
"Maaf Pak Bos, Saya__"
"Kemarilah, temani Aku cepat...!" Ketus Vano dengan wajah datarnya itu, menjeda kalimat Yumna. Membuat Yumna mengurungkan niatnya untuk berbicara dan kini ia pun berjalan mendekati Vano dan mendorong tubuh yang duduk di atas kursi roda tersebut.
"Kau, jangan mangasarinya seperti itu, kau tau dia adalah calon wanitaku, Aku tak suka kalau kau mengasarinya," Ucap Dion kesal, sambil sesekali menatap Yumna yang terlihat nampak begitu letih.
"Yumna,, Apa boleh aku membantumu untuk melakukan tugasmu hari ini,?"
"Kau tak usah membantunya dan aku juga tidak ingin bantuan mu, sekarang menyingkirlah dari hadapan ku." Sela Vano cepat dan mendorong Dion yang menghalangi jalannya.
"Tapi Van, apa kau tak melihat Yumna yang begitu terlihat sangat kelelahan, lihatlah wajahnya begitu pucat, dan dia kau suruh melayani tamu undangan mu yang berjumlah ratusan orang itu, kau itu menyuruhnya bekerja atau sengaja menyiksanya?"
"ltu bukan urusanmu, buktinya dia lebih memilih ku dari pada memilihmu, karena kau itu Play Boy cap kelinci." brengsek kau aku tahu kau sengaja mempermalukan Aku di depan Yumna kan agar dia tidak jadi Memilih ku."
"Kenapa kau tak tanyakan itu kepada Yumna dengan atau tidaknya aku mengatakan semua itu aku tahu Yumna pasti akan berpikir seribu kali untuk menjadi pendampingmu," ucap Vano dengan senyuman mengejeknya.
"Ya,, Ya, tentu saja karena kau yang akan menjadi provokator di antara hubungan kami," kesal Dion.
"Terserah kau sajalah, Cepat bawa aku ke sana,!" perintahnya pada Yumna, Yumna pun kembali mendorong kursi roda milik Vano menuju tempat yang sudah persiapkan untuk menyambut Acara ulang tahun nya itu.
"Hai Van acaramu ini seperti apa sih Kok tidak ada hiburannya? Kau kan bisa memutarkan kami musik DJ, biar kami sedikit terhibur ga sepi seperti ini
Apa kau lupa, kalau kau dulu adalah orang yang suka sekali dugem, benar Vano Jangan jadikan tempat pesta ini menjadi pesta yang membosankan.
"Baiklah lakukan apa saja yang membuat kalian senang,tapi sebelumnya aku ucapkan Terima kasih karena kalian sudah mau datang di acara ulang tahunku ini aku sengaja tidak mengundang banyak orang karena kalian tahu kan keadaanku seperti apa." ucap Vano saat berada diatas podium.
"Oh..iya maafkan kami Van kami menyuruhmu memutar musik tanpa mengetahui keadaanmu seperti apa, kami benar-benar minta maaf." Ujar salah satu temannya.
"Sudahlah Enjo aja, ayo semua kita hitung mundur mulai dari hitungan mundur,!" teriak Dion yang disambut oleh riuh tepuk tangan dari teman-teman Vano yang diundang.
"Oke mari mulai kita hitung sama,!" Ajak Dion lagi pada seluruh tamu undangan.
"10 9 8 7 6 5 4 3 2 1" Teriak semuanya yang di iringi riuhan tepuk tangan yang kembali
__ADS_1
Prok prok prok prok.
Dan tiba-tiba terdengar lagu yang terdengar dari sekumpulan Anak-Anak yang berbaju serba putih yaitu sebuah lagu Selamat Ulang Tahun yang lirik nya di ganti dengan lirik.
Alhmdulillah, wasyukrulillah, salamat hari jadi semoga Allah memberkahi.
"selamat hari jadi semoga Allah merahmati"
Ucap semua anak-anak tersebut, dan kini mereka dengan rapi berbaris memberikan salam pada Vano, secara bergiliran.
"Sontak saja kejadian tersebut membuat Vano dan teman-teman nya terkejut, sedang Vano hanya diam menerima uluran tangan anak-anak tersebut, Dengan tersenyum kaku.
