
"Dari siapa Mas…?" tanya Yumna karena melihat suaminya Acuh saja tak ingin mengangkat teleponnya yang terus berdering dari tadi.
"Dari Clarissa," ucapannya setelah menarik nafas panjang.
"Kenapa tidak diangkat siapa tau itu sangat penting. Bagaimana kalau dia__"
"Kau adalah istriku, dan yang terpenting sekarang bagiku adalah kau dan anak kita, selama ini aku sudah menyia-nyiakanmu dan bahkan sering melukaimu, dan tak pernah sedikit pun kau menyusahkan ku, aku tak ingin melakukan hal bodoh itu lagi, soal Clarissa aku akan berbicara padanya baik-baik, dan menunggu waktu yang tepat, dan sampai waktu itu tiba aku harap kau akan selalu bersabar untuk ku." Ucap Vano menjeda kalimat Yumna lalu menyentuh tangan istrinya dan menggenggamnya dengan begitu lembut.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan Mas, untuk hubungan kalian?" tanya Yumna membalas genggaman tangan sang suami.
"Aku ingin mengakhiri semuanya, karena sepertinya aku merasa aku hanya sekedar iba padanya bukan rasa cinta lagi, karena Biar bagaimanapun Dia pernah ada di hatiku, dan untuk sekarang ini mungkin aku tidak akan lagi memprioritaskannya lagi."
"Tapi Mas… bagaimana jika nanti dia memintamu untuk menikahinya? dan Bukankah ini adalah permintaannya yang terakhir?"
"Kau benar sekali sayang untuk itulah aku ingin mencari waktu yang tepat dan mencari jalan bagaimana caranya aku bisa untuk berkata jujur padanya, karena aku tidak ingin menyakitimu lagi." Ucap Vano mantap.
"Mas Tapi kasihan__"
"Sayang dengarkan aku kamu dan juga anak kita sangat membutuhkanku aku suamimu dan ayah dari anak kita, aku tidak ingin membuatmu terluka karena perbuatanku sendiri, apalagi jika aku terus saja dekat dengan orang yang pernah ada dalam hatiku maka lambat laun itu akan menjadi jurang yang berjarak yang akan menjauhkan dan memisahkan kita.
Sudah cukup rasa sakit yang selama ini aku berikan padamu, dengarkan aku sayang kita akan fokus untuk anak kita saja." Ucap Vano mulai menyentuh perut Yumna yang kini sudah mulai agak menonjol itu.
"Dan bagaimana keadaannya sekarang? apakah dia baik-baik saja dan masih nakal di dalam sini? apa aku boleh aku mencium nya?" mendengar perkataan dan keputusan suaminya membuat Yumna sejenak terdiam, Ia pun lalu tersenyum dan menatap lelaki yang telah membuatnya jatuh cinta begitu dalam itu, terlebih saat mendengar permintaan suaminya itu.
Disentuhnya wajah Vano dengan kedua tangannya.
"Sayang Bukankah aku adalah istrimu? dan dia juga adalah anakmu? lakukanlah Karena Kau Berhak untuk diriku dan untuk dirinya ucap Intan meraih tangan Vano dan menyimpannya di perutnya dan seketika Vano meneteskan air mata harunya, lalu mencium perut istrinya bertubi-tubi.
__ADS_1
"Maafkan Ayah sayang…! jika selama ini Ayah tidak tahu kalau kau sudah lama berada di sini, dan Berjanjilah pada ayah dan ibu kalau kau akan baik-baik saja di dalam sini, dan kau harus jadi anak yang kuat, dan jaga ibumu baik-baik untuk ayah ya!" Vano terus saja mencium perut sang istri dengan penuh rasa haru dan bahagia nya.
"Sudah sayang geli…" ucap Yumna saat Vano terus saja dengan gemas mencium perutnya yang sedikit terlihat mulai agak menonjol itu.
"Tapi sayang aku masih sangat merindukannya bahkan Aku ingin segera memeluknya, dan mengajaknya bermain.
"Oh… begitu ya…! jadi Mas tidak pernah sama sekali merindukanku? dan tidak ingin memelukku juga?" protes Yumna menekuk wajahnya, dengan berpura-pura kesal.
