KEKASIH

KEKASIH
Bersandiwara.


__ADS_3

"Bajunya cantik-catik Mas, aku bingung mau pake baju yang Mana?" Cicit Yumna dengan nada sedikit bertanya.


"Pakai saja yang mana menurutmu nyaman untuk di pakai…!" timpalnya Vano


Yumna pun segera memilih pakaian yang tertutup dan kini segera masuk kedalam Bhatroom karena ingin segera membasuh tubuhnya, setelah lengkap dengan semuanya, Yumna pun benar-benar terlihat Anggun dan cantik dengan memakai baju yang si ambilnya dari lemari pakaian tadi.


Begitu pun dengan Vano yang nampak terlihat tampan dengan pakaian yang di sediakan oleh istri nya itu.


Ceklek.


Yumna keluar dari dalam Bhatroom dengan pelan.


"Kenapa dia nampak begitu semakin cantik di mataku?" Gumam Vano dalam hati dan segera memalingkan wajahnya disaat hampir saja tatapan mata mereka hampir bersi bobrok.


"Ayo Mas, nanti kita di tunggu Papa, Mama, Ibu dan juga Bapak," ujar Yumna membuyarkan lamunan Vano.


"Eh..i-iya" gugupnya sedikit tersadar dalam lamunannya.


"Kenapa kau memilih memakai baju ini? bukankah ada banyak baju di dalam lemari itu, semua itu adalah milikmu, kau boleh memakainya sesuka hatimu."


"Tidak Mas…aku bukanlah orang yang pantas untuk semua itu Mas…" sela Yumna. Sedangkan Vano hanya bisa terdiam mendengar apa yang di ucapkan Yumna. Keduanya pun kini saling menatap dengan tatapan yang saling mengunci. Namun Yumna yang segera tersadar kini menundukkan wajahnya dengan begitu malu, bagaimana tidak jika lelaki di depannya itu menatap nya tanpa berkedip.


"Kemarilah…!" seru Vano, dan dengan ragu Yumna pun mendekati Vano, begitu Yumna berada di dekatnya Vano pun meraih tangan wanita itu dan Entah kenapa jantungnya berdetak begitu kencang di saat tangan lembut itu di genggam nya.


"Mari kita turun menemui mereka seperti ini dan ingat kita harus saling memanggil sayang" ucap Vano yang di angguki oleh Yumna.


Mereka pun keluar dari kamar dengan bergandengan tangan begitu mesra.


"Ciee…pantas saja kalian terlambat 13 menit 16 detik" Cicit Tasya saat melihat kakak dan kakak ipar nya itu keluar dari lift.


"Assalamualaikum semuanya," ucap uluk sama dari Yumna

__ADS_1


"Waalaikumsalam" Balas semuanya.


Yumna pun menyalami kedua mertua dan kedua orang tuanya.


"Bagaimana keadaan mu hari ini sayang,? apa kau yakin kau sudah baik-baik saja,?" tanya Bu Hesti pada siang menantu.


"Alhamdulillah Ma, Yumna baik-baik saja benarkan sayang?" Yumna melirik ke arah Vano dan memanggilnya dengan Panggilan sayang, padahal mulutnya megitu kaku mengucapkan kata-kata itu.


"l-iya Ma, sekarang istriku ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, bahkan kita merencanakan untuk berbulan madu" Ucap Vano yang membuat jantung Yumna sepertinya mau copot, Dan lihatlah wajahnya yang sekarang sudah bersemu merah.


"A-apa Jadi kalian,? jadi ka-kalian benar-benar


ingin pergi melakukannya,?" kejut Bu Hesti tak pernah menyangka dengan apa yang dikatakan Vano barusan.


"Sudah-sudah…! Sebaiknya kita sarapan dulu, kasihan Yumna, dia kan harus segera minum obat, bukankah sebentar lagi dokter juga akan segera datang memeriksa nya."


"Oh...iya Mama sampai lupa Pa, ayo Vano Kemarilah ajak istrimu,!" seru sang mama.


"Mama kenapa sih,? Kok aneh banget," tegur pak Adiyasa kepada istrinya itu, yang tersenyum sendiri.


