KEKASIH

KEKASIH
Pulang


__ADS_3

Deg.


Mendengar Vano yang kembali menghinanya


Yumna hanya diam sambil tersenyum lembut.


"Aku hanya yakin dengan kuasa Allah, karena bagi Allah di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin Mas, sebaiknya sekarang kamu pulang Mas biarkan aku disini sendiri karena aku tidak mau merepotkanmu lagi," Ucap Yumna memilih menyuruh pria itu pulang dari pada harus mendengar ocehannya dan ujung-ujunya menghina nya.


"Apa kau mengusirku sekarang?" sentaknya tak Terima jika Yumna memintanya pulang.


"Aku tidak mengusir siapapun, hanya saja aku tidak mau kau capek menjagaku di sini," timpal Yumna.


"Apa kau mengira Aku adalah lelaki yang begitu lemah, hanya karena aku duduk di kursi roda ini,?" ucapnya lagi tak Terima.


"Mas...Aku tidak pernah mengatakan semua itu padamu, kamu jangan salah faham dulu."


"Salah faham? Heh...apa kau kira aku ini bodoh Yumna, kau sama saja dengan wanita yang lainnya yang tidak menyukai aku karena aku cacat kan? Atau jangan-jangan kau menyuruh ku pulang karena kau ada janji dengan calon suamimu itu,?"


"Astaghfirullah hal 'Azim...Mas...Kenapa perkataanmu sudah merambat ke mana-mana.?" Yumna memilih untuk tidur dari pada hatinya akan kesal dengan ucapan Vano,Sedangkan Vano masih diam di tempatnya, ia merasa masih kesal dengan ucapan Yumna yang seolah ingin mengusirnya itu. Tidak tahukah la Jika di lubuk hati paling dalam milik Vano begitu sangat menghawatirkan nya.


Jika Yumna memilih untuk tidur, maka lain halnya dengan Vano, la memilih untuk membuka gawainya dan ntah apa yang di lihatnya hingga ia begitu serius.


"Yumna…Yumna apa kau tidak bangun untuk sholat dulu sayang…"


"Hemm…enggg…ibu...iya Yumna akan bangun Bu…igau Yumna namun berusaha membuka matanya.


"l-ibu,?" Kejut Yumna begitu mengetahui kalau ibunya benar-benar ada di depan matanya.


"l-ibu ini benar-benar lbu kan?" tanyanya lagi menganggap dirinya sedang bermimpi.


"lya sayang dia adalah ibumu kami baru tiba satu jam yang lalu," timpal lbu Hesti menjelaskan pada sang menantunya itu.


"Mama,, jadi ini nyata ya Ma,? kalian semua ada disini?" cicit Yumna masih dengan nada tidak percaya.

__ADS_1


Bu Hesti dan juga Bu Rany tersenyum secara bersamaan, melihat kebingungan sang putri dan menantunya itu.


"Kakak…lpar…apa kakak ipar masih mengingatku? adik iparmu yang paling cantik imut dan sexy ini,?" cicit Alyssa sambil bergaya bak sang model di depan Yumna.


"Tentu saja aku mengingatmu, karena kau itu adalah adik ipar ku yang paling, limited edition." Timpal Yumna dengan senyum yang merekah.


"Kakak…aku ini bukan barang antik atau pun barang stok terbatas," Ucapnya dengan memanyunkan bibirnya, membuat Yumna begitu gemas dengan adik iparnya itu.


"Ya sudah sholat dulu nanti waktunya habis!" seru Bu Hesti.


"Baik Ma…" timpal Yumna dan juga Alyssa secara bersamaan.


Setelah selesai melaksanakan ibadah sholat Yumna dan Alyssa kini berkumpul dan saling melepas rindu apa lagi Yumna yang benar-benar merindukan kedua orang tuanya.


"Ma...Mas…El,?" tanya Yumna karena dari tadi dia sebenarnya mencari sosok pri berhati dingin itu.


"Dia lebih dulu pulang dengan Papamu," jawab Bu Hesti.


"Ciiieee...yang lagi kangen baru juga 30 menit Kakak pergi, kakak ipar sudah kangen," celetuk Alyssa menggoda Yumna.