"T-tidak sayang Bukan itu maksudku tentu saja aku sangat sangat merindukanmu ucapnya yang kini berbalik untuk memeluk istrinya dengan hangat dan begitu dalam, mencurahkan segala kerinduan yang beberapa hari ini ia pendam.
"Sayang boleh aku minta sesuatu padamu?" ucap Yumna di saat tubuhny kini dibaringgkan lembut oleh suaminya itu.
"Apa itu sayang? Katakan Saja aku akan melakukan semuanya semampuku dan sebisaku hanya untukmu," ujar Vano.
"Aku hanya ingin kita pergi ke pulau itu?" ucap Yumna yang kini tengah mengelus dada bidang di depannya itu.
"Pulau tempat kita pertama kali menjadi sepasang KEKASIH."
"Apa kau ingin kita melakukannya di sana lagi!" sela Vano yang mencoba terus menggoda istrinya itu.
"Sayang kalau kau sudah sembuh dan sudah siap kita tidak perlu pergi jauh-jauh kita akan melakukannya Di sini siang dan malam, bahkan aku akan mengurungmu tidak akan membiarkan mu pergi anggap saja sebagai hukuman. Bagaimana?" ucap Vano mengedipkan sebelah matanya, sambil tersenyum menggoda.
Glek.
Dengan susah payah Yumna menelan salivanya.
"Mas… bukan itu yang aku maksudkan…" ucap Yumna dengan suara manjanya.
__ADS_1
"Baiklah sayang jika kau sudah baik-baik saja dan kandunganmu sudah kuat baru kita berangkat ke sana bagaimana?"
"Benarkah Mas kita bisa ke sana lagi? tentu saja sayang, Lagi pula kita kan punya Resort di sana Kalau kau ingin tinggal di sana untuk selamanya juga tidak apa-apa" ucap Vano panjang lebar.
"Terima kasih sayang, Aku sangat sangat mencintaimu."
Cup.
"Oh jadi kau mencintaiku hanya karena pulau itu? sekarang setelah Abizar menikah dengan Alyssa kau akan membuatku cemburu dengan sebuah pulau?"
"Cemburu saja. Bukankah kkalau Mas mau cemburu itu tandanya kan Mas sangat mencintaiku bukan?"
"Iya tentu saja Aku sangat mencintaimu bukti nya ini sudah ada," ucap Vano menyentuh kembali perut sangat istri.
"Sayang boleh Aku tahu siapa orang yang sudah memberitahukanmu tentang kehamilan ku ini?" tanya Yumna penasaran.
Bukannya menjawab pertanyaan Yumna Vano memilih berjalan menuju laci dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dan sebuah botol obat.
"Ternyata kau terlalu bodoh sekali untuk membohongiku?"
"Maafkan Aku Mas…" ucap Yumna menatap sang suami.
"Kau hampir saja kehilangan nyawamu lalu kenapa kau diam saja hem…dasar bodoh…" ucap Vano menjentikan jari telunjuk nya di kening Yumna.
"Hari itu dimana di saat kau melihat semuanya sebenarnya aku sudah berusaha untuk terus menghubungimu namun telponmu tidak bisa di hubungi, saat itu aku merasa sangat kesakitan Mas…" ucap Yumna dan mulai menceritakan apa yang di alaminya selama ini hingga bagaimana ia pulang terlambat pada hari itu.
Vano yang mendengarnya pun memeluk tubuh istri nya yang nampak bergetar setelah menceritakan kesakitan dan ketegangan juga ketakutan pada hari itu dan dia sebagai suami bukanny mencari tahu secara detail namun mencari masalah dengan mengusir bahkan membuat Yumna harus meninggalkan rumah nya selama beberapa hari.
__ADS_1
Kedua insan itu kini tengah saling mencurahkan rasa dan beban yang ada, Vano dan Yumna malam ini seolah tak ingin saling melepaskan, terlihat dari cara Vano yang terus saja memberikan sentuhan lembut nya. Sedangkan Yumna pun merasa sangat bahagia karena ternyata sang suami sudah menerima kehamilannya.