
Satu minggu kemudian...
"Apa kau sudah siap?" tanya Dimas menatap Alyssa.
"Tentu saja aku sangat siap…,"
"Terima kasih karena kau mau melakukannya untuk ku dan aku minta maaf untuk semuanya," sesal Dimas.
"Sudahlah, semua itu adalah rencana yang maha kuasa kita hanya menjalaninya saja, toh semuanya akan indah pada Waktu nya.
Dimas pun mengangguk membenarkan ucapan Alyssa tadi.
"Apa kau tahu yang paling Aku suka darimu,?"
"Apa,? aku tidak tahu," ucapnya Alyssa penasaran.
"Kesabaran mu menjadi seorang wanita, kau begitu sabar menjalani semuanya selama enam tahun ini,"
"Dan ada kau yang selalu menemaniku Mas, meski kau tahu di hatiku tidak ada cinta, selain cinta dari lelaki lain, dan di hari bahagia kita ini semoga kita bahagia selamanya,"
"Aamiin...Aamiin yarabbal A'lamin." ucap Dimas mengamini doa yang di panjatkan Alyssa.
"Bagaimana dengan Yessy Mas...?"
"Hari ini Dokter akan berusaha untuk melakukan operasi untuk nya, 6 tahun ia berjuang sendiri melawan penyakitnya, bahkan Aku membencinya tanpa alasan yang jelas karena telah membuatku ingin mengakhiri hidupku, karena aku terlalu bergantung padanya, hingga kau hadir untuk memberiku cinta dan kekuatan kembali, bahkan kau mengubahku menjadi lelaki yang kuat."
"Mas, itu semua bukan karena Aku. Tapi, itu semua karena semangat dalam dirimu, kau yang mendorong dirimu untuk keluar dari lingkaran yang membuat mu lemah, kau yang ingin membuktikan nya pada Yessy jika kau bisa bangkit tanpa dirinya,"
"Assalamualaikum…Apa kalian akan berdiam diri di sini? penghulu sudah datang ayo keluar tidak baik lama-lama berduaan,''
__ADS_1
''Waalaikumsalam salam, Kak Aisah siapa yang berduaan kak apa kakak tidak lihat manusia datar itu ada di sini menyebalkan sekali,'' Gerutu Dimas menatap Abizar yang duduk tak jauh dari tempat keduanya yang tengah bersiap memakai baju pengantinnya itu.
Dimas pun segera keluar yang di ikuti oleh Alyssa yang duduk di kursi roda yang tengah di dorong oleh Abizar yang masih memasang wajah datarnya. Bagaimana tidak datar jika Alyssa memakai baju pengantin dengan Dimas, meski itu semua hanya formalitas saja, tetap saja ia tak suka dan merasa cemburu, namun apa mau di kata demi kandungan Alyssa agar dia tidak stress Abizar pun mengizinkan wanitanya itu memakai baju pengantin dengan lelaki yang menjadi tunangan nya itu.
Hingga mereka pun tiba di sebuah ruangan, dimana di dalam ruangan itu pun sudah di hias sedemikian rupa oleh tim Wedding designer, yang Dimas persiapkan seminggu yang lalu.
''Assalamualaikum…" ucap uluk salam dari Dimas, dan juga Alyssa, Dimas sendiri mengambil alih mendorong kursi roda milik Alyssa begitu ia memasuki ruangan tersebut.
"Waalaikum salam, apa kalian sudah tiba?" jawab uluk salam dari seseorang yang tengah terbaring lemah dengan beberapa alat masih terpasang di tubuhnya itu.
"Iya kami sudah tiba Yess… Aku sudah melakukan semuanya dan kau pun harus memenuhi janjimu hari ini, untuk di operasi,"
"Iya aku akan melakukannya tapi setelah kalian resmi menjadi suami istri, aku sangat bahagia melihat sahabatku yang sangat begitu tampan hari ini, aku tidak menyangka lelaki culun ku, berubah drastis dan itu semua karena kamu Alyssa, untuk itulah aku ingin sekali melihat kalian berjodoh. Selamat menempuh hidup baru ya," ucap Yessy melirik kearah Alyssa, meski kini merasakan nafasnya mulai sesak.
