KEKASIH

KEKASIH
Gagal menyelamatkannya.


__ADS_3

"lya Vano, aku yang akan memimpin operasinya" jawab Dokter Julia.


"Selamatkan istri dan anakku Julia, aku mohon…"


"Kamu jangan khawatir kami semua akan berusaha memberikan yang terbaik untuk istri dan bayimu, kau berdoalah untuk keselamatan mereka" lanjut Julia lagi.


"Dan sebaiknya sekarang kau menunggu di luar agar prosesnya segera dilakukan,!"


Vano dengan berat hati meninggalkan ruangan di mana istrinya masih terbaring tak berdaya.


"Bagaimana Vano…?" tanya sang Mama begitu melihat putranya itu keluar.


"Kita berdoa saja Mah… semoga dokter bisa melakukan yang terbaik untuk Yumna, lbu dan Bapak sebaiknya istirahat. Kalian juga pasti sudah capek!" ucapnya menatap ke arah kedua mertuanya yang terlihat begitu letih dan lesu sedangkan raut kesedihan begitu nampak terlukis di wajah mereka.


"Bagaimana kami bisa istirahat nak Vano, jika anak kami di dalam sana berjuang melawan kematiannya dia sedang berjuang antara hidup dan mati."


"Pak, Bu, sebaiknya kita berdoa yang terbaik untuk Yumna kita Serahkan semuanya kepada Allah, bukankah kita ini hanya sekedar titipan saja?"


"lya Kau benar sekali nak Vano, bapak hampir saja Terlena dengan kesedihan ini." Ucap Pak Ahmad sambil bernafas dengan berat menandakan begitu berat beban yang dirasa saat melihat putri satu-satunya terbaring tak berdaya di dalam sana, mereka samua pun terdiam sibuk berdoa di dalam hati masing-masing, 4 jam sudah berlalu Vano menunggu dengan gelisah, meski di dalam hatinya terus mengucapkan bait-bait doa yang terbaik untuk sang Bidadari hatinya, namun tetap saja ia merasa tak tenang apa lagi kenangan demi kenangan indah yang ia lalui bersama Yumna beberapa bulan ini terus membayang di benaknya.


Ceklek.

__ADS_1


Mendengar suara pintu ruangan operasi terbuka semua mata pun menatap ke arah sosok yang berjas putih yang keluar dari ruangan operasi tersebut, ia nampak begitu lelah dan letih namun sosok itu berusaha untuk menyungkinkan senyumnya meski senyum itu sangatlah kecil.


"Bagaimana Julia Bagaimana keadaan istri dan anakku?" tanya Vano antusias saat melihat kedatangan Julia. Julia menatap Vano begitu lengkatnya Ia pun tertunduk sejenak lalu menarik nafas panjang ditatapnya satu-per satu wajah penuh yang nampak penasaran menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya itu.


"Sebelumnya Aku minta maaf untuk kalian semua, ada dua kabar yang akan aku sampaikan kepadamu,Vano semoga kau bisa menerimanya dengan lapang dada, karena kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melakukannya tapi. Tuhan berkehendak lain," mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Julia membuat nafas Vano seakan tercekat di tenggorokan dengan perasaan berdebar dan gemetar Ia pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Katakan padaku Julia, Katakan padaku apa sebenarnya yang terjadi di dalam sana! apa semuanya baik-baik saja kan?"


"Semuanya tidak sedang baik-baik saja Vano."


Deg.


"Dengarkan Aku, kami sudah berhasil mengeluarkan bayinya dan bayimu selamat dia begitu tampan sepertimu, tapi…"


"Maafkan aku," ucap kini mulai tertunduk.


"Kami sudah sangat berusaha melakukannya, tapi aku tetap tidak bisa menyelamatkannya, Aku gagal Vano Maafkan Aku, aku tidak bisa menyelamatkan istrimu."


Jedeeer.


Bagaikan disambar petir di siang hari tubuh Vano hampir saja Limbung karena tak kuat menahan bobot tubuhnya saat mendengar apa yang disampaikan dokter Julia kepadanya.

__ADS_1


lnnalilahiwainna ilaihirojiuun.


Ucap semua orang di Tempat itu serempak. Namun tak lama kemudian tatapan semuanya mengarah kepada sosok yang keluar dari bilik operasi tersebut di saat mendengar suara pintu terbuka. Vano pun segera melangkah mendekatinya.


