KEKASIH

KEKASIH
Aku salah


__ADS_3

Dan setelah Vano keluar dari rumah sakit Bu Hesti memperkenalkan putranya pada seluruh rekan-rekan sorialitanya, namun sayang, bukan mendapatkan simpati namun puteranya malah mendapat cibiran dan juga di remehkan, hingga pada akhirnya sang suami mengatakan jika Vano sudah di jodohkan jauh-jauh hari dengan seorang wanita yang berada di sebuah desa yang lumayan jauh dari kotanya.


Hingga pada akhirnya ia pun berakhir menikah dengan Yumna, wanita yang telah di jodohkan sang kakek kepadanya.


Flasback off.


Yumna semakin terpuruk dan tertunduk di saat Vano mengakhiri ceritanya, bahkan ia semakin terisak saat mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, ia tidak menyangka niatnya yang menolong seorang anak yang hampir di tabrak mobil malah membuatnya tanpa sengaja menghilangkan nyawa seseorang, bahkan sempat membuat Vano di vonis cacat seumur hidup. Namun beruntung dengan ketelatenan dan kesabaran serta sebuah keajaiban akhirnya Vano pun bisa berjalan seperti sedia kala.


"Sekarang semuanya sudah jelas kan? untuk itu kau harus sadar diri, jangan mengharapkan sesuatu yang lebih dariku karena aku tidak akan pernah bisa melakukan nya lagi untukmu." Setelah berucap Vano pun melangkah dengan santainya meninggalkan Yumna.


"Mas…aku minta maaf, aku salah, tapi aku ingin menjelaskan semuanya Mas aku mohon dengarkan penjelasanku dulu." Bukannya mendengarkan apa yang di katakan Yumna Vano memilih berlalu pergi dari tempat tersebut, tanpa mempedulikan Yumna lagi, Dan mulai sejak saat itu hubungan di antara keduanya kembali renggang dan mereka akan nampak begitu mesra jika di depan ke dua orang tua Vano. Yumna sendiri selau berusaha melayani suaminya dengan baik meski Vano sudah melarangnya untuk tidak melakukan semua itu karena jika tidak Vano tidak segan-segan membuang semua yang telah di berikannya dengan tak berperasaan.


"Bi…dimana sarapan ku dan juga minuman coklat hangat kesukaan ku Bi…" cicitnya pada seseorang ART baru yang sengaja di rekrut nya karena dia tidak ingin di layani oleh Yumna, dan tanpa di sadari nya Yumna lah yang selalu memasak untuk nya, dan Yumna memberikan semuanya lewat ART tadi, untuk itulah kenapa Vano membuang makanan yang selalu di sajikan Yumna karena ia berfikir ART nya itu bisa memasak seenak masakan Yumna dan rasanya pun sama persis.


"lni makanan dan minumannya Den…" ucap Bi, Ratna menyuguhkan hidang di hadapan Vano dengan gugup. Vano pun dengan cepat menyeruput minuman hangat tersebut.


"Weeek…kenapa rasanya beda Bi? bukankah setiap hari Bibi, bikin rasanya pas dengan rasa yang Yum__" Vano menjeda kalimatnya, saat mengingat jika sudah satu minggu ini dia tidak bertemu dengan Yumna, dan hatinya tiba-tiba bergemuruh merindukan wanita itu.


"Bi…kemana wanita itu?" tanya Vano dengan wajah datarnya.


"Siapa yang Aden maksudkan?" tanya Bi Ratna karena tidak mungkin Vano akan bertanya tentang istri nya itu, bahkan selama satu minggu ini la pergi pagi dan pulang larut malam karena kesibukannya.


"Siapa lagi kalau bukan Yumna Bi, apa di rumah ini ada wanita lain selain dia" kesal Vano.


"Maaf Den, bukankah Aden telah mengijinkan nya untuk balik kekampung seminggu yang lalu dan mungkin hari ini baru balik kesini Den…" terang Bi Ratna.

