KEKASIH

KEKASIH
Kedatangan Dion


__ADS_3

"Bagaimana perasaanmu sekarang,? apa kau merasa jauh lebih baik?" Tanya Vano begitu ia selesai menyuapi Yumna.


"Aku masih agak sedikit pusing Mas, tubuhku juga sepertinya tidak bertenaga, dan otot-ototku sepertinya lemas semua Mas,"


"Sebaiknya kau istirahat, sebentar lagi dokter akan datang memeriksamu,"


Yumna hanya menganggukan kepalanya saat Mendengar perintah Vano.


Dan benar saja tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.


Tok... tok... tok


Sang dokter masuk lalu mendekati ranjang di mana Yumna sedang terbaring dengan jarum infus ditangannya.


"Bagaimana dengan keadaan istri saya Dokter?" tanya Vano pada dokter wanita yang tengah memeriksa ke adaan Yumna.


"Sebaiknya Anda ikut ke ruangan saya,!" ucap sang dokter menatap Vano.


"Baiklah Dok…!" jawab Vano di sertai sebuah anggukan.


"Kau beristirahatlah, aku akan segera kembali ucap Vano sambil menyelimuti tubuh Yumna.


Yumna hanya membalas dengan anggukan dan senyum lembut yang menghiasi wajahnya.


Sedangkan Vano kini mengikuti dokter dari belakang dengan kursi rodanya.


"Silakan masuk." ucap sang dokter mempersilakan Vano untuk masuk.


"Kita langsung saja, mengenai istri Anda Alhamdulillah tidak apa-apa karena tipes nya saja baru gejala, dia juga sepertinya kurang istirahat untuk itu saya sarankan kalau Anda harus menciptakan suasana nyaman dan bahagia untuk istri Anda, karena saya melihat jika jiwa istri Anda sebenarnya seperti tertekan, hanya saja dia tidak tau caranya untuk menghibur diri, mulailah untuk menyuruhnya lebih terbuka dengan apa yang dirasakannya saat ini, dan istri Anda tipe orang yang bisa menyembunyikan kesakitan nya dengan senyum yang selalu ia Sungging kan di hadapan orang lain."

__ADS_1


"Baiklah Dokter. Apakah hanya itu saja Dok,?" Tanyanya lagi.


"lni ada beberapa resep obat yang harus Anda tebus di Apotek, usahakan istri Anda meminumnya secara rutin, dan biarkan istri Anda beristirahat total dulu." Terang sang dokter lagi.


"Baiklah, terima kasih Dokter." Ucapannya sambil meraih secarik kertas yang bertuliskan resep obat yang disodorkan oleh dokter kepadanya.


"Kalau begitu saya permisi dulu Dok," pamitnya.


"Ya,, mari silakan," timpal sang dokter.


Vano pun bergegas keluar meninggalkan Ruangan dokter tersebut, kembali menuju ke tempat di mana Yumna sedang dirawat, Namun baru saja tangannya hendak meraih handle pintu, tiba-tiba saja telinganya menangkap suara seseorang yang sedang tertawa dan suara itu tidak asing di telinga.


'Kenapa Dion bisa ada di sini,? dan siapa yang memberitahunya kalau Yumna sedang dirawat di rumah sakit ini?' gumamanya hanya dalam hati.


"Eh,,, Pak Bos...!" Cicit suster Andini membuat Vano sedikit terkejut.


"Kenapa Pak Bos ada di sini,? Dan Kenapa Pak Bos tidak masuk ke dalam,?


"Siapa tahu saja dengan kehadiran Pak Dion bisa membuat Yumna jadi cepat sembuh iyakan Pak Bos...bagaimana ide saya Pak Bos...bagus kan,?" Bukannya mendapat jawaban tapi Andini mendapat tatapan tajam dari majikannya itu. Bagaimana tidak Ia datang secara tiba-tiba dan mengejutkan Vano bahkan belum lagi dia mengatakan kalau dialah orang yang memberitahu keadaan Yumna pada Dion.


"M-maaf Pak Bos... kalau saya salah bicara," ucapnya saat menyadari dirinya ternyata sudah berbicara panjang lebar sedangkan ia tauhu sendiri sifat Vano seperti apa, lelaki pendiam dingin dan irit bicara. Dengan susah payah Andini menelan ludah getirnya, bahkan sesekali ia merutuki kebodohan nya yang selalu kebablasan kalau bicara.


