
"Maafkan Kakak ku, dia itu pasti bercanda Aku yakin dia tidak benar-benar marah padamu"
"Kenapa kamu bisa seyakin itu kalau kakaku itu tidak marah padaku?"
"Aku yakin saja karena dia kakak ku,"
"Semua orang juga tau kalau dia itu kakak mu"
"Kak, kapan-kapan Aku berkunjung ke tempat kakak bekerja boleh?"
"Tentu saja boleh, tidak ada larangan untuk berkunjung."
"Baiklah Kak,Terima kasih. Kakak Hati-hati di jalan ya!" Ucap Alyssa saat Abizar mulai duduk di kursi kemudinya.
"Terima kasih, Assalamu'alaikum, sekarang sebaiknya kau masuk karena Aku tidak suka jika ada lelaki yang menatapmu dengan tatapan lapar,"
Deg.
"Waalaikumsalam…" Lirihnya saat mobil Abizar melaju pelan meninggalkannya, ya setelah berucap Abizar langsung pergi meninggalkan Alyssa sendiri, nampak Alyssa yang masih memikirkan Kata-kata yang di ucapkan Abizar beberapa saat yang lalu.
Seminggu kemudian seperti yang sudah di rencanakan Vano pun berangkat untuk ke luar kota seperti apa yang pernah di rencanakannya Dia dan juga sang sopirnya Pak Lukman segera berangkat. Yumna melepaskan kepergian sang suami untuk pertama kalinya ia begitu bersedih.
"Apa kau akan mengiringi langkahku dengan air mata kesedihanmu?"
"Maafkanlah aku jika aku tak bisa membendung air mata ini,"
"Aku akan pergi untuk sementara dan pasti akan kembali, oh iya aku mau jujur satu Hal sebelum aku pergi," ucap Vano menatap mata Yumna yang masih berkaca-kaca.
"Apa itu Mas…?"
"Apa kau masih ingat saat aku membawamu ke sebuah pulau seminggu yang lalu?"
"lya dan itu tempat kita Mmm…" Yumna tidak bisa melanjutkan Kata-katanya di saat mengingat momen dimana dia dan Vano mulai saling menyentuh.
__ADS_1
"Kamu kenapa? tanya Vano di saat Yumna tanpa sengaja menyembunyikan wajahnya pada dada bidang milik nya itu.
Bukannya menjawab Yumna semakin tertunduk karena malu bahkan kini wajahnya terasa panas. Pada kesempatan itu lah Vano mencium kepala sang wanitanya yang tertutup hijab itu.
"Dengar kan aku sebenarnya pulau itu hanya kau orang pertama yang aku bawa kesana dan aku ingin saat pulang nanti kita kesana lagi, dan bagaimana kalau kita namakan pulaunya dengan nama Pulau KEKASIH."
"Pulau KEKASIH?"
"Ya kau benar sekali karena di tempat itu kita pertama kali memadu kasih,"
"Lalu kenapa Mas berbohong padaku saat mengatakan kalau bukan aku yang pertama datang kesana?"
"Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan mu saat aku mengatakan nya, kau pasti marah, meski kau tidak bisa menampakkan nya, dan itu tandanya kau mencintai ku, dan Terima kasih untuk cintamu, dan Aku berharap cinta sudah hadir di hatiku di saat aku kembali."
"Aamiin semoga saja Mas…jika tidak bisa Kamu jangan memaksakan diri karena aku tidak ingin kau menyesalinya."
Yumna mengurai pelukannya dan kembali menatap wajah tegas lelaki si hadapannya itu.
"Aku pergi dulu ya, kamu jangan takut ada Alyssa yang akan menemanimu selama aku pergi" Vano memeluk kembali Yumna sambil mengelus dengan lembut punggung nya.
"Waalaikumsalam salam" Yumna pun menyalim tangan Vano sebelum mobil membawa nya pergi.
"Dah,, Kak…ayo kita masuk. Sebentar lagi spertinya akan turun hujan, Kak Vano sudah tidak kelihatan, kenapa kakak masih berdiri di sini?" Ujar Alyssa saat Yumna masih bengong menatap kepergian mobil yang membawa suaminya hingga tidak kelihatan lagi.
