KEKASIH

KEKASIH
Keputusan Final.


__ADS_3

"Kau dari mana? bukankah aku sudah melarangmu pergi dan menungguku di rumah saja."


"Mas…El, Assalamu'alaikum Mas, kau membuatku kaget saja. Maafkan aku Mas, Aku lupa kalau hari ini Aku ada janji, dan kenapa kau tak menelponku Mas…aku kan bisa pulang lebih awal, dan aku juga mau berbicara penting sama kamu Mas…ini sangat penting, aku harap kau bisa mengabulkan permintaanku ini."


"Baiklah, tapi sebelumnya kau berbicara alangkah baiknya kalau kau mendengar apa yang akan aku katakan ini"


"lya Mas…apa itu?" Ucap Yumna nampak bersemangat dengan wajah yang berseri dan mata yang berbinar.


"Kau tahu? aku sudah membuat keputusan final. Tanpa ingin mendengar penjelasan siapa pun." Sesaat Vano menjeda kalimatnya, ia nampak menarik nafas panjang, dengan raut wajah yang gusar.


"Apa kau tahu aku memutuskan untuk menikahi Clarissa secepatnya, dan kami akan tinggal di sini dan aku harap kau mengerti dengan apa yang aku maksud kan, dan yang sudah menjadi keputusan ku ini, kau boleh pergi dari sini, hingga pengadilan memutuskan, dan aku akan memberimu uang pesangon, semoga kedepannya kau bisa mencari pasangan yang jauh lebih baik daripada aku, hanya itu yang ingin aku sampaikan dan silahkan ambil cek ini semoga ini ada manfaat nya buatmu, Terima kasih karena sudah menemaniku selama beberapa bulan ini, tapi kebahagiaan Clarissa jauh lebih penting dari segalanya." Vano pun menyodorkan sejumlah cek dengan nominal yang cukup pantastis.


Deg…deg…deg…


"A-apa maksudnya ini Mas…tidak ada hujan tidak ada angin kau tiba-tiba memutuskan semuanya? apa kau sadar dengan semua yang kau katakan ini Mas…? katakan padaku apa salahku katakan Mas…?" tangis Yumna pecah tak dapat ia bendung lagi, sudah cukup Vano selalu memberikannya kejutan-kejutan yang membuat hidupnya seolah berhenti berputar.


Vano hanya bisa mengepalkan kedua tangannya saat mendengar tangisan pilu wanita itu, namun keputusan nya sudah bulat tanpa bisa di ganggu gugat.


"Terserah kau saja, atau kalau kau ingin aku akan mengantarkanmu pulang ke kampung dan mengembalikanmu dengan cara baik-baik," ucap Vano kembali.


"Tidak perlu Mas…aku bisa pulang sendiri Anda tidak perlu repot-repot aku akan pulang setelah Kayla menikah karena aku yakin Bapak dan Ibu akan datang di hari pernikahan Kayla" ucap Yumna berusaha tegar.


"Sekarang kau bisa mengatakan apa yang ingin kau katakan dan kau sampaikan padaku?"

__ADS_1


"Tidak perlu, lagi pula ini tidaklah penting, untuk apa juga saya berbagi cerita pada orang yang sudah tidak menginginkan saya disini."


"Assalamu'alaikum…"


"Waalaikumsalam…"


Hening, langkah kaki Yumna terasa begitu berat, namun meski begitu ia harus tetap mengayunkan langkahnya untuk maju.


Sedangkan Vano menatap tubuh wanita yang selama beberapa bulan bersamanya kini semakin kian menjauh, tidak mudah ia mengambil keputusan, namun jika sudah tidak ada yang dapat di pertahankan makan Satu-satunya jalan adalah perpisahan.


'Hingga saat ini kau masih saja menyembunyikan kehamilanmu itu dariku, jika itu anakku, lalu kenapa kau menyembunyikan dariku? padahal kandunganmu sudah berjalan memasuki bulan ke empat. Dan jika dia anakku tentu kau akan mengajakku untuk periksa kandungan, bukan mengajak lelaki lain, apa lagi lelaki itu adalah cinta pertamamu.'


