KEKASIH

KEKASIH
Romantis.


__ADS_3

Setelah seharian meninggalkan rumah karena mengurus masalahnya dengan Jimmy, Yumna pun segera pulang begitu sampai di jumah menjelang magrib, ia pun bertanya pada para pelayan rumahnya apa kah ia melihat Vano atau tidak, namun semuanya menjawab suaminya itu belum pulang semenjak keluar tadi.


"Aku lapar, tapi kenapa aku tidak selera makan jika bukan di depan Mas El, dan kalau aku menunggu Mas El, pasti akan pulang telat malam ini." Dari pada diam dan suntuk sendiri setelah selesai sholat Isya, Yumna segera terjun ke dapur untuk melakukan tugas memasaknya karena ia ingin malam ini bisa makan dengan romantis bersama suami tercintanya itu. Namun hingga pukul 00:00 barulah Yumna mendengar suara mobil di halaman rumahnya.


Yah di lihatnya Vano baru saja ke luar dari mobil dan berjalan nampak begitu lesu.


"Assalamu'alaikum..." ucap uluk salam dari Vano yang baru saja membuka


"Waalaikum salam..."


"Mas...baru pulang? Tanya Yumna saat melihat Vano masuk dengan wajah yang begitu letih. Ia meraih tangan suaminya lalu mencuimnya.


Vano melihat jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya ia pun menatap Yumna malam ini yang semakin cantik di matanya.


"Kamu kenapa belum tidur sih saya ini sudah malam sekali," ucap Vano khawatir.


"Bagaimana Aku bisa tidur sayang kalau bantal tidurku belum datang," kelakar Yumna.


"Kamu ini ada-ada saja, semakin hari semakin manja saja." Ucapnya gemas mencubit hidung istrinya yang mancung itu.


"Stop…! Mas mandi dulu gi..airnya udah Aku sediakan, aku siapkan makan dulu buat Mas aku juga belum makan kita makan bareng ya…!" Ajak Yumna yang mendapat senyum dan anggukan secara bersamaan dari suaminya itu. Kini Vano keluar dari dalam Bathroom dengan hanya memakai balutan handuk yang membelit pinggang nya. Vano menatap Yumna yang semakin hari napak semakin cantik dengan memakai baju tidur yang Transparan membuat kelelakian nya kini meronta apa lagi selama ini ia tidak pernah melakukan hubungan sejauh itu selama kandungan Yumna bermasalah, tapi sekarang semunya baik-baik saja dan tidak ada salahnya kan mereka mencobanya.


"Sayang ayo kemarilah...! kok malah bengong di situ sih…?" seru Yumna, dan Tanpa pikir panjang lagi Vano pun berjalan mendekati istrinya itu.


"Ayo katanya mau makan…" ucap Yumna.


"Iya aku ingin makan" timpal Vano menyentuh dagu istrinya itu. Lalu menyecap manis bibir wanita nya itu dan itu membuat Yumna membulatkan matanya.

__ADS_1


"Aku ingin makan, tapi setelah aku memakanmu" bisik lembutnya di telinga Yumna. Lalu semuanya terjadi begitu saja tanpa ada penolakan, bahkan saat Vano mulai memberikan sentuhan-sentuhan lembutnya hingga membuat Yumna hanya bisa menikmati permainan Vano yang selalu bisa membuatnya tidak berdaya.


"Boleh aku melakukan nya sekarang?" tanya Vano ragu karena ia takut akan menyakiti istri dan membahayakan bayinya.


Yumna hanya memberikan sebuah anggukan kecil, saat bersamaan ia juga merasa sangat malu untuk mengiakan pertanyaan suaminya itu.


"Aku berjanji akan melakukan nya pelan-pelan dan tidak akan menyakiti kalian," ucap Vano sambil membuat rilek istrinya agar ia bisa siap menerima serangan-serangan selanjutnya. Keduanya pun berpacu dalam mencapai kenikmatan duniawinya.