__ADS_1


"Kekampung? dan aku mengizinkannya?" Vano benar-benar binggung karena ia rasa tidak pernah bertemu Yumna sama sekali, dan kenapa bisa ia mengizinkan Yumna pergi. "Tapi kenapa juga aku harus memikirkannya bukankah bagus jika dia pergi tanpa kembali lagi" gertunya di depan Bi Ratna.


"Den tidak baik berkata seperti itu, karena setiap perkataan adalah doa." Tegur Bi Ratna karena menurut nya Vano sudah kelewatan, apa lagi Kata-kata nya di dengar oleh Yumna, yah Yumna mendengar semuanya di balik pintu.


"Sudahlah Bi aku mau ke kantor dulu, aku akan sarapan di kantor saja." Ujarnya dan beranjak pergi.


"Non…kapan pulangnya? kok Bibi gak tahu," tanya Bi Ratna menghampiri Yumna.


"Tadi pagi jam 3 Bi,"


"Owh…pantesan Bibi gak lihat"


"Bagaimana Mas El, selama saya pergi Bi,?"


"Den Vano jarang di rumah Neng, nih saja baru minta minuman coklat buatan si Neng, eh katanya rasanya beda ama buatan Bibi padalahkan sesuai dengan yang neng contoh kan, mungkin karena si Neng bikinnya penuh cinta makanya rasanya beda"


"Bener Neng,"


"Dah lah Bi aku mau masak dulu makanan kesukaan Mas El, karena aku akan menyuruh Alyssa membawakannya, karena Alyssa mau ke Kantor."


Sedangkan Vano membawa mobilnya melesat meninggalkan rumahnya menuju kantor dengan wajah yang datar. Sedangkan tangannya mencengkram dengan kuat kemudi, bukan tanpa alasan ia melakukan semua itu, kerena beberapa saat yang lalu ia menerima pesan singkat dan sebuah foto kebersamaan Dion dan juga istrinya saat pulang ke kampung.


Flasback on.


'Berani sekali wanita itu pergi ke kampung tanpa pamit padaku, awas saja kalau dia pulang akan ku buat perhitungan'

__ADS_1


Ting...


Satu pesan masuk di gawainya.


'Siapa sih_?' Vano yang terkejut pun menghentikan mobilnya.


"Terima kasih sudah membuktikan ke keluarga ku tentang wanita itu karena aku memang tak bersalah dan lihatlah kami berdua sekarang ada di kkampung dan secepatnya aku akan melamarnya karena aku akan berbicara langsung dengan kedua orang tuanya''


'lni benar-benar gila dia mau melamar istriku enak saja aku tidak akan memberimu izin untuk itu, dan kenapa juga wanita ini tidak meminta izin dari ku? tapi tunggu dulu?' Tiba-tiba saja mata Vano melihat sebuah masuk dari no yang di saringnya.


''Mas aku izin pergi ke kampung ya mungkin hanya satu minggu saja karena ibu sedang sakit, jika kau tak membalasnya berarti kau mengizinkan ku pergi.''


'Tidak ini tidak mungkinkan mereka pergi kesana bersama-sama?' kesal Vano mengepalkan kedua tangannya.


Flasback off.


"Rei…siapkan semua berkas-berkas yang aku minta kemarin besok kita berangkat keluar Negri aku harap semua berkas sudah selesai dan periksa dengan teliti jangan sampai ada kesalahan sedikitpun di dalamnya…! perintah nya pada Raihan.


"Baik Bos semua sudah saya periksa dengan detail mohon anda periksa kembali" ucap Raihan sambil menyerahkan beberapa File kepada Vano, Vano pun segera mengecek ulang File yang di serahkan padanya itu.


Hingga siang ia masih saja bergelut dengan tumpukan File di atas mejanya. Bahkan tanpa menyadari kehadiran Alyssa yang tengah berdiri dari tadi memperhatikan sang kakaknya yang gila kerja itu.


"Kakak apa kakak tidak bisa menyadari kehadiran ku di sini?" kesal Alyssa sambil meletakkan tempat makan siang yang di bawanya dari rumah.


"Kau, sejak kapan kau disini?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2