"Yessy, apa kau tidak apa-apa?'' tanya Dimas saat menatap wajah pucat Yessy, tidak seperti biasanya jika beberapa hari yang lalu Yessy jarang untuk bicara, namun kali ini ia sepertinya sangatlah cerewet.
"Kau tidak perlu khawatir aku tidak apa-apa. Berjanjilah padaku jika aku tiada kalian harus saling menjaga satu sama lainnya," ucap Yessy kembali menatap sepasang calon pengantin yang tidak lama lagi akan resmi menjadi suami istri itu.
"Karena Mas, Dimas ingin kau juga harus lebih merasa bahagia hari ini," timpal Alyssa, dengan berusaha tersenyum manis.
"Baiklah di mana penghulunya aku ingin melihat kalian ijab Kabul."
"Dimas, aku sangat mengantuk cepatlah penghulunya mana?" Dimas pun lalu memanggil para saksi dan tentunya penghulu yang akan segera menikahkan mereka.
Dimas pun mendekati Yessy lalu menggenggam erat tangan wanita itu, Namun baru saja ia memulai mengucapkan ijab Kabul Tiba-tiba saja tangan yang di genghamannya itu semakin lama semakin melemah. Dan di sertai Yessy yang menutup mata, fan ketika semua orang mengatakan Sah Dimas pun berbalik lalu memeluk tubuh wanita itu.
"Dokter…Dokter…tolong selamatkan istri saya dokter…" teriak Dimas tanpa sadar karena ia begitu panik, begitu pun denga Alyssa yang nampak juga ikut panik. Abizar yang melihat kejadian itu pun segera mendekat dan menang kan hati istri nya.
"Kak Abi…" lirihnya pelan di sela isakannya.
__ADS_1
"Sayang tenangkan dirimu kau sedang mengandung, tarik nafas lalu buang perlahan," ucap Abizar memberikan intruksi agar istrinya tidak panik dan cemas.
"Kalian semua tenang, kami hanya memberi obat bius pada pasien agar kami bisa segera melakukan operasinya dan mungkin saat ini obatnya sudah mulai beraksi sebaiknya kalian sekarang keluar soalnya kami akan segera membawa pasien ke meja operasi," ucap dokter yang menjadi ketuanya itu.
Dimas pun merasa sedikit lega.
"Tunggu dulu Dok!" seru Dimas. ia pun lalu mendekat dan meraih jari manis istrinya ia pun kemudian menyematkan sebuah cincin pernikahan.
"Aku berharap cincin ini akan menjadi penyemangat mu untuk sembuh sayang," Dimas pun mengecup kening istrinya tersebut.
Para tim dokter kembali mendorong tubuh di atas bangkar untuk menuju ruang operasi.
*
*
"Bagaimana istri saya Dok?" tanya Dimas begitu tim dokter sudah selesai melakukan tugasnya yaitu mengoprerasi kepala Yessy dan mengangkat sel kangker yang ada di kepalanya itu, meski kecil kemungkinan Yessy akan selamat karena ini stadium akhir.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha untuk mengangkat sel kangker yang berada di otaknya dan itu berhasil tapi__"
"Tapi apa dok?" tanya Dimas mulai gelisah. Hening…
"Maaf, istri Anda koma, dan kami tidak tahu kapan istri anda akan bangun kembali." terang sang Dokter.
Mendengar hal itu Dimas sedikit lega. Setidaknya istrinya itu masih bisa berada di depan matanya. Diapun kembali bertanya pada sang dokter.
"Apa boleh aku menemuinya sekarang?"
"Bokeh tapi setelah di pindahkan daru ruang operasi ke ruangan rawatnya dan saya sarankan perbanyaklah interaksi dengannya karena itu akan membantunya berproses untuk cepat sadar, semoga Anda berhasil," terangsang dokter panjang lebar.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Dokter, saya akan berusaha untuk melakukannya."