
"Mas Aku disini, maaf kalau aku kelamaan, Apakah Mas butuh sesuatu?" tanya Yumna di saat melihat sangat suami yang nampak begitu cemas, itu terlihat dari raut wajahnya.
"Yumna kau tidak apa-apakan?" Vano yang merasa bahagia tanpa sengaja menarik pinggang dan membuatnya sedikit melempar tatapan khawatir pada sang wanitanya itu.
"Maaf kan aku Yumna maafkan aku__"
"Tunggu dulu Mas, apa kau sudah bisa berdiri dan berjalan?" Sela Yumna yang begitu terkejutnya melihat Vano yang sudah berdiri dan berjalan, dan ia baru menyadari nya. Vano menatap dirinya lalu selanjutnya ia pun memeluk Yumna dengan begitu erat.
"Terima kasih ya Allah, Aku bisa berdiri dan berjalan, Yumna lihat kakiku aku sudah bisa berdiri dan berjalan, ini tidak mungkin, ini semua bukan mimpikan?" dan selanjutnya ia pun kembali memeluk Yumna bahkan sekarang tanpa sadar mencium seluruh wajah wanitanya itu.
"Tidak Mas…ini benar-benar nyata, Subhanallah, Alhamdulillah kamu benar-benar sudah sembuh Mas…"
"Iya kau benar sekali, aku sekarang sudah sembuh…Terima kasih untuk semuanya, kalau saja aku tidak keluar mencarimu dan juga tidak terjatuh dari kursi roda karena aku pikir tadi kau yang tenggelam dan pingsan" kembali Vano tanpa sadar memberikannya pelukan dan kecupan demi kecupan nya.
"Mas…maaf ini di luar." Yumna membuat Vano tersadar dengan apa yang tengah dilakukannya itu.
"Maafkan Aku, aku hanya merasa sedikit bahagia karena apa yang di katakan dokter ternyata salah."
"Mas…dokter itu hanya manusia biasa, mereka hanya bisa memfonis tapi Allah lah maha di atas maha, untuk itu kamu jangan pernah putus asa atas rahmatNya dan tetep sabar atas segala apa yang telah Allah takdirkan."
"Ya kau benar sekeli, sekarang Ayo kita masuk ke villa ini sudah Azan magrib" ajak Vano yang di angguki oleh Yumna, mereka pun berjalan beriringan, tanpa saling melepaskan.
Ya Vano masih menggenggam kuat tangan Yumna hingga mereka tiba dan masuk ke dalam Villa.
"Terima kasih."
"Terima kasih untuk apa Mas…?" tanya Yumna heran atas sikap suami dinginnya yang tiba-tiba saja berubah 180 seharian ini.
__ADS_1
"Untuk apa yang kau lakukan selama ini, kau yang selalu merawat dan memberikan pijitan refleksi pada kakiku untuk itu aku bisa seperti ini."
"Tidak Mas…semua itu adalah hasil usaha dan kerja kerasmu selama ini, karena kau juga punya semangat untuk ingin sembuh kembali, sebaiknya kita sholat dulu Mas…takutnya telat." Vano mengiakan ajakan Yumna meski hanya lewat sebuah anggukan.
"Sebaiknya kita pulang besok Mama pasti senang kalau tahu aku sudah bisa berjalan kembali."
"Mas, benar sekali, Oh ya Mas apa kah Mas sering datang ke tempat ini,? karena aku sangat menyukainya tempat ini sangat indah."
Vano menarik sudut bibirnya mendengar pertanyaan Yumna tersebut.
"Bukan pernah saja tapi sering dengannya, bahkan kami sering menghabiskan waktu libur berdua disini, karena tempat ini adalah tempat Vavorit kami berdua."
Deg.
"Siapa dia yang Mas…maksudkan?"
Deg.
"Jadi Mas Vano mengajakku kemari hanyabkarena ada kisah masa lalunya yang akan ia kenang,? sampai kapan kau akan sadar Mas kalau kekasih mu itu telah tiada dan aku istrimu, apakah masih tetap tak ada rasa sedikit pun untuk ku Mas karena aku sudah mulai menyukai mu Mas." Monolognya dalam hati.
