KEKASIH

KEKASIH
Yumna Sakit


__ADS_3

"Bukan lagi parah tapi kalau kau tak membawanya cepat maka ia akan mati, apa kau mau melihatnya mati di rumahmu,?"


"Apa kau bilang M-mati? A-aku tidak mau dia mati," gugup nya.


"Baiklah kau suruh orang membawanya cepat...!" perintahnya.


Dokter Julia pun segera menelpon ambulance untuk membawa Yumna segera kerumah sakit.


Begitu sampai di rumah sakit ia pun segera di bawa ke UGD untuk mendapatkan tindakan selanjutnya sebelum dia di pindah kan ke kamar kain.


"Bagaimana ke adaannya sekarang,? tanya Vano begitu seorang yang berjas putih keluar dari ruangan di mana Yumna saat ini di rawat secara intensif.


Anda boleh ikut saya sekarang, saya akan menjelaskan kepada Anda semua nya," jelas sang dokter meminta kepada Vano untuk datang ke ruangan nya.


Vano pun mengangguk mengiyakan permintaan dokter tersebut.


"Silahkan masuk!" ujar dokter tersebut sambil membuka pintu. Vano pun masuk di dorong oleh suster Andini.


"Kau boleh keluar sekarang!" perintahnya pada suster Andini, sang suster pun hanya bisa mengangguk, lalu melangkah keluar.


"Begini pasien mengalami dehidrasi dan juga tipes, itulah yang membuat kondisi tubuhnya turun drastis, jadi biarkan dulu dia beristirahat total selama satu minggu di rumah sakit.


"Lalu kapan dia bisa sadar Dokter?"


"Mungkin setelah obat di dalam tubuhnya bereaksi dengan baik, dan jangan biarkan pasien untuk bekerja terlalu keras, karena nanti akan berpengaruh buruk pada nya, kecuali jika pesien sudah sembuh total."


"Baiklah Dokter terima kasih atas penjelasan Anda." Vano pun pamit ingin menemui Yumna begitu dokter selesai menjelaskan tentang keadaan nya.


Dan disinilah ia sekarang di ruang VIP, menatap tubuh Yumna yang masih di hiasi dengan raut wajah pucat nya itu, perlahan ia pun mendekati ranjang dimana Yumna masih setia menutup mata.


"Hai gadis kampung bangunlah kenapa kau selalu saja membuatku susah, apa kau tidak punya cara lain untuk membalas selain diam seperti ini,? dasar menyebalkan."


Vano terus saja menggerutu seperti orang yang kehingan mainannya, hingga tak terasa ia pun diserang kantuk, yang sangat luar biasa, la pun mencoba untuk naik di ranjang dengan berpegangan kuat di tepi ranjang dan berhasil naik, kini la pun berbaring di samping Yumna dengan sedikit membuat jarak, diantara dirinya dan Yumna.


Hingga ia pun terlelap di Alam mimpi, dan ntah sampai kapan ia tertidur, karena saat ia bangun ia terkejut tak mendapatkan Yumna di sampingnya.

__ADS_1


"Yumna...Yumna...kau dimana,? hai... gadis kampung, jawab aku kau dimana?" teriaknya terus memanggil hingga seorang dokter masuk menemuinya.


"Maaf ada apa kenapa Anda berteriak ini rumah sakit Anda bisa mengganggu pasien yang lainnya."


"Tapi dokter istri saya tidak ada disini." Ucap nya kesal.


"Apakah anda lupa kalau pasien di kamar ini sudah meninggal beberapa jam yang lalu sudah meninggal." Terang sang dokter, yang membuat Vano tercengang mendengar ucapan dokter tersebut.


"Jaga ucapanmu Dokter,! kau bohong padaku kan? kau membohongiku kan,? tidak mungkin Yumna pergi secepat itu." Vano mencengkam kerah kemeja dokter tersebut dengan penuh Amarah yang membara.


"Yumna kau tidak boleh pergi Yumna kau tidak boleh pergi secepat ini, Yumna..!"


Sementara itu Yumna yang mendengar namanya terus di panggil, kini membuka mata perlahan, sambil melenguh kerena merasakan tubuhnya seperti tak bertenaga sama sekali, apa lagi sebuah tangan kekar kini belingkar di tubuhnya karena memeluk nya dengan posesif.


