
Deg.
Mendengar kalau Yumna juga ternyata mencintainya membuat Abizar merekahkan senyumannya.
"A-apa aku tidak salah dengar Yumna,?"
"Tidak kau tidak salah dengar Kak, kalau aku juga sangat mencintai Kakak," ucap Yumna meyakinkan.
"Terima kasih Yumna terima kasih Aku merasa bahagia karena aku akhirnya tahu bagaimana perasaanmu padaku" Abizar yang tersenyum tiba-tiba dikejutkan dengan suara dari sebuah mobil yang tiba-tiba saja melintas di depannya dan menabrak pembatas jalan.
"Astaghfirullahaladzim, ya Allah apa yang telah aku lakukan? Abizar baru tersadar ternyata ia masih di atas motor melaju dengan kecepatan yang tinggi sementara apa yang dialaminya tadi hanya sebuah halusinasinya saja dengan cepat Abizar menghentikan motornya dia pun segera turun dan melihat mobil yang menghindar karena ia hampir menabraknya tadi.
"Aduh sakit, kepalaku sakit sekali, kenapa aku sial sekali hari ini dan siapa sih orang gila yang membawa motor ugal-ugalan di jalan becek seperti ini? dan, Oh ya ampun kening ku berdarah bisa rusak kecantikanku kalau begini,"
Bugh...Bugh..Bugh
"Siapa lagi sih?" Alyssa menatap kesamping kanan jendela mobilnya.
"Ya,, Ampun di tempat sepi seperti ini ada seseorang yang mengetuk pintu mobilku,? Apakah dia seorang penjahat,? Oh Tuhan mati aku, aku belum mau mati di sini aku belum bertemu dengan Mama dan Papa dan juga Kakak iparku" Gumamnya dengan perasaan takut, Bagaimana tidak setelah kepalanya terbentur kini Alyssa dikejutkan dengan seorang lelaki yang masih menutup wajahnya dengan helm, Membuat Alyssa semakin gemetar ketakutan, bahkan kepalanya yang terbentur pun semakin terasa sakit dan membuat pandangannya makin lama makin gelap.
"Ya Allah apa orang di dalamnya sudah__"
Abizar menjeda kalimatnya saat pikirannya sedang kalud.
"Tidak,, jangan sampai itu terjadi, Bagaimanapun aku harus membuka paksa pintu ini, dan aku akan melihat Apakah di dalam ada korbannya atau tidak, maaf aku harus terpaksa merusaknya tapi aku janji akan mengganti kerugiannya," ucapnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya Abidzar ketika melihat di dalam mobil itu hanya ada seorang wanita, bahkan terlihat dari kening gadis itu kalau la sedang terluka.
"Astaghfirullahaladzim aku harus menyelamatkannya" paniknya.
"Hai,, Nona bangunlah! Apa kau masih bisa mendengarku,?"
"Ada apa ini? apa yang terjadi,?" tanya Seorang warga yang sedang melintas berkeliling untuk jaga malam.
"Maaf Pak, kebetulan sekali Bapak lewat, Boleh saya bisa minta tolong pada Bapak saya minta bantuan Bapak untuk menolong Nona ini sepertinya Nona ini orang baru di daerah sini pak,! kita harus segera membawanya ke Puskesmas terdekat dari sini," ujar Abizar.
"Baiklah Dek, ayo Bapak bantu ucap Bapak tersebut masih dengan logatnya yang medok, Abizar pun segera mengangkat tubuh Alyssa keluar dari mobil dibantu oleh Bapak tersebut baru saja Abidzar ingin memperbaiki posisi tubuh Alisa, Alisa tiba-tiba saja bangun dan berteriak histeris.
"Tolong...tolong...ada penjahat tolong...!" Jerit nya.
"Nona...Nona diamlah, kami bukan penjahat Kami sedang menolongmu lagi pula tempat ini tempat yang sepi, dan juga sudah tengah malam, kau tak perlu berteriak karena tak akan ada orang yang mendengarmu,'' ujar Abidzar membuat Alisa semakin ketakutan.
"Oh,, begitu ya! jadi kalian ini bukan perampok,?"
