KEKASIH

KEKASIH
Kembali Drop


__ADS_3

Begitu Pesawat take-off meninggalkan landasan di situlah Yumna mulai menggeliatkan tubuhnya.


"Astaghfirullah ada gempa bumi…!" Cicit nya begitu terkejut di saat merasakan tubuhnya sedikit berguncang oleh getaran dari badan pesawat yang di tumpanginya.


"Kau tidak usah takut, tidak akan terjadi apa-apa padamu tidurlah, karena perjalanan masih panjang."


Mendengar suara yang tidak asing bagi nya membuat Yumna terpaksa membuka matanya lebar-lebar, dan begitu terkejutnya ia begitu sadar siapa yang berada tepat di depannya.


"M-mas Vano Kau kenapa berada di sini?" kejut Yumna kembali.


"Aku berada di sini karena kau berada di sini juga kan," Timpal Vano kembali.


"Tapi kita mau kamana? kenapa aku berada di atas pesawat dan Mas Vano juga kenapa menyusulku?"


"Aku kira mengantarmu pulang kerumahmu adalah pilihan yang tepat, bukankah kau sangat menginginkan nya,?"


*Deg.


"Bagaimana Mas Vano tau kalau aku ingin pulang kerumah*?"


"Kenapa kau hanya diam saja apa kau tidak suka jika aku mengantarkan mu pulang,?"


"Terima kasih atas kepedulian Mas…mengantarkan ku setelah ini Mas boleh kembali lagi ke kota,?"


"Jadi kau akan mengusir suamimu dari rumah mu apa aku tidak pantas berada bersamamu,?" Ujar Vano.


"Bukan tidak pantas Mas…kau itu bagaikan rembulan yang terlalu bersinar, sedangkan aku adalah sang punguk yang hanya bisa menatapmu dari kejauhan, tanpa bisa aku menggapaimu, untuk itu aku tak ingin menjadi orang yang tidak tahu diri,"


Vano hanya bisa terdiam mendengar ucapan dari Yumna. setelah itu mereka hanya terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. kita akan segera tiba persiapkan dirimu Yumna hanya mengangguk pelan sambil menatap kepergian Vano. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 24 menit pesawat boleh mendarat dengan sempurna di bandara Tampa padang.


"Kita akan menginap dulu di sini, besok pagi baru kita turun kerumahmu karena ini sudah larut aku tidak ingin kedua orang tuamu bertanya yang aneh-aneh apa lagi Bapakmu sedang sakit."

__ADS_1


"Terima kasih Mas…" ujar Yumna.


"Untuk apa?"


"Untuk mengerti apa yang aku alami"


"Sudahlah ayo kita pergi karena ini sudah larut, kau juga pasti sudah capek,"


"Kenapa di saat bersamaan kau membuat ku bahagia sekaligus terluka Mas…"


Gumam Yumna namun hanya dalam hati.


"Tidak apa-apa kan kalau malam ini kita tidur sekamar kembali? karena aku hanya memesan satu kamar tidak apa-apa Mas tidur saja karena Yumna mau salat dulu mas salatlah aku akan selesai salat tapi mas Apa kau akan selalu membantah perintah suami ini tidak Mas..."


"Baguslah kalau begitu." Yumna pun segera meninggalkan Vano untuk mengambil air wudhu, setelah itu ia sholat sedangkan Vano terus menatap Apa yang dilakukan istrinya itu dengan Tatapan yang tidak terbaca. Setelah sholat Yumna pun segera melipat mukena dan Sajadah yang dipakainya.


"Kemarilah bantu aku naik di atas ranjang!" Panggil Vano, Yumna pun mengangguk lalu mendekati Vano dengan perasaan yang berdebar, lalu ia pun membantunya untuk duduk di tepi ranjang, Bahkan ini untuk yang kedua kalinya mereka begitu dekat, selama ini Yumna hanya bertugas untuk memberikan pijat refleksi pada kaki Vano saja, Selebihnya ia bisa mandiri sendiri.


