
"Untuk apa kau bertanya tentang hal itu? dan jika iya Aku kembali apakah kau akan mengijinkannya?"
"Aku…" jika jawabanmu saja masih ragu, maka jangan sekali-kali kau menanyakan hal itu, bukankah kita sudah sepakat untuk memulai nya dari awal, dan Aku akan jujur padamu bahwa Aku memang masih sangat mencintai Clarissa, karena dia adalah Cinta pertama untukku." Vano menatap miring istri nya.
"Lalu kau sendiri bagaimana apa kau selama ini mempunyai pacar ? atau kau pernah selama ini mencintai seseorang?"
Deg.
Mendengar pertanyaan dari sang suami ia pun begitu terkejut. Sedangkan Vano menatap langit-langit kamar, sambil menunggu jawaban dari kejujuran Yumna.
"Tidak ada Mas…Aku tidak pernah berfikir untuk menjalin hubungan dengan seseorang tanpa ada ikatan, Aku pernah mencintai seseorang, bahkan mungkin tidak bisa di bilang cinta, Aku mungkin hanya sekedar mengaguminya saja karena aku sadar cinta itu butuh pengakuan."
"Bukankah dia sudah mengakui kalau dia mencintaimu?"
"Maksud Mas…?" Yumna mengernyitkan alisnya.
"Kamu pasti mengerti apa yang aku maksudkan tanpa aku harus menjelaskannya karena kau lebih tahu daripada aku, bahkan mungkin Jika aku tidak menikahimu maka mungkin saja dia yang akan menikahimu kan?"
"Mas Jadi kamu__?" Yumna menjeda kalimatnya lalu menatap lekat sang suami.
"Ya, Aku sudah mengetahui semuanya aku sudah mendengar apa yangkalian bicarakan" "Apa itu yang membuat Mas tiba-tiba saja berubah kesal padaku?"
"Seorang suami yang sadar jika dirinya punya punya sedikit harga diri, pasti akan merasa kesal saat sang istri berbicara begitu intim dengan seorang pria apalagi pria itu sangat dikenalnya"
"Lalu kenapa Mas memberikan kesempatan untuk Dion mendekati ku,? padahal Mas tau sendiri Aku tidak menginginkan semua itu,"
"Aku hanya mencoba membebaskan mu, membebaskanmu untuk memilih, untuk itu aku memberikanmu kesempatan untuk bebas memilih jalan hidupmu seperti apa."
"Jika wanita sudah menikah maka rumahnya adalah suaminya, untuk itu Aku tidak ingin merusak rumahku Mas" lirih Yumna
__ADS_1
"Mas maafkan aku jika menyembunyikan semua nya darimu tapi percayalah padaku Mas, aku sudah mengubur semuanya, apa yang Mas dengarkan tidak semuanya mungkin Mas hanya mendengar sebagian kecil saja.
Aku akan jujur padamu aku memang awalnya sangat menyukai Kak Abizar karena dia lelaki terhormat dan dan juga sangat baik. Sayangnya dia itu pemalu, semua wanita pasti akan merasa ingin memilikinya ingin dan dicintai olehnya, apa lagi Kak Abizar orang kaya dan mapan,
namun aku sadar siapalah aku untuk itu aku hanya menyimpan perasaanku dalam diam dan dia juga sangat mencintaimu kan bahkan mungkin kehadiranku terlalu cepat Diantara Kalian
Mas jodoh Rizki ajal dan maut sudah Allah Tentukan untuk itu kita Jangan melihat ke belakang karena jika kita melihat ke belakang kita tidak akan pernah bisa maju untuk menatap ke depan, Aku hanya ingin kau percaya semuanya, Kau adalah lmamku yang akan bertanggung jawab atas setiap dosa yang akan aku lakukan, jika aku berbuat dosa. Dan Apakah kau sanggup untuk bertahan jika suatu saat aku berpaling darimu.