"Ya,, bukanlah Mbak, muka Bapak yang guanteng Ini kok dibilang perampok sih,? Mbak, bisa hilang hargadiri kami Mbak, lagi pula Apanya yang mau dirampok Mbak? mobil Mbak itu terlalu mewah untuk dirampok soalnya kalau rusak biayanya gede sedang kami di sini wong cuma petani Sawit, Sama petani Padi aja kok Mbak, jadi untuk apa kami merampok mobilnya Mbak, wong gak bisa dipakai untuk mengangkut kelapa sawit," ucap bapak tersebut panjang lebar.
"Ayo aku akan mengantarmu, mobilmu biar besok diambil karena aku akan membawanya ke bengkel terlebih dahulu,"
"Tunggu-tunggu aku belum mengenal kalian apa aku bisa percaya pada kalian," ujar Alyssaa.
"Walah Mbak..Mbak...Mbak ini piye toh mau dibantu kok banyak sekali pertanyaannya, pakai tidak percaya segala pada kami. Ayo perkenalkan nama bapak Sadiman Bapak tinggal di kampung, paguyuban Panrasa mungkin 100 m dari sini.
__ADS_1
"Dan namaku adalah Abidzar kau bisa memanggilku Abi, Aku tinggal di kampung Hijrah, Sebutkan tujuanmu kemana dan kau darimana? kenapa kau menyetir malam-malam seperti ini sendiri apalagi mobilmu ini mobil mewah, apa lagi kau hanya seorang wanita," Abizar bertanya panjang lebar karena ingin mengetahui kenapa gadis cantik di depannya itu Nekat berkendara sendiri.
"Tadi,, sebenarnya aku bersama teman-temanku, tapi pas jalan macet mereka semua meninggalkan aku karena mereka masing-masing dijemput sama pasangannya, sedangkan aku ditinggal sendiri, tapi aku harus meneruskan perjalananku, yang entah kapan akan sampai, aku sudah berusaha menelpon Kakak, dan kedua orang tuaku bahkan sepupuku, tapi jaringan di sini sangat sulit, aku bingung mau bertanya pada siapa," Alyssa berusaha menceritakan kejadian dan kesulitan yang dialamainya selama dalam perjalanannya.
Sedangkan Abizar mendengarkan ceritanya dengan seksama.
"Sekarang katakan padaku tujuanmu mau ke mana? aku akan berusaha mengantarmu sampai ke tujuanmu," ucap Abizar membuat Alyssa sedikit merasa lega, setidaknya akan ada orang yang menemaninya sepanjang jalannya nanti.
"Tunggu aku lihat alamatnya dulu, sepertinya ada di dalam mobil," Tasya pun segera bangkit untuk mengambil alamat yang tercatat di dalam mobil.
"Akh...ish...kakiku sakit sekali," ringisnya kesakitan dan Bahkan ia pun berjalan terpincang-pincang.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Abizar yang nampak khawatir karena biar bagaimanapun gadis di depannya itu kecelakaan akibat dirinya yang tidak fokus pada jalan.
"Aku tidak apa-apa," jawab Alyssa.
Alyssa pun meraih tasnya lalu memeriksa alamat yang akan jadi tujuannya itu.
"Ini Alamatnya lihat saja sendiri ujar Alyssa menyodorkan sebuah kertas kecil kepada Abidzar, Abizar pun segera menerimanya lalu membacanya.
"Kampung Muhajirin,? untuk apa kau ke sana?"
"Aku ingin bertemu kedua orang tuaku, bahkan Kakakku hari ini akan menikah," "Menikah?" Abizar mengerutkan alisnya saat mengingat sesuatu.
"Ayo,, Dek, Mbak, bapak pamit dulu ya.." sela Pak Tarigan.
__ADS_1
"Oh,, iya pak, Maaf terima kasih atas bantuan Bapak, dan ini ada sedikit rezeki Pak, Bapak bisa beli kopi dan makanan ringan untuk Bapak dan rekan-rekan Bapak yang jaga malam," ujar Abizar memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah kepada bapak Tarigan.