
"Kenapa Mas...kenapa Mas...tega melakukan nya padaku,? Aku tahu aku salah dengan menyetujui perjodohan kita, tapi Mas...El tidak berhak membiarkan aku di dekati pria lain, apa lagi dia adalah sahabat Mas sendiri.!" Yumna begitu kesal dan marah melihat sikap Vano yang acuh tak acuh padanya apa lagi saat Dion melamarnya di depan Vano.
"Sudahlah,, kita tidak perlu membahasnya, lagi pula itu tidaklah penting, seharusnya kau itu bersyukur karena ada lelaki kaya yang benar-benar mencintaimu dengan tulus, jadi jika kita berpisah nanti kau tidak akan jatuh miskin lagi, Kau akan tetap menjadi istri orang kaya." Ucap Vano acuh dan datar.
"Dengarkan Aku, aku tidak peduli dengan orang yang tidak akan pernah aku cintai seperti dirimu, jadi kau jangan berharap banyak dariku, karena itu akan sia-sia saja.
Yang penting sekarang ini kau harus mempersiapkan dirimu untuk di Terima dalam keluarga besar Dion.
Karena keluarga Dion bukanlah orang sembarangan, Aku akan menyuruh suster Andini merubah penampilanmu, dan mulai sekarang kau bisa beristirahat total untuk merawat dirimu." Ujarnya kembali begitu panjang lebar.
"Apakah kita tidak bisa memulai semuanya dari awal Mas...?"
"Apa kau lupa dengan surat perjanjian kita?"
Flashback On.
Yumna membaca dengan cermat setiap poin yang tertera di dalam surat perjanjian yang akan di tanda tangani nya itu.
"Saya selaku pihak kedua dengan ini mengatakan akan patuh dan tunduk dengan apapun keputusan yang di lakukan pihak pertama, baik suka atau tidak suka,"
1.Dilarang menyentuh atau bersentuhan tanpa keinginan dan persetujuan dari pihak pertama, kecuali jika tidak di sengaja maka tidak apa-apa.
2.Harus mematuhi segala aturan yang di buat pihak pertama kepada pihak kedua. Jika tidak maka pihak kedua akan mendapatkan hukuman dari pihak pertama, dan hanya pihak pertama yang boleh menentukan hukuman nya.
3.Dilarang membantah dengan sengaja atau tidak sengaja, segala perintah dari pihak pertama.
4. Dilarang ikut campur urusan pribadi masing-masing.
5. Pihak kedua dilarang jatuh cinta pada pihak pertama dan jangan mengharap cinta dari pihak pertama.
__ADS_1
6. Pihak kedua harus membersihkan seluruh rumah dan juga beserta halamannya.
7. Dan setelah tiba masa yang di tentukan oleh pihak pertama maka, pihak kedua harus menerima kalau pihak pertama menceraikannya/menalaknya, dan pihak kedua, akan di berikan santunan, oleh pihak pertama dengan jumlah yang tak dapat ditentukan.
Demikian surat ini di buat untuk di tandatangani, dan kami berdua dengan sadar menyetujui, semua poin yang tertera.
Flashback Off.
Sedangkan Yumna kini meringkuk seperti bayi, iya benar-benar tak habis fikir pada Vano, kenapa ia harus membenci dirinya sedemikian rupa padahal perjodohan itu terjadi lantaran kedua orang tuanya datang untuk menjodohkan mereka, kalaupun mereka tidak datang mungkin pernikahan pun tidak akan terjadi.
Vano menatap tubuh istri nya yang bergetar, la yakin kalau Yumna saat ini sedang menangis, ingin rasanya ia mengusap punggung itu, namun egonya yang terlalu tinggi menahannya untuk melakukan semuanya.
"Berhentilah untuk menangis aku tidak menyukai nya, apa kau sengaja melakukan itu jika kekasihmu datang dia akan merasa iba padamu, apa itu caramu memikat hati seorang lelaki,?"
