KEKASIH

KEKASIH
Menolak perjodohan.


__ADS_3

Dan disinilah mereka berdua saling berhadapan namun dari tadi tidak ada yang ingin lebih dahulu mengeluarkan kata-katanya, membuat jiwa kepo kayla ingin memberontak, ia penasaran kenapa kedua orang di depannya itu berdiam diri tanpa ada yang ingin berbicara.


"Maaf seperti nya aku bukanlah sebuah Obat nyamuk, atau sebuah pajangan disini, aku masih hidup, sebaiknya aku pergi," ujar Kayla pada akhirnya karena malas menunggu orang yang katanya mau membicarakan hal penting tapi berubah menjadi Gagu.


"Jangan...pergi saja," Ucap Yumna dan El, bersamaan membuat Kayla binggung antara pergi atau tinggal di antara mereka.


"Apa maksudmu melarangnya pergi,? aku hanya ingin berbicara empat mata denganmu, aku tak ingin orang lain mendengarnya," Ucap El, pada akhirnya membuat ketegangan di antara mereka semakin terasa apa lagi saat El, berucap dengan nada dingin dan Datarnya.


Membuat Kayla ciut ia tiba-tiba saja merasa mules dan ingin segera ke toilet.


"Yum, aku pergi dulu ya!" ucapnya beranjak dari tempat tersebut.


"Hei... tunggu, kau tidak boleh pergi sebelum aku selesai bicara," Cicit Yumna, berusaha mencegah sepupunya itu namun yang di cegah ingin berhenti.


"Jangan takut aku hanya ke toilet saja, jika terjadi sesuatu yang tak di inginkan segera hubungi paman ya By," ucap Kayla terus berlalu sambil melambaikan tangannya tanpa ingin berbalik.


"Kau kenapa,? apa kau takut padaku? jika kau takut padaku maka sebaiknya kau membatalkan perjodohan ini, karena jika kau memilih menerima perjodohan ini bukan sepupu mu itu saja yang akan pergi tapi kau pun akan pergi selamanya," ujar Elvano penuh penekana.


"Maaf apa maksud Anda,? apa Anda baru saja mengancam saya, dan Asal Anda tau Anda tidak akan bisa membuat orang pergi selamanya jika Allah tidak menghendaki?" balas Yumna.


"Aku tidak sedang mengancam tapi hanya memberimu jalan keluar yang terbaik sebelum kau menyesalinya,"


"Kenapa bukan Anda sendiri yang menolak nya kalau begitu,?"


"Kalau aku bisa aku akan melakukannya, tapi kedua orang tuaku itu tidak akan pernah ingin mendengar ku,"


"Baiklah, aku akan menolaknya jika memang Anda tak menginginkan perjodohan ini, karena aku juga tak menginginkannya, bukan berarti aku takut dengan apa yang Anda katakan, karena aku hanya takut pada Tuhan yang yang dimana jiwaku berada dalam genggamannya, Asalamualaikum," Ucap Yumna lalu berdiri meninggal kan Emmeril Elvano yang menatap kepergian Yumna dengan tatapan yang tak terbaca.

__ADS_1


"Ibu, lbu kok pulang tidak menelpon Yumna terus ibu pulang pake apa,?" tanya Yumna begitu melihat ibunya yang berada di samping rumah.


"Yumna, tadi Ibu pulang naik ojek, karena telpon mu tak bisa di hubungi, lbu akhirnya menelpon Bibi mu, dan sesampainya di sini lbu baru tahu semuanya setelah di beri tahu oleh Bibi mu itu, ibu tidak akan memaksamu nak menerima perjodohan ini karena bagi lbu kebahagian mu itu yang penting," Ucap Rani to thepoin, yang baru saja berjumpa dengan sang Putri.


"Bu, maafkan Yumna ya Bu, Yumna baru ingat telpon Yumna mati dan barang belanjaan Yumna saja Yumna lupa di motor padahal Yumna ingin membuat sesuatu untuk di bawa ke masjid untuk para jamaah yang sedang membetulkan masjid," terang Yumna, merasa bersalah.


"Kau tak perlu khawatir Yumna Bibi sudah bikin makanannya, dan tadi calon ibu mertuamu itu ikut membantu, bahkan dia juga memberikan sumbangan yang banyak untuk masjid dan memberikan hadiah pada bapak-bapak yang bekerja di sana,"


"Benarkah Bi, syukurlah kalau begitu, tapi Bapak kemana Bi,?"


"Bukankah tadi bapakmu pamit ke kamar hendak sholat, apa dia belum keluar,?" ujar sang Bibi, lalu kembali bertanya, membuat Yumna dan Rani sang ibu saling menatap, lalu sesaat kemudian mereka bertiga segera berlari menuju kamar pak Ahmad,


"Pak.., Bapak.., Bapak... bangun teriak Yumna dan Rany saat mendapati Pak Ahmad yang tergeletak di atas sajadah nya.


