
Setelah, adzan maghrib berkumandang Yumna pun selesai dengan aktivitasnya, Ia segera masuk ke kamar untuk membersihkan dirinya, dan segera melaksanakan salat. Setelah semua aktivitasnya di dalam kamar selesai, dia pun segera keluar kembali.
"Maaf suster apa Mas...Vano ada di kamarnya,?"
"Iya Pak Bos sedang ada di kamar, dan ini saya hendak ke sana untuk memberikan ini untuk Pak Bos," Jelasnya lagi.
"Biarkan saya yang membawanya suster," "Lalu bagaimana Nanti kalau Pak Bos marah?" "Sudah tidak apa-apa, tenang saja. Aku yakin dia tidak akan marah," ucap Yumna berusaha meyakinkan.
"Terserah kamu saja, kalau begitu jangan salahkan aku kalau Pak Bos marah padamu," ingatkan nya pada Yumna.
"Baiklah,, terima kasih panggil aku Yumna Namaku Yumna," ucap Yumna memperkenalkan diri.
"Baiklah Yumna aku suster Andini, sekarang kau boleh beristirahat, biarkan aku saja yang merawat Mas Vano," Yumna pun segera menuju ke lantai 2 sambil membawa Baki' makanan yang akan dibawanya untuk suaminya itu.
Tok..tok..tok.
"Assalamualaikum...!" ucap uluk salam Yumna sambil mengetuk pintu, Namun tak ada jawaban sama sekali, karena tak kunjung mendapat jawaban akhirnya Yumna mencoba membuka pintu.
''Tidak ada orang lalu Mas El, kemana ya?''
Yumna melihat sekeliling kamar namun tetap saja tak mendapatkan suaminya itu, bahkan ia memeriksa setiap celah di kamar tersebut namun tetap saja El Vano tak dia jumpai.
"Sedang apa kau di kamarku!?" Sentak suara Vano menggelegar membuat Yumna terperanjat kaget.
"Astaghfirullah Ya Allah Mas... kau mengaget kan ku saja Mas...'' cicit Yumna mengelus dadanya karena di kejutkan oleh kedatangan dan suara Vano yang datang dari balkon.
Sedangkan Vano hanya tersenyum miring.
"Aku bertanya padamu,! untuk apa kau kemari ke kamarku bukankah aku tidak memanggil mu? dan juga kau sudah berani-berani nya masuk tanpa izin dariku, kau juga selalu melanggar, apa yang aku tidak suka, kau baru sehari disini, tapi kau tak pernah menurut perintah, kau selain kampungan, bodoh, ternyata kau juga bukan orang yang bisa di percaya untuk menepati janji, kalau begitu mulai besok hukumanmu akan segera kau jalani," Ucap Vano penuh penekanan.
"Tap-tapi Mas__"
__ADS_1
"Jangan pernah membantah apa lagi protes kalau aku sedang membuat keputusan, karena keputusanku tidak akan dapat di tarik kembali, dan sekarang keluarlah…!" usir Vano.
Dengan langkah gontainya Yumna pun mau tidak mau melangkah meninggalkan Vano dari kamarnya, la pun memilih berdiam diri di kamarnya, setelah melakukan salat isya la pun segera memilih untuk tidur lebih awal.
*
Esoknya.
"Hai....kau...! Kemarilah cepat…! kenapa kau lelet sekali seperti siput…? apa kau sudah membereskan semuanya? kau harus ingat malam ini teman-temanku akan tiba kau harus membuat semuanya tertata rapi dan sempurna jangan sampai aku mendapatimu tertidur sebelum kau selesai seperti kemarin, kalau tidak hukumanmu akan lebih parah dari ini.!"
"lya Pak Bos, saya akan melakukan perintah Anda dengan sempurna," ucap Yumna meski ia sudah merasa sangat kelelahan, apa lagi hari ini ia sedang puasa sunnah.
Yah sejak kemarin Vano memberikannya hukuman dengan menyuruh nya membersihkan seluruh rumah dengan manual alias tangan dan hari ini ia harus membersihkan halaman dan kolam renang yang begitu luas, tanpa bantuan siapapun. bahkan ia juga harus mencabut rumput yang ada di taman sekitar belakang yang begitu luas itu, namun Yumna melaksanakan semua hukumannya dengan sabar, bukan tanpa alasan, karena Vano mengancam akan menghentikan pengobatan orang tuanya jika ia tidak melakukan tugasnya dengan baik dan sempurna.