"Ah…l-iya ini kakak juga baru mau masuk, Ayo" ajak Yumna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seminggu telah belalu Dimana Vano tengah bersiap-siap untuk pulang.
"Bagaimana apa semuanya sudah siap Rey?" tanyanya pada sang Asisten pribadinya itu.
"Sudah Pak seperti yang Anda perintahkan semuanya sudah beres,"
__ADS_1
"Baiklah Pak Lukman ayo kita berangkat sekarang Pak!"
"Baiklah Den…" timpal Pak Lukman, yang tengah bersiap untuk duduk di kursi kemudi.
Drt…drt…drt…📲
"Fadil Prasetya" lirih Vano membaca panggilan yang tiba-tiba masuk di telponnya.
"Apakah yang kau katakan ini benar dan tidak mengada-ada?"
"Tentu saja apakah kau tidak mempercayaiku sepupumu ini?"
"Tidak, bukan masalah kau sepupuku atau bukan, hanya saja aku tidak ingin ada yang salah dalam penyelidikanmu."
"Dan untuk apa aku pernah membohongimu? Aku tinggal di desa itu bukan sehari dua hari Bro, tapi hampir dua bulan"
"Baiklah aku percaya sebaiknya sekarang kau pulang saja biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini" Ucap Vano dengan wajah yang mulai datar setelah tahu siapa orang yang membuatnya celaka, bahkan orang yang sangat di cintainya meninggal tanpa ia bisa mengucapkan selamat jalan, bahkan ia pun tidak tahu di mana kuburannya, media pun tak mengetahui kekasihnya itu meninggal terbuktinya tidak ada pemberitaan tentangnya.
"Baiklah, Aku akan pergi, aku harap kau baik-baik saja, dan melupakan kejadian itu, karena wanita itu sudah menikah dan kau tidak akan bisa membalasnya karena dia pasti di lindungi oleh suaminya karena yang aku dengar dia menikahi orang yang sangat kaya." Ujar Fadil menepuk pundak Vano.
"Aku tidak peduli karena dia juga yang telah memulai segala kekacauan ini, untuk itu biar aku yang akan mengakhiri semuanya." Vano mengpalkan kedua tangannya saat mengetahui siapa orang yang telah membuatnya pernah lumpuh bahkan karena Kelumpuhannya ia mendapat gunjingan dari Teman-teman sosialita Mamanya.
"Oke…semuanya terserah padamu, yang pasti nya, kau yang bayar semuanya ya, Aku pergi dulu karena Aku akan menelpon kekasih ku dulu." Fadil pun segera beranjak dari duduknya dan keluar meninggalkan Cafetaria favoritnya, ya dia dan Vano membuat janji pertemuan dengan Vano, bahkan Vano pun tak sempat pulang kerumahnya hanya untuk ingin mengetahui siapa orang yang yang telah membuatnya celaka hingga sempat koma bahkan setelah sadar ia pun mendapati kenyataan harus di Vonis cacat dan kehilangan cinta pertama dalam hidupnya.
"Aku tidak menyangka ternyata dia adalah orang nya, baiklah aku akan membuat permainan dengan mu kau akan merasakan sakit yang seperti yang aku rasakan" geramnya.
"Rei… temui Aku di jalan Xxxx" perintahnya pada Reihan dari seberang telepon," mendengar apa yang di katakan sang Bos Reihan sedikit mengerutkan alisnya.
'Kenapa si Bos memintaku ke jalan xxxxx? bukankah sudah lama si Bos tidak kesana,? kalau seingatku semenjak si Bos mengalami kecelakaan itu.' Gumam Reihan sambil berjalan menuju parkiran.
Dan di sinilah Vano di sebuah tempat hiburan malam ia melangkahkan kakinya masuk menapaki lantai dansa di mana ada banyak pasangan yang sedang berdansa dengan pasangan nya. Reihan hanya mengekor di belakang, meski penasaran apa tujuannya majikannya itu masuk, namun Reihan tidak berani bertanya sedikitpun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1