"Bapak, Bapak lni Yumna Bapak, Bapak bangun," kini isakan tangis Yumna mulai terdengar membuat, lbu Hesti dan Pak Adiaksa terkejut ketika mereka masuk langsung mendengar suara tangis seseorang lalu mereka pun buru-buru mendekati, dan betapa terkejut nya mereka melihat calon besannya itu terkapar.


"Bagaimana dengan suami saya Dokter,?" tanya lbu Rani pada dokter yang baru saja keluar memeriksa suaminya di UGD.


"Bu, sebaiknya suami lbu segera di bawa kerumah sakit besar, dan saya sarankan apa yang menjadi ke inginannya sebaiknya kalian penuhi saja, karena dengan kalian mengikuti keinginannya maka pasien akan merasa bahagia, itu akan membantunya untuk pulih juga, buat pasien selalu bahagia dan berikan semangat padanya, Jangan membuatnya merasa tertekan."


Mendengar semua penjelasan yang di sampaikan oleh Dokter Kamarudin membuat hati Yumna, dan Rani sang lbu , merasa sedikit sedih, karena jika untuk membahagiakan sang suami mungkin ia masih bisa, tapi untuk membawa sang suami kerumah sakit besar pasti mereka akan sangat butuh biaya yang tak sedikit, mereka akan butuh biaya yang pastinya cukup besar juga,


Lalu darimana itu semua akan la dapatkan,? sedang untuk makan sehari-hari saja sangat pas-pasan, bahkan selama Pak Ahmad sakit Yumna dan lbunya harus banting tulang untuk biaya berobat Pak Ahmad, bahkan la sudah mengadai tanah peninggalan orang tuanya hanya untuk membiayai suaminya itu, la juga kini mempunyai tungakan di bank, hanya untuk membiayai suaminya itu, dan sudah beberapa bulan ini ia belum melunasi nya.


Bu, Hesti yang melihat kegelisahan calon menantu dan besannya itu kini mendekat.


"Duduklah dulu,! kalian pasti lapar, aku sudah pesan makanan di depan ayo makanlah kalian juga harus bertenaga, karena untuk menjaga orang yang sedang sakit kalian juga akan membutuhkan tenaga, kalian jangan memikirkan berapapun biayanya karena semuanya sudah lunas,"

__ADS_1


"Apa lunas,?" kejut Rani seakan tak percaya dengan apa yang di katakan sang calon besannya itu.


"Iya sudah, ayo sebaiknya kita makan dulu nanti saja kita bahas itu, aku tidak mau melihat mentuku ini nanti juga ikut sakit," ajak Bu Hesti, dan mau tidak mau Rani dan putrinya itu menurut saja.


Setelah selesai makan semuanya kini ruangan dimana Pak Ahmad dirawat, karena tadi seorang perawat mengabarkan kalau pak Ahmad sudah sadar.


"Bapak...bagaimana keadaan Bapak," Cicit Yumna dan sang ibu, begitu masuk, ia pun segera menghampiri Bangkar di mana Pak Ahmad sedang berbaring dengan jarum infus yang berada di tangan dan sebuah selang oksigen yang menempel pada hidungnya.


"Yumna Kemarilah, ada hal penting yang ingin bapak sampaikan padamu Nak,!" seru Pak Ahmad kepada Putri nya itu.


"lya Bapak apa yang ingin Bapak sampaikan pada Yumna,?" tanya Yumna begitu mendekat.


"Menikah lah,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuk jangan lupa untuk kepoin juga karya Author di bawah ini...dan jangan lupa Budayakan like komen vote dan hadiahnya agar para Author bisa terus tetap berkarya. selamat membaca semoga terhibur.



NOmor 34


Cyra menikah dengan Ryan, seorang pemuda yang menderita sakit leukimia sejak kecil, karena keluarga Ryan sangat kaya membuatnya bisa bertahan sampai usianya mencapai dua puluh delapan tahun, namun naas sebelum Ryan berulang tahun ke dua puluh sembilan tahun, ia harus menghembuskan nafas terakhirnya dan membuat Cyra menyandang status janda.


Cyra memohon kepada kedua mertuanya untuk membiarkannya hidup seorang diri,


dan pergi meninggalkan rumah mertuanya, namun sayang permintaan itu ditolak mentah-mentah karena sebuah tradisi keluarga.

__ADS_1


tradisi apa yang mengikat Cyra sampai ia harus tetap tinggal dan menjadi menantu dikeluarga itu?


__ADS_2