KEKASIH

KEKASIH
Teguran untuk Vano


__ADS_3

"Ada apa Ma, Pa,?" tanya Vano begitu ia berada tepat di depan kedua orang tua nya, Yang memang sedang menunggu nya dari tadi.


"Bagaimana istri mu apakah dia sudah tidur?" tanya sang mama tanpa menjawab pertanyaan Vano.


"Sudah Ma...," sahut Vano.


"Vano…Papa dan Mama mohon sama kamu Nak untuk tidak menyia-nyiakan Yumna…Papa dan Mama tahu apa yang telah kamu lakukan kepada istrimu itu, untuk itu Mama dan Papa Mohon, bersikaplah selayaknya sebagai suami yang baik dan bertanggung jawab Mama tidak mau istrimu masuk rumah sakit akibat ulahmu itu." Tegas Bu Hesti kepada sang Putranya kembali.


"Benar apa yang di katakan Mamamu Vano Papa tidak akan segan-segan menghukummu kalau kau berbuat nekat lagi...!" Ancam Pak Adhyaksa.


"Lagi pula kau ini itu sudah dewasa, untuk apa kau melakukan hal bodoh, seperti anak yang kurang kerjaan, Yumna itu istri mu Vano" Ujar Pak Adhyaksa kembali mengingat kan.


"Maaf kan Aku Ma, Pa, tapi, Aku tidak bisa memaksa diri untuk menerima Yumna selamanya berada di dalam pernikahan ini, Papa dan Mama tau sendiri bagaimana persaan Vano, saat Mama dan Papa memaksa Vano menikah dengan gadis itu, Vano tidak pernah mencintai nya Pa, Ma, tapi kalian yang egois memaksa Vano untuk melakukan semuanya." Tegas Vano berlalu.


"Apa maksudmu Vano? kau jangan main-main, Jika kau berani melakukan sesuatu dan membuat keluarga kita malu maka Papa tidak segan-segan mengusirmu dari sini dan sepeserpun harta Papa tidak akan memberikannya padamu, Karena Semua yang Papa miliki telah Papa limpahkan atas nama Yumna," Ucap Pak Adhyaksa begitu tegas, dan sontak ucapannya itu membuat terkejut Vano bahkan sang istri.


"Pa...! Apa Papa serius?"


"lya Ma...lagi pula untuk apa semua harta kita jika Anak kita tidak bisa di didik dan tidak bisa mengikuti apa yang kita inginkan dan sebaiknya kita pulang ke desa aja karena Papa lebih suka tinggal di sana."


"Baiklah Pa, jika Papa ingin tinggal di sana Mama juga akan ikut kemana pun Papa pergi." Ucap Bu Hesty menimpali suaminya.


"Baiklah aku akan mencobanya, mencoba untuk menjadi suami dan belajar menerima nya," sela Vano, Dengan perasaan yang kesal, Namun ia tidak punya pilihan lain karena, ia tidak mungkin mau melihat kedua orang tua nya kembali ke kampung itu.


"Kalau boleh tau siapa yang memberi tahu Mama dan Papa tentang apa yang Vano lakukan pada gadis__maksud Vano pada Yumna?"


"Apa kau lupa CCTV di rumah ini masih tersambung dengan Handphone mu yang tertinggal di Kampung, Papa dan Mama begitu terkejut saat mendapatimu melaku semuaanya," Terang Bu Hesti.

__ADS_1


Vano pun baru ingat jika satu handphone nya tertinggal dan dia sangat merutuki kebodohannya itu karena telah teledor.


"Baiklah Ma, Pa, Vano akan mencoba nya tapi Vano tidak bisa janji" Setelah berucap Vano pun pergi meninggalkan kedua orang tua nya. Bu Hesti dan juga Pak Adhyaksa kembali menarik nafas panjang menatap kepergian Putra mereka.


"Ternyata selama ini kita telah salah mendidik anak kita Pa,"


"Mama benar sekali, kita membesarkan kedua anak kita hanya dengan harta tanpa memikirkan Agamanya seperti apa, Tapi semoga dengan kehadiran Yumna pada keluarga kita akan membawa keberkahan Ya, Ma...,"


"Iya Pa, dan sifat keras kepala Vano semoga bisa lunak dengan kehadiran Yumna di sisiNya, karena kita tahu Vano tak seperti Adiknya Alyssa yang begitu mudah untuk menerima hal baru apa lagi jika itu positif untuk dirinya,"


"Sudah ayo kita istirahat dulu, Besok kita akan pulang kerumah dengan besan kita,"


"Baiklah Pa...lagi pula Mama juga capek.."


