KEKASIH

KEKASIH
Menahan Sesak


__ADS_3

"Kau mau kemana?" tanya Vano saat melihat Yumna melewatinya begitu saja.


"Tentu saja untuk keluar dari rumah ini, bukankah Anda sudah secara tidak langsung telah menjatuhkan talak pada saya, untuk itu saya pergi, karena anda sudah tidak berhak atas diri saya dan saya pun sudah tidak berhak atas diri Anda lebih cepat lebih baik, jaga diri Anda baik-baik, Assalamu'alaikum." setelah berucap Yumna pun segera pergi dengan menahan sesak dan isakannya, iq pun memakai baju seadanya karena ia sadar ia bukanlah siapa-siapa dan dia merasa tidak punya hak untuk membawa segala yang pernah di berikan Vano untuknya.


Sedangkan Vano masih bergeming pada tempatnya sambil menatap nanar, ia tidak menyangka keputusan final yang di ambilnya akan merubah semuanya dalam sekejap. Semua terasa bagaikan mimpi disiang hari, saat melihat orang yang telah membuat dirinya bisa sedikit melupakan cinta pertamanya yaitu Clarissa, kini tinggal akan menjadi bayangan buram yang tak bermaya.


'Entahlah, Apakah keputusanku ini benar atau tidak Biarlah waktu yang akan menjawabnya, aku hanya Terlanjur kecewa atas sikap yang kau lakukan bermain di belakangku tanpa aku tahu apa penyebab semuanya, jika kau sedang mengandung anakku kenapa kau tidak berkata saja kau sedang mengandung, dan kenapa harus Abizar yang mengantarmu untuk memeriksa kandunganmu,? sebenarnya seperti apa hubungan kalian di belakangku? aku tak pernah tahu hingga hari ini.


Aku berharap kau menjelaskan semuanya padaku tapi Kau hanya memilih diam dan berlalu pergi tanpa ingin menjelaskan semuanya padaku Yumna, Aaaaaa grrrrr, Aku membencimu aku membenci kalian…" Vano berteriak histeris dan membanting semua barang-barang yang ada di dekatnya.


Ternyata semua tidak mudah dalam bayangannya, yaitu membenci orang yang telah membuatnya jatuh cinta untuk yang kedua kalinya orang yang selalu melayani segala kebutuhan nya dari A sampai Z.


Setiap pagi selalu membangun kan nya dengan kecupan-kecupan lembutnya, dan selalu memberinya semangat, orang yang membuatnya belajar sedikit demi sedikit tentang agama dan tentang Siapa dirinya yang sesungguhnya juga orang itu tanpa sengaja telah membuatnya terluka.


Apakah salah jika dirinya mengambil keputusan bukan karena dirinya takut untuk mendengar penjelasan, namun yang ia takutkan adalah kenyataan, kenyataan jika dirinya harus menerima kalau Yumna tidak akan pernah mencintainya lagi.


Untuk itulah ia tidak ingin mendengarkan apapun dari Yumna, karena Yumna pun memilih diam tanpa ingin menjelaskan semuanya, dan baginya itu semua sudah terasa begitu jelas tanpa harus menuntut Yumna untuk menjelaskannya.


Kini Vano melangkah masuk menuju kamarnya di lantai 2 perlahan Ia membuka pintu lalu menundukkan bokongnya di tepi pembaringan. Vano menatap nanar Kamar tersebut, Bahkan ia pun mengusap dengan lembut bantal dan tempat tidur di mana Yumna selalu memberikan kelembutannya.


'Apakah ini adalah jawaban atas semuanya, kenapa selama ini selalu menolak untuk…hah…" Vano mengingat kembali dimana di saat Yumna menolak melakukan penyatuannya dengan sempurna, dengan alasan sakit, dan tepat bertepatan dengan kehamilan Yumna.


Vano kembali mengebalkan kedua tangannya.

__ADS_1


'Apa kau tahu? seumur hidup aku baru merasakan sakit yang sesakit ini, kau sudah mencuri hatiku terlalu dalam bahkan sudah berhasil membuatku jatuh dan terpuruk aku pikir kau akan bisa menjadi kekasihku untuk selamanya, seorang kekasih yang selalu setia akan cintanya seorang kekasih yang setia pada sumpah janjinya.