"Sebaiknya kau bantu Yumna untuk Siap-siap pulang ke rumah, Karena Mama tidak mau menantu Mama dirawat lama-lama di rumah sakit, Mama ingin menantu Mama di rawat dirumah saja." Ujar Bu Hesti lagi.


"Iya Ma..." Sahut Alyssa.


"Ayo Kak, Alyssa bantu kakak berkemas, Kakak diam saja di situ biar aku yang akan menyelesaikan semuanya Yumna pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan adik iparnya itu.


*


*


*


"Vano,, kemarilah…! Bawa istrimu masuk untuk beristirahat di kamar, Mama sudah menelpon dokter sahabatmu itu untuk datang memeriksa dan merawat Yumna sampai dia sembuh kedepannya," ucap Bu Hesti begitu tiba di kediaman putra tersebut.

__ADS_1


"Beristirahat lah Nak, kami juga akan mengurus pengobatan Bapakmu agar beliau cepat sembuh." Ujar Bu Hesti kembali.


"Terima kasih Ma...untuk semuanya," Ucap Yumna.


"Hei...Sayang apa yang kau katakan ini justru Mama yang berterima kasih sama kamu sayang karena kamu sudah mau menjadi menantu Mama dan Mama akan mengadakan resepsi pernikahanmu dengan Vano,"


"A-apa? Resepsi Pernikahan?" Kejut Yumna dan Vano membuat Bu Hesti mengerutkan Alisnya, binggung dengan keterkejuta menantu dan anaknya itu.


"Kenapa apakah kalian keberatan,?"


"Tentu saja Ma, apa Mama tidak lihat bagaimana keadaan ku saat ini dan itu akan membuat ku menjadi bahan olokan orang-orang yang akan mengatakan aku cacat pasti menikah dengan wanita yang sudah di beli dengan iming-iming uang, apa Mama mau aku dan Yumna menjadi bahan olokan mereka?"


Mendengar apa yang di katakan Vano ada benarnya juga, Membuat Bu Hesti sejenak terdiam dan berfikir.


"Lalu bagaimana menurut kalian?" Akhirnya Bu Hesti pun menanyakan pendapat keduanya.


"Sebaiknya untuk saat ini jangan dulu Ma…" jawab Yumna dan juga Vano secara bersamaan. Dan itu mampu membuat Bu Hesti merekahkan senyum bahagianya.


"Mama tidak menyangka kalau kalian bisa sekompak ini dalam mengambil keputusan, Baiklah kalau begitu, kalau itu keinginan kalian berdua Mama tidak akan memaksa kalian sampai kalian akan memutuskan nya sendiri."


"Terima kasih Ma..." ucap Yumna kembali. "Sudahlah sayang, untuk berapa kali lagi kau akan berterima kasih pada Mamamu ini, sebaiknya sekarang kau masuk untuk beristirahat karena kamu harus beristirahat dengan cukup, agar tenagamu bisa lekas pulih kembali, dan kau Vano ada yang ingin Mama bicarakan padamu ini penting," Ujar Bu Hesti menatap ke arah Vano.


Baiklah Ma…" Sahut Vano lalu pergi menyusul Yumna ke kamarnya karena tidak mungkin ia akan pisah kamar tidur selama orang tuanya berada di rumahnya.


Ceklek.


"Mas…aku akan tidur di sofa saja, dan aku berjanji tidak akan menggangu tidurmu."


"Sebaiknya kau tidur di ranjang saja,"


"Tapi Mas…"


"Apa kau akan membantah ku lagi di saat seperti ini,? apa kau tidak dengar apa yang Mama katakan tadi,? kau harus istirahat dengan cukup, apa kau mau aku terlihat jahat di depan kedua orang tuaku, dan juga orang tuamu?"

__ADS_1


"Maafkan aku Mas…Aku tidak bermaksud seperti itu tapi bagaimana kita harus tidur ber__"


"Kau tak perlu khawatir, karena aku akan menjadikan bantal guling sebagai jarak antara kita jadi kita tidak akan saling menyentuh, bagaimana,?"


__ADS_2