
"Bagaimana dengan keadaannya? apa dia baik-baik saja?" tanya Vano begitu sampai di rumah sakit.
"Sebaiknya Anda bertanya pada dokter yang sedang menanganinya di dalam Tuan" jawab orang yang ditugaskan membawa Yumna ke rumah sakit.
Ceklek.
Suara pintu ruangan di mana tempat Yumna dirawat pun kini terbuka dimana menampilkan sosok lelaki berjas putih berjalan keluar dengan langkah tegasnya dan kini semua mata menatap dengan tatapan berbeda ke arahnya. Vano membulatkan mata saat mengetahui siapa dokter yang menangani istrinya itu.
"Apa yang kau lakukan pada istriku brengsek…? Kenapa kau yang memeriksanya? apa kau menggunakan kesempatan ini untuk menyentuhnya dan melakukan hal tidak senonoh di belakangku? atau kalian yang berdua sudah merencanakan semua ini?"
Vano yang khawatir berubah jadi emosi bahkan mencengkram kerah kemeja sang Dokter.
"Astaghfirullahaladzim Apa kau sadar dengan ucapanmu itu? jika Yumna mendengarnya maka aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, tapi ketahuilah hati wanita itu sangat lemah, jika kau tidak menyukainya Kenapa kau tidak pulangkan dia biarkan aku yang membuatnya bahagia jika kau tidak bisa membuatnya bahagia gampang kan?" ucap Abizar tersenyum mengejek.
"Kau Apa kau menantangku? Aku ini suaminya dan tidak akan pernah melepaskannya paham…!" Geram Vano melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
"Kakak…Sudahlah kita ke sini untuk melihat Kak Yumna untuk apa Coba kalian berdebat Biar bagaimanapun Kak Abizar itu seorang dokter, apa kalian tidak malu berdebat di depan umum bahkan ini di rumah sakit. Aku yakin Kak Abizar bukan lelaki seperti itu, karena Kak Abi tahu cara menghargai seorang wanita, jika terjadi sesuatu pada Kak Yumna maka Kakaklah yang harus pantasnya disalahkan bukan orang lain karena pokok permasalahan yang ada pada Kakak sendiri."
"Apa maksudmu Alyssa?" geram Vano mendengar perkataan adiknya yang cukup menohok itu.
"Dan sepertinya kakak lebih tahu daripada aku tanpa perlu aku menjelaskannya secara detail karena setiap masalah yang terjadi pasti ada penyebabnyaKak." Lanjut Yumna lagi
"Dan kau harus tahu meskipun Aku seorang dokter aku tidak pernah menyentuh tubuh istrimu itu dengan tanganku sendiri karena aku memakai perantara seorang suster Yeni" ucap Abizar dan bertepatan dengan itu juga seorang suster keluar dari ruangan di mana Yumna dirawat semua mata pun tertuju pada Suster itu.
"Sekarang Apa aku boleh masuk untuk menemuinya?" tanya Vano kemudian.
__ADS_1
"Silakan kau temui dia tapi jagalah sikapmu di depannya Jangan pernah kau membuatnya terluka karena kau nanti akan menyesal tidak akan pernah tahu apa yang sedang dialaminya saat ini,"
"Apa maksud dengan ucapanmu itu?"
"Kau boleh bertanya padanya bukan denganku, Bicaralah dari hati ke hati itu akan jauh lebih baik dan membuatnya merasa nyaman."
"Kak sebaiknya kau segera masuk…" sela Alyssa menatap Vano karena dia tidak ingin perang Dingin terjadi lagi pada kakaknya dengan lelaki yang sudah mulai membuatnya jatuh cinta itu. Vano pun segera membuka pintu dan saat ini matanya menatap wanita yang terbaring di atas bongkar rumah sakit itu.
Sedangkan di luar masih ada Raihan, Alyssa dan juga Abizar. Mereka semua masih terdiam tidak ada yang berbicara, semua sibuk dengan pemikirannya Masing-masing.
"Maafkan sikap Kak Vano yang keterlaluan itu Kak…" ucap Alyssa memecah kesunyian setelah lama terdiam. Bukannya menjawab tapi Abizar memilih melangkah pergi meninggalkan Alyssa dan juga Raihan.