"Selamat ulang tahun Kak Vano semoga Kak Vano lekas sembuh," ucap seorang anak yang paling kecil di antara semuanya.
Dan kini ucapan selamat dan decak kagum di dapat dari kolega dan sahabat-sahabatnya.
"Aku tidak menyangka kau sekarang bisa berteman dengan anak-anak, apa lagi mereka sepertinya dari salah satu yayasan panti asuhan" celetuk seorang tamu undangan.
"Iya pantas saja tidak ada minuman dan musik disco, ternyata rekan kita sudah insyaf." timpal rekan yang satunya lagi.
Tidak dengan Vano yang memberikan tatapan tajam dan membunuhnya itu.
"Diam semua, sekarang kalian boleh pulang dan keluar dari sini,!" sentak Vano dengan wajah yang sudah berapi-api.
"Tapi Van? acaramu kan belum selesai" ujar salah satunya.
"Apa kalian tidak mendengar ku,?"
Melihat amarah yang begitu besar di wajah Vano tak satupun berani membantahnya dengan perasaan takut mereka pun keluar dari tempat tersebut satu persatu, kecuali Dion.
Yah, Dion memilih tinggal saat menatap Yumna tersenyum manis meski senyum itu bukanlah untuk dirinya.
Ntahlah senyuman Yumna bagaikan sebuah magnet untuk dirinya.
__ADS_1
"Kenapa kau masih di sini dan tidak ikut pulang bersama mereka,?" sentak Vano saat melihat Dion tersenyum manis menatap lekat wajah Yumna yang kini tengah berdiri di samping anak-anak.
"Kalian jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa kok hadiahnya sudah di dapat, sekarang sudah malam kalian harus pulang karena besok kalian harus sekolah," ucap Yumna menenangkan anak-anak yang nampak ketakutan dengan sentakan dari Vano.
"Tapi siapa yang akan mengantar kami Kak,?" celetuk salah seorang Anak membuat Yumna terdiam.
"Eee...mmm...bagaimana kalau kalian di antar Kak, Dion," ucap Yumna setelah lama berfikir karena tidak ada pilihan lain.
"Aku,? mengantar mereka?" kejut Dion menunjuk dirinya sendiri.
"lya kak, Kakak mau ya, kasihan mereka karena sopir dari panti, Anaknya tiba-tiba masuk Rumah sakit, jadi dia Tidak bisa datang menjemput mereka." Ucap Yumna memberikan keterangan.
"Aku mohon kak tolong antar mereka pulang," pinta Yumna lagi dengan menakup kan kedua tangannya di depan dada.
"Baiklah Aku akan mengantar mereka, ayo anak-anak nanti kita telat,!" seru Dion pada semua anak panti tersebut.
"Terima kasih Kak, terima kasih semoga Allah senantiasa menjawab doa-doa mu, Aamiin." Ucap Yumna penuh antusias.
Melihat Yumna yang begitu bahagia membuat Dion bersemangat ingin melakukan apa yang di inginkan wanita yang mengetuk pintu hatinya untuk yang pertama kali, meski Yumna belum menerimanya tapi la yakin ini adalah pelabuhan terakhir nya.
"Terima kasih Kakak," ucap anak-anak tersebut secara bersamaan.
"Sama-sama kalian hati-hati ya! kak Dion jaga mereka!" serunya lagi pada Dion.
"Kamu tenang saja sayang aku akan mengantarkan mereka selamat sampai tujuan," timpal Dion sambil tersenyum.
Sedangkan Vano menatap jengah dengan interaksi keduanya apa lagi dia masih menyimpan emosi yang mendalam pada Yumna.
"Suster bawa aku masuk,! mataku sudah sakit melihatnya," sindir Vano.
"Tunggu Din, biar aku saja yang mengantarkan Pak Bos masuk,!" ujar Yumna lagi.
"Tapi Yum__" Dini menjeda kalimatnya saat Vano memberi isyarat menyuruhnya pergi, dan kini Yumna melangkah masuk menuju di kamar Vano.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...