
Yumna mengerjapkan mata di saat ingin, bangun untuk melaksanakan shalat subuh.
Namun seluruh persendian nya terasa remuk redam apa lagi bagian intinya belum lagi Vano memeluknya begitu erat membuat nya susah untuk bergerak.
"Mas…" Yumna mencoba untuk mengguncang tubuh Vano dengan lembut sambil sesekali memangil namanya.
"Mas…"
"Hmmm…" hanya itu yang keluar dari mulut nya sedang pelukannya semakin di per erat saja.
"Mas…"
"Hmmm…ya ada apa Clarissa? aku masih mengantuk sayang kita tidur lagi yuk…" timpal Vano sambil terpejam.
Deg.
"Mas…aku mau Sholat" ujar Yumna kembali berusaha mengendorkan pelukan Vano.
Deg.
Dengan mata yang masih terasa berat Vano membuka matanya dan baru menyadari ia kini tengah memeluk siapa dan ia pun menjambak dengan kasar rambutnya.
Saat menyadari jika diri nya menyebut nama Clarissa, apa lagi Yumna kini sudah menjauh meninggalkan nya untuk mengambil air wudhu. Vano melangkah dengan cepat saat menyadari kalau Yumna berjalan dengan sedikit menahan sara sakitnya.
"Mas…" pekik Yumna saat merasa tubuh nya melayang di udara.
"Mas…turun kan aku, kau apa-apaan seperti ini?"
"Diamlah, aku akan mengantarmu, aku tau kau merasa kesakitan."
"Tapi Mas…Aku bisa sendiri" tolak Yumna.
"Aku juga mau sholat apa kau tidak ingin berjamaah denganku?" ujarnya lalu meletakkan Yumna di atas kursi roda milik nya.
Setelah selesai melakukan shalat berjamaah Yumna pun segera menyalim tangan sang suami, lalu melipat sajadah dan mukena yang dipakenya. Dan ia pun segera membereskan barang-barang milik Vano, bahkan kini ia menyibukkan diri membuat sarapan untuk suaminya itu.
__ADS_1
Yumna yang sedang asyik membuat sarapan terkejut saat sebuah tangan melingkar dengan lembut di pinggangnya.
"Aku minta maaf, untuk pagi ini."
"Maksudmu Mas…?" Yumna mengerutkan keningnya sambil menatap heran.
"Tadi Aku menyebut nama Clarissa, entah mengapa aku tiba-tiba saja memimpikannya, dia datang dalam mimpiku dan dia begitu marah di saat melihat ku besamamu, untuk itulah aku memeluk dan menenangkan
nya"
Yumna hanya mendengar penjelasan suaminya tanpa ingin menyelanya sedikit pun.
"Apa kau masih marah padaku?" Vano membalik tubuh Yumna dan menatap lekat wajah cantik alami tanpa makeup itu.
"Untuk apa Aku marah padamu Mas, bukankah itu semua hanya sebuah mimpi?"
"Ya kau benar sekali, itu memang sebuah mimpi, tapi dia seperti nyata, kau tau semenjak dia tiada, Aku tidak pernah hadir di dalam mimpiku meski aku sangat merindukan nya."
"Mungkin sebaiknya Mas berdoa untuknya agar dia tenang di alam sana."
"Sama-sama Mas…" ucap Yumna sambil tersenyum.
"Dengarkan Aku, aku tidak tahu mungkin ini terlambat untuk aku katakan padamu, tapi Aku mohon berikan aku kesempatan untuk memulai semuanya dari awal, beri kesempatan untuk hatiku belajar untuk terbiasa menerimamu, Aku hanya ingin tidak ada salah faham yang akan terjadi di antara kita, untuk itu aku minta padamu untuk memaafkan aku, apa kau mau kita mulainya dari awal?" Yah Vano mulai menyadari kehadiran Yumna sangat merubah diri dan sikapnya untuk itulah ia ingin belajar menerima dan juga membuka hati untuk menjalin sebuah hubungan yang baru, apa lagi wanita yang di depannya kini dengan senang hati memberikan sesuatu yang berharga pada
Vano menggenggam kedua tangan Yumna agar wanita itu yakin dengan apa yang di ucapkan nya. Yumna pun berusaha mencari kebohongan di mata lelaki yang kini jadi suaminya itu. Namun tak ada kebohongan di dalam tatapan mata itu.
