
"Dokter seperti nya balita ini sedang mengalami hipotermia kita harus segera memberikan pertolongan memberikan pertolongan pertama" Cicit Dokter Anha.
"Baiklah kau menyingkir lah biar yang Aku akan segera memeriksanya dan kau sebaiknya kau temui orang tuanya" perintah Abizar.
"Baiklah dokter!" ucap Dokter Anha, namun tiba-tiba saja ia terdiam.
"Dan kau jangan lupa untuk meminta data anak tersebut." Ucap Abizar lagi.
"Anha kenapa kau diam saja?"
"A-aku…" ucapnya binggung.
"Kau kenapa? cepatlah!" teriak dokter Abidzar, karena ia tahu apa sekarang yang sedang di alami Anha dan itu terjadi semenjak, ia kehilangan putra kecilnya, untuk itulah Abizar melarang nya untuk menangani nya.
"Maaf Nyonya apakah Anda ibu kandung pasien?" tanya dokter Anha dengan sedikit bergetar.
"Bagaimana keadaan putraku Amar? apa dia baik-baik saja Kak Aisah?" teriak seorang wanita yang nampak begitu panik dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Apa Anda orang tuanya pasien? " tanya dokter Anha menatap Alyssa yang baru saja tiba dengan nafas yang sudah tak beraturan.
"Ya saya orang tuanya" Jawab Alyssa dengan cepat dan gelisah.
"Baiklah putra Anda sekarang sedang di tangani saya hanya meminta data Putra Anda" jelas dokter Anha kembali.
"Kak sebaiknya kaka yang memberikan datanya aku ingin masuk menemui Dokter nya." Ucap Alyssa menatap Aisah.
"Itu dokternya tunjuk Aisah pada Alyssa, saat melihat Abizar sekilas.
Alyssa pun segera menghambur mendekati sang dokter, yang sedang berada di salah satu bangsal rumah sakit, dimana sang putranya berada untuk di berikan pertolongan pertama sebelum ia di pindahkan di ruang perawatan.
"Maaf dokter Bagaimana keadaan Putra saya?"
Deg.
__ADS_1
"Anda Tenang saja Nyonya, Saya akan berusaha untuk memberikan pertolongan pada putra Anda ucap Abidzar tanpa menoleh karena ia masih sibuk memberikan pertolongan pada sang bayi meski ia begitu terkejut dengan suara itu, suara yang selama ini ia rindukan, namun ia harus bersikap profesional.
"Baiklah dokter saya mohon selamatkan anak saya" ucap Alyssa memohon sambil mulai terisak.
"Insya Allah saya akan berusaha Nyonya, sebaiknya Anda berdoa saja untuk hasil yang terbaik" ucap Abidzar lagi tanpa ingin berbalik, dan tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang.
"Anha Cepatlah kemari bantu aku!"
Deg.
Jantung Alyssa berdegup begitu kencang saat melihat Siapa yang berada di depannya dan suara yang selama 6 tahun berusaha ia lupakan itu nampak begitu jelas terdengar di telinganya, dengan aroma tubuh yang tidak berubah, dengan cepat Alyssa pun membuang wajahnya agar tidak bertatapan langsung dengan Abizar yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja sekarang, kita akan lihat perkembangan nya, dan sebaiknya kita segera memindahkan nya." Ucap Abizar kembali, Namun ia di kejutkan dengan Anha yang tiba-tiba saja memeluknya
"Anha kau kenapa? kenapa kau tiba-tiba memelukku? tidak enak dilihat orang di sini kalau kau ingin memelukku di ruangan lain saja." Ucap Abizar menegur Anha, karena ia merasa risih di peluk di depan orang banyak.
"Tapi aku ingin memelukmu di sini Kak, Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu apa yang akan kau katakan padaku? apa kau akan mengatakan kalau putra mu masih hidup dan berhasil di temukan?"
"lya kau benar sekali Kak, Putraku masih hidup"
"Kak, bayi itu, aku merasa bayi itu adalah anakku,"
"Kau jangan main-main balita itu putranya, Ah Nyonya maaf kenapa anda pergi?" cicit Abizar saat melihat Alyssa berlalu pergi begitu saja Padahal baru saja ia mengatakan tentang putranya itu.
"Kau lihat akibat perbuatan mu itu? orang tua bayi itu pergi dan keliatan nya dia sedang menangis, Anha kenapa kau selalu seperti ini?"
