
"Vano kenapa makanannya belum di makan sayang?" tanya lbu Hesti pada putranya yang dari tadi hanya mengadu-ngaduk, makanan yang ada di atas piring nya itu.
"Apa Mas El, tidak suka dengan makanan yang Yumna masak,?" tanya Yumna, melirik ke arah suaminya itu.
Bukannya menjawab pertanyaan Yumna tapi Vano malah, hendak menjauh dari meja makan tersebut dengan menjalankan kursi rodanya sendiri, karena ia tidak ingin berlama-lama di samping istrinya itu.
"Mari aku bantu Mas," ucap Yumna hendak berdiri.
"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolaknya.
"Vano, jika kau tidak menyukainya setidaknya kau hargai usaha istrimu yang bangun pagi hanya memasak untuk kita semua." Tegur lbu Hesti pada putranya karena ia merasa benar-benar tidak enak dengan menantunya itu.
"Tidak apa-apa Ma...lain kali aku akan menanyakan menu kesukaan Mas, El, terlebih dahulu." Ujar Tasya.
"Kau dengar itu Vano, apa yang di katakan istrimu,!" tegur sang Mama lagi.
Namun Vano hanya bisa diam tanpa menyahut sepatah kata pun ia hanya fokus pada Gawainya saja, Ntag apa yang membuat.
Yumna pun menyudahi makan nya dan pamit untuk menemani suaminya, walau dengan perasaan tidak suka Vano terpaksa mengiyakan ajakan Yumna untuk keluar jalan-jalan di sekitar halaman rumah belakang, yang memang pemandangan nya begitu asri dengan pemandangan sawah yang menghijau, ya karena rumah Yumna berdekatan dengan sawah warga, dan jangan lupa dengan berbagai macam warna warni bunga, warung hidup, dan apotik hidup di halaman tersebut, membuat pemandangan di tempat itu nampak begitu asri.
"Sebaiknya kita duduk di sini saja Mas, karena kau bisa melihat pemandangan yang indah ini, dan tunggu aku, aku akan membawakan minuman hangat buatmu." Ujar Yumna hendak pergi.
"Tunggu,! kau tidak usah pergi mengambilkan apapun untuk ku, lebih baik sekarang kau bersiap-siap karena kau akan ikut pulang denganku ke Makassar."
"Apa ke Makassar, pulang?" sahut Yumna begitu terkejut.
"Iya kenapa? Apa Kau tidak mau ikut denganku? karena aku suami cacat begitu maksudmu? aku tahu kau sama saja dengan yang lainnya Kau pasti malu mempunyai suami cacat sepertiku,"
__ADS_1
"Mas kau jangan asal menuduhku, Aku bukan wanita seperti itu, seperti yang kau sangkakan."
"Oke, kita akan lihat nanti bagaimana akhirnya," ucap Vano Datar.
"Tapi Bapak dan Ibu Mas,?"
"Papa, Mama sudah membicarakannya jadi kau siap- siap saja pukul 10.00 kita berangkat Papa Mama akan tinggal di sini dulu selama satu minggu Hanya kau dan aku yang akan pulang, jika kau tidak ingin ikut pun tidak apa-apa aku tidak keberatan,"
"Tentu saja aku ingin ikut denganmu Mas, kau adalah suamiku, aku akan ikut kemanapun Mas pergi," ucap Yumna dengan nada yang berat karena Karena untuk pertama kalinya iya akan meninggalkan kampung halaman, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang dari orang-orang sekelilingnya.
Dan tepat pukul 10.00 pagi Yumna sudah selesai membereskan semua apa yang akan dibutuhkan dan dibawanya dalam perjalanan.
"Kau tak usah membawa apa-apa, Karena semua itu akan merepotkan," ujar Vano saat melihat Yumna megepak bajunya.
"Tapi Mas, Bagaimana kalau kita butuh sesuatu di perjalanan Bukankah kita akan naik mobil dalam waktu yang lama,"
"Siapa bilang kita akan memakai mobil kita akan naik pesawat dari bandara Tampa Padang.