Ya Vano melihat secara tidak langsung dengan kedua matanya saat di rumah sakit tadi, saat ia menemani Clarissa, dan dia tidak pernah menyangka, akan mendapatkan suatu pemandangan yang tak pernah ia bayangkan selama ini, kepercayaan dan cinta nya di hianati oleh seorang wanita yaitu istrinya.


Flashback on.


Ujar sang dokter di saat tubuh Clarissa di bawa masuk ke UGD. Vano pun hanya bisa pasrah.


'Bagaimana caranya aku mengakhiri semua ini, aku melihat Yumna, semakin hari semakin kurus apa dia Diam-diam tertekan dengan apa yang aku lakukan, ke Clarissa selama ini? dan aku ingin mengakhiri semuanya, aku harus bisa memutuskan satu diantara ke duanya, aku tidak boleh egois.' Vano terus saja bermonolog pada dirinya sendiri, hingga tatapannya tiba-tiba saja dari kejauhan menangkap bayangan seseorang yang sangat di kenalnya.


"Yumna, Abizar? untuk apa mereka berdua disini,?"


Gumamnya dalam hati ya yang dilihatnya adalah Yumna yang tengah asyik berbicara, ntah apa yang di bicarakan ke duanya, namun sepertinya itu sesuatu yang sangat serius.

__ADS_1


'Mereka mau kemana?' Vano yang di liputi dengan rasa penasaran akhirnya mengikuti kedua orang tersebut meski dari kejauhan, hingga Yumna dan Vano memasuki sebuah ruangan yang Vano tidak tau itu apa karena itu tidak terlalu jelas.


Vano hanya bisa mengerang dengan kedua tangan yang sudah mengepal kuat, karena antara cemburu dan emosinya kini menjadi satu. Tidak lama berselang ia pun melihat Abizar keluar, dan raut wajahnya nampak seperti gelisah.


Tak lama kemudian Yumna nampak keluar dan yang paling membuat Vano emosi di saat Abizar menyentuh Yumna dan Yumna nampak diam saja, dan bahkan mereka tersenyum lepas dan berjalan keluar dari tempat itu dan menuju kantin rumah sakit.


Dan kesempatan itu ia gunakan untuk mendekat dan betapa terkejutnya Vano saat melihat ruangan apa yang di datangi Yumna dan Abizar.


'Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?' lirihnya, lalu ia pun mengetuk pintu, dan tak lama kemudian keluar seorang wanita cantik.


"Maaf apa ada yang perlu saya bantu?" tanya dokter Anha pada Vano yang masih saja diam di tempatnya.


"Ah…ya Aku hanya ingin bertanya, ada apa wanita itu kemari?" bukannya menjawab, dokter Anha menatap dengan tatapan menelisiknya.


"Ada apa Anda bertanya tentang pasien saya? karena itu adalah data pribadi pasien yang harus di lindungi,"


"Dan jika aku mengatakan kalau aku adalah pemilik rumah sakit ini bagaimana,? aku hanya memintamu untuk mengatakan semua untuk mengumpulkan data pasien yang berada di rumah sakit ini dan aku melihat sepertinya kau orang baru disini." Ucap Vano sedikit mengancam dan memberikan tekanan.


"Maafkan saya Pak sungguh saya tidak mengetahui kalau bapak adalah pemilik Rumah sakit ini." Ucap dokter Anha sedikit merasa bersalah.


"lni Pak Anda boleh memeriksanya," Ucap dokter Anha memberikan file yang berisi data pasiennya," Aku hanya butuh keteranganmu, sedang apa wanita tadi tanpa perlu aku membaca semua ini,"


"Baiklah pak dia sedang memeriksakan kandungan nya yang akan memasuki usia kandungan jalan 4 bulan pak dan__"

__ADS_1


"Terima kasih atas informasinya aku pergi dulu semoga kau betah tinggal bekerja di rumah sakit ini" ucap Vano menjeda kalimat dokter Anha, dan dia pun segera pergi meninggalkan dokter Anha, yang masih terlihat binggung.


Flashback off.


__ADS_2