"Hei…Kau kenapa? aku memangilmu dari tadi kenapa sekarang kau jadi melarung apa ada yang sedang kau fikir kan?"
"Ah…tit-tidak Mas A-aku hanya…"
"Sebaiknya kita istirahat dulu karena besok kita pulang pagi-pagi sekali" selanya menjeda kalimat Yumna. Yumna pun hanya mengganggu mengiyakan ajakan suaminya itu. Dan Lagi-lagi Vano meraih tangan nya serta kembali menggandeng nya masuk dan Yumna begitu tertegun saat menatap ke atas tempat tidur yang sudah di hiasi sekumpulan kelopak bunga mawar.
"Mas…ini?"
__ADS_1
"Aku ingin kita melakukan nya sekarang disini, kau tahu kan apa maksudku? Aku tidak mau membuat Mama, Papa kecewa karena tidak bisa membuatmu hamil."
"Tap-tapi Mas…"
"Jika kau belum siap tidak apa-apa aku tidak akan memaksamu untuk melakukan nya" ucap Vano cepat saat melihat ada keraguan di wajah sang wanita di depannya itu.
"Ayo kita tidur" ucap Vano kembali dan melepaskan genggaman tangan nya, membuat Yumna merasa serba salah karena secara tidak langsung ia menolak suaminya, padahal dia tahu sendiri hukum menolak suami itu seperti apa, tapi apakah ia akan melakukan semua itu tanpa di dasari cinta?.
"Kenapa kau masih bengong di situ? apa kau sekarang juga suda mulai keberatan tidur di sampingku?"
"Ti-tidak Mas…A-aku"
"Bukankah Aku sudah mengatakan nya padamu, kalau Aku tidak akan pernah melakukan nya jika kau tidak ingin melakukan nya."
"Bukan seperti itu Mas…Aku tidak pernah mengatakan kalau tidak ingin melakukan nya." Ucap Yumna menutup mulutnya yang keceplosan bicara.
"Jadi maksudmu kau mau kita melakukan nya malam ini?" ucapnya dengan senyuman yang menggoda di saat Yumna memberikan lampu hijau. Bukan tanpa alasan Vano ingin melakukan nya dengan Yumna, karena hati kecilnya mengatakan kalau dia takut kehilangan wanita itu, meski dia belum yakin dengan perasaan nya sendiri.
Sedangkan Yumna sendiri ingin menjalani tugasnya dan kewajiban nya sebagai istri, meski dia tahu resikonya tak akan pernah ada cinta di hati Vano untuk nya, apa lagi di saat mengetahui kalau tempat yang di datangi saat ini adalah tempat favorit Vano dengan wanita pujaan hati-Nya.
"Apa kau yakin ingin melakukan nya dengan ku saat ini?" tanya Vano sedikit meragu di saat Yumna duduk dengan lembut di sisi tempat tidur. Yumna hanya mampu memberikan sebuah anggukan kecil di saat Vano bertanya sambil menyentuh wajahnya dengan begitu lembut.
"Kau jangan khawatir aku akan melakukannya dengan penuh cinta bukan hanya karena nafsu saja." Yah Vano berkata seperti itu karena ia memang tidak ingin melakukan semuanya bukan hanya karena di dasari dengan nafsunya saja, ia ingin melakukan nya dengan penuh perasaan, meski dia sendiri belum yakin dengan perasaan nya tapi Yumna adalah istri sahnya dan dia ingin memulai semua apa yang selama ini berusaha ia hindari, dengan berusaha memberikan takana demi tekanan pada Yumna agar wanita itu menjauh dari kehidupannya yang sebenarnya, bahkan sampai menjodohkan wanita itu dengan pria yang tak lain adalah sahabat nya. Dan kini dia menyadari kesalahannya itu saat ia mulai belajar untuk sholat dan rajin mendengar ceramah di masjid.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1