KEKASIH

KEKASIH
Dia masih Hidup.


__ADS_3

Baik Yumna dan Vano saling meluapkan rasa lewat pelukan mereka.


"Aku…Aku…" ucap Vano dan Yumna secara bersamaan. Lalu mereka pun saling menatap dan tertawa.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Vano sambil sesekali menautkan bibirnya.


"lya…" sahut Yumna antusias, ia sangat yakin jika inilah saatnya untuk memberikan kabar gembira tentang kehamilannya.


"Apa kau juga ingin mengatakan sesuatu padaku?"


"lya tentu saja ini adalah kabar gembira yang mungkin akan membuatmu tertawa bahagia."


"Baiklah katakan padaku berita apa itu? nampaknya ini yang membuatmu begitu bersemangat Mas…"


"Kau benar sekali, apa kau tahu aku juga sebenarnya tidak percaya dengan apa yang kulihat oleh mata kepala ku sendiri. Apa kau tahu kalau dia masih hidup, Ya! Clarissa masih hidup, sayangnya dia tidak punya waktu lama lagi di dunia ini," ucap Vano sendu.


Deg.


Sedangkan Yumna masih tetap membisu, ia tidak tau harus berkata apa, haruskah ia senang atau bersedih? karena di sisi lain ia terbebas dari tuduhan seorang pembunuh namun disisi lain apa yang selama ini ia takutkan akan terjadi juga,"


"Hai apa kau mendengarku?" tanya Vano menjentikkan jarinya di depan Yumna.


"Eee, mmmm…Ya tentu saja aku mendengar mu Mas, Aku hanya merasa senang saja karena dengan ini kau tidak lagi menuduhku untuk menjadi pembunuh."


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak melakukan hal itu." Vano kembali memeluk Yumna untuk menghilangkan rasa sakit hati yang telah ia torehkan di hati Yumna.


"Lalu apa sekarang dia ada di negara ini?" tanya Yumna penasaran.


"Tidak…! dia berada di Singapura untuk menjalankan pengobatan. Dan satu lagi yang ia pinta padaku sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan dunia ini"

__ADS_1


"Apa itu Mas…?" tanya Yumna penasaran meski dengan degup jantung yang berdebar. "la memintaku untuk segera menikahinya, tapi aku belum memberikan jawaban dan itu nampak membuatnya sedikit kecewa, untuk itu aku Mohon sama kamu, berikan aku solusi yang terbaik untuk masalah ini, aku sudah berusaha menghubungi nya sejak tadi tapi dia tidak mau mengangkat panggilanku."


"Sekarang hubungi dia kembali dan katakan kau setuju ingin menikah dengannya, dan berjanjilah padaku kalau kalian akan hidup bahagia," ucap Yumna dengan suara yang sedikit tertahan.


"Apa kau yakin dengan semuanya, apa kau tidak marah atau sakit hati padaku, jika kau tidak mengizinkan makan aku tidak akan melakukannya"


"Apa kau melihatku sedang bersedih atau menagis, kalian saling mencintai dan tidak seharusnya aku menghalangi cinta kalian, itu sama halnya kalau aku itu egois."


"Terima kasih sayang aku sangat bahagia sekali mendengarnya, tadinya aku fikir kalau kamu tidak akan setuju."


"Sebaiknya kita makan dulu Mas,! nanti makanannya keburu dingin, aku sudah memasak makanan kesukaanmu hari ini."


Yumna pun meraih nampan yang berada di atas Nakas, lalu menyendokkan makanan kedalam mulut Vano yang memang dalam keadaan lapar itu.


"Kau juga harus makan bukankah kau pulang larut kau pasti belum makan?" Vano pun mengambil sendok yang berada di tangan Yumna, lalu ia pun memberikan suapannya pada Yumna, Yumna pun menerima suapan itu dengan mata yang berkaca-kaca.


