
"Bu Bagaimana keadaan Bapak?" tanya Yumna begitu selesai menyalim tangan lbu, dan lbu mertuanya sambil berpelukan melepaskan rindu.
Seperti yang kau lihat sekarang Bapakmu lagi tidur setelah di beri obat penenang.
Yumna Bapakmu Drop setelah mengetahui kamu pergi dari rumah suamimu, yang Bapak sesali kenapa kamu tidak mau di antar oleh Vano pulang ke rumah Nak?"
"Maafkan Yumna Bu…saat itu Yumna hanya ingin menenangkan diri saja, setelah pernikahan Kayla Rencananya Yumna ingin pulang dengan Bapak sama lbu" terang Yumna yang kini mulai terisak.
"Mama Minta maaf padamu Nak. Mama salah meninggalkan mu dengan anak yang tidak tau di untung ini…! lbu sangat kecewa bahkan Papamu juga sangat marah, untuk itulah Vano mencarimu kemana-mana." Tutur Bu Hesty menimpali. Sedangkan Vano hanya bisa menyimak dalam diam kekecewaan mamanya itu.
"Ma… Yumna juga salah dalam hal ini, seharusnya Yumna berfikir panjang tentang hal ini, tapi nafsu dan Amara sudah berhasil menguasai hati Yumna dan fikiran Yumna, maafkan Yumna Ma…." Yumna pun memeluk lbu mertuanya, sedangkan Bu Hesty mengusap punggung Putri menantunya itu.
"Yumna Putri ku…!"
"Bapak…Bapak sudah bangun? maafkan Yumna Pak karena sudah membuat kalian semua khawatir?"
"Bagaimana kabarmu Nak?" tanya Pak Ahmad dengan suara yang pelan.
"Bapak lihat sendiri Alhamdulillah, Yumna baik-baik saja Pak, lalu Bapak kenapa sampai Drop seperti ini?" tanya Yumna memeluk tubuh Pak Ahmad.
"Jantung Bapak kambuh lagi saat mengetahui kamu dan Nak Vano bercerai dan mencarinu kerumah untuk rujuk kembali, berjanjilah kalian jika ini adalah yang pertama dan yang terakhir terjadi di dalam rumah tangga kalian, selesaikan semuanya dengan kepala dingin, lihatlah seperti Bapak dan lbumu yang selalu bersama." Ucap Pak Ahmad mengelus punggung sang putri.
"Sekarang minta maaflah pada suamimu itu, bertanyalah padanya apa yang menyebabkan dia marah padamu hingga membuatnya tanpa sadar mengucapkan kata yang seharusnya tidak di ucapkan itu." Ucap Pak Ahmad lagi.
"Baiklah Pak…"
"Sebaiknya kalian pulang, selesaikan masalah kalian di rumah dan selesaikan berdua di dalam kamar, karena jangan sampai orang lain mendengar pertengkaran kalian." Sela Bu Hesty menimpali.
Yumna dan Vano sejenak saling menatap, lalu Vano meraih tangan istrinya itu lalu ia pun mengangguk sambil tersenyum.
"Ayo kita pulang kau juga harus banyak istirahat," ucap Vano mengajak Yumna, Yumna pun membalas dengan sebuah anggukan.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Assalamu'alaikum…"
__ADS_1
"wa'alaikumsalam…"
*
Tak ada yang berbicara hening, Vano hanya sesekali menatap wajah Yumna yang terlihat letih dan pucat, sedangkan Yumna hanya fokus menatap jalan didepannya.
"Kalau kau mengantuk tidurlah aku akan membangunkan mu kalau kita sudah sampai di rumah," ucap Vano, namun tak ada jawaban dari Yumna.
Vano hanya bisa menarik nafas dengan kasar, karena ia berfikir Yumna sedang sangat marah padanya. Vano pun kembali memilih diam karena Yumna sama sekali tak menanggapi nya.
"Kita sudah sampai, tunggu. Aku akan membukakan pintu untukmu" ucap Vano ingin segera turun.