"Kak tunggu…!" cicit Alyssa mengejar langkah kaki Abizar, sedangkan Raihan memilih pergi dari tempat itu karena tidak mungkin juga ia tinggal sendiri di luar, ia memilih pergi ke kantor untuk mengerjakan semua pekerjaan yang tertunda, karena besok ia akan menemani Vano untuk berangkat ke Singapura.
Vano terus saja menatap wajah pucat di depannya yang masih setia terpejam itu. ingin sekali ia memeluk tubuh wanitanya itu, wanita yang ia benci karena telah membuatnya kehilangan cinta pertamanya, namun entah mengapa semenjak seminggu ini ia selalu merindukan wanita itu, bahkan merindukan suaranya dan juga aroma tubuh wanita itu. Vano mengangkat tangannya ingin menyentuh wajah yang semakin tirus itu.
Monolognya dalam hati.
"Hmm…ng..."
Vano segera menurunkan tangannya dan mulai memasang wajah dinginnya kembali saat mendengar suara lenguhan dari Yumna.
Terlihat Yumna mulai mengerjapkan matanya perlahan, setelah menyadari jika ada seseorang yang mengawasinya ia pun segera membuka matanya.
"Mas…El," lirihnya lemah.
__ADS_1
"Baguslah kau sudah bangun, lain kali kau jangan datang ke perusahaan jika hanya untuk merepotkan semua orang, karena kau pingsan, kau membuatku harus meninggalkan pekerjaan pentingku, apa kau tidak pernah bisa mengurus dirimu dengan baik,? setidaknya kau jangan merepotkan orang lain."
"Maafkan aku Mas…aku__"
"Jika kau merasa sudah baikan sebaliknya segera keluar dari rumah sakit ini." Setelah berucap ia pun melangkah keluar meninggal kan Yumna yang kini tengah menahan buliran bening yang akan jatuh, Namun ia berusaha kuat menahan semuanya, ia tidak ingin bersedih lagi, ia tidak ingin kembali drop, ini semua ia lakukan demi calon cabang bayi yang kini ada di dalam perutnya itu.
"Berjanjilah pada Bunda kalau kamu akan kuat seperti Bunda sayang" lirih Yumna mengelus lembut perutnya yang masih rata.
Ya beberapa saat yang lalu Abizar telah memeriksanya, dan Abizar pun memanggil seorang dokter ahli kandungan untuk mengetahui keadaan Yumna yang sebenarnya.
Dan kecurigaannya benar jika Yumna sebenarnya sedang mengandung, namun sayangnya dokter mengatakan jika kandungannya sangatlah lemah dan itu sangat berbahaya untuk diri dan bayinya. Dokter menyarankan jika ia harus menggugurkan kandungannya jika tidak, maka salah satu di antara mereka tidak akan selamat, namun Yumna memilih untuk mempertahankan kandungannya dengan cara apa pun.
"Berjajilah padaku jangan beritahu siapa pun tentang kehmilanku ini" itu yang di ucapkan Yumna pada beberapa saat yang lalu pada Abizar, karena masih melekat di ingatan Yumna kata penyesalan yang di ucapkan oleh Vano, bahkan dia juga mengatakan tidak ingin mempunyai anak dari wanita yang telah menyebabkan kekasihnya itu meninggal.
"Assalamu'alaikum Kak…"
"Wa'alaikumsalam,…" jawab salam dari Yumna.
"Kak, aku baru saja masuk ingin menjenguk kakak sekarang kenapa kakak sudah bangun? apa dokter sudah memperolehkan kakak pulang? atau jangan bilang ini semua karena Kak Vano?" Yumna tersenyum sambil menggeleng mendengarkan kata-kata yang terlontar keluar dari mulut Alyssa.
"Tidak semua yang terjadi harus kau sangkut kan dengan Mas Vano, tidak baik berburuk sangka apa lagi dia adalah kakak kandungmu"
"Tapi Kak, apa yang Kak Vano lakukan itu salah,"
"Lalu kalau Mas Vano salah, apa kau juga akan membalasnya? Alyssa tidak semua orang sejalan dengan femikiran kita itulah indahnya perbedaan, dan jangan membalas"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...