
"Mas..."
Jangan sentuh aku, Aku tidak sudi kau menyentuh ku!"
"Tapi Mas...aku ini istrimu biarkan aku merawatmu sampai sembuh, aku yakin kau bisa sembuh, kita coba ya!"
"Aku bilang tidak, ya tidak,! Apa kau tuli tidak mendengar perkataanku dengan jelas, atau Kau bisa membaca ulang poin-poin yang tertera di dalam surat yang telah kau tandatangani itu! bukankah disitu tertulis dengan jelas kalau kau dilarang mendekat,?" sentak Vano.
"Kecuali jika orang tuaku berada di sini, sekarang lebih baik kau cepat membereskan di rumah ini karena banyak debu di mana-mana, apalagi debu itu akan menetap di dalam rumah ini," ucapnya dengan tatapan tajam.
"Suster-suster…!" panggilnya berteriak memanggil suster yang selama ini menjaganya.
"Iya Pak Bos… saya disini…" Jawab sang Suster tergopoh-gopoh.
"Cepatlah, bawa aku masuk ke kamar sebelum ada debu menempel di tubuhku, dan siapkan air hangat Aku ingin segera mandi segera…,!"
"Baiklah, Pak Bos…" Suster itu pun mendorong kursi roda milik Vano, sedangkan Yumna sendiri masih terpaku menatap kepergian suaminya yang dibawa oleh suster tersebut.
'Ya, Allah Maafkanlah ucapan suamiku.' lirihnya berdoa.
'Astagfirullahaladzim, Bukankah aku disuruh membersihkan rumah ini,? ya! sebaiknya aku membersihkannya' Yumna pun mulai beraktivitas membersihkan semua yang ada di rumah tersebut.
Namun ia bingung karena alat-alat yang dipakai di dalam rumah itu semuanya memakai mesin atau tenaga listrik mulai dari sapu penyedot debu bahkan mencuci baju.
__ADS_1
'Ya Allah bagaimana caranya bekerja kalau begini? sedangkan aku bingung mau bertanya pada siapa?' Yumna masih berfikir keras tidak mungkinkan ia bertanya pada suami galak nya itu.
'Oh,, iya…! di depan sanakan ada Pak security Bagaimana kalau aku bertanya padanya saja,? tapi di sini tak ada orang lain selain aku bagaimana kalau itu semua akan menimbulkan fitnah nantinya,? apa sebaiknya aku ke kamarnya Mas Vano saja,?' fikirnya, la pun segera berlari melalui tangga untuk menuju lantai 2 tanpa peduli kalau Vano akan marah lagi padanya.
Namun Sesampainya di atas ia bingung harus memasuki kamar yang mana, karena ternyata di atas bukan hanya satu kamar kamar di atas ada 4.
'Apa aku harus mengetuk pintunya Satu-satu saja,?' fikirnya.
'Jika dibuka pasti ada orangnya, jika tidak ada pasti pintunya tidak di buka,' Gumamnya lagi. Ia pun bergerak dengan cepat mengetuk pintu satu-persatu, namun tetap saja tak ada orang yang keluar untuk membuka pintu.
Hingga pada pintu terakhir saat ingin mengetuk tiba-tiba pintu terbuka karena tangannya yang memegang handle pintu hingga membuat pintu terbuka otomatis.
"Mungkin ini adalah kamar Mas Vano tapi bagaimana kalau dia marah? sudah ah... daripada aku tidak bekerja lebih baik aku kena marahkan? lagi pula aku datang ke sini hanya untuk meminta izin padanya' Yumna pun melangkahkan kakinya dengan berani, walaupun sebenarnya ia sedang bergetar ketakutan karena kamar yang dimasukinya itu ternyata sangat luas dan besar, Ia pun bingung karena di dalam kamar tersebut tidak ada siapapun Yumna menelusuri seluruh bagian ruangan dengan seksama Siapa tahu saja suaminya terselip di satu tempat dan itu menurut pikirannya, namun tak sengaja tangannya menyentuh tombol brankas hingga mengeluarkan bunyi alarm, Yumna yang terkejut pun refleks berjalan mundur.
Bugh.
