kau bisa menjaganya dan sekalian kau bisa melihat cara memasak melalui gawaimu," ucap yumna.
"Ya ampun,, kak aku baru ingat kakak benar juga kenapa tidak kepikiran ke situ?"
Alyssa pun akhirnya pergi untuk menemani sangat Kakak.
*
"Terima kasih Kak Abi," ucap Yumna pada Abizar setelah mengantarkan nya keluar didepan pintu kamar milik Vano. Yah kedatangan Abizar untuk melepaskan infus dan juga memeriksa kembali ke adaan Vano.
"Yumna! ada yang ingin aku katakan padamu dan ini sangat penting," ucap Abizar tanpa berbalik menatap wanita yang semakin hari semakin ia cintai itu. Ntah mengapa perasaan nya begitu susah untuk di kubur, ia tahu perasaannya salah yaitu mencintai istri sahabat, sekaligus istri pasien nya sendiri mungkin dengan mengatakan persaanya semuanya akan hilang, untuk itu ia sudah berfikir berulang kali untuk berkata jujur pada Yumna, dan inilah kesempatan nya.
"Apa yang ingin Kak Abi bicarakan? tanya Yumna heran, dan masih berdiri di ambang pintu.
"Yumna, aku mencintaimu, dan sangat mencintaimu, jika kau bertanya sejak kapan? perasaan ku sudah ada sejak dulu, bahkan di malam kau menikah malam itu aku ingin melamar mu tapi sayang aku terlambat ternyata kau sudah mencintai orang lain dan memilih menikah dengan nya."
Mendengar ucapan cinta dari orang yang juga pernah ia cintai Yumna begitu terkejut, dia hanya bisa terdiam menyimak apa yang baru saja Abizar katakan untuk dirinya.
__ADS_1
Abizar yang tak mendapat respon apa pun langsung memilih pergi.
"Aku juga mencintaimu!"