"Apakah kau masih meragukanku Mas sampai Ajal menjemput pun Aku akan bertahan jika kau yang menginginkan nya, namun jika kau sama sekali tidak menginginkan ku lagi tidak ada jalan lain, kau harus mengembalikan ku"
"Dan aku tidak akan pernah melakukan itu padamu percayalah padaku kau akan selalu ada di samping ku." Vano memeluk erat tubuh mungil istrinya itu, ia seperti orang yang benar-benar takut akan kehilangan.
"Mas…"
"Hem…ya ada apa?"
"Aku lapar…"
"Auw…Mas…turunkan aku, malu Mas."
"Untuk apa kau malu bukanlah aku ini suamimu dan juga kita sudah melakukannya, aku akan memandikanmu untuk itu diamlah kalau tidak aku akan kembali memakanmu." Ucap Vano dengan seringai di wajahnya membuat Yumna tak berani lagi untuk memberontak.
Rencana yang semula pulang pagi hari molor hingga mereka pun terpaksa pulang di malam hari.
"Ada apa kalian memanggil Mama dan Papa pagi-pagi begini? kalian sudah membuat kami semua masa khawatir, Mama langsung star ke kemari setelah selesai shalat subuh takut ada sesuatu yang akan terjadi."
"Maafkan kami Ma, Pa, tapi percayalah semuanya baik-baik saja dan kebetulan semalam kami baru pulang dari Jalan-jalan, Vano sengaja mengajak Yumna Jalan-jalan"
"Baguslah jika kau sadar kalau istrimu butuh Jalan-jalan, tapi intinya bukan itu kan yang ingin kalian sampaikan pada kami?" ucap Bu Hesti menatap menantu dan putranya itu.
__ADS_1
Yumna dan Vano pun saling melemparkan tatapan.
"Tentu saja tidak Ma, Pa ada hal yang ingin Vano tunjukkan pada Mama dan juga Papa" Vano meraih tangan istrinya dan mereka pun kembali saling menatap dan tersenyum
membuat rasa penasaran kedua orang tuanya semakin besar.
"Apakah Yumna hamil?" cicit bu Hesti mendekati sangat menantu dan lalu mengelus perut Yumna.
"Ma, bukan itu, bagaimana dia bisa hamil kalau melakukan nya saja baru, Auuuww…sayang kau kenapa mencubitku?" tanya Vano saat Yumna mencubit lengannya.
Yumna sendiri menjadi salah tingkah dengan kelakuan suami nya yang menurut nya tidak etis untuk menceritakan tentang hubungan nya, pada sang Mama.
"Kalian kenapa seperti nya kalian sedang menyembunyikan sesuatu pada kami" tatapan curiga di lempakan pada Vano.
"Baiklah sekarang Mama dan Papa lihatlah ke mari!" Bu Hesti dan juga Pak Adhiyaksa sontak melirik ke arah Vano yang kini masih duduk di atas kursi rodanya.
"Vano kau__" Bu Hesti tak mampu lagi untuk berkata-kata saat melihat sangat putra berdiri dan kini melangkah mendekati nya.
"Ma....Vano sudah bisa berjalan sendiri, dan Alhamdulillah nya Yumna ikut andil juga membantu Vano dalam kesembuhan ini."
"Sayang kamu benar-benar bisa jalan Nak?" Bu Hesti memeluk sang putra dengan penuh haru dan bahagia itu terlihat dari caranya mencium seluruh wajah Sang putra sambil menitikkan air mata.
"Alhamdulillah ya Allah, anak kita kembali bisa berjalan Pa,"
"lya Ma....Mama sekarang seneng kan tidak ada lagi yang akan menggunjing anak kita bahkan membuat darah tinggi Mama naik karena ucapan temen-temen sosialita Mama,"
Sindir Pak Adhiyaksa yang gemes dengan istrinya yang selalu komplain jika pulang ke rumah dengan tingkah laku istrinya yang saat para teman-temannya sosialita nya menghina bahkan mencibir tentang Vano.
"Pa... kenapa Papa bicara seperti itu, apa Papa sengaja menyindir Mama.?"
__ADS_1
"Habis Mama kalau berkawan tuh di lihat-lihat, jangan berkawan dengan ember bocor, Mama kan yang sakit hati dengan ucapan mereka."