"lya kenapa? Apa kau takut naik pesawat? kalau Kau takut naik pesawat sebaiknya kau naik mobil saja, nanti kalau kau tiba di sana akan ada sopir yang akan menjemputmu,"
"Vano! kau apa-apaan? menyuruh istrimu naik mobil sendiri, ini kan untuk pertama kalinya Yumna hendak ke kota," ujar sang Mama.
"Habis kampungan tetap saja kampung aku juga tidak habis pikir kenapa Mama menikahkan aku dengannya," gerutu Vano kesal.
"Vano jaga cara Bicaramu itu,!" Tegur sang Papa.
"Bener,, apa yang dikatakan Papamu itu Vano, kau jangan bicara sembarangan tentang istrimu." Sela sang Mama kembali
__ADS_1
"Sudahlah, Apapun yang Aku Katakan pasti kalian akan membelanya sekalian saja kalian anggap dia sebagai anak kalian sendiri bukan Aku" kesal Vano lagi, Karena Mama dan Papanya lebih membela Yumna, lstri yang tak di sukai nya itu.
"Mama, Papa, Kakak, Sudahlah. Apa kalian tidak malu ribut di depan kakak ipar apalagi ini rumahnya kakak ipar Bagaimana kalau kedua orang tuanya mendengar belum apa-apa juga Kakak sudah membuatnya merasa tersinggung," Timpal Alysaa yang dari tadi melihat Yumna hanya menunduk dengan perdebatan kedua orang tua dan kakaknya itu.
"Tahu apa Kau anak kecil, kau tidak usah mengurusi urusanku kalau diamlah,!" sergah Vano.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar Yumna pun bergegas berjalan membukanya.
"Assalamualaikum Bu, Bapak,!" "Waalaikumsalam Yumna Apa kamu sudah siap-siap Nak?" tanya sang mama.
"Sudah Bu, Pak, sebentar lagi kami akan berangkat, Bu, Pak, maafkan kesalahan Yumna jika selama ini Yumna sudah banyak merepotkan Ibu sama Bapak," ucap Yumna yang kini sudah berderai air mata karena untuk pertama kalinya la akan jauh dari kedua orang tua nya.
"Sayang, kau tau kami yang banyak menyusahkan mu selama ini, bahkan kami tidak bisa membuatmu sekolah yang tinggi seperti teman sebayamu, berbahagialah di rumah suamimu ingat pesan Bapak, berbaktilah pada suami dan kedua mertuamu, jadilah Istri yang bertaqwa," Pesan kedua orang tua Yumna yang juga sudah berderai Air mata, karena ini untuk pertama kalinya Yumna akan jauh dari mereka.
Melihat menantunya yang menangis terisak Bu Hesti pun menghampiri Yumna.
"Yum,, kamu jangan khawatir, kalau mama pulang mama akan membawa kedua orang tuamu ikut serta Karena Bapakmu harus menjalani pengobatan yang serius di kota" ujar Bu Hesti.
"Benarkah itu Ma,?" Sahut Yumna mulai berbinar.
"lya sayang, benar sekali Mama akan tinggal satu minggu dulu di sini, karena papamu ada urusan di beberapa perusahaan cabang di sini" Jelas sang Mama mertua.
"Dan papa juga akan memberikan hukuman pada Alyssa, dia akan tinggal di sini menggantikanmu untuk membantu ibumu bekerja, dia yang akan mengantar ibumu pulang pergi ke pasar.
Bahkan dia juga akan mengerjakan Apa yang selama ini sudah menjadi pekerjaanmu, Dan Kayla yang akan bertanggung jawab untuk menjadi pengawas nya," Timpal Pak Adiaksa.
__ADS_1
"Tapi Pah__"
"lkuti apa yang sudah jadi keputusan Papa, dan jangan membantah, kalau tidak Papa akan membuat mu tinggal di sini selamanya," ucap Pak Adiaksa memberikan ancaman nya dengan mimik wajah yang serius.