Aku tidak tahu dengan luka yang kau berikan ini Apakah aku bisa melupakanmu? Karena rasa cintaku sudah terlalu kuat untukmu.Tidakkah kau berpikir bahwa aku sangat-sangat mencintaimu Yumna.


Tapi kenapa di saat aku sudah jatuh terlalu dalam, Kenapa harus ada dia diantara kita? dan kau memilih segera pergi dari rumah ini tanpa ingin menjelaskan sepatah katapun, tanpa memberikan pembelaan untuk dirimu sendiri.' Vano terus saja berbicara pada dirinya sendiri, hingga kembali membuat nya menangis dan meratapi apa yang terjadi padanya saat ini.


Hingga terlintas di benaknya seketika perkataan Yumna sebelum keluar.


"Anda secara tidak langsung telah menjatuhkan talak kepada saya untuk itulah saya pergi karena saya sudah tidak berhak atas diri Anda dan Anda pun tidak berhak atas diri saya," Bahkan ia pun mengingat kata-katanya beberapa saat lalu yang menyuruh Yumna pergi dan menyuruhnya menunggu hingga keputusan di pengadilan telah tiba.


Vano mengusap kasar wajahnya.


"Asstagfirullah, kenapa aku bisa melakukan semua itu? jika aku membalasnya Bukankah berarti aku itu sama saja dengannya,? tapi aku benar, aku tidak salah dialah yang salah dia telah menghianatiku.' Vano yang sibuk dengan pemikiran-pemikiran dan ingatannya itu dikejutkan oleh suara deringan handphonenya.


'Clarissa…!' lirihnya mengingat Cinta Pertamanya yang tengah terbaring di rumah sakit.


Sementara itu di lain tempat setelah menyelesaikan sholatnya Yumna pun melanjutkan doanya sambil berurai air mata, sungguh tak di sangka jika ia sudah jatuh cinta terlalu dalam pada Vano.


Namun lelaki itu mencampakkannya begitu saja, ia di anggap bagaikan butiran debu saja, bahkan ketulusannya hanya di hargai sebuah cek yang cukup pantastis, Yumna mengusap perutnya dengan lembut.


''Jangan khawatir kan Bunda sayang, Bunda masih bisa kuat kok demi kamu, kamu jangan benci Ayah ya, Ayah itu orang yang sangat baik kok, dia sangat sayang pada Bunda, hanya untuk saat ini Ayah sedang binggung." Yumna kembali menitikkan air matanya. la menatap cek yang ada di tangannya lalu tersenyum, ia punya alasan tersendiri kenapa harus menerima cek tersebut, ia pun bangkit berdiri dan ber jalan untuk segera pergi dari masjid itu untuk menuju kesuatu tempat.


"Pak antar saya ke jalan xxxx ya!" ucapnya pada sopir angkot, sang sopir pun hanya mengangguk mengiakan, setelah menempuh waktu setengah jam ia pun tiba di tepat yang di tuju.

__ADS_1


"Maaf apa boleh saya bertemu lbu Salma?" tanyanya pada seseorang yang kebetulan lewat.


"Oh…iye ada ji orangnya di dalam dek, masuk ****, saja di dalam" Ujar orang tersebut dengan logat khas Sulawesinya.


"Terima kasih pale, Daeng di…" sahut Yumna yang juga menimpali dengan logat Sulawesi nya.


Yumna pun mendekati rumah di mana di tempati oleh Bu Salma.


*Tok…tok…tok…


"Assalamu'alaikum*…" cicit Yumna memberi salam.


"Waalaikumsalam…siapa…?"


"Nak Yumna ayo silakan masuk Nak," cicit Bu Salma mempersilakan Yumna untuk masuk kedalam rumahnya.


"Terima kasih Bu, maaf merepotkan."


"Tidak apa-apa Nak… justru tempat ini adalah milik nak Yumna sendiri karena jika bukan karena Nak Yumna mungkin tempat Ibu tidak akan seperti sekarang ini." Ucap Bu Salma.


"Oh…Bu…Anak-anak kemana?"


"Mereka semua sudah berangkat mengaji Nak" ujar Bu Salma lagi.

__ADS_1


"Auhk…ahk…"


"Nak Yumna kenapa?" tanya Bu Salma terkejut saat melihat Yumna meringis kesakitan memegang perutnya.


__ADS_2