"Katakan padaku apa semuanya ini benar? Katakan Abi Apa yang kau lakukan di dalam sana? apa kau sengaja membuat Yumnaku pergi karena kau merasa sakit hati karena Yumna tidak mencintaimu karena dia memilih mencintaiku? Katakan padaku Abi semua itu tidak benar kan? katakan Abi kau jangan diam saja!" ucap Vano dengan mencengkram kerah kemeja milik Abizar.


"Kakak kau ini apa-apaan? Lepaskan Kak Abizar cicit Alyssa menarik tangan sang kakak dari kerah baju suaminya itu, namun tangan Vano terlalu kuat untuk di lepaskan.


"Kakak apa-apaan Kak Abizar baru saja keluar tapi kenapa Kakak memberondongnya dengan kata-kata yang Tidak-tidak, kakak tidak pantas perkata seperti itu pada Kak, Abizar dia itu suamiku Kak, dan dia juga adalah adik iparmu!"


"Aku tahu dia itu suamimu, dan juga adik iparku tapi aku tahu juga dia itu mencintai istriku dari dulu sekarang dan entah mungkin Sampai Nanti, dan Aku curiga dia sengaja tidak ingin menyelamatkan Yumna karena dia tidak ingin melihatku bahagia bersama Yumna benar begitu kan Abi? jawab Abi benar kan? jawab aku Abi…!"


"Diam kau! ini semua gara-gara kau! jika Yumna tidak menikah denganmu dia tidak akan mengalami hal seperti ini, dia tidak akan pernah mengalami penderitaan dan siksaan selama hidupnya. Jika dia menikah denganku maka dia akan jauh lebih bahagia ketimbang dia menikah denganmu maka hidupnya tidak akan berakhir tragis seperti ini, kau tidak pernah mencintai Yumna, jika kau mencintainya maka kau tidak akan pernah melukainya sedikitpun! Jika dia menikah denganku maka dia tidak akan pernah merasakan sakit hati saat dikhianati oleh suaminya sendiri, pergi adalah Jalan Terbaik untuknya, Apakah sekarang kau puas?" setelah berucap seperti itu Abizar pun melepaskan cengkraman tangan Vano dari kemejanya, lalu ia pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


"Kak tunggu…" cicit Alyssa dari belakang berusaha mengejar langkah suaminya tersebut namun sejenak ia berbalik menatap tajam ke arah Vano.


"Aku membencimu Kak, sangat-sangat membencimu kau sekarang telah membuat hidup kami rumit dan jika terjadi sesuatu pada Kak Abi aku tidak akan memaafkanmu seumur hidupku!" ucapnya lalu berbalik kembali mengejar langkah suaminya yang sudah semakin menjauh, setelah kepergian Abizar dan Alyssa Vano duduk bersimpuh di atas lantai dingin Rumah Sakit tersebut.


"Vano Ibu tahu kamu bersedih nak, Ibu tahu kamu mencintai Yumna, tapi Mungkin Allah sudah berkehendak lain padanya, kami juga orang tuanya sangat mencintai anak kami Vano, tapi tidak dengan seperti ini kau merusak hubunganmu sendiri kau merusak hubungan ipar dan adik kandungmu sendiri Vano, Lihatlah adikmu dia begitu tertekan Mungkin dia merasa jauh lebih tertekan daripada dirimu saat ini."


"Bu, Yumna sudah tidak ada lagi di sisi kita Bu, Bagaimana aku tidak merasa hancur seperti ini." "Bukankah tadi kau yang mengatakan kalau kita semua ini adalah titipan? lalu kenapa? lalu Kenapa kau menjadi lemah seperti ini Vano?"

__ADS_1


"Apa yang dikatakan ibu mertuamu itu benar." Sela Bu Hesti menimpali.


"Aku yang salah, Ini semua salahku salahkan aku atas semuanya, aku… aku sudah membuatnya pergi untuk selamanya bahkan aku… aku yang membuatnya celaka kan? aku yang membuatnya celaka aku yang membuatnya celaka…hiy hiy hiy… Kenapa dia terlalu baik? Kenapa dia terlalu baik padaku Vano? Kenapa dia tidak membiarkan aku yang celaka jika aku celaka maka pasti tidak ada yang akan menangisiku? karena aku memang pantas mendapatkannya…" Jerit tangis suara Clarissa, yang nampak mulai tertekan.


__ADS_2