'Jika tugas seorang istri hanya untuk berkorban demi kebahagiaan orang yang di cintainya maka Aku akan melakukan hal itu untuk memberimu sebuah kebahagiaan,'


"Boleh aku melakukannya malam ini? karena sungguh aku sangat merindukanmu?" bisik Vano di saat Yumna telah siap menuju tempat tidur.


"Mas…apa tidak sebaiknya kita jangan melakukannya dulu, karena bagaimana kalau aku sampai hamil,? Aku tidak mau membuat kebahagiaanmu memudar yang penting sekarang kau fokus dulu dengan kesembuhan mbak Clarissa.


"Ya kau benar sekali sayang, aku juga tidak mau jika ia curiga dengan hubungan kita, nanti, kalau kami akan menikah Aku akan membawanya untuk tinggal bersama kita, tidak apa-apakan?"


"Owh…tentu saja tidak apa-apa Kok, ini itu rumahmu Mas, kau bebas membawa siapa saja tinggal selama itu membuatmu merasa nyaman dan bahagia" ucap Yumna meski di dalam setiap ucapan dan Kata-katanya ada tersirat goresan luka yang tak berdarah.


"Terima kasih kalau begitu Aku tidak akan melakukannya, tapi boleh kan kalau kita hanya sekedar bercumbu saja?"


"Mas Aku…" Yumna tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Vano kini sudah mulai beraksi tanpa bisa untuk di cegah, sedangkan Yumna punya alasan tersendiri kenapa ia tidak ingin melakukannya, semua ia lakukan demi jabang bayi yang masih dikatakan lemah.

__ADS_1


"Sekarang kau tidurlah aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi," ucap Vano setelah puas dengan aksinya.


"Tapi tunggu dulu tadi seperti nya kau ingin mengatakan sesuatu padaku, apa itu? seperti nya kabar gembira karena kau nampak bersemangat sekali."


"Ah…ya itu, Aku tadi hanya ingin mengatakan aku pulang larut karena temanku di rawat di rumah sakit, kasihan dia dari kampung sama sepertiku, untuk itu Aku menjaganya"


"Dia wanita atau pria?" tanya Vano kembali.


"Oh, ya ampuun kenapa kau begitu banyak bertanya saat ini? tentu saja dia seorang wanita, apa aku akan mengorbankan waktuku untuk merawat Pria lain? kau ini aneh-aneh saja."


"Mana Aku tahu kau akan berubah setelah tinggal di kota besar ini."


"Mas…kau…!"


"lya sayang aku cuma bercanda, sebaiknya sekarang kita tidur!" ajak Vano.


"Aku mau mandi dulu Mas karena aku hendak sholat malam dulu, kalau Mas El, ingin tidur duluan silakan Mas!"


"Aku ikut kau saja bagaimana?"


"Ya terserah Mas saja kalau Mas mau lagi pula tidak ada pemaksaan kok."


Vano dan Yumna pun pada akhirnya mendirikan shalat malam secara berjamaah, meski ada rasa nikmat luka yang di rasakan oleh Yumna namun ia selalu bersyukur, karena ia yakin Allah pasti sangat menyayanginya tidak mungkin Allah memberi nya ujian kalau ia tidak mampu untuk melewati nya, setiap ujian pasti ada Rahmat dan itu bentuk dari kasih sayang Allah. Dan Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-hambanya yang selalu bersabar dan bertawakal kepadanya.


Satu bulan kemudian Vano kembali untuk menemui sang kekasih, di Singapura dan itu hanya atas sepengetahuan Yumna dan asisten pribadi nya saja, itu pun setelah rasa pusing dan mualnya di setiap pagi hari sedikit berkurang.


Ya tanpa Vano sadari jika dirinya tengah mengalami gejala ngidam, namun setiap berobat dokter akan mengatakan kalau ia tidak sakit apa pun dan yang paling parah jika malam ia tidak akan bisa tidur tanpa belain istrinya itu.


Hingga dua bulan kini berlalu Vano pun memutuskan untuk merawat sang kekasih di rumahnya, karena tidak lama lagi mereka akan mengadakan Akad Nikah.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2