Denga cepat ia menayambar tubuh Yumna agar ia tak terjatuh membentur lantai, Namun sayang karena kakinya yang tak bisa berdiri dan berjalan itu membuatnya ambruk tertindih tubuh Yumna.
"A a a a a a a..." Yumna reflek berteriak terkejut saat membayangkan tubuhnya akan membentur lantai jatuh ambruk dengan memejamkan mata di atas tubuh Vano. sesaat ia terdiam karena merasakan tubuhnya tidak sakit namun wajahnya seperti menyentuh sesuatu yang berbeda, lain halnya dengan Vano yang menahan sakit di atas dan di punggungnya dengan tubuh yang tertindih oleh badan istrinya sendiri, namun sejenak la membeku saat merasakan sesuatu dengan detak jantung yang berdegup kencang, apalagi di saat Hijab Yumna yang tersingkap ke atas menutupi wajahnya.
"Dengan perlahan Vano membuka Hijab berwarna hijau tosca tersebut, sejenak ia begitu Terkesima saat menatap rambut panjang Yumna yang begitu lurus dan hitam. Ditambah lagi dengan kecantikan Yumna yang begitu sempurna, walau tanpa make up sekalipun, apalagi saat bibir Yumna yang merah dan lembab itu seperti sebuah magnet yang menariknya untuk menyecapnya sejenak Yumna yang merasakan semua kejadian yang begitu spontan tersentak kaget saat merasakan bibirnya disesap seseorang namun la takut untuk membuka mata.
Sedangkan Vano terus saja melakukan aksinya saat melihat Yumna sama sekali tidak menolaknya meski tanpa balasan. Namun sesaat kemudian Ia tersadar di saat merasakan susah untuk bernafas.
__ADS_1
"Kau..!" sentak Vano mendorong tubuh Yumna hingga jatuh kelantai.
"Mas... sakit…!" kejut Yumna berteriak.
"Untuk apa kau masuk di kamarku,? Bukankah aku sudah melarang untuk mendekat, dan kau sudah berani-beraninya mencium bibirku,! apa kau lupa dengan surat perjanjian itu,? jika kau melanggar maka kau akan dihukum,!" tegas Vano yang bangkit lalu duduk.
"Tapi Mas, Bukan aku yang__"
"Apa sekarang kau juga sudah mulai membantahku,? kau lupa dengan dengan poin perjanjian itu, dilarang untuk membantah.
Sekarang Jelaskan, Apa tujuanmu datang kemari ke kamarku,? masalah hukumanmu nanti aku akan memikirkannya, cepat rapikan pakaianmu,! kau sudah membuat tubuhku kotor saja, Apa kau tidak melihat,? Aku baru selesai mandi," Sergah Vano kembali.
"Maafkan Aku Mas... aku tidak sengaja, tapi kedatanganku kesini hanya ingin meminta izin padamu, Aku ingin membersihkan seluruh rumah ini, tapi aku tak menemukan sapu sama sekali yang ada hanya mesin penghisap debu seperti yang pernah aku lihat di tv-tv tapi aku bingung Mas cara memakainya Seperti apa, makanya aku ingin memanggil security yang berjaga di depan untuk mengajarkannya padaku, karena di bawah tidak ada orang aku takut akan menimbulkan fitnah, untuk itu aku datang ingin meminta izin padamu.
Bagaimana kalau sustermu yang tadi juga ikut menemaniku kebawah,?" Ucapnya panjang lebar.
"Apakah harus seperti itu?"
"Ya,, tentu saja Mas aku ini istrimu apapun yang aku lakukan mengenai masalah kehormatan Rumah tanggaku, aku akan menanyakannya padamu agar tidak akan terjadi fitnah kedepannya." Ucap Yumna kembali memberikan penjelasannya.
"Terserah kau sajalah, lagi pula siapa yang akan memfitnahmu? bukankah di dalam rumah ini hanya ada kau dan aku, juga suster. Lagi pula apapun yang akan kau kerjakan akan terpantau di CCTV" ujar Vano.
"Apa,, aku akan masuk TV Mas,? tidak Mas aku tidak ingin jadi artis, Aku tidak ingin masuk TV…" mendengar jawaban istrinya yang polos itu membuat Vano ingin tertawa, Namun karena ego yang terlalu tinggi akhirnya ia berusaha untuk menahannya.
__ADS_1