"Setidaknya dia bisa membuatku merasa nyaman Mas..."
Dek.
Tok... tok... tok.
Suara ketukan pintu pun terdengar dari luar Yumna pun menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sedangkan Vano memutar kursi rodanya untuk membuka pintu.
Cek lek.
"Maaf Pak Bos ini obatnya" cicit Andini menyodorkan sebuah Bingkisan begitu Vano membuka pintu.
"Apa kalian sudah selesai bicaranya? boleh aku bertemu Calon wanitaku lagi?" Sela Dion begitu Vano hendak berputar pegi.
"Apa kau tidak tahu kalau dia sedang sakit, dan dia butuh banyak istirahat." Ujar Vano dengan suara dan wajah datarnya, Sedang kan tatapan matanya menyapu kesebuah ranjang dimana Yumna benar-benar menutupi tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
"Baiklah My Heart, aku pulang dulu aku garap kau lekas sembuh untuk melanjutkan kisah cinta kita yang tertunda." Ucapnya dengan sedikit mengencangkan suara berharap Yumna mendengar ucapnya.
"Lebay banget sih Pak Dion," celetuk Andini dengan tatapan jengah.
"Bukan lebay Din, Kau saja yang tidak pernah jatuh cinta." Timpal Dion.
"Meski belum pernah jatuh cinta tapi Dini gak suka ama cowok yang terlalu lebay, Pak Dion, kayak anak ABG saja."
"Lalu aku harus seperti apa?"
"Pak Dion itu harus seperti Pak Bos, itu baru keren" Ucap Andini tanpa sadar.
"Seperti dia kwkwkw,"
"Apa kau yakin menyukai lelaki Robot kayak dia, yang tersenyum saja jarang, dan apa kau tidak takut dengan nada bicaranya yang menyeramkan itu, bahkan lebih seram dari pada Auman seekor Harimau." Dion pun kembali tertawa membuat Vano begitu kesal.
"Sebaiknya kalian semua pergi dari sini, karena kalian akan menggangu, orang yang sedang sakit," Usir Vano pada kedua orang yang sedang asik saling menimpali.
"Baiklah aku akan datang untuk bertemu dengannya di rumah." Dion pun memilih untuk meninggalkan rumah sakit karena kebetulan dia juga ada janji pertemuan keluarga, apa lagi kalau bukan membahas tentang pernikahannya, dengan seorang wanita yang sedang di jodohkan kepadanya.
Namun Dion tak pernah ingin di jodohkan dengan siapapun apa lagi semua wanita-wanita yang mendekati nya bahkan yang orang tuanya pilih hanya sekelompok wanita yang menggilai nya karena dia berharta dan tampan saja, untuk itulah ia menemukan sesuatu yang berbeda pada diri Yumna wanita yang sederhana dan juga yang pertama kali bisa membuat jantungnya berdegup kencang.
Meski Yumna hanya bekerja sebagai seorang pelayan di rumah sabatnya itu.
"Apa kau sudah tidur?" tanya Vano begitu la tiba di sisi ranjang, dimana Yumna terbaring dengan tubuh yang tertutup seluruh selimut.
la memilih mendekati Yumna setelah Andini dan juga Dion benar-benar meninggalkan Rumah sakit.
"lni ada obat yang harus kau minum, kau harus meminumnya agar lekas sembuh aku tak ingin kau berlama-lama disini karena itu akan menghabiskan masa dan uang ku" Ucapnya dengan nada datar tanpa perasaan.
__ADS_1
"Mas, tenang saja aku akan membayar, semuanya jika aku sembuh," Ucap Yumna sambil membuka selimut dan mencoba untuk bangkit. Sedangkan Vano tertawa mengejek ucapan Yumna.
"Dengan apa kau akan membayarnya? apa kau akan menjual harga dirimu pada pria lain untuk mendapatkan uang? kau tau sendiri biaya rumah sakit di sini itu mahal."