Vano menarik sudut bibir nya disaat melihat Yumna yang begitu pasrah di atas tubuhnya bahkan tampak dari raut wajah wanita itu terlihat begitu gugup.


"Dasar gadis lemah begitu cepat nya kau menyerah padaku,"


Yumna menutup mata saat Vano begitu dekat dengan wajahnya, bahkan tidak ada jarak di antara hidung mancung mereka.


"Tidur lah,! jangan sampai kamu terlambat bangun…!" ucap Vano mendorong tubuh Yumna kesamping hingga membuatnya jatuh di tempat tidur. dengan wajah yang sudah memerah Yumna pun memperbaiki posisinya tidak lupa ia berdoa sebelum akhirnya ia memilih untuk menutup mata sedangkan Vano bukannya terlelap tapi ia menatap begitu lekat wanita yang tidur di samping yaitu. Lama Yumna yang kini terlelap dengan dengkuran halusnya Yumna pun menggeliat lalu membalik tubuhnya membelakangi Vano.


Pagi.


Tempat pukul 07.00 pagi Mereka pun sampai di rumah Yumna begitu terkejutnya ya ketika melihat orang-orang telah berkumpul di depan rumahnya apalagi saat mendengar tangis dalam rumah dengan perasaan yang berdebar Yumna dan Vano pun menyerobot orang-orang yang berkerumun.


"Assalamu'alaikum…lbu Bapak ada apa?" cicitnya begitu masuk di dalam rumah dan mendapati ibunya yang sedang menangis sesenggukan."

__ADS_1


"Waalaikumsalam…Yumna, kau datang Nak?"


kejut Rany sang ibu melihnya sang putri yang tiba-tiba saja muncul di depan nya.


"lbu katakan padaku bapak kenapa Bu...?"


"ltu Nak Bapak mu drop lagi dan dia mencari dan menyebut namamu terus," Tutur Rany pada sang putri.


Sementara para tetangga yang datang bertamu bersama-sama membacakan lantunan ayat suci Al-Quran, membuat suasana terasa mengharu biru. Yumna pun datang mendekat duduk di samping Pak Ahmad yang tengah terbaring dengan selang infus di tangan nya.


"Assalamualaikum Pak, ini Yumna, Yumna datang pak, Yumna pulang Yumna anak bapak kemarilah nak bapak ingin bicara padamu, suamimu mana nak,?" lirih Pak Ahmad yang begitu lemah.


"Ada Pak, Bapak tunggu ya! Yumna panggil kan dulu." Yumna pun bergegas mencari suaminya yang bergabung dengan Orang-orang yang datang menjenguk Pak Ahmad.


"Mas, boleh kita bicara sebentar,?" bisik Yumna, Vano pun terlihat mengangguk mengiyakan ajakan Yumna.


Yumna mendorong kursi roda milik Vano kedalam kamar miliknya.


"Mas aku mohon bawa Bapak ke kota untuk berobat aku berjanji akan mengikuti semua keinginan mu Mas…yaitu menjalin hubungan dengan Mas, Dion dan juga berpisah darimu,"


Ucap Yumna sambil bersimpuh dan menangkup kan kedua tangannya di depan dada.


"Apa kau yakin akan mengikuti semua yang ku inginkan tanpa terkecuali,?"


"l-iya Mas, aku akan melakukan apa pun itu tanpa terkecuali,?" Sahut Yumna kembali dengan air mata yang sudah mengalir deras.


"Baiklah Deal, tapi kau jangan mengira aku menggunakan kesempatan dalam kesempitan, kau sendiri yang datang memohon dan memintanya padaku,


Dan kau jangan pernah mengingkari janjimu."


"Pasti Mas…pasti apapun itu aku akan melakukannya demi Bapak agar bisa sembuh."

__ADS_1


"Hapus air matamu! aku tidak ingin melihat kau menangis, tersenyumlah seperti biasanya, aku lebih suka melihatmu tersenyum daripada menangis."


__ADS_2