*


"Sayang aku sangat lapar..." cicit Yumna di saat sang suami telah selesai pada kegiatan panasnya. Vano pun segera tersadar bahkan merasa serba salah lalu ia pun segera mengendurkan pelukannya, ia pun bergegas membawa tubuh Yumna masuk kedalam Bathroom.


"Maafkan aku telah membuat kalian lapar," ucap Vano penuh sesal di saat melihat istrinya begitu lahab mengunyah makanan yang masuk di mulutnya, namun Yumna hanya bisa tersenyum dengan manis.


"Tidak apa-apa sayang, Entah mengapa Hari ini aku sangat lapar sekali." Ucap Yumna jujur.


"Kenapa kau tidak bertanya aku darimana di saat aku baru pulang tadi?"


"Untuk apa aku bertanya jika tujuanmu pergi untuk kebaikan kita semua, dan aku yakin kau Pasti sangat lelah dan capek dengan semuanya.


Aku juga minta maaf jika tadi aku tidak minta izin untuk pergi karena nomor mu tidak aktif saat aku hubungi,"


Tidak apa-apa sayang, karena aku tahu kau juga keluar pasti untuk menyelesaikan masalah yang tertunda dan aku yakin kau pasti bisa mengatasi nya, dan seminggu lagi aku dan Clarissa akan mengadakan pesta pernikahan."


"Lalu...?"


"Aku sudah menyiapkan segala sesuatu yang di butuhkan, karena semuanya mungkin akan hadir di acara itu, aku harap kau juga bisa tampil sempurna di acara itu." Ucap Vano menatap lembut istrinya itu.

__ADS_1


"Akan aku usahakan untuk bisa semaksimal mungkin meski aku tidak yakin bisa sempurna." Ucap Yumna yang kini bersandar di dada bidang suaminya itu.


"Kau pasti bisa karena kau adalah wanita terhebatku." Ucap Vano sambil sesekali mencium tengkuk istrinya itu.


"Bagaimana dengan kakimu, apa sudah tidak bengkak lagi?"


"Masih Mas…tapi tidak terlalu seperti kemarin-kemarin." Terang Yumna, agar suaminya tidak merasa khawatir.


"Auhk…sayang pinggang ku agak sedikit nyeri" rintih Yumna.


"Sayang kau kenapa? yang mana sakitnya biar aku pijit" ucap Vano begitu khawatir.


"Yang ini." ucap Yumna berbalik menggelitik suaminya itu.


"Sayang awas kamu ya! kau sudah membuat benar-benar takut." Malam itu pun merka laluai dengan penuh kemesraan dan kebahagiaan.


Hingga tiba waktu yang telah di tentukan yaitu satu minggu kemudian pesta pernikahan yang Vano rencanakan kini tak lama lagi akan segera berlangsung di mana Yumna nampak begitu cantik dan anggun, bahkan dirinya dan Vano melakukan beberapa sesi pemotretan sebelum acaranya akan di mulai, melihat kandung Yumna yang semakin membesar, Vano hanya mengundang Orang-orang penting, kerabat dan beberapa koleganya saja, karena ia tidak mau Yumna kecapean gara-gara tamu yang begitu banyak jika dia mengundang orang banyak.


"Vano…kamu apa-apaan mengadakan pesta pernikahan seperti ini, apa kamu lupa kalau kamu sudah menikah dan sebentar lagi istri mu akan melahirkan…" serah sangat Mama begitu marah bagaimana tidak di saat menantunya tengah hamil putranya malah mengumumkan jika akan di adakan akad Nikah dan pesta pernikahan.


Bukan saja Bu Hesti yang marah Pak Adhyaksa pun terlihat geram kalau bukan Yumna sendiri yang meminta mereka untuk tenang.


"Siapa lagi calon istri mu itu Vano?" tanya Bu Hesti masih dengan wajah yang penuh amarah.


"Saya Tante, saya yang akan menjadi istri Vano."


"Kau…!"

__ADS_1


__ADS_2