Sedangkan Vano tiba di kamarnya dalam keadaan sedikit kesal, bagaimana tidak jika Papa mengancamnya untuk memberikan semua aset warisannya kepada Yumna, jika dia berusaha menjauh kan diri dari Yumna.


"Kenapa kau selalu membuat hidupku sial,!" gerutunya saat menatap Yumna yang tengah meringkuk seperti bayi dengan hijab panjang yang menjulur menutup sebagian tubuhnya.


Pagi.


"Assalamu'alaikum Yumna, Kenapa kamu sibuk di dapur sepagi ini?" Ucap uluk salam yang mengagetkan Yumna.


"Walaikumsalam...Mama...! ini Ma, Yumna sedang buat sarapan dulu untuk semuanya." Jawab Yumna setelah menetralisir perasaan terkejutnya karena saking seriusnya di dapur hingga tak menyadari mertuanya di belakang.


"Yumna,, kamu itu masih sakit Nak, Masih butuh perwatan sayang, Untuk apa kamu bangun pagi-pagi bikin sarapan,? kan ada Bibi yang akan mengurusnya, Mama sudah mendatangkan ART, dan beberapa orang yang akan mengurus semua bagian rumah ini," Terang Bu Hesti lembut pada sang menantunya.


"Yumna tidak bisa tidur Ma...mungkin kebiasaan di kampung masih melekat, setelah bangun sholat Yumna tidak bisa kembali tidur." Ujar Yumna.

__ADS_1


"Baiklah,, tapi setidaknya kamu jangan bekerja dulu Nak, sebaiknya sekarang kamu naik ke atas dan kembali berbaring!" perintah Bu, Hesti.


"Tapi Ma_"


"Sayang...Bukankah dokter sudah menyuruhmu untuk beristirahat total, Mama tidak ingin kamu kenapa-kenapa''


"Baiklah,, Ma..." ucap Yumna kembali tak ingin membantah ke inginan ibu mertuanya Ia pun pamit pada Bu Hesti dan melangkah pergi meninggalkan dapur.


Setelah tiba di kamar, Yumna masih menatap wajah yang terlihat tidur begitu nyenyak. 'Sudah pukul 05.00 Kenapa Mas Vano tidak bangun salat subuh,? apa aku harus membangunkannya, tapi bagaimana jika dia_'


Yumna menjeda kalimat gumaman nya saat menyadari Vano tengah menggeliat, lalu membalikan tubuhnya.


"Hei...! Apa yang Kau lakukan sepagi ini berada di Kamar ku!" tegur Vano yang reflek membuka matanya lebar karena belum mengingat kalau Yumna sejak semalam tidur di kamar nya.


"Mas,, Maaf, Apa kamu tak ingin bangun sholat subuh?" tanya Yumna gugup, berusaha untuk menenangkan perasaannya yang kini campur aduk jadi satu.


"Sholat..?"


"lya Mas.." gugup Yumna kembali.


"Kemarilah..!" seru Vano saat menyadari kalau semalam ia dan Yumna sudah mulai tidur sekamar meski mereka saling menjaga jarak.


"Kenapa kau masih diam saja disitu kemarilah..!" Panggil Vano kembali saat melihat Yumna masih bergeming pada tempatnya.


"Eh...l-iya Mas..." Yumna berjalan mendekati Vano meski kakinya terasa berat untuk di langkahkan, karena biar bagaimanapun ia masih merasa sungkan la tak ingin lagi Vano menuduhnya yang tidak-tidak.


"Bantu Aku untuk berwudhu," Ucap Vano saat Yumna tiba di samping nya dan itu sontak membuat Yumna terdiam mendengar apa yang di katakan Vano tadi.

__ADS_1


"Mam-maksud Mas,?"


"Apa kau tidak tau maksudku? atau kau tidak mendengarku? atau pura-pura tidak tahu apa yang aku katakan tadi,? bantu aku berwudhuk karena Aku ingin Sholat,"


__ADS_2