"Bukan Apanya Pa, tapi mama itu merasa senang karena Sebentar lagi kita akan akan punya cucu," Timpal Bu Hesti dengan senyumnya yang merekah, Sedangkan Yumna menunduk malu mendengar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya tersebut. Dan itu tak lepas dari pengamatan Alyssa.


"Mama…,Mama jangan menggoda menantu Mama, Lihatlah kakak ipar wajahnya sudah bersemu merah" cicit Alyssa yang melihat kakak iparnya masih tertunduk malu.


"Diamlah kau anak kecil, apa yang kau lakukan kepada istriku!" tegur Fano sambil menjewer pelan telinga telinga adiknya itu "Kakak sakit tahu, kesal Alyssa menepis tangan Vano.


"Makanya lain kali kalau jadi anak kecil diam saja,"


"Siapa bilang aku anak kecil Kak, biar seperti ini cowok-cowok pada ngantri ingin memilikiku, tapi sayang aku tidak menginginkan mereka semua," ucap Alyssa membanggakan diri.


"Bilang saja kau tidak laku tidak usah mengatakan kalau banyak yang ngantri buktinya biar satu cowok saja kamu tidak punya," ejek Vano tersenyum sinis. "Bagaimana aku mau punya cowok kak, kalau Mama, Papa masih Larang, kakak tahu kan kalau Papa itu seperti apa, aku tidak mau anak orang digebungin sama Papa,"

__ADS_1


"Iya,, itu kan dulu sebelum kamu lulus kuliah, dan sekarang masih tidak boleh karena kamu akan Papa jodohkan saja seperti kakakmu karena Papa tidak sanggup menanggung dosa pacaranmu nanti," Sela pak Adhyaksa


"Iiih..Papa tidak asik masa Alyssa juga harus dijodohkan Pah?" protesnya.


"Terserah kamu saja, kalau kamu tidak mau dijodohkan berarti kamu tidak mau menikah itu berarti kamu akan menjadi perawan tua,"


Ujar Sang Papa kembali.


"Ya Allah Pah, kok Papa tega banget doain anak seperti itu!" kesal Alyssa.


"Papa bukannya tega, tapi Papa ingin mengingatkan saja, karena selama ini Papa telah banyak salah dalam mendidik kalian." "Benar,, seperti apa yang dikatakan papamu itu ucap Bu Hesti menimpali perkataan suaminya.


"Jadi Mama juga mendukung apa yang dikatakan papa,?"


"Tentu saja, sayang karena dia adalah suami mama dan Kepala rumah tangga,"


"Tapi Ma, Pa, izinkan Alyssa untuk memilih calon suami untuk Alyssa sendiri, Dan Alyssa berjanji akan melakukan perjodohan jika ini tidak berhasil,"


"Baiklah Papa Memberikan kamu satu kesempatan, kalau kamu tidak berhasil maka biarkan Papa yang akan membawa lelaki yang akan Papa jodohkan padamu, bagaimana?"


"Iya Baiklah Pa, Alyssa setuju," ucap Alyssa dengan wajah yang cemberut karena masih tidak setuju dengan perjodohan yang di katakan sang Papa.


"Bapak, sama lbu bagaimana apakah Bapak sama lbu betah disini?" tanya Yumna mendekati kedua orang tuanya.


"Sayang kami akan betah jika kau juga bersama kami jadi jangan mengkhawatirkan tentang kami, karena jika anak kami bahagia, kamipun akan bahagia," ucap Bu Tanya yang di angguki oleh pak Ahmad.


Yumna pun tersenyum menatap kedua orang tuanya, ia begitu ingin menyatakan kalau apa yang dilakukan nya dengan Vano semuanya adalah kepalsuan dan ke pura-puraan saja.


Namun di saat menatap wajah senja yang di hiasi rona bahagia, Yumna pun hanya bisa membisu demi orang tuanya yang sangat di sayanginya itu, Apa lagi keadaan sang Papa yang masih dalam pengobatan dan tentu membutuhkan fikiran yang tenang, Yumna tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui bagaimana pernikahannya yang sebenarnya.


"Maafkan Yumna jika belum bisa jujur Pada Ibu dan juga Bapak." Lirihnya hanya dalam Hati.

__ADS_1


__ADS_2