"Tidak usah…! aku bisa sendiri," ucap Yumna segera membuka pintu lalu turun. Yumna pun langsung masuk ke kamarnya di mana kamar ita ia tempati saat pertama kali datang kerumah tersebut. Vano hanya bisa menatap dalam diam tanpa bisa menegurnya karena ia tidak ingin istri nya itu tersinggung jika ia salah bicara mungkin ia akan membiarkan nya untuk beristirahat dulu beberapa saat hingga ia dan Yumna akan berbicara ke langkah yang jauh lebih serius.
Drt…drt…drt…📲
"lya Pa… ada apa?" Ucapnya saat mengetahui siapa yang menganggu lamunannya.
Setelah sambungan telepon nya terputus Vano pun segera bergegas menuju tempat yang di tujunya tanpa sempat untuk meminta izin atau memberitahukan Yumna.
*
*
'Mas El, kemana? kenapa aku tak melihatnya dari tadi apa dia kerumah kekasihnya itu?'
Yumna terus saja bermonolog dalam hatinya di saat ia menata makan malam di atas meja makan.
Tadinya Yumna berharap setelah pulang kerumah dan Vano meminta nya kembali ia berharap jikalau suaminya itu akan menghiburnya atau meminta maaf, padanya namun lelaki itu menghilang tanpa jejak.
Hingga pukul 22:00 Vano baru pulang. Dan langkah kakinya terhenti di saat melihat seluit tubuh wanita yang tengah tertidur sambil bersandar di atas di atas Sova' dengan kaki yang menjunta ke lantai.
"Apa di masih menungguku? apa dia masih ingat untuk selalu menungguku untuk pulang?" Vano berjongkok lalu mengangkat istrinya itu apa bridal stile, dan membawanya naik ke lantai dua, lalu membaringkan tubuhnya dengan pelan di atas tempat tidur.
__ADS_1
la pun segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Vano saat keluar dari kamar mandi ia melihat Yumna yang tengah duduk bersandr pada Dasboard.
"Kenapa kau tidak membangun kan ku bukanlah aku juga punya kamar sendiri, lain kali tidak usah bersusah payah untuk membawaku naik ke atas, takutnya nanti aku akan menjadi orang yang selalu merepokan."
Ucap Yumna memalingkan wajahnya karena Vano kini berjalan mendekat dan hanya memakai handuk yang hanya di belitkan di pinggang nya saja.
Vano terus saja mendekat membuat jantung Yumna semakin berdegub kencang.
"Lihat Aku, apa aku sudah tidak begitu tampan hingga kau memalingkan wajahmu ini. Atau jangan bilang kau sudah tidak tertarik lagi padaku?" ucapnya sedang ibu jarinya terus saja mengelus bibir tipis berwarna pink muda itu.
Yumna mendorong tubuh Vano saat lelaki itu ingin mengecup bibirnya. la pun segera berdiri dari tempat nya.
"Sebaiknya Aku turun dulu, aku akan tidur di bawah jika kau lapar dan ingin makan, kau tinggal menghangatkannya aku sudah menyediakan semuanya di atas meja makan." Setelah berucap Yumna pun hendak pergi.
"Apakah tidak ada maaf lagi untuk ku?" ucapnya dengan memeluk Yumna dari belakang.
"Aku minta maaf untuk semua kesalahanku padamu, Mama memang benar aku adalah laki-laki terbodoh dan tidak tau malu, selalu membuatmu terluka dan menangis tapi aku punya alasan nya sendiri kenapa aku melakukan semua itu. Apa kau tidak ingin bertanya kenapa aku melakukan nya?"
"Untuk apa? bukankah kau sendiri tidak ingin menjelaskan nya padaku! tanpa aku bertanya seharusnya kau sudah faham." Vano menarik nafas panjang, lalu mengurai pelukannya.
Diapun berjongkok di depan Yumna.
"Bagaimana kabarnya apa dia masih selalu membuatmu merasa sakit? seperti aku yang selalu membuatmu sakit?" tanya Vano menyentuh perut Yumna.
Deg.
Dan itu membuat Yumna begitu terkejut dan bertanya dalam hati siapa yang memberitahukan Vano tentang kehamilannya itu?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1