"Iya aku mau Mas, tapi dengan satu sarat," "Apa itu?" tanya Vano dengan nada yang harap-harap cemas.
"Berhentilah menjodohkanku dengan Mas Dion" ucap Yumna.
"Dan kau berhentilah memanggilnya dengan sebutan Mas, karena hanya aku yang berhak kau panggil dengan sebutan itu." Ucapnya mempertegas kalimat nya.
"Mas…Aku___"
"Aku tahu kau tidak akan pernah berhianat dariku, dan aku tidak akan membiarkanmu jatuh di tangan orang lain, karena kau adalah wanitaku, meski aku belum yakin jika aku mencintaimu, apakah kau mau bersabar untuk semua itu,? Kita akan belajar menjadi sepasang KEKASIH mulai saat ini." Ucapnya panjang lebar.
__ADS_1
"Aoow… Mas turunkan Aku, kau mau membawa ku kemana? Ayo kita sarapan semuanya sudah siap!" Cicit Yumna saat merasakan tubuhnya melayang di udara.
"Aku akan menurunkan mu di tempat yang seharusnya dan untuk sarapan aku akan sarapan setelah kita akan melakukannya"
Setelah berucap Vano pun membaringkan tubuh Yumna dengan lembut, Yumna menatap wajah tampan suaminya itu dengan jantung yang berdegup kencang, sedangkan Vano terlebih dahulu berdoa sebelum melakukan semua itu, sama seperti semalam.
"Apakah kau sudah siap?" tanya Vano menatap Amara yang kini menutup kedua matanya, dengan detak jantung yang tak karuan.
Yumna hanya mengguk ragu saat mengingat kejadian semalam yang membuatnya merasakan bagian intinya masih terasa nyeri namun membuatnya tak merhenti mendesah. Wajah Yumna kini memerah saat membayangkan semuanya, dan tangannya kembali mencengkram ujung sprai saat merasakan sensasi luar biasa pada tubuhnya karena Vano kini tengah melakukan aksinya kembali.
"Kau jangan khawatir, Aku akan berusaha melakukannya pelan-pelan." Bisik Vano saat melihat ketegangan di raut wajah wanita nya tersebut.
Yumna hanya mengangguk pelan, dan benar saja Vano memberikan tekanan-tekanan lembut nya agar Yumna merasa jauh lebih rileks dan juga tidak merasa trauma.
Vano kembali mencium istrinya dan memberikan pelukan lembutnya saat penuntasan nya selesai, dan itu semua membuat Yumna merasa sangat di hargai.
"Terima kasih sayang, untuk semuanya dan aku harap di dalam sini dia bisa tumbuh dan berkembang" ucap Vano mencium perut istrinya yang masih rata itu. Yumna hanya bisa mengamini doa suaminya dengan wajah memerah dan rona bahagia yang begitu terpancar.
"Maafkan atas segala salah dan khilaf ku yang selama ini aku sengaja menghina bahkan merendahkan mu bahkan aku sengaja menjodohkan mu dengan sahabatku sendiri aku begitu bodoh sekali bukan?"
"Mas…yang lalu biarlah berlalu anggap saja sebagai pembelajaran untuk kita melangkah di masadepan, berhentilah menyalah kan dirimu sendiri karena itu tidak baik," Vano memper erat pelukannya ia merasa begitu beruntung mendapatkan Yumna sebagai pendampingnya.
"Mas…boleh Aku bertanya sesuatu padamu?"
"Apa itu? "
"Tapi berjanjilah kalau Mas menjawab dengan jujur pertanyaanku" sejenak Vano terdiam.
"Baiklah katakan padaku apa sebenarnya yang ingin kau pertanyakan dariku, aku akan berusaha jujur untuk menjawabnya."
"Apakah kau masih sangat mencintai kekasihmu itu? dan seandainya dia masih hidup apakah kau akan kembali padanya?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1