Dan betapa terkejutnya ia di saat sadar siapa yang berada di sampingnya tersebut.


"Mas...El,..." lirihnya hampir tak terdengar disaat lelaki di sampingnya itu masih setia menutup mata, sambil terus mengigau memanggil namanya.


"Ya,, Allah ini sudah jam berapa,? aku belum sholat subuh" Yumna berusaha menggerakkan tubuhnya yang masih di peluk erat oleh Vano.


"Mas...Mas...bangun Mas...!" Yumna terus saja berusaha membangunkan Vano dengan menguncang sedikit bahunya bahkan sesekali ia menyentuh wajah suaminya yang nampak berkeringat itu.


"Yumna sayang kau masih hidup,? maafkan aku, maafkan aku,'' ucap Vano yang masih ketakutan memeluk tubuh Yumna dengan posesif, Hingga membuat nya tidak bisa bernafas, bahkan tak menyadari ucapannya yang memanggil Yumna dengan sebutan sayang.


"Mas, kau kenapa?" Kejut Yumna heran apa lagi saat Vano untuk pertama kali memanggilnya sayang.


Vano yang tersadar dengan apa yang di lakukannya dengan cepat melepaskan pelukannya itu.


"Kau, kenapa kau tidur di sampingku dan berani-beraninya kau memelukku? apa kau benar-benar ingin mati?"


"Mas...seharusnya aku yang bertanya padamu aku ada dimana dan kenapa tanganku ada jarumnya?" tanya Yumna dengan kening yang berkerut.


Vano pun segera tersadar dengan kesalahan nya.


"Eh...itu...kau sebenarnya berada di rumah sakit" ucap nya dengan malu, lalu segera bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Mas...kau mau kemana jangan pergi," cicit Yumna menahan tubuh suaminya.


Namun Vano menatap nya dengan tatapan tajamnya, Yumna pun terpaksa melepaskan, tangannya yang sempat menahan Vano.


"Kau beristirahat lah, aku akan keluar sejenak untuk mencari makanan untukmu, kau pasti lapar kan,?" tanya Vano yang kini sudah berada di atas kursi rodanya itu.


Dan dengan cepat Yumna pun segera menganggukkan kepalanya, karena memang ia merasa sangat lapar.


"Mas...apa tidak sebaiknya makannya di pesan saja, jadi Mas, tidak perlu keluar dan_"


"Dan apa,?" tanya Vano di saat Yumna menjeda kalimatnya.


"Yumna ingin sholat subuh Mas...tapi__" Yumna kembali menjeda kalimatnya.


"Apa kau ingin ke toilet?" tebak Vano.


"I-iya Mas...?" jawab Yumna kaku, karena menahan malu.


"Wanita yang aneh, bukan aneh sih tapi unik, benar kata Dion dia adalah gadis yang unik, dengan suami sendiri masih saja malu-


malu." Gumam Vano namun cukup di dalam hatinya.


"Mas...aku minta maaf kalau ucapanku salah," ucap Yumna saat menyadari Vano hanya diam tak menggubris kata-kata nya tadi yang ingin ke toilet.


"Ah...ya,, baiklah untuk kali ini aku akan membantumu ke toilet," Ucap Vano segera tersandar.


"T-tapi Mas...A-aku__"


"Apa kau malu pada suamimu sendiri, dan ini sudah hampir pukul enam pagi nanti kau akan kesiangan untuk sholat subuhnya." Sela Vano membuat Yumna terdiam.


"Apa kau bisa bangun?"


"lya,, Mas..." timpalnya sambil mengaguk.


"Baiklah, Ayo Aku yang akan membawa infus nya, Kau berjalan pelan-pelan saja karena kepalamu pasti masih sangat sakit."

__ADS_1


Yumna pun mengikuti apa yang di ucapkan Vano tadi.


"Kau jangan khawatir aku akan menunggumu di luar toilet, jadi kau tidak perlu malu," ucap Vano kembali, membuat Yumna merasa malu karena tak menyangka Vano akan mengerti dan bisa menebak jalan pikirannya.


__ADS_2