"Pak Bos...Apa boleh saya istirahat sekejab saja?" tanya Yumna karena merasakan tenggorokannya begitu kering, dan kepalanya mulai sedikit pusing.
"Apa kau sudah menyelesaikan semua hukumanmu?"
"Baiklah, kau boleh makan dan minum sekarang?" ujar Vano, Namun masih dengan wajah datarnya.
"Tapi saya sedang puasa Pak..."
"Puasa,? ini bukan bulan puasa, lalu kenapa kau harus berpuasa di bulan ini,?"
"Saya hanya puasa sunnah Pak Bos, setiap hari senin dan kamis," jelasnya kembali.
"Terserah kamu saja, nanti malam ada pesta di sini jadi persiapkan dirimu untuk melayani mereka dan ingat, jangan lakukan kesalahan apa pun, kalau tidak aku akan menghukummu lebih berat dari ini…!" Ancam Vano lalu meninggalkan Yumna begitu saja.
"Yumna, kau kanapa bengong disini?" tanya Andini, yang kebetulan lewat.
"Eh,, suster Dini kau mengagetkanku saja." Ujarnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku hanya binggung nanti malam ada pesta lalu pestanya orang kaya itu seperti apa ya? apa yang harus aku persiapkan? maksudku pakaiannya seperti apa?" Tanyanya binggung menatap Andini.
"Memangnya Pak Bos menyuruhmu ngapain saja?" ucap Andini balik bertanya.
"Melayani tamu dengan baik," jawabnya.
"Mmm...sebaiknya kau harus memakai seragam pelayan, ada kok di lemari gudang bajunya nanti aku ambilkan ya biar kamu lekas bersiap-siap," ujar Andini.
"Terima kasih ya Din, kalau kau tidak ada aku tak tahu, aku akan bertanya pada siapa lagi," ucap Yumna dengan menggenggam tangan Andini.
"Tidak apa-apa lagi pula kita sama. Sama-sama ingin mencari Uangkan,? lalu kenapa kau masih berdiri di sini ayo cepat kita pergi untuk mencari baju seragam untukmu." Ajak Andini segera menarik tangan Yumna, dan benar saja Yumna hanya mengikuti kemana suster Andini mengajaknya pergi.
Kini suasana begitu ramai dengan kedatangan para tamu undangan yang tak lain adalah rekan kerja atau kolega bisnis Vano, bahkan usia mereka juga masih terbilang sangat muda, tak beda jauh dari usia Vano, bahkan mereka juga sangat tampan, dan yang terpenting juga mapan.
Malam ini sebenarnya adalah malam dimana Vano berulang tahun, setelah kecelakaan yang di alaminya dan juga menyebabkan kekasihnya meninggal, bahkan dirinya di vonis cacat permanen, ini adalah kali pertama la berjumpa Dengan orang banyak, setelah memutuskan untuk tidak terlalu berinteraksi dengan orang banyak.
Namun demi membuat Yumna tidak betah di rumahnya ia harus rela melakukan semua ini, la bahkan mengundang beberapa teman dan rekan bisnisnya untuk datang.
"lngat jangan pernah membuat kesalahan, karena mereka semua rekan-rekan Bisnisku,! kau harus menjaga nama baikku layani mereka dengan baik, dan berikan apa yang mereka inginkan,!"
"Baik Pak Bos, Anda jangan khawatir tentang semua itu," ucap Yumna penuh percaya diri.
"Baiklah mari kita lihat apakah kau sanggup untuk bertahan hingga acara ini selesai."
Setelah berucap ia pun segera pergi meninggalkan Yumna, yang terus saja menatap punggung suaminya itu.
"Mas...Aku akan menunggu waktu itu tiba, dimana kau akan menggandeng tanganku untuk kau perkenalkan dengan bangga, kau tak akan pernah bisa merubah takdir kebersamaan kita, dengan sebuah rencana perpisahan."
Monolognya dalam hati.
"Sebaiknya kau kesana Yumna, sebelum Pak Bos beteriak memanggilmu di depan orang banyak, dan dia pasti tidak segan-segan mempermalukanmu." Ujar Andini, menepuk pundak Yumna dari belakang.
__ADS_1