"Kak…kau tak pernah tahu bagaimana rasanya aku hidup dalam ketakutan di saat bayiku hilang dalam pandangan ku, kau tahu semenjak itu aku dan Rico sering berdebat, meski aku sadar aku yang sepenuhnya salah, Aku akan selalu menyalahkan Rico setiap kali aku pulang karena tak bisa menemukan anak kami,"
"Seharusnya kau berobat agar kau bisa hamil kembali karena itu akan membuatmu setidak nya akan melupakan sedikit rasa kehilanganmu, bukankah ini sudah dua tahun lebih." Ucap Abizar mulai berusaha menenangkan.
"Apa kakak lupa jika kandungan ku sudah di angkat, dan ya apa Kakak juga bisa melupakan istri kakak yang telah tiada selama 6 tahun kepergiannya,? aku rasa hingga saat ini kakak mengharapkan nya masih hidup kan? begitupun aku Kak, karena hatiku sebagai seorang ibu mengatakan jika putraku baik-baik saja." Abizar hanya terdiam mendengar Kata-kata yang di ucapkan Anha dengan panjang lebar itu.
*
__ADS_1
"Alyssa maafkan Kakak, yang tidak bisa menjaga putramu, aku hampir saja membuat Amar celaka," ucap Aisah sesenggukan, di saat melihat Alyssa yang datang dalam keadaan menangis.
"Sudah Kak…semuanya baik-baik saja, dan Kakak jangan menyalahkan diri sendiri." Ucap Alyssa menenangkan sangat Kakak.
"Apa aku boleh bertemu dengan dokter yang menangani Amar sekarang?" tanya Aisyah lagi.
"Pergilah tanyakan keadaannya, karena aku akan menunggumu di sini" ucapa Alyssa kembali.
"Alisa kau kenapa? Amar Itu Putramu kenapa kau tak ingin ke sana.?"
"Tidak Kak biar saja aku disini sebentar untuk menenangkan hati dan pikiranku sejenak, setelah Kakak kembali Baru aku kesana." "Baiklah terserah kamu saja" ucap Aisah berlalu meninggalkan Alyssa yang kini duduk termenung sendiri, jauh di dalam dirinya ingin berteriak karena memori 6 tahun lalu kini kembali berputar di otaknya.
"Apakah wanita tadi itu adalah dokter Anha yang dulu pernah diceritakan? lalu Kenapa setelah 6 tahun aku berusaha hidup tanpa bayang-bayangnya, Aku sudah bisa melupakannya meski tidak semuanya,. lalu kenapa hari ini aku harus dipertemukan kembali dengannya? ada apa dengan semuanya apakah ini hanya kebetulan saja? mungkin sekarang sudah benar-benar bahagia bersamanya, Aku tidak menyangka kita akan dipertemukan lagi." Gumamnya dalam Hati.
"Alyssa…"
"Kak Dimas, Kak Bima, kalian ngapain ke sini?" tanya Alyssa saat dikejutkan dengan kedatangan dua orang lelaki yang sangat dekat dengannya itu.
"Aku dengar Amar di bawa kemari? oh Iya Kak Aisyah mana Kenapa kau berada di sini?" tanya lelaki yang bernama Dimas.
"Kak, Aisah ada di sana sedangkan aku di sini aku takut melihat keadaan Ammar"
"Kamu tenang ya sayang semuanya pasti akan baik-baik saja" ucap Dimas menghibur. "Terima kasih karena kalian juga sudah menyempatkan diri ke sini"
"Alyssa sayang kau ini kenapa, biar bagaimanapun Amar itu kan Putra kita" Ucap Dimas lagi.
"Iya aku tahu tapi__"
"Sudahlah sayang kamu Jangan Bersedih lagi ya!" Ucap Dimas menjeda kalimat Alyssa.
"Aku akan masuk apa kau tak ingin ikut Bukankah Amar adalah putramu?"
"Aku akan pergi sebentar jika semua orang tak melihatku sedangkan Dokter wanita itu sepertinya ia mengetahui identitasku" bohongnya.
__ADS_1
"Apa jadi dia tahu kalau kau masih hidup? ikut saja denganku sementara sebentar" ajak Dimas tapi aku takut kalau dia melihatku maka berita ini akan tersebar dan aku tidak ingin ada seorangpun yang tahu kalau aku masih hidup,"
"Sampai kapan Alyssa, ini sudah 6 tahun berlalu Apa kau tidak merindukan keluargamu?" "Tentu saja aku merindukannya apalagi Mama Aku sangat merindukannya Aku rindu dan papa kakak iparku, kakakku, Adam keponakanku. Aku merindukan mereka semua tapi mereka semua telah menganggapku mati, Biarlah aku tetap di sini.