"Sekarang Kau Pergilah ke Apotek dan tebus obat yang ada di dalam daftar ini.!" Perintah Vano pada suster Andini dengan nada suara datar dan tatapan tajamnya.


Suster Andini pun segera meraih kertas yang disodorkan oleh Vano dengan cepat, dan Ia pun memilih segera beranjak dari tempatnya karena ia tidak ingin lama-lama berada di depan Vano yang seolah-olah akan menelannya hidup-hidup.


Vano sendiri memilih segera membuka pintu membuat kedua orang yang di dalam kini menoleh bersamaan menatapnya.


"Kau itu brengsek sekali, Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Yumna semalam di bawa ke rumah sakit,? Kau tahu kan kalau Yumna adalah calon istriku."

__ADS_1


Deg.


Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Dion tentu saja membuat Yumna begitu terkejut sekaligus takut, Ia terkejut karena Dion menganggapnya belum menikah, itu berarti Vano tidak memberi tahu sahabatnya itu tentang hubungannya, sedangkan ia juga takut karena Vano memilih diam saja tanpa menjelaskan semuanya dan itu akan menambah kesalahpahaman yang akan terjadi pada diri Dion.


"Kak Dion, maaf apa boleh Yumna berbicara empat mata dengan Pak Bos?" tanyanya dengan terus menatap suaminya.


"Tentu saja boleh sayang, apa sih yang tidak buatmu kau itu adalah calon wanitaku jadi apapun yang kau minta aku akan memberikannya untukmu." Dion pun kini memberanikan diri berjalan mendekati ranjang di mana Yumna yang sedang bersandar pada dashboard.


Dion pun terlihat mengangkat tangannya dan hendak mengelus pucuk kepala milik Yumna, membuat Yumna susah untukbernafas, dengan jantung berdetak lebih kuat.


"Hentikan Dion...! Yumna itu belum sah menjadi istrimu, Jadi kau tidak boleh sama sekali menyentuhnya. Apakah kau pernah bertanya kepada Yumna kalau dia ingin disentuh olehmu sebelum kau sah menjadi pendampingnya,? kau jangan Samakan Yumna seperti wanita-wanitamu itu Dion!" teriak lantang tegas Vano menghentikan aksi Dion, dan itu mampu membuat Yumna bernafas lega.


"Oke,, fine...Aku minta maaf, mungkin karena aku selama ini selalu mengelus kepala wanita jadi aku pun ingin melakukannya padamu Yumna, tapi tak apa kali ini Aku akan sabar menunggu hingga waktunya tiba setelah kau benar-benar sembuh Aku ingin bertemu kedua orang tuamu."


Jantung Yumna kembali seperti di pompa mendengar ucapan lelaki di depannya itu sedangkan Vano hanya Diam seribu bahasa tak menanggapinya sama sekali dia seperti Acuh Tak Acuh kepada Yumna.


"Tapi Kak kedua orang tuaku ada di kampung," "Tdak apa-apa jika mereka berada di kampung"


"Tapi tak bisa kami kami itu orang miskin tidak punya apa-apa,"


"Dengarkan Aku tak melihatmu dari mana dan siapa dirimu berasal dan berada, Apakah engkau berharta atau bertahta sama itu tiada artinya buatku Yumna, Kau adalah wanita yang pertama kali menyentuh hatiku Dan aku berjanji tidak akan pernah membuatmu kecewa bahkan terluka, Meski aku akui aku bukanlah lelaki yang sempurna selama ini aku telah banyak berbuat salah kepada wanita tapi mulai saat ini aku berjanji aku akan meninggalkan semua itu.


Will You Marry Me?"


Jantung Yumna kembali berdegup begitu kencang sedang nafasnya terasa begitu sesak mendengar setiap kata yang terlontarkan dari bibir Dion itu.


"Hei kau lelaki brengsek hentikanlah ocehanmu di depannya apa Kau hanya ingin menggodanya seperti wanita-wanitamu itu.?" "Hei,,, apa maksudmu? kalau aku akan menggodanya? Aku serius.?" Sanggahnya.


"Dan bukanlah kau pun mengizinkan ku mendekati nya? atau jangan-jangan kau sekarang berubah jeles?" tanyanya penuh selidik.

__ADS_1


"Sudahlah,,, sekarang Cepat pergi dari sini apa kau tidak dengar kata Yumna tadi yang ingin berbicara denganku Empat Mata,?" usirnya dengan sedikit kesal.


"Oke, aku akan keluar..."


__ADS_2